Menunggu Alam di Malioboro | Foto Nurman Sidiq, Flickr

Lampu kota di Jalan malioboro temaram membias wajahku, dan entah ribuan ke berapa kendaraan berseliweran di hadapan. Di atas sana, bintang-gemintang berpendar indah menyapa bumi, bersama sang bulan ia setia melengkapi angkasa.

Dan di Jawadwipa, Kota Kesultanan ini kesunyian dan kerinduan kian menyiksa, lihatlah tubuh ini yang semakin kurus, mataku yang menghitam seperti mata panda. Letih… semakin tak kuasa. Ketika kulihat para turis yang menggendong baypacknya, selalu saja aku mengingat wajahmu. Tubuhmu yang tinggi dan tegap berisi, teman-temanku mengira kau keturunan bule.

Bule? Bukan! Gaya hidupmu mungkin.

Jika aku seorang perempuan yang hanya ingin menetap di kota ini saja, kau malah ingin berkeliling dunia. Tinggal berpindah-pindah ke satu kota ke kota lainnya, bahkan juga ke negara satu ke negara lainnya. Pengembara katamu, inilah petualangan hidup katamu lagi. Hmmm… aku benar-benar tidak bisa mengerti cara berpikir seperti itu.

Yang aku pahami hidup ini begitu sederhana, punya cinta, bisa mencintai dan dicintai, dan bisa menyatu selamanya dalam dekapan keluarga yang harmonis, sampai Sang Maha Cinta menjemput kita dalam surga cinta abadi. Tapi, lagi-lagi kau bersikukuh atas prinsip hidupmu yang hanya kaummu saja bisa menjalaninya. Sementara aku… jangan paksa aku untuk mengikuti cara hidupmu.

“Cham, hidup ini bukan sebatas halaman rumah saja, tapi sangat luas. Luasss sekali, dan aku ingin menikmati setiap jengkal bumi ini bersamamu. Kita bisa saja kan menikah, lalu bulan madu keliling dunia. Bukankah itu hal yan terindah dan menantang?” wajahmu begitu serius, seakan-akan tak ada yang mustahil dalam hidup ini.  

“Tabunganku cukup untuk kita berdua selama berbulan-bulan di luar negeri. Kau ingin negara mana yang ingin dikunjungi? Turki, Prancis, Thailand, atau Spanyol? Ayolah Cham, katakan negara apa yang kauinginkan?!” kau terus mendesakku, memilih negara-negara yang kauimpikan. Ahhh… semua itu tak kuinginkan. Sungguh… aku tak ingin pergi ke sana. Sekalipun kaupuja-puja keindahan dan kemegahan negara luar itu untuk membujukku, tidak! Aku memilih tidak!

“Bicaralah, Cham! Kau jangan diam begitu! Aku mau kepastian, agar aku bisa kembali lagi ke sini,” suaramu semakin serak dan tampak berat. Mungkin kau letih menunggu jawabanku.

Aku menghela napas panjang, lalu pelan bibirku pun terbuka, “Aku tidak memilih satu negara pun yang kau sebut!”

Jawabanku mengerutkan dahimu, alis kananmu terangkat sebelah. Kau seperti tuli, atau pura-pura-pura tidak mendengar. Mungkin suara klakson di sepanjang jalan Malioboro ini menyumbat telingamu. Ya… mungkin begitu.

“Apa, Cham? Kau jawab apa tadi?!” semakin dekat saja wajahmu padaku.

“Aku tidak mau pergi kemana pun, Alam. Bisa kau dengar?!” kutinggikan suaraku dari tenggorokan, agar kau dengar dan paham.

“Ohhhh… Cham. Tidak bisakah kau memahami keinginan dan impianku?!” suaramu keras dan meninggi.

“Dan kau sendiri, tidak bisakah memahami keinginanku?!” balasku, “Lam, dengar! Bagiku cukup bahagia mencintai orang yang kucintai tanpa harus keliling dunia. Lagian, Lam, apa yang tidak ada di Jogja, kalau dibandingkan dengan negara luar? Semua ada, Lam! Kita bisa menikmati keindahan alam dan Kota Jogja ini, selamanya… tanpa harus capek-capek dan menghamburkan uang.”

Diam… mata kita beradu pandang. Ada kegeraman diguratan wajahmu yang kian memerah. Bunyi gamelan dari seni jalanan semakin kuat terasa di telinga, padahal jaraknya cukup jauh dari kita. Tapi karena kebisuan kita, suara apapun terasa kuat terdengar, dan mungkin juga jika suara sehelai daun yang jatuh, telinga kita mendengarnya. Lama tak sepatah kata pun terucap.

“Sulit bagiku mencintai orang lain dengan pemamahan yang berbeda,” kau mendesah.

“Lain bagiku, Lam, aku bisa mencintai orang lain dengan pemahaman yang berbeda.”

“Baiklah, aku besok berangkat, dan aku janji ini adalah petualangn terakhir atas imipianku mengelilingi dunia. Namun aku tidak bisa berjanji untuk menolak, jika suatu hari nanti kau yang memaksa untuk bertualang bersama,” ucapmu dengan mantap, disusul dengan senyummu yang sama, saat setahun yang lalu di jalan Malioboro ini.

Thaks, Lam,” ucapku, kau pun megangguk, “kapan kau akan jumpai orangtuaku untuk meminta anak gadisnya?” tanyaku dengan suara manja penuh girang.

“Sepulang dari Tibet,” jawabmu singkat.

“Serius?!” aku mendesak.

“Inysa Allah, Cham,” jawabmu tanpa ragu.

Itu adalah momen yang paling kutunggu-tunggu. Seorang pemuda yang kucintai akhirnya segera menikahiku. Alam, kalau kau tahu betapa malam itu aku bahagiaaa sekali, sampai-sampai tak bisa tidur menghayal kebahagiaan bersamamu di hari pernikahan kita.

Namun, di malam itu juga, sebenarnya ada perasaan takut dan cemas. Perasaanku bercampur aduk saat itu, ada kebahagiaan, ada pula kecemasaan yang luar biasa. Sulit bagiku mengungkapkannya padamu. Terasa berat bibir ini untuk terbuka. Dan aku memilih diam dan mendengar ocehanmu yang disusul gelak tawamu sendiri. Aku hanya bisa ikut tertawa, menikmati malam di Jalan Malioboro bersamamu.

Di tempat yang sama, Lam, aku mengenang semua cerita bersamamu di sini. Ketika pertama kali memandang senyummu, ahhh… andai saja Ira tak berbuat konyol memaksamu untuk memotret kami, mungkin kita tak saling mengenal. Sahabatku itu memang sedikit norak, namun ia sangat baik dan sayang padaku.

Aku sudah bosan menghitung berapa kali setiap malam Rabu harus menunggu orang yang kucintai di jalan ini. Berapa banyak lagi tetesan air mata setiap kali menunggu pemuda yang sudah berjanji padaku di jalan ini? Entahlah, Lam, aku sendiri sudah tak tahu lagi harus bagaimana menyikapi ini semua.

Aku ingat betul saat kaubilang: “Ini janji seorang pemuda petualang, tak akan mengecewakan bagi yang menunggunya.”

Tak mengecewakan? Huh… apa arti di kamus Bahasa Indonesia kata mengecewakan? Tak perlu kucari tahu atau dipahami lagi, sebab berbulan-bulan sudah kujalani perasaan itu. Yang kuinginkan darimu, Lam, adalah menjemputku. Janjimu sepulang dari Tibet menjumpai orangtuaku, lalu kita menikah, hidup bersama.

Dan satu hal kabar gembira yang ingin kusampaikan padamu, aku mau kauajak berkeliling dunia. Sungguh, aku ingin melihat dunia bersamamu, mengunjungi negara-negara lain, bersecengkarama dengan kehidupan dan budaya orang lain. Ya, Lam, aku mau seperti itu. Bahkan bisa dekat dengan saudara-saudaramu dari berbagai sudut dunia yang sudah kau anggap keluarga sendiri.

Sekarang sudah pukul 23:00 wib, tak ada suara langkah kakimu yang kukenal di antara begitu banyaknya pengunjung yang ada di sini. Aku selalu berharap sebelum pria menggendong baypacknya untuk memalingkan wajahnya ke arahku, itu adalah kau, Lam. Itu adalah harapanku berbulan-bulan di sini.

Mana janji seorang petualang itu? Kutagih dan kutuntut janji itu selamanya, Lam, selamanya… di jalan Malioboro ini aku akan selalu menagih janjimu. Sekalipun kau sendiri tak akan pernah datang, dan tak pernah ingin menjemputku. Tapi… aku akan terus menunggumu, Lam!

“Mari Chamila, kita pulang yuk! Sudah larut malam. Iklhaslah Lillahi Taala, Chamila, biarkan dia pergi dengan tenang. Kasihan dia, juga dirimu sendiri. Inilah jalan takdir, kita harus menerimanya dengan ikhlas.” Ucap Ira yang sejak tadi memelukku berjam-jam lamanya.[asmarainjogja.id]

Penulis:  Asmara Dewo 

Baca juga:  Sebuah Janji pada Ayah

Yuk, gabung di Media Sosial kami!  Google+  Fanpage  Facebook  Twitter  YouTube

 








Custom Search




Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas