Candi Cetho, Karanganyer, Jawa Tengah | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Asmarainjogja.id – Mengunjungi situs bersejarah Indonesia, salah satu hobi yang sering kami lakukan kala berwisata. Terutama candi. Jawa Tengah dan Yogyakarta adalah iconnya kota candi di negeri ini. Jika di Yogyakarta, jarak candi antara satu dengan lainnya masih bisa dibilang dekat. Namun tidak seperti di Jawa Tengah, yang tersebar di setiap daerahnya.

Dan perjalanan wisata kali ini cukup unik dan berkesan. Sebuah candi yang kami kunjungi di Karanganyer itu menyuguhkan pemujaan yang sangat vulgar. Candi yang bercorak Hindu, biasanya terdapat lingga dan yoni. Simbol pemujaan ini sangat keramat bagi pemeluknya, dan juga sebagai simbol kesuburan.

Lingga yang pada umumnya berbentuk kelamin pria di candi Hindu lainnya tidak begitu mencolok, masih dibilang absurd. Lain halnya lingga di Candi Cetho, wah… benar-benar eksotis nan vulgar, guys. Namun kita juga harus profesional menyikapinya, jangan memandang dari kacamata kita sendiri. Nilailah dari pandang mereka dalam keyakinannya.

Bagi Anda yang sesekali berkunjung ke candi-candi Hindu akan terpelongok melihat benda-benda yang dikeramatkan di sana. Kalau sudah biasa, paling tersenyum saja. Secara pribadi saya juga geleng-geleng kepala, kok bisa seperti itu? Kenapa terlalu vulgar?

Perjalanan berwisata kami seperti biasa, menunggangi kuda besi menjelajah daerah eksotis yang berada di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pada kesempatan itu, 22 Januari 2017 roda motor kami terpacu menuju Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jemawi, Kabupaten Karanganyer, Jawa Tengah. Sebetulnya tujuan wisata kami adalah ke Magetan, tapi tergoda akan candi yang selama ini yang cukup kontroversial, yaitu Candi Cetho.

Maka matic kami pun seakan-akan ditarik oleh kekuatan magnet Candi Cetho. Menujulah kami ke sana dengan kecepatan normal. Sepanjang perjalanan pemandangan indah terhampar luas sejauh mata memandang. Karena lokasinya berada di kaki gunung, maka dari atas ketinggian itu landascape panorama sangat indah.

Kebun teh di Candi Cetho

Kebun Teh di Desa Kemuning, menuju ke Candi Cetho | Foto Asmarainjogja, Asmara Dewo

Rasa cinta tanah air terhadap negeri ini semakin membuncah tat kala tanah surga yang begitu subur dan permai dihadapkan kepada kami. Perkebunan daun bawang warga tampak begitu subur bertingkat-tingkat di lereng gunung. Dan ciamiknya kebun teh yang permai di tepi jalan menggoda menghentikan kendaraan kami. Beristirahatlah sejenak di sana, hanya mengambil foto sebagai dokumen perjalanan.

Jalan beraspal mulus itu meliuk-liuk seperti ular dan agak curam. Pengemudi yang mengendarai kendaraannya bisa dibilang cukup mahir, jika belum mahir, bisa-bisa masuk jurang. Karena memang cukup berbahaya. Terbukti sepulang dari Candi Cetho, waktu itu jalanan diguyur hujan. Ada motor yang tergelincir saat turunan yang menikung. Syukurnya pengendara itu tidak apa-apa, hanya membuatnya down sesaat.

Kendaraan juga harus benar-benar sehat menuju Candi Cetho, sebab tanjakan di sana sangat panjang. Dan tentunya pula pengemudinya memang bisa diandalkan, bukan KW super yang bisa mengancam penumpangnya. Ini saatnya liburan yang menyenangkan, guys, jangan terkendala karena urusan salah memilih pengemudi. Kan tidak asyik, tuh? Kalau sempat gagal total wisatanya.

Sampai menuju kawasan candi, gapura-gapura berbentuk candi terdapat di sekitar perumahan warga. Sepertinya, daerah sini penganut agama Hindunya cukup banyak. Candi Cetho ini memang selain tempat wisata juga sebagai tempat ibadah dan ziarah bagi umat Hindu setempat, dan juga dari luar.

Ketika hari raya Galungan misalnya, di pelataran candi akan ada ritual keagamaan dalam rangka menyambut salah satu hari besar umat Hindu. Tak heran bagi wisatawan yang mengunjungi candi, harus benar-benar patuh terhadap peraturan yang diterapkan pengelola candi.

Kain kampuh di Candi Cetho

Pengunjung diwajibkan memakai kain kampuh di Candi Cetho | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Nah, wisatawan diwajibkan memakai kain kampuh saat memasuki area candi. Kain itu digenakan pinggang, bukan digenakan di anggota tubuh yang lain. Saat itu ada wisatawan yang iseng memakai kain tersebut yang diikatkan di kepalanya, pihak penjaga pun menegur keras menyuruh wisatawan itu memakainya di pinggang. Jadi bisa dibilang penjaga di candi ini sangat menjaga kesopanan, kesucian, dan kehormatan Candi Cetho.

Dari gerbang masuk saja melihat ke bawah, sungguh luar biasa menakjubkan pemandangan dari sini. Indah nian, guys! Apalagi kabut sesekali menutup dan tersingkap, seolah-olah mengundang rasa penasaran para wisatawan yang berkunjung ke sini. Warga di dusun ini juga cukup ramah dan baik, mereka sudah paham betul menjadi warga di lokasi wisata. Dan ini tentu saja membuat nyaman dan betah para wisatawan, termasuk kami sendiri.

Tiket untuk masuk ke Candi Cetho hanya Rp 7.000 per orang. Sangat murah, ya? Tentu murah dong! Secara kita di sini benar-benar puas menghabiskan waktu liburan. Nah, setiap pengunjung diwajibkan memakai kain kampuh tadi. Untuk biaya memakai kain itu, pengunjung dikenakan biaya seikhlas hati, kami untuk 2 orang hanya memberikan Rp 5.000.

Gapura Candi Cetho

Gapura Candi Cetho | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Gapura di candi ini seperti yang terdapat di Bali. Bahkan disebut-sebut pula wisata ini Balinya di Karanganyer. Tak heran pengunjung antri berpose di gapura yang megah nan eksotis ini. Tak terkecuali rekan saya, Rizka Wahyuni. Oh ya, gapura tersebut tidak asli, maksudnya bukan bangunan di masa Candi Cetho. Namun sangat menyatu, seolah-olah seperti satu dari kesatuan Candi Cetho.

Sebelum kami meneluri lebih jauh lagi, waktunya kami makan. Karena sejak bepergian dari Yogyakarta, memang perut suda layaknya diisi, namun kami harus menahan agar makan di tempat wisata. Dan makanlah kami yang sudah dibawa dari rumah di area candi yang asri bertatapkan hutan pinus, kebun warga yang subur, kabut tebal, lereng-lereng Gunung Lawu yang dibalut udara sejuk pegunungan. Wissshh… makannya selera banget, guys! Pakai nambuh lagi.

Dikutip dari Wikipedia, menurut sejarahnya, Candi Ceto ini dibangun pada masa Kerajaan Mataram, Raden Brawijaya V di abad ke XV. Laporan ilimiah pertama kali Candi Cetho disusun oleh Van De Vlies pada tahun 1842. Kemudian di tahun 1970-an candi ini dipugar Sudjono Humardani (asisten Presiden ke-2 Soeharto). Pemugaran ini menuai banyak kritikan sebab gapura yang sudah disinggung di atas tadi. Mungkin karena tidak bisa menjaga keasliannya lagi.

Letak candi berada   di atas ketinggian 1.494 mdpl. Kebayangkan bagaimana tingginya? Tak heran di sini juga kerap diselimuti kabut, untungnya saat kami di sana kabut tidak terlalu tebal. Untuk mengabadikan foto masih jelas hasilnya. Nah, secara keseluruhan Candi Cetho berbentuk punden berundak. Tempat pemujaan dewa dan dewi (Punden berundak) ini maksudnya adalah bangunan yang bertingkat-tingkat. Bangunan tersebut  merupakan warisan budaya zaman megalitikum (pra sejarah).

Candi Cetho

Ornamen dan arca di pelataran Candi Cetho | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Seperti yang sudah disampaikan di awal, ornamen atau benda-benda keramat di sini itu vulgar, misalnya saja yang ada di hadapan kami ini. Ada ornamen yang berbentuk phallus yang bertindik. Kemudian terdapat pula yang berbentuk kura-kura, kodok atau katak tidak begitu jelas, dan hewan lainnya. Dan dikawal oleh dua arca, yang satu tanpa kepala. Pengunjung dilarang menginjakkaan kaki dan melewati batas yang dirantai. Karena ini juga bagian tempat yang disucikan.

Kami menaiki anak tangga berikutnya. Hampir di setiap tingkatan candi terdapat gajebo di sana yang berisikan tempat pemujaan pula. Lengkap dengan dupa dan sesajian. Seperti candi-candi lainnya, yaitu arca gupolo, sang raksasa lambang dari pleindung sebuah bangunan suci. Sayangya gupolo di sini kepalanya sudah hilang, tapi badannya masih utuh, dan tangan terlihat gagah memegang gada.

Menuju tingkat akhir petugas berjaga-jaga di sini, ditemani para fotografer lokal yang mejajajakan hasil foto terbaiknya. Di sebelah kiri terdapat lorong menuju warung-warung yang sekaligus keluar dari area candi. Karena rasa penasaran asli atau tidaknya gapura yang mentereng gagah menyambut para pengunjung, Rizka sempat mengobrol dengan petugas.

“Candi Cetho sudah dipugar, Mbak. Nah, untuk gapura itu sudah tidak asli lagi (buatan),” kata petugas itu kepada kami.

Saat ditanyai batu apa untuk membuat gapura dan tembok berlapis-lapis di Candi Cetho, Bapak Petugas tidak tahu menahu soal tersebut. Tapi pada umumnya candi untuk pemugaran biasanya menggunakan batu gunung atau batu bukit.

Bangunan utama Candi Cetho

Bangunan utama Candi Cetho | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Tibalah kami pada tingkat terakhir, di sinilah bangunan utama dan paling suci. Uniknya terdapat sarang-sarang yang terbuat dari papan menutupi arca atau benda-benda lainnya. Sedangkan atap sarang itu terbuat dari atap ijuk. Salah dua arca yang terbuka adalah arca yang berbentuk manusia, apakah itu bentuk dari Brawijaya atau bukan. Nah, selain itu terdapat lingga (phallus) dan yoni di dalam sarang tersebut. Phallus itu bentuknya persis untuk Mr P. Sangat vulgar, harap anak-anak jangan melihat ini!

Phallus di Candi Cetho

Phallus (lingga) dan yoni di Candi Cetho | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Baca juga Candi di Jawa Tengah lainnya:

Jatilan dalam Kemeriahan Festival Candi Kembar

Pujian Semesta untuk Candi Borobudur

Candi Lumbung (Sengi) yang Berpindah-pindah, Malang Nian Nasibnya

Menyaksikan Peradaban Mataram Kuno di Situs Liyangan

Salah satu Archa di Candi Ceto

Salah satu Archa di Candi Ceto | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Ini juga salah satu tempat pemujaan, sebab di bawah Phallus itu terdapat dhupa dan sesajian. Aroma di sini sangat terasa menusuk hidung, aroma dupa khas candi-candi becorak Hindu. Jika dua sarang ini dibuka, lantas bagaimana yang digembok rapat? Kenapa harus ditutup begitu? Saya berkeyakinan kuat, pasti di dalamnya terdapat yang lebih vulgar lagi.

Nah, seperti di area taman Saraswati yang berada di kawasan Candi Cetho. Terdapat juga sarang-sarang yang ditutupi secarik kain, karena pensaran isinya apa, jadi saya buka. Lagi-lagi saya menemukan phallus yang terbuat dari batu dengan warna agak kekuningan. Bentuknya persis seperti di Candi Cetho ini. Jadi kesmipulannya adalah apapun yang ditutupi sudah pasti yang vulgar, hahaha.

Oh ya, bentuk Candi Cetho ini tidak seperti candi pada umumnya. Bentuknya seperti piramida. Bahkan ada yang menyebutnya pula piramida yang mirip dengan suku Maya Chichen Itza di Meksiko.

Sayangnya pintu masuk ke dalam dikunci, pengunjung hanya bisa melihatnya apa isinya dari luar. Meskipun begitu penjung bisa mengitari salah satu candi yang “nyentrik” di Pulau Jawa ini. Kami juga melihat bangunan candi utama itu sudah ada yang rusak, batu berbentuk kotak-kotak persegi itu sudah membuncit.

Pemandangan dari atas ini sangat luar biasa, guys, dan tentunya udara semakin sejuk pula. Pepohonan yang begitu rindang begitu setiap menemani Candi Cetho di sekitarnya. Uniknya pula bagian atap candi dibalut dengan bendera merah putih. [Asmara Dewo]

Padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas