Islustrasi situs Islam yang diblokir | Foto sourch Merdeka

Oleh: Asmara Dewo

Di ujung tahun 2016, sebuah kado pahit dari Kemenkominfo untuk 11 situs Islam. Pemblokiran massal kembali digilir ke voa-islam.com, nahimunkar.com, kiblat.net, bisyarah.com, dakwahtangerang.com, islampos.com, suaranews.com, izzamedia.com, gensyiah.com, muqawamah.com dan abuzubair.net, pada tanggal 31 Desember 2016.

Sebelumnya pada tanggal 4 November 2016, Kemenkominfo juga tak kalah garangnya, memblokir situs, lemahirengmedia.com, portalpiyungan.com, suara-islam.com, smstauhiid.com, beritaislam24h.com, bersatupos.com, pos-metro, jurnalmuslim.com, media-nkri.com, lontarnews.com, nusanews.com.

11 situs yang diblokir pada jilid I, maupun jilid II, dinilai Kemenkominfo dianggap SARA dan radikalisme. Benarkah begitu? Sepertinya Kemenkominfo terlalu buru-buru menuduh situs yang diblokir tersebut memuat konten Sara, ataupun radikalisme.

Kalaupun memang ada kedua unsur tersebut pada situs yang diblokir, setidaknya publik, atau umat Islam khususnya bisa tahu, konten mana yang memuat tuduhan itu sesuai kacamata Kemenkominfo. Jadi publik pun bisa menilai. Namun jika main sikat saja, tanpa keterangan, sama saja Kemenkominfo bertindak kriminal.

Jadi pada dasarnya, siapapun atau apapun yang bertindak sewenang-wenang adalah buah dari perbuatan kriminal. Kriminal adalah kejahatan. Itu artinya Kemenkominfo sudah berbuat jahat terhadap situs Islam.

Kalau kita ingin membanding-bandingkan situs Islam dengan situs lainnya, sungguh jauh bermanfaat situs Islam dibandingkan situs yang memuat konten semi porno, artikel atau berita sampah, dan opini pembodohan. Di situs Islam itu selain memuat berita, juga menuliskan konten-konten yang bernapaskan keIslaman, dan itu sangat dibutuhkan warga Muslim di Indonesia.

Contohnya saja, mulai dari artikel bagaimana cara mandi junub yang benar, cara bersenggama sesuai tuntunan Rasulullah SAW, sampai hukum-hukum Islam yang wajib diketahui umat Islam. Tentu saja hal ini tidak dimuat di situs tetangga sebelah, yang menuliskan artikel vulgar, plus foto setengah telanjang. Apakah ini baik menurut Kemenkominfo? Kalau konten seperti ini dianggap baik, berarti butuh pemahaman Islam lagi.

Seharusnya pemerintah Indonesia bersyukur adanya situs Islam di negeri ini. Bukan tak kemungkinan ledakan internet ini menyapu bersih jiwa dan pemikiran umat Islam secara berlahan-lahan. Karena kita ketahui sendiri, ngeri sekali dampak internet bagi perkembangan cara berpikir manusa modern.

Terlebih lagi beberapa situs yang kesannya benci sekali terhadap Islam, secara tak langsung berita dan artikelnya menyudutkan umat Muslim. Malah situs-situs inilah yang   kesannya dilindungi dan dipelihara oleh pemerintah kita. Ini sungguh tidak adil.

Bukan berarti Kemenkominfo mempunyai kewenangan menangani ITE lantas sesuka hati saja membrantas situs yang tidak sejalan dengan pemerintah kita. Jangan pula ada kritikan dalam sebuat konten dianggap menyerang pemerintah! Jangan begitu menilainya! Kritikan juga sebagai peingat dan pendukung agar pemerintah kita Indonesia bisa bekerja dengan baik, seusai azas Ketuhanan yang Maha Esa, sampai Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Satu contoh situsnya adalah Islampos.com. Penulis nilai konten di sana tidak ada unsur SARA dan radikalisme. Bahkan artikel yang memuat opini juga tidak menyerang pemerintah. Sebuah kritikan yang biasa, sama seperti situs-situs pada umumnya. Penulis sendiri yang pernah mengirimkan opini yang sedikit blak-blakan dalam kritikan terhadap pemerintah tidak dimuat di situs Islampos.com.

Nah, karena Islampos.com memang didirikan atas dasar Islam, tentu dengan tegas memuat mana yang sesuai Islam, dan mana yang tidak sesuai Islam. Jadi bisa disimpulkan, kalaupun ada konten yang bersebrangan dengan pemerintah maka sebaiknya yang dikritik bisa evaluasi. Kalau memang kritikan itu benar, kenapa harus kebakaran jenggot sampai memblokir Islampos.

Bukankah itu baik mengingatkan pemerintah yang notabenenya dijalankan oleh sesama manusia yang dhoif, dan penuh dengan kekeliruan.

Dan jika ada konten Islampos yang dianggap SARA atau radikalisme, silahkan buktikan kepada publik, konten mana yang dianggap berbahaya. Sederhana, kan kalau tidak terlalu gegabah asal main blokir saja?

Kemungkinan juga akan ada lagi pemblokiran massal di jilid III. Sepertinya rezim sekarang memang tak bisa lagi membedakan mana berita hoak, mana konten SARA, konten berbahaya, dan mana kritikan sehat untuk pemerintah.

Semua yang bersebrangan dengan pemerintah disikat! Kita kembali ke zaman Orde Baru. Sebuah zaman yang gemar membredel berita yang bersebrangan dengan kebijakan pemerintah. Kita kembali mundur ke belakang, menjadi bangsa yang semakin tertinggal dan penuh dengan kedikatatoran. Diam-diam ternyata rezim sekarang jauh lebih kejam dibandingkan rezim The Smiling General.

Sederhana saja menilainya, yang bernapaskan Islam membuat pemerintah kita seperti kebakaran jenggot. Takut sekali. Padahal rezimnya sendiri Islam, orang-orang di lingkaran Islam Muslim. Tapi kita bingung sendiri, kenapa alergi sekali dengan Islam? [Asmarainjogja.id]

Padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas