Foto Ilustrasi Flickr

Ah, hujan. Sudah berapa lama kita tak bersua? Sejak kapan kita tak lagi bercumbu rayu?

Aku tidak tahu. Kau memang sudah lama sekali tidak menyentuhku, kau tidak lagi keluar, menari riang bertelanjang kaki, memelukku di saat aku datang ... Seperti saat ini. 

Mengapa? Padahal dulu aku masih ingat betul, setiap aku datang kau selalu sengaja keluar tanpa payung. di jalan, saat orang-orang berteduh atau berjalan terburu-buru menghindariku padahal sudah berpayung, kau justru sengaja berjalan perlahan di bawahku. Walau mereka semua menatapmu dengan aneh, kau tak peduli dan hanya tersenyum bersamaku, dan pulang dengan tubuh basah kuyup. Alih-alih mengeluh, kau malah tertawa lebar dan langsung ke kamar mandi dengan riangnya. Aku menyukaimu, karena hanya kau wanita, yang berkata menyukaiku bukan hanya di bibir saja, namun dengan sikapmu yang memang benar-benar menunjukkannya.

Sering kudengar banyak yang berkata, "aku suka hujan!" Dengan lantang, tapi saat aku datang mereka mengeluh, "yaah, hujan!" Setiap aku datang, Mereka tidak menyambutku seperti yang kau lakukan, malah menghindariku dengan memakai payung atau jas hujan. 

Maafkan aku. Bukannya aku tidak lagi menyukaimu, tapi ini karena ...

Karena apa? Aku merindukanmu! Bukankah rindu tidak memerlukan ssebuah alasan apa pun?

Aku juga merindukanmu! Tapi justru karena rindu itulah, yang telah membuatku mati rasa. Tak bisa lagi mengeluarkan apa pun dalam huruf-huruf yang bisa menjadi kalimat. Aku bahkan sudah lama tidak menyukai lagi lagu, aku sudah tidak suka bernyanyi, atau hanya sekadar mendengarkannya. 

Apakah kamu sekarang juga sudah tidak menyukaiku lagi?

Tidak! Aku masih tetap menyukaimu. Hanya kamu yang bisa menyembunyikan tangisku, yang bisa membuatku tertawa lebar tanpa beban, dan hanya kamu yang bisa meluruhkan sesak karena emosi di dada.

Lalu kenapa?

Aku merindukannya ... Seseorang, yang menghilang karena wanita yang dia sebut 'ipat.' Seseorang, yang menuliskan namanya dengan namamu, Rainz. Aku merindukannya! Karena rindu itulah, yang sudah membuatku tak berdaya sekarang.

Ditambah lagi, satu mimpiku kembali harus rela kuhilangkan, karena ternyata keluargaku malu kalau aku mewujudkannya. Padahal tahukah kau? Aku berani bermimpi senekad itu karena tidak mau berpangku tangan pada semuanya. Aku malu setiap pergi tidak pernah mengeluarkan sepeser pun. Rasanya seperti pengemis yang sedang dihibur, untuk mengenyangkan isi perutnya. Aku malu karena selalu diberi, bukannya memberi. Kau pasti tahu, aku selalu mengeluarkan air mata jika memikirkan dia yang kurindu di Bandung sana, dan jika bercerita tentang jalan yang harus kulalui di rumah.

Semua mimpiku hilang. Aku tidak lagi berani bermimpi. Ternyata, semangat meraih mimpi saja tidak bisa, jika tanpa restu orang tua.

Ah, hujan ... Kau datang lagi. Terimakasih masih mau menemani. Maafkan aku yang sudah tidak bisa bermain denganmu. Tapi aku pasti akan selalu mencuri waktu untuk selalu bersamamu. Datanglah kalau kau melihatku sedang di luar.

Penulis: Re Tiapian



style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-6494373068136966"
data-ad-slot="6999959531"
data-ad-format="auto">



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas