Menulis di Perpustakaan Kota Yogyakarta | Doc. Bintang Inspirasi

Asmarainjogja.id--Diawali dengan ide seorang kawan yang ingin mendirikan sebuah komunitas menulis. Maka pada 12 Maret 2018 lahirlah sebuah komunitas menulis bernama Bintang Inspirasi di pendopo Universitas Widya Mataram.   Ya,  nama ini atas saran kawan bernama Dewo yang mana dia mendapat ide tersebut  ketika teringat kata-kata  kawannya dulu,  “Bang, kalau  ingin menjadi seorang penulis,  Abang harus cari bintang inspirasi Abang”.

Sebagai sebuah komunitas, di  awal pembentukan Bintang Inspirasi memiliki tujuan dan cita-cita, yaitu  ingin memperkenalkan budaya literasi di lingkungan kampus, ingin karya tulis kami dikenal oleh publik  luas.    Juga memperkenalkan budaya menulis kepada anak-anak, dan ingin sedikit banyaknnya memiliki andil dalam masyarakat.

Di awal pembentukannya sendiri Bintang Inspirasi terdiri dari 12 orang. Walaupun setiap agenda menulis yang datang tidak semua,  tapi kami tetap mencoba untuk konsisten dalam belajar. Setiap minggu kami selalu mengadakan agenda untuk jalan-jalan di  daerah Jogja sebagai inspirasi bahan tulisan.

Setelahnya, beberapa hari kemudian kami membacakan karya tulis masing-masing melalui handphone.   Selesai membaca kami saling mengomentari tulisan masing masing. Pada awalnya banyak dari kami yang melakukan kesalahan-kesalahan dalam penulisan. Maklum saja   beberapa dari kami,  termasuk saya baru pertama kali mengenal yang namanya dunia literasi.

Bercerita sedikit ketika pertama kali agenda menulis diadakan di Malioboro. Di  mana sebagai tempat yang disepakati kawan-kawan untuk menjadi bahan inspirasi menulis. Kala itu saya masih belum mengerti bagaimana mendapatkan  ide,  juga mencari sumber inspirasi menulis. Dan bagaimana cara menulis yang baik dan benar.

Alhasil ketika waktu yang sudah ditentukan sebagai hari pembacaan karya. Hanya saya saja yang tidak bisa menyelesaikan tulisan.  Duh,  malu rasanya. Namun setelah kejadian hari itu serta mendapatkan kritik dan saran dari kawan-kawan. Saya jadi mulai mengerti untuk tahu bagaimana cara menemukan inspirasi dalam menulis.

Dengan masif  dan progresifnya Bintang Inspirasi di  setiap minggunya,  membuat saya dan kawan-kawan yang lain mulai mengikis kekurangan-kekurangan dalam hal kepenulisan. Seperti tanda baca, pengulangan kalimat, pemborosan kata,  sampai mencoba untuk merangkai setiap kata menjadi diksi-diksi yang indah ala penyair maupun sastrawan.

Dalam hal kegiatan menulis, kawan-kawan Bintang Inspirasi sendiri bisa dikatakan cukup militan. Karena kegiatannya  sendiri tidak hanya berfokus pada daerah Kota Jogja saja, bahkan sampai Kulonprogo. Kami mengunjungi tempat wisata Air Terjun Kedung Pedut. Di  sana   juga kami bisa berinteraksi langsung dengan warga-warga di area wisata tersebut.

Melalui interaksi dengan warga inilah beberapa kawan memasukkan kritik sosial di  dalam tulisannya. Pernah juga kawan Bintang Inspirasi membuat tulisan yang sampai membuat gempar kampus.  Karena tulisan kawan BI itu,  dosen menyindir dengan menganggap tulisan tersebut terlalu berlebihan dan asal tulis.

Walaupun kami isinya penulis yang bisa dibilang biasa saja. Tapi kami tahu apa-apa saja yang harus dituangkan dalam sebuah tulisan, termasuk tulisan yang isinya kritikan. Tidak mungkin ketika kami melihat sesuatu yang salah lalu langsung kami kritik tanpa kami mengamati dan mencari tahu salahnya di  mana. Apa lagi jika itu akan kami tuangkan pada sebuah karya tulis.

Dunia kampus sendiri haruslah mampu dan sanggup untuk menjadi pondasi bagi kreativitas dan kebebasan berekspresi bagi mahasiswanya. Oleh karena itu orang-orang yang antipati dengan tulisan yang bernada kritikan sangat disayangkan,  apa lagi jika itu hadir dari dunia akademisi.

Dibalik militansinya sendiri masih ada kekurangan dari kawan-kawan yang sering terjadi,  yaitu terlambat datang ke agenda yang sudah dijadwalkan. Bahasanya sendiri percuma militan  kalau ‘ngaret’. Hal ini lah yang sering membuat agenda yang sudah disepakati menjadi molor cukup lama.

Dalam perjalanan satu tahun Bintang Inspirasi cukup kenyang yang namanya memakan asam,  garam,  dan pahitnya penurunan kolektivitas. Beberapa kawan mulai sering absen dalam agenda,  sibuk dengan pekerjaan dan   aktivitas di  luar komunitas. Sampai cukup banyak dari kawan-kawan yang akhirnya memutuskan untuk menghilang dan keluar dari BI.

Sampai pada akhir tahun 2018,  Bintang Inspirasi mengalami vakum yang disebabkan oleh tidak konsistennya kami dalam berdinamika di komunitas ini. Bagaimana tidak konsisten, ketika jadwal sudah ditentukan dan disepakati. Banyak dari kami yang tiba-tiba izin tidak mengikuti  agenda dengan alasan berbagai hal.

Beberapa kawan yang sudah meluangkan waktunya di  hari itu untuk BI akhirnya kecewa. Karena kalau dipakai sudut pandang yang sama mereka pasti juga memiliki kesibukan. Tapi yang membedakan mereka   yang datang tetap konsisten, sedangkan yang lain tidak. Itulah kerikil-kerikil tajam yang dilalui BI selama perjalanannya satu tahun ini.

Dengan vakumnya BI selama beberapa bulan, itu menjadi introspeksi di  tubuh komunitas ini. Di  awal perjalanan yang sudah BI lakukan sepanjang tahun 2018,  dari yang progresif hingga terobosan-terobosan yang kami lakukan dalam setiap agendanya, ternyata tetap membuktikan bahwa kami adalah komunitas yang masih hijau.

Beberapa bulan berlalu hingga di bulan Februari 2019, kawan-kawan yang masih konsisten   dikomunitas Bintang Inrpirasi menghidupkan kembali komunitas ini. Dengan sisa anggota yang konsisten berjumlah lima  orang: Dewo, Faisal, Angin, Almo,  dan saya sendiri. Kami lalu membuat agenda setiap minggunya dengan menulis di  berbagai tempat di  kawasan Jogja.

Yang unik dan baru dari agenda BI  sekarang adalah  kami bukan hanya mengamati objek yang kami datangi. Tetapi kami juga harus langsung menulis dan menyelesaikan tulisan di  tempat. Guna dari kegiatan baru ini adalah melatih konsentrasi, kepekaan, imajinasi,  dan pengamatan langsung terhadap objek yang akan ditulis.

Kembali aktifnya BI dalam menulis akan mewarnai dunia literasi di negeri ini. Apa lagi dengan situasi masyarakat  sekarang  yang butuh bahan bacaan mengenai informasi-informasi terutama wilayah Jogja. Bintang Inspirasi akan siap dan selalu menawarkan bacaan berbeda di  setiap minggunya. Walaupun sempat redup bintang tersebut,  bukannya berarti kehilangan cahaya. Kami hanya mengganti cahaya bintang tersebut dengan cahaya lain yang berpijar lebih terang.

Ya,  jika ibarat tanaman lidah buaya, BI adalah  bibit yang baru ditanam   kemarin di area yang isinya pohon-pohon besar. Dalam perjalanan tumbuhnya lidah buaya,  pasti ranting dari pohon-pohon besar tersebut berjatuhan menimpa lidah buaya. Ya,  memang rusak,  sih, hanya saja yang membuat lidah buaya tersebut   tetap bertahan dan terus tumbuh adalah akarnya yang kuat untuk bertahan dari berbagai gangguan.

Memang benar pepatah yang mengatakan merpati tak pernah ingkar janji. Burung merpati pula yang kami jadikan lambang komunitas ini. Dengan harapan, impian, dan tujuan kami terbang menuju bintang-bintang yang mulai merpati sampaikan di  setiap posnya.

Tepat di ulang tahun  BI  yang pertama, jatuh pada tanggal 12 Maret 2019.Besar harapan sang merpati terus terbang mengisi setiap bintang dengan cahaya inspirasinya. Dan tugas kami sebagai anggota komunitas ini diibaratkan sebagai sayap-sayap merpati yang digambarkan sebagai pena.

kami harus terus menulis dan berkarya agar sayap-sayap tersebut tetap mengepak,  yang mana artinya kami harus terus konsisten berdinamika dan terus menulis agar sang merpati tetap selalu tiba di tujuannya, yaitu Bintang Inspirasi.

Penulis: Defry, anggota Komunitas Bintang Inspirasi

Baca juga artikel Defry lainnya:

Malas Membaca? Ayo Datang ke Perpustakaan Ini!



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas