Angin | Doc. Bintang Inspirasi

Asmarainjogja.id--Apakah kamu pernah tahu  Pasar Beringharjo? Yah, Pasar Beringharjo merupakan salah satu pasar tertua yang berada di Kota Yogyakarta. Di  sana banyak para pedagang yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari, baik itu makanan, aksesoris, perlengkapan dapur.   Bahkan  juga ada  oleh-oleh khas Yogyakarta seperti  kue bakpia.

Walau sekarang era modernisasi, namun alangkah baiknya jika kita sebagai anak-anak muda untuk sesekali berkunjung ke pasar. Lebih baik lagi pasar tradisional. Pasar Beringharjo salah satu pasar tradisional yang direkomendasikan  bagi kalian,  apalagi yang tinggal di Kota Mataram Islam ini dengan keistimewaannya. Sembari belanja,  sekaligus kita bisa berwisata mengunjungi tempat-tempat sejarah yang berada di kawasan pasar tua tersebut.

Pasar Beringharjo terletak di kawasan Jalan Malioboro, kalau kita berjalan dari utara ke selatan sepanjang Jalan malioboro, Pasar tersebut berada di sebelah timurnya. Lebih tepatnya sebelum Benteng Vrederburg dan Istana Negara. Sebelah Timur Pasar Beringharjo atau di belakang Pasar lawas tersebut jika kita berjalan terus ke belakang pasar, maka kita akan tembus ke Taman Pintar.

Jika hendak berkunjung ke Pasar Beringharjo maka hindarilah hari-hari libur nasional dan libur akhir pekan. Sebab, di sana sangat ramai sekali para pengunjung baik wisatawan nasional maupun mancanegara.  Dan kalian pasti akan berdesak-desakan saat berbelanja. Apalagi buat kalian yang memiki sifat introvert  pasti tidak akan betah berlama-lama di sana.

Jikalau ingin ke Pasar Beringharjo kalian bisa naik alat transportasi becak motor, becak sepeda,  bahkan andong. Karena jika naik kendaraan roda empat bisa-bisa kalian terjebak macet. Apabila ingin naik kendaraan umum tersebut,  alangkah baiknya kalian menanyakan tarifnya terlebih dahulu untuk menghindari kesalahpahaman.

Untuk Pasar Beringharjo saat ini buka sampai malam,  yakni pukul 22:00 Waktu Indonesia Barat. Lantai dasar pasar yaitu khusus bagi yang berjualan pakaian-pakaian batik. Kalau  kalian suka koleksi batik maka datanglah ke sana, celana, kemeja, bahkan kebaya. Sudah saatnya kita sebagai generasi milenial mencintai produk-produk dalam negeri.

Apasih istimewanya belanja di pasar tradisional? Mungkin banyak di  antara kalian yang bertanya-tanya. Pasar tradisional ini mempunyai keistimewaanya sendiri. Kalau kalian biasa belanja di Mall  atau di minimarket mungkin kalian langsung membeli dengan harga yang sudah ditetapkan.  Tanpa ada proses tawar menawar. Namun lain halnya jika kita belanja di pasar tradisional, di sana kita akan melakukan proses tawar menawar antara penjual dan pembeli.

Salah satu yang menjadi alasan buat kalian mengapa harus sesekali,  bahkan berkali-kali belanja di pasar tradisional.  yakni secara tidak langsung kita membantu perekonomian rakyat kecil. Selain itu di Pasar tersebut banyak sekali barang-barang hasil kerajinan masyarakat yang di pasarkan di sana. Salah satu yang saya ketahui seperti keranjang dapur yang terbuat dari bambu.

Selain itu masih banyak lagi kerajinan tangan yang dibuat oleh masyarakat setempat yang wajib kamu miliki karena terkesan unik. Misalnya jika kalian membeli tas yang terbuat dari rotan, mungkin kalian akan semakin terlihat semakin lucu anggun nan memesona. Saya juga melihat di  sana banyak para turis asing suka membeli tas yang terbuat  dari rotan tersebut dan merasa bangga saat dipakai.

Cobalah sesekali mencoba makanan yang dijual di  pinggiran jalan. Para pedagang ramah menjajakan dagangannya.  Setelah selesai berbelanja dari  Pasar Beringharjo,  dan keluar pasar, maka kalian  menemukan para pedagang di sepanjang jalan  pasar tersebut. Banyak sekali kuliner yang cocok bagi lidah masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Marauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Saya sendiri  sudah mencoba salah satu kuliner yang sangat enak d  isana, salah satunya adalah wedang ronde. Bagi kalian yag penasaran dengan wedang ronde datang saja ke pasar tradisional ini. Wedang ronde ini sangat baik bagi kesehatan tubuh, yang mana rasa jahe dan campuran-campuran lain yang bisa kita makan.

Nah, satu lagi yang  tidak  kalah menarik,  yaitu sate. Mengapa,  sih,  kok dikatakan menarik? Ya,  karena sate ini dijual oleh ibu-ibu atau mbah-mbah. Mereka membawa barang dagangannya dengan cara diletakkan di kepala. Kalau bahasa sini  menyebutnya “disunggih” dengan menjaga keseimbangan. Sate, lontong, bumbu,  dan tempat pembakaran disusun rapi di suatu wadah.  Nah,  mereka duduk sembari menunggu pembeli  dengan menyiapkan daun pisang sebagai pembungkusnya.

Bintang Inspirasi

Pengalaman yang berkesan bagi kalian yang telah mencoba jajanan di area Pasar Beringharjo dan tentunya takkan pernah terlupakan sepanjang hidup.  Inilah Kota Yogyakarta dengan segala keistimewaannya.  Yang paling penting jangan sampai lupa diabadikan momen tersebut.

Oh, iya, satu lagi yang belum saya sampaikan pada kalian bahwa di dalam pasar lawas ini ada satu panggung. Guna panggung tersebut yaitu untuk diisi dalam acara-acara peringatan,  maupun acara besar lainnya. Suatu keberuntungan bagi kalian yang datang ke pasar lawas ini,  jika bertepatan dengan acara yang digelar di panggung tersebut.

Pasar Beringharjo untuk saat ini menurut saya kurang begitu nyaman dan masih banyak yang harus diperbaiki. Di lantai dasar pasar,  khusus bagi yang berjualan pakaian terlalu sempit, sehingga para pengunjung susah saat sedang berpapasan.  Selain itu jadi sulit  untuk berjalan karena berdesak-desakan. Sebaiknya  pengelola pasar  harus menata ulang agar ruang bagi pengunjung lebih luas lagi. Tentu saja hal itu dilakukan untuk kenyamanan bersama.

Untuk tempat parkir sudah tertata dengan rapi dan tergolong luas. Lahan parkir berada di sebelah selatan Pasar Beringharjo. Selain menjadi tempat parkir,  di sana juga banyak yang berjualan, seperti  warung makan. Ketika malam hari pun area tersebut menjadi lapak bagi yang berjualan di malam hari, tempat ini dinamakan Pasar Sentir. Para pedagang datang dengan membawa alas dan menjual barang-barangnya dengan ala kadarnya.

Biasanya di  sana akan terjadi proses jual-beli antara pedagang dan pengunjung pasar. Mereka bukan hanya menjual barang dagangannya saja, tetapi pengunjung bisa juga menjual barang kepada pedagang. Tentu dengan harga yang telah disepakati antara kedua belah pihak.

Pasar Beringharjo masih tergolong kurang terjaga kebersihannya. Sebab masih banyak sampah yang tidak berada pada tempatnya.  Walaupun saya rasa sudah banyak tempat-tempat sampah yang disediakan, namun masih banyak yang belum sadar akan pentingnya kebersihan.

Masyarakat dan petugas sepertinya harus saling bekerja sama untuk menciptakan kebersihan pasar. Selain tempat-tempat sampah yang sudah disediakan juga seharusnya dibuat tim investigasi khusus untuk mengawal para pengunjung yang membuang sampah sembarangan. Sebaiknya pemerintah daerah membuat Bank Sampah,  yang mana sampah-sampah tersebut dikumpulkan lalu dipilih  antara sampah organik dan non organik.  Sampah yang sudah dipilih tadi jika memang ada peminatnya, maka tak ada salahnya untuk dijual.  Sedangkan yang organik dimanfaatkan menjadi pupuk tanaman.

Pasar Beringharjo

  Kawasan Macet di Pasar Beringharjo | Foto doc. Angin/Bintang Inspirasi

Kawasan jalan di sekitar Pasar Beringharjo biasanya sangat macet.  Kemacetan  itu karena  jalan yang sempit.  Perlu diketahui mengecilnya jalan itu karena badan jalan menjadi tempat jualan Usaha Mikro Kecil Menengah. Harapannya agar pemerintah setempat menyiapakan tempat khusus bagi pedagang kecil sehingga tidak mengganggu lalu lintas.

Itu tadi sedikit gambaran dari Pasar Beringharjo yang dapat saya ungkap. Semakin penasaran?  sebaiknya langsung saja datang ke  sini. Daripada kalian terus-terusan belanja di mall-mall  maupun di minimarket. Cobalah sesekali berbaur dan saling tawar-menawar di pasar lawas ini, sehingga menunjukkan bahwa kita makhluk yang suka bersosialisasi.

Mungkin hanya itu saja yang bisa penulis sampaikan, semoga semangat kalian bangkit kembali untuk belanja di pasar tradisiol dan mengurangi gaya hidup yang hedonis. Dan semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, guna kebaikan bersama.  Kritik dan saran mohon disampaikan.[] 

Penulis: Angin, anggota Komunitas Menulis Bintang Inspirasi 

Baca juga tulisan angin lainnya:

Suasana di Titik Nol Kilometer Yogyakarta 

Pentingnya bagi Mahasiswa dalam Berorganisasi di Kampus 

Pantai Siung yang Buat Tersanjung 

 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas