Mohammad Natsir | Foto Istimewa

Asmarainjogja.id – Di awal kemerdekaan Indonesia, para tokoh-tokoh bangsa berkehidupan sederhana. Karena segenap jiwa raganya ia korbankan untuk negara tercinta Indonesia. Salah satu pemimpin yang begitu bersahaja adalah Mohammad Natsir.

Seakan tidak percaya jika seorang menteri memakai jas bertambal, hanya mempunyai 2 potong kemeja, dan tidak punya uang ketika temannya butuh ongkos pulang. Hidup di zaman modern dan glamour para elit politikus di zaman ini, seakan terbalik jika mengenang sejarah kesederhanaan seperti Mohammad Natsir.

Meskipun Indonesia baru merdeka, paling tidak untuk gaji seorang menteri cukuplah membeli pakaian yang layak pakai. Namun karena kesederhanaan Menteri Penerangan Mohammad Natsir yang juga pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Indonesia di tahun 1950, memilih berpakaian apa adanya.

Suatu ketika, guru besar Universitas  Cornell, George Mc Turnan Kahin berjumpa Mohammad Natsir di Yogyakarta. Kahin betapa terkejutnya melihat menteri dengan jas bertambal, tak pernah ia jumpai seorang menteri pemerintahan di manapun memakai pakaian seperti Natsir.

“Pakaiannya sungguh tidak menunjukkan ia seorang menteri dalam pemerintahan,” tulis Kahin dalam buku untuk memperingati 70 tahun Mohammad Natsir. Seperti yang dikutip dari seri buku Tempo, Natsir Politik Santun di Antara Dua Rezim.

Guru besar itu melihat sendiri Natsir menggenakan jas bertambal. Kemejanya hanya dua setel dan sudah lusuh dimakan usia. Lalu Kahin mendengar kabar dari Agus Salim mengenai sosok Natsir, di belakangan hari tahu bahwa staf Kementerian Penerangan mengumpulkan uang untuk membelikan pakaian supaya bos mereka terlihat pantas sebagai seorang menteri.

Mengenai berpakaian apa adanya dari seorang Natsir, hal ini juga pernah disampaikan oleh Pakar Hukum Tata Negara Yusril Ihza Mahendra. Ketika itu Yusril merupakan staf Natsir dalam memimpin Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di orde baru. Yusril menuturkan, betapa bosnya setiap ke kantor menggenakan kemeja itu-itu saja. Kalau tidak kemeja putih yang di bagian kantongnya ada bekas noda tinta, kemeja lain adalah batik berwarna biru.

Natsir yang juga pernah menjadi Ketua Umum Fraksi Masyumi tersebut juga mengajarkan pada anak-anaknya agar selalu hidup sederhana. Sitti Muchliesah, anak pertama Natsir bersama adik-adiknya dan juga sepupunya menguping pembicaraan ayahnya saat sedang menerima tamu. Tamu itu dari Medan dengan membawa mobil Chevolet Impala yang sudah terparkir di halaman rumah. Sedan mewah buatan Amerika itu sudah tergolong elit pada tahun 1956.

Baca juga:

3 Tokoh Muslim Indonesia Paling Berpengaruh di Abad 20 dan 21

Politik Buya Hamka yang Dibenci tapi Sosok yang Dimuliakan

3 Tokoh Bangsa yang Berpesan Kepada Buya Hamka

Betapa riang anak-anak yang mengintip pembicaraan Natsir ketika itu, bagaimana tidak? Jika mereka akan punya mobil baru. Namun kakak beradik itu menelan kekecewaan, ayahnya menolah dengan halus hadiah mobil dari koleganya tersebut.

Kata Natsir pada anak-anaknya, “Dia ingin membantu aba (pen: ayah) karena mobil yang ada kurang memadai.”

Saat itu tokoh kelahiran 17 Juli 1908, Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Solok, Sumatera Barat tersebut sudah mempunyai mobil. Hanya saja mobil yang bermerk DeSoto itu sudah kusam.

“Mobil itu bukan milik kita. Lagipula yang ada masih cukup,” kata Lies menirukan ucapan ayahnya saat mereka bertanya kenapa menolak pemberian hadiah mobil tersebut.

Kisah lain juga diceritakan dari Mantan Ketua MPR, Amien Rais, tentang betapa sebenarnya keluarga Natsir cukup kesulitan masalah keuangan. Saat masih mahasiswa, Amien Rais mendengar cerita dari Khusni Muis yang pernah menjadi Ketua Muhammdyah Kalimantan Selatan.

Khusni menceritakan Syahdan yang saat itu pernah datang ke Jawa karena urusan partai. Pada saat itu Muhammdyah merupakan anggota istimewa Partai Masyumi. Syahdan yang ingin pulang ke Banjarmasin, mampir dahulu ke rumah Natsir meminjam uang untuk ongkos pulang. Tapi tokoh bangsa berdarah Minang tersebut menjawab tidak ada uang. Kemudian Natsir meminjam uang kas majalah Hikmah yang ia pimpin.

“Bayangkan Perdana Menteri tidak megang uang. Kalau sekarang tidak masuk akal,” kata Amien Rais.

Sejak kecil sampai akhir hayatnya pemimpin Muslim yang diakui dunia ini selalu hidup bersaja. Pada 6 Februari 1993 ia meninggal di Jakarta, dan sempat berwasiat agar rumah keluarga di Jln. Jawa 28 (sekarang Jln. Cokroaminoto 46) dan buku karyanya dijaga dengan baik. Tapi setahun kemudian, kelima  anaknya sepakat menjual rumah itu karena tak mampu membayar pajaknya.

Kehidupan Mohammad Natsir yang begitu sederhana mencerminkan kepribadian seorang Muslim yang sesungguhnya. Ia yang juga merupakan alim ulama salah satu pemimpin Muslim terbaik Indonesia yang meneladani sifat Rasulullah SAW. [Asmara Dewo]

Sedang cari bisnis? Coba di sini!

Padusi Hijab Open Reseller di Setiap Kota Indonesia (Sabang-Merauke)



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas