Novel Pulang, Tereliye | Foto Asmara Dewo, asmarainjogja

Asmarainjogja.id – Jika kamu adalah salah satu fans berat pembaca novel Tereliye, maka kamu paham sekali apa sebenarnya yang ingin disampaikan Tereliye melalui karya fiksinya.

Dan kita tahu pembaca Tereliye kebanyakan kaum cewek, baik yang masih muda, juga yang sudah dewasa. Novelis yang tidak mau dikenal dari layar kaca juga di media ini memang genre khasnya tentang cinta. Tak heran jika pembacanya kaum cewek.

Namun di novel Pulang ini sedikit menyentil   urusan cinta, namun cinta yang memahamkan pembaca bagaimana menyikapi cinta itu sesungguhnya. Walaupun cinta itu harus diuji kesabarannya. Harus melewati rasa sakit, dan harus mengorbankan segala-galanya demi cinta sejati.

Dan jangan ragu, Tereliye ini penulis yang mendidik, di setiap novelnya mengajarkan kebaikan, meskipun berbalut kisah cinta atau kejahatan sekalipun. Tidak ada cerita-cerita mesum, aplagi vulgar, ia memang menulis untuk membawa pembacanya ke arah kebaikan.

Bujang, nama tokoh utama di novel Pulang, sosok remaja berusia 15 tahun di pedalaman hutan Sumatera Barat, tepatnya di Desa Talang. Ia anak dari generasi Tuanku Imam Bonjol dan Perewa.

Tuanku Imam bisa disebutkan adalah golongan putih, karena dari leluhurnya juga seorang ulama yang mashyur dan gagah berani berperang melawan Belanda. Sedangkan Perewa dari golongan penjudi, perampok, penjagal, dan perbuatan buruk lainnya di masa itu.

Dan kedua golongan ini merupakan dari darah suku Minang itu sendiri. Lalu bagaimana Tereliye bisa memadukan dua golongan yang bertolak belakang ini menjadi satu? Di sinilah lihainya Tereliye dalam menuliskan novel Pulang.

Ayah Bujang, Samad, dari keturunan Perewa, dan Ibu bujang, Midah, dari keturunan Tuanku Imam. Mereka sejak kecil berteman baik, dan memendam cinta, namun karena budaya Minang yang mengutamakan adat istiadat menceraikan cinta mereka.

Baca juga: 

Tetralogi Pulau Buru dan Quotes Pramoedya Ananta Toer di Novel Rumah Kaca

Quotes Terbaik Pramoedya Ananta Toer di Novel Jejak Langkah

Kaum perewa boleh tinggal berdampingan dengan kaum Tuanku, namun untuk dijadikan saudara atau menantu kaum Tuan Imamku menolak keras. Padahal saat itu Samad (ayah Bujang), sudah mengaji, sholat, tinggal di pondok, sama seperti anak-anak minang lainnya dari kaum Tuanku Imam.

Nah, agar lebih jelas, sebaiknya kita mundur dulu jauh ke belakang zaman.

Pada masa peperangan Tuanku Imam Bonjol, beliau adalah sosok ulama yang tidak pernah takut berhadapan dengan Belanda. Ketika pekik takbir membumbung tinggi ke angkasa, beliau dan pasukannya siap menjadi gelombang dahsyat menghantam prajurit Belanda.

Bertahun-tahun Belanda ingin menguasi Sumatera Barat, khususnya di daerah Tuanku Imam, berhasil dihalau oleh beliau. Belanda banyak kehilangan prajurit, dan juga biaya peperangan. Hingga Belanda bermanuver perang, dan menyusun strategi licik untuk membumihanguskan Tuanku Imam berserta pasukan syahidnya.

Belanda menyatakan damai kepada Tuanku Imam, dan mengundang beliau ke Kota Padang. Tuanku Imam setuju atas permintaan perdamian Belanda jika syarat dari beliau dipenuhi. Belanda juga mengamini permintaan ulama hebat Minangkabau tersebut, sepanjang beliau mau datang untuk berdamai dengan Kolonial.

Sesampai di sana, Tuanku Imam dan pasukannya mendadak diserang habis-habisan oleh prajurit Belanda. Perlawanan yang tidak seimbang, karena beliau datang bukan untuk berperang, namun untuk kedamaian. Pasukan yang mengantarkan Tuanku telah tumpas dibasmi Belanda. Dan syukurnya, Tuanku Imam masih bisa selamat dan melarikan diri.

Sejak kejadian itu Tuanku Imam merasa bersalah, sebab telah mengantarkan pasukannya ke jurang kematian. Beliau larut dalam kesedihan yang begitu dalam, hari-hari ulama ini tak bersemangat lagi seperti biasa. Tubuhnya gemetar mengenang kejadian yang memilukan itu, air matanya menetes setiap teringat darah yang membanjiri di tubuh pasukannya.

Tuanku Imam diselimuti rasa takut yang berlebihan. Bisa dibilang dengan bahasa sekarang paranoid. Jika selama kepemimpinan beliau tidak pernah mengenal rasa takut, namun untuk kali ini beliaut takut, takut sekali menghadapi kejadian-kejadian selanjutnya.

Belanda semakin berkuasa atas jajahannya, satu persatu daerah di Sumatera Barat ditundukkannya. Belanda tidak ada penghalang lagi untuk menguasai tanah jajahannya. Kaum Kolonial tertawa, bangga hati, besar kepala, dan terbuai kemenangan, sebab dari pribumi Minang tak seorang pun yag berani melawannya.

Dengan segala upaya Tuanku Imam mencari solusi untuk peperangan jihad membela kaumnya, rakyat Minang, dan tanah airnya. Tuanku Imam memang gentar berhadapan lagi dengan Belanda, ia terlanjur takut untuk berperang dengan Belanda. Namun ketakutan itu ia lawan, sebab beliau sadar, rasa ketakutan itulah yang mengalahkan peperangan itu sendiri.

Tuanku Imam pun mengatur strategi perang, dan mengundang perewa, bandit, perampok, penjahat, yang masih punya hati untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Akhirnya dengan pasukan yang terdiri dari berbagai golongan terkumpul berjumlah 60 orang. Pasukan Tuanku pun menggempur benteng pertahanan Belanda yang dihadang 600 prajurit.

Hidup mati kaum Tuanku Imam, Perewa, dan golongan bandit lainnya, membela tanah Minangkabau, dan memperjuangkan hak  kaum minang atas penjajahan tersebut. Pekik takbir berkumandang, Tuanku Imam menghunus rencong, hadiah dari guru beliau dari Aceh, pasukan Minangkabau menggempur habis-habisan prajurit Belanda yang bersenjata lengkap.

Dan di akhir perang, pasukan Tuanku Imam menuai kemenangan. Tidak ada yang mustahil di dunia ini, sepanjang masih percaya pada kekuatan Allah SWT.

Sejak peperangan itulah kaum perewa hidup berdampinagn dengan kaum Tuanku Imam. Mereka tinggal bersama-sama, sampai beranak-pinak, dari generasi ke generasi.

Samad jatuh cinta pada Hamidah, untuk memenuhi hasyrat cintanya itu, Samad pun melamar Hamidah. Sayangnya lamaran Samad ditolak mentah-mentah, oleh tetua adat kaum Tuanku Imam. Ayah Samidah sendiri merupakan garis keturunan langsung Tuanku Imam Bonjol, namun tidak bisa berbuat apa-apa, hingga beliau pun menuruti musyawarah tetua adat. Maka ditolaklah lamaran Samad.

Sejak saat itu Samad pergi dari kampung membawa luka, kebencian, dan dendam. Ia ke kota bergabung menjadi seorang penjagal di Keluarga Tong. Keluarga Tong merupakan dunia mafia kelas teri. Samad bergumul di dunia hitam, kembali mewarisi darah kakek moyangnya Perewa, si tukang jagal.

Samad menjelma menjadi tukang pukul paling wahid di Keluarga Tong, sekaligus kesayangan dan orang kepercayaan tauke besar (pimpinan mafia). Dan di kemudian hari rumah tauke besar diserang musuhnya, tukang pukul dan keluarga tauke besar dibantai, rumah itu pun dibakar.

Dengan gagah berani Samad masuk ke bara api yang menyala-nyala di rumah itu, dan ia hanya bisa melihat tauke , istri tauke, dan anak-anaknya yang terbujur kaku meninggal terpanggang api. Hanya satu anak tauke yang masih bernapas, yang bisa diselamatkan Samad, yang kemudian mewarisi tahta kepemimpinan Keluarga Tong.

Untuk menyelamatkan anak tauke tersebut, kaki Samad tertimpa tiang yang berlilit kawat duri dan api yang berkobar dengan hebatnya. Sejak kejadian nahas itu pula, Samad memutuskan keluar dari Keluarga Tong. Dalam peraturan Keluarga Tong tak ada yang boleh keluar dari keluarga mafia ini, nyawa anggota yang keluar beserta keluarga menjadi tumbal atas keputusan tersebut.

Tapi perkecualian pada Samad. Ia diberi izin keluar dari Keluarga Tong karena sudah menyelamatkan Tauke Muda (anak Tauke besar yang meninggal). Namun Samad harus berjanji terlebih dahulu, jika kelak mempunyai anak lelaki harus mengirimkannya ke tauke muda, Keluarga Tong.

Keluar dari dunia hitam, Samad kembali pulang kampung ditemani Kopong. Kopong adalah tukang pukul yang dahulunya direkrut oleh Samad semasa ia kecil saat mencuri toko anggota Keluarga Tong. Jika tidak atas kemurahan hati Samad, Kopong kecil sudah mati sebagai hukuman berani mengusik Keluarga Tong.

Tauke Muda juga sengaja mengirimkan Kopong menemani Samad ke kampung agar Tauke Muda tahu apa sebenarnya penyebab utama Samad keluar dari Keluarga Tong.

Alasan Samad keluar adalah ia sudah tak bisa lagi menjadi ketua tukang pukul Keluarga Tong, karena kakinya sampai di paha sudah diamputasi. Namun Tauke Muda tidak begitu saja percaya, sebab itulah Kopong harus menyelidikinya.

Betapa terkejutnya Kopong setelah mengetahui alasan Samad keluar, ternyata di balik hati si tukang pukul paling hebat dan ditakuti di Keluarga Tong, ia masih menyimpan hati pada seorang wanita. Selama lima belas tahun Samad simpan luka dan cinta di hatinya.

Yang kedua kalinya Samad melamar Midah setelah belasan tahun lamanya menanan rasa untuk memperistri wanita yang sangat dicintainya itu. Meskipun Midah tak seorang gadis lagi, karena ia sudah menikah, kemudian cerai, rasa cinta Samad tak luntur barang setitik pun.

Baca juga: 

30 Quotes Terbaik Pramoedya Ananta Toer di Novel Bumi Manusia

27 Quotes Terbaik Pramoedya Ananta Toer di Novel Anak Semua Bangsa

Lamaran Samad diterima oleh abangnya Midah. Sebab ayah mereka sudah meninggal. Awalnya terjadi perseteruan penolakan lamaran tersebut dari Tetua Adat, namun abangnya Midah memberikan penjelasan yang kuat.

Lagi pula Samad adalah adik kelas abangnya Midah, beliau tahu betul Samad, alasan penolakan pada lamaran dulu juga tahu duduk perkaranya. Dan beliau berteman pula sampai di masa remaja, hingga Samad pergi dari kampung itu.

Pernikahan Samad dan Midah tidak disetujui oleh orang kampung, bahkan ada beberapa warga yang meludahi Samad saat usai pernikahan. Hampir saja keluar darah penjagalnya ketika itu, namun Midah menggenggam erat suaminya, dan berbisik untuk tabah menghadapinya.

Setelah pernikahan itu pula Samad membawa istrinya meninggalkan kampung mereka, dan menetap ke Talang, sampai Bujang lahir, dan remaja. Masa kecil Bujang sangat suram, ia sering dipukul oleh ayahnya (Samad) ketika ketahuan belajar mengaji atau belajar sholat dari ibunya (Midah). Meskipun begitu Bujang tetap belajar agama secara sembunyi-sembunyi.

Tepat pada waktu Bujang berusia 15 tahun, Tauke Muda, saudara angkat Samad berkunjung ke kampung mereka, Talang. Kedatangan Tauke Muda diundang oleh Samad untuk memburu babi hutan yang meresahkan petani Talang, karena merusak tanaman warga kampung. Namun di balik kedatangan Tauke Muda bukan sekadar memburu, tapi menagih janji Samad dulu, yaitu mengirimkan anak lelakinya sebagai penerus generasi perewa jadi tukang pukul Keluarga Tong.

Bujang diajak berburu babi di rimba Sumatera Barat, Bukit Barisan. Ibu Bujang tidak setuju, takut kalau terjadi apa-apa dengan Bujang. Orangtua Bujang tidak tahu bahwa Bujang juga hapal betul hutan rimba di Talang, ia keluar masuk hutan dengan teman-temannya untuk berburu tanpa sepengetahuan Samad dan Midah.

Perburuan berjalan lancar, beberapa babi hutan mati ditembak. Tauke Muda lihai menembak, jidat-jidat babi hutan bolong dan menggelapar bersimpah darah di tanah.

Dan mereka pun akhirnya berhadapan dengan raja babi hutan, besarnya seperti seekor sapi. Matanya menyala buas, taringnya begitu tajam, air liur meleleh menyeramkan, dan siap menyeruduk para pemburu itu.

Berkali-kali tembakan Tauke Muda meleset, raja babi hutan sangat gesit, mengelak dari timah panas, lalu menyeruduk. Beberapa pemuda kampung yang ikut berburu terpental diseruduk, anggota tauke muda bahkan ada yang meninggal di tempat. Tauke sendiri sudah berhadapan dengan maut.

Bujang tak bisa menahan diri, kali ini ia harus melanggar janji ibunya agar tidak ikut-ikutan memburu babi hutan. Namun saat raja babi hutan siap menyeruduk Tuan Muda, Bujang bersiap-siap menghadang.

Jika manusia mempunyai lima emosi, yaitu bahagia, sedih, takut, jijik, dan kemarahan, maka bujang hanya punya empat emosi, yaitu tidak memiliki rasa takut. Dan itu dibuktikan Bujang saat membunuh raja babi hutan demi menyelamatkan tauke muda.

Maka sejak itu pula Bujang bergelar si Babi Hutan.

Dengan terpaksa Ibu Bujang melepaskan kepergian anaknya untuk dibawa oleh Tauke Muda ke Kota Padang. Sesuai janji yang sebelumnya mereka ikrarkan. Midah sendiri tahu masa silam dunia hitam suaminya. Dan Bujang semangat sekali diajak Tauke Muda ke kota.

Air mata Midah tak henti-hentinya menetes, dipeluknya anak satu-satunya ini, suara Midah serak membisiki Bujang: “Mamak akan mengijinkan kau pergi, Bujang. Meski itu sama saja dengan merobek separuh hati mamak. Pergilah anakku, temukan masa depanmu. Sungguh, esok lusa kau akan pulang. Jika tidak ke pangkuan mamak, kau akan pulang pada hakikat sejati yang ada di dalam dirimu. Pulang…”

Ibu Bujang juga berpesan: “Berjanjilah, Bujang, berjanjilah satu hal ini.”

Bujang menatap ibunya, mata sembab ibunya ditatapnya lekat-lekat.

“Kau boleh melupakan mamak, kau boleh melupakan seluruh kampung ini. Melupakan seluruh didikan yang mamak berikan. Melupakan ajaran agama yang mamak ajarkan diam-diam jika bapak kau tak ada di rumah.”

“Mamak tahu kau akan jadi apa di kota sana…. Mamak tahu… tapi, tapi apapun yang kau lakukan di sana, berjanjilah Bujang, agar kau tak makan daging babi atau daging anjing. Kau akan menjaga perutmu dari makanan haram dan kotor. Kau juga tidak menyentuh tuak dan segala minuman haram.”

Inilah janji yang digigit kuat-kuat oleh Bujang dari ibunya.

Sampai di kota, Bujang diobati oleh dokter Keluarga Tong. 25 luka-luka itu di sekujur tubuh Bujang diobati. Luka-luka saat pertempuran hidup mati melawan raja babi hutan.  

Di kehiduan baru itu, Bujang berkenalan dengan Basyir, sosok remaja 16 tahun salah satu tukang pukul Keluarga Tong. Tauke juga mengenalkan Frans, guru privat, yang mengajakarkan Bujang untuk mengejar pendidikanya. Selama di kampung Bujang tidak pernah mengenyam pendidikan dari sekolah. Namun pada dasarnya Bujang sangat cerdas, dan itu diketahui Frans saat memberikan soal academic potensial test basic.

Kemudian Kopong Ketua tukang pukul. Awal pertemuan Bujang dengan Kopong saat Bujang tak mau lagi belajar, ia bosan harus belajar menghitung, dan membaca buku setiap hari. Bujang ingin seperti tukang pukul lainnya, yang menghajar musuh-musuh Keluarga Tong. Apalagi setiap pagi di meja sarapan, tukang pukul bercerita seru menceritakan pengalamannya masing-masing.

Bujang kesal dan bosan. Ia merajuk tak mau belajar lagi. Tahu bahwa Bujang tak mau belajar Tauke Muda marah besar, dan geram sekali terhadap bujang, andai saja Bujang bukan anak saudara angkatnya sendiri, Bujang sudah ditempeleng oleh Ketua Keluarga Tong tersebut.

Kopong punya ide yang sangat brilian. Bujang boleh tidak belajar, tapi dengan syarat, bahwa Bujang bisa bertahan di 20 menit perkelahian. Sayangnya Bujang terkapar di 19 menit. Mau tak mau Bujang harus belajar. Dan pada malam hari, Kopong melatih Bujang bela diri.

Kopong juga membawa seorang guru samurai dari Jepang, Guru Bushi. Pelajaran bela diri Bujang dengan Guru Bushi meningkatkan kehebatan bertarung Bujang. Guru Bushi juga mengajarkan Bujang bermain katana, inilah salah satu kehebatan Bujang di pertempuran melawan musuh-musuhnya.

Bisnis dunia hitam Keluarga Tong semakin besar, mereka melebarkan sayapnya ke Ibu Kota Jakarta. Di ibu kota, Bujang juga kuliah di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Siang hari ia belajar seperti mahasiswa lainnya, sedangkan malam hari ia menjadi tukang pukul. Kehidupan yang sangat kontras di hadapi Bujang saat itu.  

Tauke Muda sekarang jauh melesat seperti Tauke Besar sebelumnya (ayah tauke muda saat ini), bisnis haramnya disulap menjadi bisnis legal. Tauke muda mendirikan bank, property, dan usaha-usaha legal lainnya. Semua ide-ide usaha itu muncul dari Bujang, anak angkat tauke muda yang disayanginya.

Selain Guru Bushi, Bujang juga mendapatkan guru baru, yaitu Salonga. Salonga merupakan penembak bayaran terbaik se asia pasifik. Pada dialah Bujang berlatih menembak. Ilmu bertarung dikuasai Bujang, ilmu ninja sudah dikuasai Bujang, begitu juga dengan ilmu menembak.

Bujang sudah menjelma menjadi pemuda yang tangguh, hebat, jago berkelahi, dan tentu saja sangat cerdas di bidang akademik. Bahkan Tauke Muda mengirimkan Bujang ke Amerika untuk melanjutkan pendidikannya.

Bujang tak mau pulang ke kampung halamannya, ia juga tak sempat melihat ibu dan bapaknya meninggal. Satu persatu orang yang dicintai Bujang pun meninggal, Kopong meninggal karena penyakit. Sedangkan tauke muda sudah sakit-sakitan. Keluarga Tong mencari pemimpin baru. Dan Tauke Muda menunjuk Bujang, anak angkat kebanggannya.

Di saat sakit-sakitan Pemimpin Keluarga Tong itulah musuh dan penghianat ingin mengambil alih kekuasaan dan membalas dendam. Basyir adalah pengkhianat di Keluarga Tong, ia bersama Tuan Muda Lin menyerbu ingin membunuh para petinggi Keluarga Tong.

Baca juga: 

Menjadi Penulis Serba Tahu Seperti Tereliye dan Asma Nadia

Tiga Motivasi Menulis ala Tere-Liye

Meskipun ini bercerita kisah bandit, namun Tereliye mampu mengemasnya dengan baik, sehingga pembaca bisa paham apa arti kesetiaan? Apa arti sebuah janji? Dan   Apa arti pulang yang sesungguhnya? [Asmara Dewo]

Lihat juga: 

Kaos Gunung Semeru, Persembahan dari Asmara In Jogja

Kaos Gunung Semeru

 

Clorist Florist Pesanan Bunga Terbaik di Yogyakarta

Clorist Florist Yogyakarta

 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas