Foto Ilustrasi Flickr|Nindy Resti

Sahabat jadi pacar, pacar jadi sahabat. Tapi, bisa juga berujung seperti ini: pacar jadi musuh.

Wuihhh… kok bisa? Tentu saja bisa, neng! Ada pengalaman saya sendiri tetang cinta-cinta versi monyet. Aihhh… ini sebenarnya memalukan. Namun, setelah saya pertimbangkan sejak bulan purnama lalu, saya pun mau berbagi.

Bersyukur dong pembaca, karena saya sudah mau berbagi, hahhaha.

Boleh percaya atau tidak?! Saran saya, percaya saja deh, biar sama-sama enak kita. Oke, lanjut!

Dulu, waktu saya SMP, sudah kenal yang namanya cinta. Ya, yang mungkin teman-teman juga tahu itu adalah cinta kera-keraan. Monyet maksudnya, atau boleh juga cinta gorilla. Terserah deh apa mau dibilang.

Waktu itu, saya pernah nembak cewek sekelas. Anaknya cakep, berkulit putih bersih, seputih kapas. Dan cenderung kayak mayat, saking putihnya. Wajahnya cantik dong, kalau nggak, ya nggak mungkin juga saya tembak, ya, kan?

Setelah saya beranikan diri untuk nembak si gadis pujaan, dia nggak jawab. Wah… jadi deg-degan nunggu keputusannya. Kayak sudah menunggu vonis hakim sajalah pada tersangka.

Diterima atau tidak?! Coba tebak teman-teman! Kira-kira saya diterima atau tidak?

Jawabannya adalah TIDAK diterima. What’s uppp?!

Ya, saya tidak diterima. Nah, dengan-dengar dari teman, si gadis kecil berambut pendek itu menolak saya karena saya pendek. Sebenarnya sih kurang tinggi. Itu yang lebih tepatnya! Karena saya termasuk cowok yang lambat pertumbuhannya.

Baiklah, saya terima keputusannya. Tidak masalah dibilang pendek. Toh, nanti saya juga tinggi kalau besar. Sekaligus membesarkan hati, karena malu kemana pasang muka saat kawan-kawan lain tahu “kasus” memalukan itu.

Efeknya, saya jadi malas setiap jumpa sama dia, tapi ya mau gimana lagi, tiap hari jumpa di kelas. Nyesalll banget udah nembak dia.

Nah, teman-teman harus tahu juga kenapa saya nembak dia?

Karena eh karena saya sempat juga nembak teman sejak SD sampai SMP, yang berujung PENOLAKAN. Jadi masa di SMP itu, saya 2 kali ditolak cewek. Nah, sasarannya si cewek berkulit putih itu. Dengan maksud agar bisa mengobati luka.

Eh, nggak tahunya makin luka. Hikss …

Semakin saya tumbuh remaja, saya pun semakin tampan. Serius! Bertambah tinggi saya. Yes, mulailah ada beberapa cewek yang naksir saya. Singkat cerita, cukup banyak cewek-cewek yang berlabuh ke hati saya.

SMA adalah masa keemasan saya. Hahaha … banyak banget cewe yang ngerebutin saya. Dengar-dengar juga, mereka yang saling bersaingan untuk mendapatkan pangeran pujaan ini sempat perang dingin. Beneran lho!

Akhirnya, semua kisah cinta di SMA itu ditutup, sebab saya pindah sekolah SMA di Lubuk Pakam. Di sana sempat juga jatuh cinta, dan berujung PUTUS. Kok bisa? Ya, bisalah, cewek itu tentunya pilih pasangan yang mapan di tahun-tahun depan. Sementara saya? Nggak jelas.

Bencikah terhadap mereka?

Dulu sih iya, ingat betul cewek-cewek yang sudah permainkan hati saya. Kalau sekarang sudah paham, ya paling cuma tersenyum saja ingat itu.

Masa kuliah. Sempat merajut kasih, dan berujung tragis. Hu!!! Kenapa? Ya, saya selingkuh. Kan saya bilang sebelumnya, semakin tumbuh remaja ke dewasa, saya pun semakin tampan. Ya, wajar juga banyak cewek-cewek yang merebut hati saya, walaupunpun sudah punya pacar.

Saya juga sih sebenarnya yang kurang ajar.

Kesimpulannya adalah, semua pada sakit hati. Pacar pertama tentu sakit hati sama saya, dan saya sakit hati sama cewek selingkuhan saya, karena dia kembali lagi dengan cowok aslinya.

Lho, emangnya kamu bukan cowok aslinya?

Bukan, saya itu cowok dia yang jadi-jadian, hahhaha.

Kehidupan berlanjut, hingga saya disadarkan oleh seorang siswi berhijab. Baik banget dia. Gadis berdarah Aceh. Singkat cerita, kami berkomitmen untuk segera menikah.

Tapi, takdir berkata lain. Kami BUBAR. Banyak sih alasannya. Tapi yang dia benci dari saya adalah karena saya sudah mempermainkan hidupnya, memainkan perasaannya.

Setelah saya ingat-ingat dan simpulkan, saya sih memang salah, karena sempat tergoda dengan gadis lain. Hingga saya mengabaikan gadis berdarah Aceh tersebut.

Karena saya sudah mulai dewasa, saya pun ingin menjalin silaturahmi. Ingin meminta maaf secara tak langsung, melalui pertemanan di FB. Itu saja sih! Nggak lebih! Nggak ada niat yang lain, karena dia juga sudah bersuami.

Setelah berteman di facebook, masuk inbox dari dia. Setelah saya telaah pesannya adalah jangan ganggu lagi kehidupan dia, karena belum cukupkah untuk menyakitinya.

Gila, friedns! Bertahun-tahun sudah berlalu, tapi masih sensi saja dia. Sepertinya saya belum dimaafin deh.

Itu yang saya tahu, ada cewek yang masih benci bangettt sama saya, nah, cewek lainnya yang pernah korban atas cinta saya?

Entahlah! Banyak banget sepertinya dosa saya terhadap mereka.

Pesan saya nih pada teman-teman semua, kalau memang ada perasaan cinta pada sahabat atau bukan. Lebih baik kendalikan dulu deh hatinya, kalau sempat kalian berkomitmen, tapi berujung putus juga, resikonya bisa jadi musuh-musuhan.

Pandai-pandailah menjaga perasaan pada sahabat, walaupun ada cinta yang harus dikorbankan. Bersabar labih baik, sembari menunggu kedewesaan kita sudah matang. Lalu, ambil keputusan tanpa harus status berubah dari persahabatan ke pacaran.

Kawin langsung, guys! Nikah maksudnya, hahaha.

Sebelum menyudahi cerita saya, baca dulu komentar para sahabat muda untuk memilih persahabatan atau pacaran? Mungkin bisa menguatkan hati kamu untuk lebih berkomitmen dalam tahap pendewasaan.

Affendye VViee:: Sahabat tak pernah putus walau ada jarak yang memisahkan, namun pacar akan ada waktu penghujung dibalik kedekatan, kemesraan dan menitikan luka. Tak jarang juga meninggalkan dendam dibalik persahabatan yang terjalin dari awal . Gitu sich kalo aku.

Ade Mulyana: Ya pastinya sahabat dong, pacaran mengajak maksiat, sahabat ngajak tobat. Hahhhaa

Re TiapianKarena dari dulu saya selalu jadi jomblo, pernah pengen ngerasain yang namanya pacaran kayak gimana, tapi ngga pernah ada yang ngajak pacaran. Alhamdulillahnya, Islam berpihak sama jomblo, jadi saya sekarang gak menyesal cuma gara-gara gak pernah pacaran.

Kidung Cinta: Pacaran hanya identik kesenangan, juga memamerkan sesatu yang diada-adain. Jagankan kepunyaan sifat, tingkah laku pun ditonjolkan. Kalau sahabat, jangankan saudara, orang lain pun pasti akan dibela, jika kepahitan yang sedang dialaminya. Itulah sahabat, bukan cuma kemanisan saja yang akan diterima, juga dibela.

Riri RIsa: Sahabat itu tempat berbagi dalam suka dan duka, tempat curhat berbagi pengalaman. Pokoknya segala hal yang akan menjadi cerita indah dan abadi dalam hidup kita. Dan terkadang seseorang bisa menjadi pacar berawal dari sebuah persahabatan, karna sudah kenal bertahun-tahun, sudah tahu baik buruknya, mungkin terkesan dengan sikapnya atau hal yang lain.

Bagiku wajar saja tidak ada yang salah, toh bukankah manusia memang di ciptakan berpasangan. Hadirnya seorang pacar juga terkadang bisa membuat orang lebih semangat dalam hidupnya, kita kan juga nggak bisa membohongi perasaan sendiri kalau tertarik dengan seseorang. Jadi bagi aku mau temen atau pacar nggak masalah selama kita memang masih bisa jaga diri dan jaga hati untuk tidak saling menyakiti.

Ayu Anitasyaf: Karena mantan pacar ada, sementara mantan sahabat nggak ada. Dan sahabat bisa jadi pacar, namun pacar sangat sulit untuk jadi sahabat, heheh. Dan dalam Islam pun tegas dijelaskan bahwa pacaran itu dilarang. Persahabatan tidak memiliki batasan ruang dan waktu sementara pacaran jelas ada batasan ruang dan waktunya.

Rizka Wahyuni: Ya tentunya pilih sahabat dong. Dulu sih pernah waktu zaman SMP, aku punya dua orang sahabat. Kami kemana-mana selalu bertiga. Namanya hanum dan sari. Hanum adalah teman kecil, sekaligus teman sewaktu mengaji di TPA dulu.

Aku dan hanum beda sekolah dasarnya. Aku dan hanum waktu masih ngaji dulu tidak terlalu dekat. Aku termasuk murid yang standar aja sewaktu mengaji, sedangkan hanum anak yang pintar dan berprestasi.

Ya, namanya anak-anak pasti milih teman yang pintar-pintar juga, hehehe. Hanum lebih sering berteman dengan teman-teman yang pintar. Wah mungkin ini perasaanku saja, atau aku yang minder, hehehe. Setelah tamat sekolah dasar, ternyata kami satu SMP lagi dan bertemu disana.

Sari adalah teman semasa sekolah dasar, aku dan dia beda kelas. Dia adalah anak yang tomboy sedangkan aku anak yang terkenal agak centil sewaktu sekolah dasar dulu. Kami punya geng masing-masing. Antara geng aku dan geng sari sama-sama tidak menyukai satu, lain.

Aku dan sari ketemu lagi di SMP. Aku, anum dan sari ketemu lagi dan kami satu kelas. Hari demi hari persahabatan kami mulai terajut indah. Dari kami bertiga sih yang duluan punya pacar ialah hanum. Hahhaha, kalau diingat-ingat lucu juga ya zaman-zaman dulu. Aku dan Ai malahan sering temeni hanum untuk ketemuan sama pacarnya. Nggak ada tuh istilah melupakan sahabat. Dan intinya sahabat adalah makhluk istimewa ciptaan Tuhan. Beruntunglah kita masih punya sahabat yang hebat.

Arwen Chandra Tatiano: Alasan kenapa saya lebih memilih sahabat ketimbang pacaran adalah... karena banyak pengalaman buruk ketika pacaran, antara lain diporotin. Dimintai pulsa, uang bensin, dan lain-lain.

Maklum aku orangnya nggak tegaan walaupun miskin juga. Sedangkan bersama sahabat kami biasa santai masalah uang. Makan, belanja, bensin, siapa yang punya tinggal pakai,  yang penting bisa jalan bareng. Saling menguntungkan.

Itulah komentar para sahabat muda berbagi, keputusan tetap di tangan kamu. Apakah kamu lebih mengungkapkan perasaan cinta pada sahabat? Atau lebih memendam perasaan itu dulu, sampai tiba waktu yang benar-benar tepat!

Yang harus kamu ingat adalah dampak resiko jika kamu memutuskan sesuatu! Dan jangan terlalu mengutamakan keegoisan hati saja! Berpikir positif, bertindak positif, dan tunggu kabar positifnya! [Asmarainjogja.id]

Penulis:  Asmara Dewo 

Baca juga:  Cerita Konyol Bersama Sahabat, dan 9 Sahabat Muda Berbagi Cerita. Edisi Seru!

Yuk, gabung di Media Sosial kami!  Google+  Fanpage  Facebook  Twitter  YouTube








Custom Search




Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas