Ilustrasi pantai | Foto TheNewDayli

Asmarainjogja.id – Indahnya pantai membius anak manusia yang mengecapnya. Melupakan kepedihan bagi si luka, memantik hati untuk tertawa, tersenyum menatap laut biru. Luasnya angkasa membuka akal akan segala keEsaan yang kuasa. Makhluk kecil di bumi mengeja alam semesta.

Waktu bergetar melangkah peradaban, mengikis zaman, bumi pun tunduk pada waktu. Teriak tiada guna, diam apalagi. Bertindak salah, malah mundur. Dan cinta terus melaju. Rindukan kebingungan sosok nun jauh di sana. Menggapai bayang pun ia tak mampu. Membisu bersama malam. Menguap harum tanah basah dari kekeringan.

Sahabat, nama tanpa harus diingat. Biarkan kehangatan merekatkan. Ia tak perlu dipuja-puji, apalagi dibela sampai mati. Tapi hati tiada tega. Oh… ia yang yang bernama sahabat. Kadang mengesalkan, kadang menjadi hiburan. Kelinci kalah lucu. Si putih itu hanya loncat sibuk sana-sini. Gigi duanya terkatup rapat. Dan sahabat menggelitikmu… selamanya.

Dan sekarang saatnya sahabat muda bisa menikmati langsung puisi indah nan syahdu dari Maimunah. Seorang mahasiswi semester III Universitas Widya Mataram.

*Pantai

Di bibir pantai

Ombak kejar-kejaran

Berlomba-lomba

Menghampiri bibir pantai

Mencumbunya hingga basah

 

Di bibir pantai

Di sini ku berdiri

Memandang lepas

Ke hulu pantai

Tempat di mana biru berada

 

Di bibir pantai

Banyak orang meraih

Menduduk dan bermain pasir

Berkejar-kejaran dengan ombak yang datang menghampiri mereka

 

Di bibir pantai

Kutemukan keong-keong kecil

Mereka merangkak mencari nafkah

Bersama menghiasi bibir pantai ini

 

Di bibir pantai

Di temani hilir angin yang menerbangkan surai

Terasa sejuk dan tenang

Aku suka laut dan pantai

Kuingin semoga keindahannya takkan raib di makan waktu

Semoga.

 

*Waktu

Detik demi detik

Menit demi menit

Bahkan jam demi jam

Waktu terus berjalan, sedangkan aku?

Aku masih disini

Tidak bergerak

Tidak tertawa

Pandanganku tertuju kepadamu dikejauhan sana

Banyak pertanyaan yang timbul

Entah itu tentang apa ?

aku sendiri bingung

Aku harus apa?

Aku diam ditempat yang sama

Entahlah… apakah aku sedang merindukan kamu, atau jatuh cinta?

 

Rindu? Betul, sih, aku rindu senyuman yang merekah itu

Bagaikan mawar yang sedang mekar dipagi hari

Melihat senyum itu aku merasa bahagia, tenang.

Tetapi bayangan itu tidak bisa hilang

Apakah aku jatuh cinta?

 

*Mimpi

Impian itu tinggi

Impian itu bisa tercapai

Apa kalian punya impian?

Aku punya impian

Bagaimana caranya kita menggapai impian?

Kesabaran, do'a, usaha, dan tawakal yang menuntun menuju itu, bukan keegoisan

Buah dari semua itu indah pada waktunya

Rintangannya silih berganti

Lewati dengan senyuman

Jangan dengan keluhan

Impian... sungguh engkau bagaikan langit

Sungguh engkau bagaikan bintang

Sungguh engkau bagaikan mentari 

Apakah bisa aku ke langit? 

Apakah bisa aku menggapai bintang?

Apakah bisa aku menggapai mentari?

Jauh… jauh bahkan sangat jauh

Aku hanya bisa berdiri dan duduk memandang keatas sembari berdo'a

Aku yakin aku bisa menggapainya

Biarkan waktu yang menjawabnya

 

*Sahabat

Berawal dari tak kenal, acuh tak acuh

Malu untuk menyapa duluan

Kini waktu sudah melenyapkan itu semua

Kini kau dan aku menjadi kita

Tidak ada kata mereka bahkan kalian

Kita selalu melewati hari demi hari

Canda tawa, suka duka, susah senang

Kita bahkan tau dan dimana kita berbuat konyol, serius, dan diam

Kadang kita merasa dunia ini milik kita

Suatu saat aku cerita kepada anak cucuku bahwa aku mempunyai seorang sahabat seperti kamu.

 

Nah, itulah puisi dari Maimunah, silahkan juga follow IGnya di sini, guys

Hijab

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas