Ilustrasi geng motor | Foto Istimewa

Asmarainjogja.id – Ada 2 kota tempat saya tinggal dalam beberapa tahun ini, yang pertama Kota Medan, dan kedua Kota Yogyakarta. Sedikit banyaknya saya paham karakter pelajar di kota-kota tersebut. Yang pertama Kota Medan, pelajar brutal dari kota itu cukup mengkhawatirkan. Pertama dampak perbuatan buruk terhadap masyarakat, dan kedua masa depan suram bagi dirinya sendiri.

Warga Medan ketika itu (sekitar tahun 2010 sampai 2015) was-was terhadap aksi geng motor. Para geng motor ini tak memandang siapa yang menjadi korbannya, baik perempuan, ataupun orang tua. Bahkan pengendara pada siang bolong di jalan bisa dijahili oleh mereka. Tat kala di malam hari geng motor ini pun merampas motor pengendara dengan senjata tajam seperti kelewang (golok). Melawan risikonya siap-siap dibacok.

Pernah ketika itu seorang Brimob diintai saat keluar dari asrama, para geng motor ini pun membacoki Brimob tersebut sampai meninggal. Motifnya adalah balas dendam. Mereka memang tidak perduli siapa targetnya, Brimob saja dibantai, apalagi warga biasa? Ini dilakukan oleh pelajar, lho. Bayangkan, seorang pelajar sudah bertindak kriminal kelas tinggi, yaitu membunuh. Sekali lagi ini dilakukan oleh para pelajar alias geng motor.

Enam bulan terakhir di Kota Pendidikan tempat saya tinggal sekarang, para pelajar brutal kerap melakukan aksi klitih. Klitih ini melakukan penganiayaan terhadap korbannya dengan menggunakan senjata tajam seperti golok atau pisau. Mereka melakukan aksinya juga tak mengenal waktu, bisa siang hari dan juga malam hari. Korban jiwa juga cukup banyak, sampai ada yang meninggal dunia. Korban mereka pada siang hari pada umumnya pelajar, sedangkan di malam hari anak muda.

Yang anehnya motif para pelajar ini melakukan klitih bukan merampok kendaraan seperti yang terjadi di Medan, tapi hanya untuk menunjukkan eksistensinya. Sulit diterima akal kita sebenarnya, tapi memang itulah fakta di lapangan. Sebab ketika pelaku tertangkap oleh pihak kepolisian itulah alasan mereka melakukan klitih di kota ini. Artinya mereka hanya ingin menunjukkan sok jago ke masyarakat. Padahal kalau sudah tertangkap, sudah seperti ayam potong nyalinya.

Bagi saya pribadi pelajar brutal di Medan dan Yogyakarta ini cermin pendidikan buruk bagi bangsa kita. Aksi mereka tidak bisa lagi ditoleransi, tiada maaf bagi pelaku seperti itu, meskipun statusnya seorang terpelajar, dan mungkin usianya juga di bawah umur. Namun mengingat kejahatannya sudah melukai orang lain dengan senjata tajam, bahkan sampai membunuh maka layak dikandangkan di jeruji besi, dan mendapat hukuman yang setimpal. Selain efek jera bagi pelakunya juga untuk memberikan nuansa damai bagi masyarakat luas, bahwa penjahat yang cukup berbahaya ini satu per satu sudah diamankan.

Tugas guru tampaknya semakin berat di zaman sekarang, murid-murid yang super nakal ini menjadi tugas berat bagi sekolah. Sebaiknya murid-murid yang nakal ini diberikan efek jera juga di sekolah, sebelum kepolisian yang bertindak. Mungkin juga sebenarnya para guru tahu betul mana tipe murid yang terindikasi kejahatan di luar sekolah. Tidak mungkin seorang guru yang bertahun-tahun mendidik anak muridnya tidak mengenal perangai muridnya sendiri. Kecuali memang tidak perduli.

Jadi sebaiknya ada rapat guru sebulan sekali khusus untuk membahas anak didiknya yang tampak mencurigakan gerak-geriknya saat di sekolah. Di buat daftar nama anak-anak tersebut, lalu panggil satu per satu, gali informasi lebih lanjut. Jika mencurigakan, langsung berikan arahan yang bijak serta ancaman untuk dikeluarkan dari sekolah. Dan tak lupa untuk memanggil orangtua murid.

Sedangkan sebagai orangtua murid harus ekstra waspada terhadap anak-anaknya. Perhatikan betul dengan siapa dia bermain. Dan dilarang keluar malam, jika tidak ada urusan penting. Selain itu selalu memeriksa isi tas anak, apa saja yang ada di dalamnya. Anak-anak brutal seperti yang di atas tadi mungkin menyimpan senjata tajam di tasnya. Selain itu orangtua juga tahu bahwa anaknya merokok atau memakai narkoba. Karena pasti menyimpan barang-barang itu di dalam tasnya.

Jangan pernah membiarkan kejahatan kecil pada anak, karena itulah bibit kejahatan yang bisa besar. Jika saat ini masih pelaku klitih bisa jadi menjadi pembunuh kalau sudah dewasa. Dan jika saat ini sudah menjadi geng motor bisa jadi di kemudian hari menjadi mafia yang berbahaya di negeri kita, bukankah ini juga bibit-bibit seperti anggota TRIAD di Hongkong, dan Yakuza di Jepang?

Kita tidak menginginkan generasi rusak karena kejahatan-kejahatan seperti ini, karena itulah sebagai guru dan orangtua sudah turun langsung menyikapinya. Bukan hanya pasrah saja, dan membiarkan anak-anak nakal tadi semaunya. Ini adalah tantangan bagi kita semua yang betul-betul resah terhadap pendidikan dan masa depan anak-anak kita.

Begitu juga dengan pihak kepolisian, harus pula semakin ekstra dalam bertugas, bukan hanya menunggu laporan, tapi sudah bertindak sebelum ada korban. Begitulah seharusnya menjadi seorang petugas. Kelalain petugas juga menimbulkan aksi kejahatan di tengah masyarakat. Jika tidak bisa memberikan keamanan untuk apa digaji oleh negara yang uangnya juga dari masyarakat itu sendiri?  [Asmara Dewo]

Baca juga:

Hakikat Belajar untuk Membekali Anak di Masa Depannya

Cara Memantik Agar Anak Sekolah Rajin Membaca

Jangan Jadi Murid Pembantah! Meskipun Gurunya Galak

padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas