Lapak jualan travela di Sumor UGM

Asmarainjogja.id-Perkembangan tekonologi digital yang semakin pesat ini tentunya memberi pengaruh sangat besar bagi kita. Terlebih lagi semakin liarnya berbagai aplikasi dan media sosial yang terus tumbuh, bak cendawan di musim hujan. Namun sayangnya, kita seakan masih meraba-raba, sebenarnya apa yang bisa didapatkan dari itu semua.

Pada 2016 lalu, saya dan Rizka Wahyuni, yang saat ini perempuan berdarah Minang itu masih mengenyam pendidikan pascasarjana di Universitas Gadjah Mada (UGM). Kami berdua bersama-sama membangun bisnis hijab, waktu itu brand  kami bukan travela. Merk Travela secara resmi terdaftar pada 13 Oktober 2017 di Direkotrat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Ham, cabang Yogyakarta.

Saya ingat betul bagaimana kami mengawali bisnis ini untuk mencari  reseller  sebanyak-banyaknya, baik  offline  maupun  online. Tak tanggung-tanggung, demi menjaga kepercayaan kepada reseller, kami harus mengantarkan langsung barang ke rumahnya. Dan yang lebih konyol lagi demi menarik perhatian reseller, kami berani mengambil keuntungan yang sangat tipis, Rp. 1.000,- (seribu rupiah) per  pieces  (pcs). Secara hitung-hitungan tentu rugi, tapi saya punya cara pandang yang berbeda. Sebagai pedagang yang punya misi dan strategi, itu adalah cara lompatan awal pada bisnis hijab.

Harus diakui pula cara itu berhasil menjaring reseller dan konsumen langsung. Keuntungan mulai didapatkan, meskipun tidak besar, hanya cukup untuk uang jajan. Namun pada September 2017, saya harus melanjutkan pendidikan yang sempat tertunda. Kesibukan kuliah mengganggu aktivitas sehari-hari saya seperti biasa, yaitu jualan hijab  online. Dampak dari itu adalah kurangnya pemasukan dari bisnis yang telah dirintis. Saya sempat  syok, karena terbiasa mendapatkan uang dari penjualan hijab.

Selanjutnya Oktober 2017, saya mengajak Bayu Anggari (nama penanya Angin), sekarang dia PJ Internal komunitas menulis Bintang Inspirasi (BI), mencari lapak jualan di Sunmor UGM. Sekadar informasi Sunmor UGM adalah pasar pagi yang diadakan setiap Minggu di sepanjang jalan lembah UGM, mulai pukul 06.00 sampai 12.00 WIB. Saat pendaftaran kami berjumpa dengan salah satu panitia yang baik. Beliau menyarankan kalau mau jualan di Sunmor pakai Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) UGM dan daftarnya setiap Jumat di sayap barat Grha Saba Pramana (GSP) UGM . Alasannya adalah memang ada khusus 50 lapak penjualan bagi mahasiswa UGM dan biaya pendaftarannya hanya Rp. 8.000,- (delapan ribu rupiah), sekarang menjadi Rp. 10.000 (sepuluh ribu rupiah).

Peluang emas itu pun saya manfaatkan sebaik-baiknya, saya langsung menjumpai Rizka dan membicarakan penjualan di Sunmor. Rizka setuju, dan sejak obrolan itu kami mulai berjualan di Sunmor UGM, alhamdulillah sampai pekan ini kami masih jualan di pasar wisata tersebut. Selama Rizka masih status mahasiswa UGM, itu artinya kami bisa menikmati fasilitas berjualan di sana. Toh, kalau Rizka sudah tamat, mau tak mau kami harus menyewa lapak di sana dengan biaya sekitar Rp. 3.500.000,- (tiga juta lima ratus ribu rupiah) per tahun.

Selama jualan di Sunmor, rata-rata kami bisa menjual hijab sekitar 70  pcs, bahkan bisa mencapai 120  pcs. Sedangkan untuk omzetnya setiap jualan mulai dari Rp. 1.500.000,- (satu juta lima ratus ribu rupiah) sampai Rp. 2.800.00,- (satu juta delapan ratus ribu rupiah). Data penjualan itu tercatat dalam buku penjualan kami. Bukan mengada-ngada, pamer, apalagi informasi  hoax.

Pembeli kami mulai dari mahasiswa sampai pengunjung dari luar kota yang sedang liburan. Dari jualan di Sunmor itu pula kami mendapatkan pelanggan tetap, dan reseller. Sekarang tidak asing lagi melihat brand travela dipakai di sekitaran Kota Yogyakarta. Kami sering menjumpainya, ada rasa senang, bangga, dan puas, ketika sebuah brand diterima masyarakat. Tentunya hasil itu melalui proses yang panjang, mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dukungan, dan modal. Omong kosong juga bicara bisnis, tanpa modal.

Bicara soal modal, ada pengalaman menarik. Mungkin tidak ada yang mengira, awalnya kami memulai bisnis hijab itu sekitar Rp. 1.500.000,- (satu juta lima ratus ribu rupiah). Modal dari saya sendiri hanya Rp. 500.000 (lima ratus ribu rupiah), itu modal dari hasil menang nge-blog di Viva.co.id. Hasil kemenangan itu saya jadikan modal jualan, Rizka sendiri bermodalkan Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah). Minggu berikutnya jualan, mama Rizka membelikan kami tenda agar kami tidak kepanasan jualan di Sumor. Mengingat, awal jualan kami pakai payung pantai.

Jadi kalau saya dengar ada yang bicara mau berbisnis tapi tidak punya modal. Itu saya yang jadi gregetan.

Jujur saja, selama jualan sembari menempuh pendidikan di Universitas Widya Mataram, saya tidak bisa menyisihkan hasil jualan. Saya bisa menabung sejak tamat kuliah September 2019 lalu, sejak itulah saya mulai memikirkan masa depan keuangan mandiri. Ingat! Keuntungan bersih itu hanya ada pada tabungan, lain dari itu adalah aset bisnis. Aset itu bisa berkurang, pun bisa bertambah. Jadi seberapa hebat bisnis kita kalau tidak punya tabungan itu bukanlah hasil keuntungan selama berbisnis.

Dan sekarang saya ingin mengajak teman-teman semua berkolaborasi dengan bisnis hijab kami, travela. Sebagaimana sudah disampaikan di atas bagaimana perjuangan kami membangun brand travela yang tidak mudah. Travela mulai dikenal meluas di Yogyakarta, dalam waktu dekat, kalau tidak ada halangan, kami juga ingin mendirikan  store-nya. Terlebih lagi setiap pembeli menanyakan  store  travela. Bisnis travela bukan bisnis aji mumpung, tapi sudah dirancang sedemikian matang selama bertahun-tahun dari setiap jengkal pengalamannya.

Jika pun ada kekurangan kami selama menjalankan bisnis, itu karena kesibukan kami yang luar biasa. Rizka sendiri sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan tugas tesisnya, saya sendiri aktif di komunitas menulis BI dan Proyek Lidah Buaya (PLB) di Desa Jepitu, Gunungkidul, Yogyakarta. Namun, kami selalu evaluasi agar melangkah lebih cepat dan baik lagi, karena kami dari awal memang sadar tanpa mitra dan pelanggan, travela tidak akan bisa sampai sejauh ini.

Nah, teman-teman yang ingin memulai bisnis hijab atau sudah berkecimpung di dunia  fashion, mungkin tertarik dengan travela. Teman-teman bisa mencobanya untuk memasarkan travela di wilayahnya masing-masing. Tentu kami sudah memikirkan bagaimana dalam bisnis ini agar kita saling menguntungkan. Dan secara pribadi, saya sendiri siap memberikan solusi atau pendampingan ketika teman-teman mengalami kendala.

Kalau minat langsung gabung ke link grup whatsapp kami di bawah ini:

https://bit.ly/2QfNHAy 

Penulis: Asmara Dewo, pendiri dan pemilik travela



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas