Pemimpin yang baik (Ilustrasi) | Foto Getty Image

Asmarainjogja.id – Kita ditunjukkan dengan segala deretan yang terbaik-baik dari segala macam hal. Padahal terbaik itu kualitas, yang diukur dengan kasat mata, tanpa perhitungan yang lebih mendalam, dan terkadang pula mengabaikan moralitas dalam penilaian.

Contohnya saja pemimpin terbaik, bisakah kita sebut pemimpin terbaik, tapi akhlaknya tidak baik? Kinerjanya bagus, prestasinya baik, namun lagi-lagi mulutnya tajam, dan menyakitkan orang yang mendengarnya. Bicaranya sesuka hari, karena ia menilai dirinya sendiri yang terbaik, semua apa yang diucapkan pun menjadi benar.

Itu masih dinilai dari ucapan, bagaimana lagi dengan perbuataannya? Sebagus-bagusnya pekerjaan seseorang, tapi perbuatannya mencerminkan kejahatan, ya percuma, sama saja dengan bandit. Misalnya begini, dipuja-puji di sana-sini, disebut pula pemimpin berprestasi, tapi penipu, tidak amanah, kan itu tidak bisa dinilai yang terbaik.

Manusia ingin sekali menjadi yang terbaik, tapi ingkar menjadi yang baik-baik. Apakah kamu paham maksudnya? Kita sebagai manusia yang sering lupa, dan cenderung sombong selalu mengejar apa yang ingin jadi penilaian orang lain. Harapannya adalah menjadi manusia yang dipandang terbaik.

Baca juga:  Daftar Terbaru Lima Profesi Termiskin (Moral) di Indonesia

Hoooo… sungguh tidak mudah menjadi yang terbaik itu, kawan. Kalau penilaiannya hanya untuk puja-puji, menambah pencitraan untuk seseorang demi kepentingan, ya mudah saja memberikan penilaian terbaik pada seseorang, kan? Apalagi yang menilai manusia tidak bermoral, dan sedikit rakus, oh tentu saja segudang pujian akan menyundulkan langit. Kita kalau mau adil menyikapi terbaik ini, harus tahu juga siapa yang menilai, dan apa pula yang dinilainya?

Sebagai contoh lagi, pemimpin yang anti terhadap orang miskin, demi kinerjanya yang baik, bisa tidak dibilang terbaik? Tidak bisa!

Pemimpin yang menyakiti hati rakyat kecil, demi pujian dunia, bisa dibilang yang terbaik? Tidak bisa!

Pemimpin yang licik demi kepentingan jabatannya, bisa dibilang yang terbaik? Sungguh tidak bisa, kawan!

Pemimpin adalah contoh bagi yang dipimpin, kalau pemimpinnya licik, itulah yang diajarkan kepada warganya, yaitu kelicikan. Suka menipu, tidak amanah, menghalalkan segala cara untuk jabatan, adalah pemimpin yang tidak layak untuk dicontoh. Dan malah bisa dikategorikan berbahaya bagi kemajuan bangsa.

Baca juga:  Agus Yudhoyono, Cagub Ganteng yang Hobi Membaca

Sebagai manusia yang berTuhan, seharusnya kita lebih mengutamakan yang baik-baik saja, tak perduli dibanjiri pujian, acuhkan pula hujan pujian, toh kalau kita bekerja demi kepentingan khalayak, dengan sendirinya prestasi terbaik itu melekat pada kita. Jadi saja manusia yang biasa-biasa saja, seorang pemimpin yang biasa-biasa saja, tapi berlomba-lomba untuk kebaikan, bukan berlomba untuk yang terbaik. Ini jadi beda arah tujuannya nanti.

Berlomba-lomba untuk kebaikan, kita mengikuti aturan main, jika kita manusia yang beriman, percaya pada ajaran Tuhan, tentu berlomba untuk kebaikan ini dipagari oleh hukum Tuhan. Jadi tidak sesuka hati saja, jalan dari sana, jalan dari sini, belok kanan, belok kiri, tikung sana-sini, tidak begitu! Mengikuti ajaran Tuhan, berarti menjadi manusia yang lurus, sesuai jalan yang telah dibentangkan.

Nah, berlomba-lomba untuk yang terbaik ini, cenderung menghalalalkan segala cara, yang penting bisa menyabet kata “terbaik”. Ajaran Tuhan dan ajaran manusia licik digabungkan, abu-abu prinsipnya, tidak begitu jelas dasarnya, namun tujuannya jelas, yaitu menjadi manusia yang terbaik, menjadi sosok pemimpin yang terbaik. Tidak betul yang begini!

Jadilah pemimpin yang terbaik tapi kelakuan dan prinsip hidupnya baik, dan tidak bertentangan dengan ilmu keTuhanan. Memang untuk menjadi seorang pemimpin baik itu susah, mengingat perpolitikan Indonesia keruh sekali, berlumpur, kotor, dan bau yang mengundang mual. Namun inga-ingat pula, menjadi manusia baik-baik, yang ditambah dengan kecerdasan, prinsip yang jelas, keberanian, dan yakin Tuhan, Allah SWT di samping kita, di manapun keberadaan kita tidak akan tergoda dan takut, meskipun berada di sarang harimau sekalipun.

Baca juga:  Budaya Bicara yang Hebat-hebat

Nah, jika semua itu berjalan lancar, dunia akan menilai kita, bukan hanya segelintir golongan saja, apalagi yang puja-puji itu-itu saja orangnya, namun seluruh umat manusia, seluruh rakyat. Dan harus diakui pula, tentu ada yang tidak puas dengan kinerja kita. Tapi yang terpenting sebagai pemimpin sudah melakukan yang baik-baik saja, tanpa sedikit pun ingin mengejar yang terbaik. [Asmara Dewo]



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas