Ilustrasi pemuda hebat | Foto Gettyimage

Asmarainjogja.id -- Dulu, dulu sekali. Sekitar empat tahun yang lalu. Sakit dan benci yang mengantarkan pemuda itu menjadi pemuda yang berbeda. Karena sakit dan benci ini bermula dari cemburu. Cemburu ada karena cinta, bukan?

Kalau penduduk dunia bijak bilang tidak boleh cemburu memang betul.
Motivator super mantap kelas dunia pun bilang, cemburu itu hanya menyakitkan sendiri, memang benar.
Dan orang tua bijak mengatakan cemburu hanya melukai diri sendiri, memang benar adanya.

Mau dihilangkan rasa cemburu itu? Tidak bisa, dia terganjal di hati. Sulit sekali membuangnya. Bisa hilang, tapi harus merobek separuh hati. Dan itu benar-benar menyakitkan. Ya, urusan hati jauh lebih pelik dari perpolitikan busuk yang mengguncangkan dunia.

Dan setiap orang punya cara sendiri menyikapi rasa cemburu itu. Mulai dari hal yang negatif, sampai yang positif.

Menariknya, pemuda kita tadi cemburunya juga negatif. Perempuan yang ia cemburuinya, dibencinya. Sangat dibencinya sekali. Jangan tanyakan setebal mana cemburu pemuda itu?! Sungguh jangan kalian tanyakan!
Ia juga sempat memohon pada malaikat, untuk membawa terbang rasa cinta itu. Supaya apa? Sederhana, agar ia tidak merasakan lagi tentang apa yang namanya sakit hati.

Namun percuma, tentu saja malaikat baik tak mengamininya. Jadilah ia seorang pesakitan cinta. Stres? Iya. Frustrasi? Iya. Campur aduk dalam gelapnya kehidupan.

Tahu kalian apa yang dilakukan pemuda tadi?

Ia menulis segala kebencian itu, tentang perempuan itu, tentang segala yang menyangkut hatinya. Dan sungguh keajaiban, ia mulai menyadari perempuan yang dibencinya itu ternyata bintang inspirasinya menulis.

Dunia menulis pun ia tekuni, setiap hari, setiap waktu. Bait-bait puisi yang ia torehkan melalui secarik kertas. Quotes bijak super mantap tak sengaja keluar begitu saja dari mulutnya. Lantas, buru-buru ia catatkan dalam buku hariannya.

Jangan ragukan lagi quotes bijak yang ia tulis. Karena benar-benar bijak, bagaimana tidak bijak? Ia sendiri yang mengalami, merasakan, dan menjalaninya. Sungguh berbeda dari orang yang sok bijak, padahal tidak pernah mengalami, namun suaranya seperti toa melontarkan kata-kata suci, bagaikan wahyu Tuhan.
Bijaknya ya bijak quotes tersebut, tapi tidak meresap bagi pembacanya. Karena sungguh berbeda quotes dari hati berdasarkan pengalaman, dengan quotes yang sekadar quotes mencari keuntungan semata.

Bulan demi bulan, tahun demi tahun telah ia lalui, ilmu menulis ia tekuni tanpa jeda seharipun. Membaca pun sudah menjadi napas dalm hidupnya. Jika manusia butuh udara untuk bertahan hidup, pemuda kita tadi pun membaca untuk hidup. Mungkin dalam benaknya, jika tidak membaca, apa bedanya ia dengan seekor ikan yang dicampakkan ke daratan.

Apakah pemuda itu kaya? Mungkin kalian bertanya-tanya. Baiklah akan dijawab, pemuda itu miskin. Tapi hebatnya pemuda kita ini punya mental orang kaya, yang tidak dimiliki orang miskin. Ia tahu sekali tidak mungkin menjadi orang sukses jika bermental miskin dalam kehidupan.

Jika pemuda-pemudi teman sekerjanya setiap kali gajian membeli pakaian, sepatu, dan barang-barang lainnya. Pemuda tersebut cukup banyak menghabiskan gajinya untuk membeli buku. Iya, dia membeli buku, memilih buku dibandingkan barang-barang yang lainnya.

Nyaris, gajinya untuk hal-hal yang bisa mendongkrak cara berpikirnya, termasuk apa saja yang mencerdaskan, meskipun hal yang tak masuk diakal seperti mendaki gunung.

Baca juga:

Bolehkah Mencintai Sahabat Sendiri?

Petualangan Anak Manusia Mencari Tuhannya

Di Luar Tampak Rapuh, Padahal Hati Wanita Lebih Kokoh dari Tembok Cina

Hah, mendaki gunung? Betul, baginya mendaki gunung adalah cara dia belajar dari kehidupan. Cara dia merasa menjadi manusia yang tidak ada apa-apanya di atas bumi ini. Karena kesadaran ini pula, ia ingin menjadi pemuda yang luar biasa. Manusia yang berbeda dari lainnya.

Kalau pemuda lain suka berkumpul tidak jelas, menghabiskan waktu sia-sia, lain cerita dengan pemuda kita yang satu ini. Ia lebih memilih mendekap di kamar, larut akan bacaaan yang menghanyutkannya. Tidur pun buku yang mengantarkannya. Buku sudah seperti bantal guling baginya. Begitu seterusnya.

Kalian suka ikuti seminar? Entah itu seminar apa saja? Kalau tidak, maka kalian sungguh rugi sekali. Nah, pemuda kita rajin mengikuti seminar, terutama seminar menulis. Bisa diibaratkan mengikuti seminar seperti dapat ilmu langsung dari maha guru. Jadi seketika saja langsung hebat.

Apakah langsung menjadi hebat? Sebenarnya tidak, energi maha guru saja yang mentransfer ke pemuda tadi. Maha guru pun berpesan: Kalau mau jadi manusia hebat, berilmu tinggi, apa saja yang didapatkan dalam seminar ini maka dipraktikkan langsung. Hanya mempraktikkan ilmu yang baru didapatlah maka benar-benar bisa menjadi penulis hebat.

Ternyata hidup tidak semudah apa yang dibayangkan si pemuda itu. Kehidupan jungkir balik pun derap menghantamnya dalam kehidupan. Kesedihan, kesengsaraan, dan keputusasaan bertubi-tubi menghunjam tubuh kecilnya.

Andai… andai saja dia bukan pemuda hebat yang tidak ditemukan perempuan lain, mungkin ia tak menjadi apa-apa. Orang lain menyebutnya berlian di dalam lumpur. Hanya orang-orang tertentu saja yang melihat kemilau berlian itu. Orang biasa saja, tentu tidak.

Harga berlian itu, kita tahu mahal sekali, bukan? Maka tak heran pemuda itu pun sudah seperti harta karun yang diperebutkan. Ini jangan terlalu dipercaya! Bisa dibilang berlebihan. Oke kita lanjut dan mengakhirinya.

Terakhir, kabar dunia menyebutkan ia sudah menjelma menjadi penulis. Penulis hebat seperti para maha guru menulisnya. Hanya saja masih secuil dari ilmu maha guru. Tak mengapa, kan kalian tahu sejak di awal mentalnya baja. Kuat sekali, meskipun dibenturkan dengan benda-benda keras.

Oh ya, kalian pasti penasaran bagaimana dengan perempuan yang membuatnya cemburu tadi? Baik, hidup penuh dengan misteri. Napas terakhirlah yang bisa merangkum cerita kehidupan, jika belum itu artinya hanya sebagian cerita kehidupan. Tidak seru dan menggantung.

Namun rasa yang dulu pernah ada pada perempuan itu, semili pun tidak berubah. Masih tetap sama. Hanya saja… hanya saja… pemuda kita sudah berjanji pada perempuan lain.

Pemuda hebat kita ini tahu berterimakasih pada siapa saja yang menolongnya. Baik benda mati, maupun benda hidup. Apalagi manusia, kalian tentu bisa menyimpulkannya sendiri. [Asmara Dewo]

Baca juga:

Pujangga yang Letih Mengejar Cinta

Lima Alasan Pria Menikahi Wanita yang Pintar Mencari Uang

Merajut Kisah di Belantara Cinta

Video terbaru:



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas