Pendakian ke Gunung Andong | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Asmarainjogja.id – Gunung Andong bisa dibilang salah satu gunung yang terendah di Jawa Tengah bagi seorang pendaki. Ketinggiannya hanya 1.726 MDPL. Namun begitu, mendaki buka sekadar hura-hura atau gaya-gayaan semata, sebab jika mendalami filosofis mendaki akan membuka mindset yang tidak pernah dibayangkan oleh pendaki pemula.

Lalu apa, sih, yang didapat dari mendaki gunung? Kalau misalnya itu yang Anda tanyakan, akan beragam jawaban dari pendaki itu sendiri. Agar mendapatkan kepuasan jawaban, maka satu-satunya cara adalah ikut melebur mendaki gunung bersama yang lainnya. Nanti Anda akan menemukan sendiri jawabannya.

Nah, mendaki gunung juga jangan terlalu heboh, harus mendaki gunung yang populer dengan risiko yang jelas lebih besar. Dakilah gunung yang mudah treknya, agar Anda bisa beradaptasi dengan gunung-gunung berikutnya. Selain itu, fisik juga harus dipersiapkan jauh hari sebelum pendakian. Paling tidak, jogging seminggu 3 kali sekitar 3 km. Itu sudah cukuplah untuk melatih fisik.

Lalu gunung apa yang pertama didaki? Mendakilah ke Gunung Andong. Tiga hari yang lalu kami mendaki Gunung yang terletak di Magelang, Jawa Tengah tersebut. Jadi, inilah gunung yang direkomedasikan jika Anda belum pernah mendaki, dan ingin sekali mendaki gunung.

Sabtu pagi, 28 Januari 2017, saya dan Rizka membelah Jln. Yogyakarta-Magelang dengan matic kece. Menuju ke Gunung Andong kami dari Muntilan, lalu ke Ketep Pass, dan akhirnya tembus ke Jln. Magelang-Salatiga. Perjalanan yang mengasyikkan di pagi itu, sebab gunung-gemunung terlihat gagah sepanjang jalan.

Tanpa terasa, tibalah kami di Dusun Sawit, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Magelang, kami memilih rute dari sini mendaki Gunung Andong. Ternyata cukup ramai yang mendaki di sini. Atau mungkin karena pas liburan saja kali, ya, karena hari itu memang tanggal merah.

Untuk registrasi ke basecamp biayanya Rp 8.000 per orang, sedangkan untuk parkir motor Rp 5.000.

“Sampahnya bawa turun lagi, ya, Mbak?!” pesan salah satu kru basecamp ke Rizka.

Ya, sampah adalah salah satu masalah terbesar mendaki gunung. Meskipun sudah diimbau berkali-kali, bahkan diberi peringatan keras, sampah tetap saja berserak di sepanjang trek pendakian gunung. Terutama di lokasi-lokasi pendirian tenda, biasanya sampah sudah menggunung tinggi. Siapa yang mau disalahkan kalau sudah begitu? Dan siapa juga yang harus bertanggungjawab?

Rumah warga di sekitar basecamp ini juga ramai dipadati pendaki yang sedang beristirahat. Mungkin yang baru saja turun, atau juga dalam persiapan untuk mendaki. Warung-warung itu juga menjajajakan jualannya di rumah mereka, soal harga tidak jauh berbeda. Cukup murahlah. Mungkin ada yang mau dibeli sebelum mendaki Gunung Andong. Kami sendiri membeli beberapa makanan ringan dan soft drink.

Agar tidak kerepotan di pendakian, saya harus melapor ke toilet umum di sana. Teringat saat mendaki Puncak Windusari Erorejo yang sama sekali tak ada air di atas puncak. Untungnya ada tisu, tisu kering pula. Baik, setelah semua siap, kami dengan mantap mulai melangkah.

Sebenarnya mendaki gunung itu lebih enaknya sama laki-laki, kalau sama perempuan, barang-barang kebutuhan dia laki-laki juga yang bawa. Tapi tidak semua perempuan seperti itu, ada juga yang mandiri menggendong carrielnya sendiri. Sedangkan Rizka, sudah seperti boss, dan saya seorang porter sejati yang membawakan barangnya dari mendaki sampai turun lagi. Termasuk jacket yang sebenarnya tinggal dililitkan saja di leher. Apa susahnya coba?

Kebun sayuran milik warga tampak begitu subur di sepanjang rute masuk ke pintu rimba. Pemandangan di dusun ini sangat indah, Gunung Merbabu juga terlihat jelas dari sini. Hanya saja waktu itu puncaknya diselimuti kabut, jadi tidak terlalu utuh terlihat. Dan satu hal yang selalu teringat, yaitu bau pupuk kandang yang sampai saat ini masih terasa di hidung. Begitu menyengat, begitu terkesan. Sebab selama kami bertualang atau traveling melewati kebun sayur selalu saja menghirup pupuk kandang ala ayam broiler.

Tapi okelah, mau tak mau hidung harus membiasakan aroma kandang tersebut. Toh, kebun yang begitu subur nan indah terhampar di depan mata juga karena pupuk kandang. Jadi saya katakan terimakasih bau kandang, dan pastinya terimakasih juga atas kandungan yang begitu tinggi dari kotoran unggas yang satu itu.

Berdiri kokoh gapura saat memasuki pintu rimba Gunung Andong. Tak hanya pendaki yang antri berfoto berlatar gapura dan Gunung Andong, ada juga turis berkulit kuning tak kalah bergaya. Cukup eksotis memang foto di depan gapura tersebut.

Nah, dari gapura menuju pintu rimba jalannya dicor cantik dan juga dipagari tembok. Sudah seperti tembok Cina saja di sini. Keren memang. Sudah disinggung di awal tadi, trek Gunung Andong itu tidak sulit-sulit amat, makanya jalur ini cukup memanjakan pendakinya.

Puluhan pendaki baru turun dari puncak, mulai dari anak SD, SMP, SMA. Bayangkan anak-anak itu saja sudah menjejakkan kakinya di Puncak Andong. Masa iya, kita yang sudah dewasa ini belum merasakannya? Haduhhh.

Jalan sudah menanjak, pepohonan pinus begitu rapat dan rindang sepanjang rute yang kami lalui. Suasana alam sudah semakin kental, hijaunya alam bebas ini sudah menyapa kami. Kerinduan yang sudah lama terpendam sejak pendakian di Gunung Merapi tahun 2014 lalu. Setidaknya ini sebagai penawar rindu mendaki gunung.

Pos 1 Gunung Andong

Pos 1 Gunung Andong | Foto asmarainjogja, Rizka Wahyuni

Jarak dari pintu rimba sampai di Pos 1, tidak terlalu jauh, kami menghabiskan waktu hanya sekitar 20 menit pendakian. Sangat dekatlah jaraknya. Nah, uniknya di pos 1 alias Watu Pocong ada bapak-bapak yang menjual minuman dingin di sana. Sepertinya pendaki yang baru turun cukup tergoda melihat minuman segar di depan mata.

Ketika ditanya Rizka kenapa disebut Watu Pocong (Batu Pocong), saya jawab saja dulu di sini pendaki dijumpai pocong, makanya disebut Watu Pocong, hahaha. Saya jawab asal-asalan, karena Rizka ini penakutnya minta ampun. Ini pula yang membuat saya malas bertualang sama dia. Sementara, saya dibilang terlalu berani, sih, tidak. Tapi paling penasaran dengan apapun di muka bumi ini. Jadilah saya menerobos segala kemisteriusan.

Setelah istirahat sejenak di Pos 1, kami melanjutkan pendakian. Ternyata pendaki di sini dipadati anak-anak berumuran 6 sampai 10 tahun. Kuat fisik mereka bisa mendaki Gunung Andong. Bahkan mereka berlari-lari di terjalnya rute pendakian. Salut memang. Hutan di sini juga didominasi dengan Pinus. Jadi tidak seperti gunung-gunung di Sumatera dengan pepohonan liar.

Pos 2 Gunung Andong

Pos 2 Gunung Andong | Foto asmarainjogja, Rizka Wahyuni

Melangkah dan terus melangkah, sambil bercanda dengan Rizka yang terkadang saya cukup keberatan membawa semua beban di pundak. Tak terasa kami tiba di Pos 2, Watu Gambir. Di sana tampak pendaki sedang beristirahat kelelahan. Kami sendiri juga sudah terengah-engah. Jarak dari pos 1 sampai pos 2 itu cukup dekat. Namun di Gunung Andong ini Cuma ada dua pos. Jadi inilah pos terakhir.

Kami duduk beristirahat sejenak melepas penat di pos 2 sambil ber-say hello sok akrab dengan pendaki lainnya. Ketika napas sudah kembali teratur, dan si menyebalkan sudah tak keletihan lagi, kami kembali mendaki membelah hutan pinus dengan jejak kaki yang kokoh.   Saat berpapasan dengan anak SD yang baru turun, kami tanyai dia.

“Dek, berapa jauh lagi sampai ke puncak dari sini?”

Lama ia menjawab, mungkin tidak tahu berapa jauh jaraknya, atau juga bingung harus menjawab apa. Tapi akhirnya ia menjawab sambil berlalu, “Setengah gunung lagi.”

Hahahaha… sontak kami terkekeh dan geleng-geleng kepala, baru kali ini mendengar jawaban seperti itu, setengah gunung lagi. Tapi itulah jawaban jujur dari seorang anak-anak. Coba kalau ditanya sama pendaki yang dewasa, pasti dijawab sebentara lagi, 5 menit lagi, 10 menit lagi, 15 menit lagi. Tapi saat dilalui ujung-ujungnya 2 jam juga, hahahaha.

Baik, semakin semangat karena si Adek bilang setengah gunung lagi. Itu artinya kami sudah menuntaskan separuh Gunung Andong. Mendaki dan terus mendaki, trek semakin sulit, dan semakin licin. Harus hati-hati kalau tak mau terjerembab jatuh terguling-guling ke bawah.

Dari separuh gunung ini pemandangan sudah luar biasa menakjubkan. Lagi-lagi Gunung Merbabu menjadi pemandangan utama. Mata air juga kami temukan di sini, sumber mata air itu mengalir deras yang sudah diberi pipa. Airnya dingin sejuk, dan cukup segar ditenggorokan. Tapi ya begitulah, namanya air gunung ada rasa kelat begitu ketia masuk di tenggorokan.

Kami juga bangga melihat anak-anak remaja yang membawa bibit pohon untuk di tanam di Gunung Andong. Jika diperhatikan Gunung Andong ini cukup rawan longsor, karena hutannya tidak padat. Bahkan hutan pinus juga terlihat mati dan kering.

Rute yang sudah dilalui mencapai puncak, meskipun terlihat atap Andong, tapi kami sudah merasakan di ketinggian yang luar biasa ini. Sebenarnya andai tidak berkabut tentu pemandangannya indah sekali, tapi apa mau dikata, alam tidak bisa diajak kompromi apalagi dirayu dengan anak alay.

Treck Gunung Andong

Treck Gunung Andong yang cukup berbahaya | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Ada satu jalur yang bisa dibilang paling berbahaya mencapai puncak. Di sebelah kiri jalur itu jurang yang sangat dalam, dan itu tidak ada penghalangnya, seperti pepohonan atau semak-semak sebagai penyangga jika ada pendaki yang terpeleset. Namun jurang itu tidak terlihat karena ditutupi kabut yang sangat tebal.

Di atas bebatuan itu, kami istirahat sebentar, merasakan kabut dingin menambrak wajah. Sensasi yang luar biasa pada saat itu. Ada pendaki yang meneriaki temannya, katanya, “Bisa kena paru-paru basah nanti.”

Entah benar atau tidak, saya tidak tahu pasti, tapi anak alam pada umumnya sudah terbiasa dikelilingi kabut. Jadi mau tak mau, ya mengirup udara yang berkabut itu. Tapi entahlah benar atau tidak, saya sendiri tidak bisa memastikan.

Kembali mengangkat kaki yang semakin berat, apalagi si Rizka yang selalu tertinggal jauh di belakang. Padahal ia tidak membawa beban sama sekali. Apa yang berat coba? Kalau yang berat itu badan, itu artinya kurang olaharga, ya, kan? Tapi gayanya selalu mengajak mendaki Gunung Semeru. Bagaimana mau mendaki Semeru, Gunung Andong yang hanya 1.726 MDPL saja dia mendakinya begitu. Manja dan melakukan pembodohan besar-besaran terhadap saya. Baiklah saya harus menunggu, bersabar, melalui petualangan alam bebas ini dengan si menyebalkan.

Makam Ki Joko Pekik

Makam Ki Joko Pekik | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Horeee… tak lama kemudian kami sudah berada di atap Andong. Sekitar 2 jam kami tiba juga di puncak Gunung Andong. Di puncak ini ada dua jalur membelah. Yang sebelah kiri menuju ke Makam Joko Pekik, sedangkan jalur ke kanan menuju puncak alap-alap. Nah, di sanalah biasanya para pendaki menancapkan tendanya di puncak tertinggi. Karena penasaran, kami menuju ke makam itu dahulu. Siapakah Ki Joko Pekik yang dimakamkan di atas puncak Andong itu?

Beliau adalah seorang Syech yang bernama Abdul Faqih. Di hari-hari tertentu banyak orang yang berziarah ke makam tersebut. Bahkan saat kami berkunjung ke makam Ki Joko Pekik masih terlihat kembang yang masih segar di atas pemakaman yang terbuat dari keramik itu. Warga sekitar juga percaya bahwa Syech Abdul Faqih sezaman dengan Wali yang bertugas menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Namun sayang, catatan sejarah untuk beliau tidak ditemukan, hanya saja warga mengetahui cerita dari turun temurun generasi di sekitar desa. Oleh sebab itu makam tersebut salah satu yang wajib diziarahi oleh warga.

Oh ya, di sini juga sangat indah pemandangannya. Meskipun sesekali kabut menutup panorama alam, namun keindahan alam ini tidak bisa disembunyikan. Setelah berkeliling di sekitar pemakaman, kami langsung menuju puncak utama, tempat para pendaki berhamburan mendirikan tendanya.

Beberap pendaki yang medirikan tendanya di Gunung Andong

Beberap pendaki yang medirikan tendanya di Gunung Andong | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Hah, siapa sangka di Puncak Andong juga terdapat 2 warung. Karena kami tidak membawa tenda, apa boleh buat buru-buru ke warung agar badan tidak dingin disengat udara. Maklum, di sini sangat dingin, apalagi cuacanya mendung dan sedikit gerimis.

Nah, di warung ini, guys, kita bisa pesan apa saja, yang penting bukan es, hahhaa. Karena saya coba tanya, ada es teh, eh malah dijawab candaan oleh pemilik warung, “Es goreng ada, Mas.”

Baiklah, kami memesan apa yang tersedia di sana, seperti mie dan minuman hangat. Nah, jadi kalau mendaki Gunung Andong tidak usah takut kehabisan bekal makanan, deh. Apalagi berat-berat bawa makanan. Lagipula harga makanan dan minuman di sini murah, kok, sama seperti di luar. Dan yang cukup menggembirakan lagi adalah 2 warung itu nonstop buka 24 jam. Apa tidak keren, tuh, di pucak gunung?

Si menyebalkan di Gunung Andong

Si menyebalkan di Gunung Andong | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Ketika kami keluar lagi dari warung menikmati romantisme alam yang begitu syahdu dan menyiapkan kamera. Hujan turun cukup deras. Yah, batal, deh, hunting fotonya. Tak mengapa, kami harus kembali lagi ke warung dan bergumul dengan pendaki lainnya di sana.

Tampak pula satu keluarga yang mendaki, sepasang suami istri yang kehujanan bersama kedua anaknya. Putra bungsungnya sekitar 3 tahun. Kecil sekali ya, sudah diajak mendaki? Sedangkan kakaknya berumur sekitar 5 tahun. Keluarga yang sangat keren menurut saya, sejak dini anaknya sudah diajak mengenal alam.

Gunung Andong

Si menyebalkan, Rizka Wahyuni berfoto berlatar Puncak Alap-alap Gunung Andong | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Sekitar 30 menit hujan reda, kami keluar dari warung menuju tugu Puncak Andong. Lagi-lagi hujan kembali mengguyur, dan ini cukup deras. Payung yang kami bawa saja sudah telipat-lipat tersapu angin kencang. Pendaki lainnya berhamburan memperbaiki tendanya yang digoyang angin. Padahal sekitar 30 meter lagi kami akan sampai di Puncak Alap-alap.

Kalau cuaca cerah, di puncak Alap-alap itu pemandangannya sangat keren. Gunung-gemunung akan terlihat jelas dari sana. Sepertinya di lain waktu akan menuntaskan pendakian Gunung Andong. Ya, dan itu sudah sepatutnya. [Asmara Dewo]

Lihat videonya, Guys!

 

Baca juga:

Menyatunya Keeksotisan, Keindahan, dan Vulgarnya Candi Cetho

Keindahan Waduk Wadaslintang dari Bukit Windusari Erorejo

Menyingkap Keindahan Hutan Pinus Grenden

Keindahan Borobudur di Bawah Mentari Pagi

Padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas