keindahan Gunung Bromo, Batok, Semeru dari Gunung Penanjakan | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Asmarainjogja.id – Berlibur di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) selama ini dikenal dengan biaya yang mahal. Bahkan tampaknya juga mereka yang menikmati alam yang menakjubkan di TNBTS hanya dari wisatawan yang berduit saja. Benarkah demikian? Secara pribadi saya juga berpikiran begitu, tapi setelah saya sendiri berlibur ke sana, ternyata budget ke TNBTS bisa diminimalisir.

Sebenarnya biaya yang mahal itu untuk menyewa transportasi, penginapan, dan hal-hal yang ditawari oleh oknum dengan jasanya yang sangat mahal. Oknum yang saya maksud seperti ojek, dan jasa lainnya yang bisa menguras kantong kita. Soal makanan di sana juga tidak terlalu mahal, terlebih bagi Anda seorang backpacker dengan makanan apa saja bisa masuk ke perut. Dan pastinya membawa kebutuhan dari luar untuk persiapan di TNBTS.

Tiket masuk ke TNBTS itu hanya Rp 27.500, sedangkan di akhir pekan Rp 32.500. Nah, di TNBTS itu wisatanya sangat banyak, seperti Puncak Gunung Penanjakan, wisata Kawah Bromo, Bukit Teletubbies (Padang Savana), Lautan Pasir (Pasir Berbisik), dan spot-spot cantik lainnya yang membuat decak kagum wisatawan. Jadi bisa dibilang dengan biaya masuk Rp 27.500 per orang itu sangat murah, bukan? Dan uniknya, guys, kami sendiri saat masuk ke sana gratis, hahaha.  Kok bisa? Begini ceritanya.

Bromo Tengger Semeru

Negeri di atas awan Bromo Tengger Semeru | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

14 April 2017, dari Yogyakarta ke wisata Gunung Bromo kami naik sepeda motor, bayangkan hanya naik motor kami menelusuri setiap wisata di TNBTS. Sebelumnya saat kami di Yogyakarta kami sudah menyiapkan rute menuju ke sana. Berdasarkan peta dari Google, rute yang kami tempuh melalui Solo – Karanganyar – Magetan – Madiun -Mejayan – Nganjuk – Pare – Batu – Malang – TNBTS. Dari informasi mesin pencari itu pula jarak tempuhnya sekitar 8 jam lebih.

Namun meleset, guys, akhirnya perjalanan kami menyita waktu sampai 14 jam, hahaha, kacau banget, deh. Kami salah rute yang akhirnya harus melewati kota-kota yang tidak masuk daftar. Tapi tidak masalah, setidaknya kami sudah tahu kota yang belum kami ketahui sebelumnya. Nah, akibatnya sampai pintu masuk TNBTS sekitar pukul 22:00 wib. Sedangkan kami berangkat dari Yogyakarta pukul 06:30 wib. Perjalanan yang sangat melelahkan tentunya. Rizka sendiri sudah terkantuk-kantuk, dan minta berhenti di sepanjang perjalanan. Sungguh itu menyebalkan, mengingat saya tidak tahu medan di sekitar sana, amankah dari begal bagi rider di malam hari?

Syukurnya kami selamat sampai tujuan. Karena hari sudah malam, banyak pendaki baru turun dari Gunung Semeru, saat itu kami bergabung sebentar cari informasi dari mereka. Di pos itu kami tidak tahu di sanalah seharusnya membayar tiket, karena kami lugu nan cupu, kami hanya memanfaatkan pos itu untuk istirahat sejenak. Mungkin juga petugas mengira kami bagian dari pendaki yang baru turun dari Gunung Semeru. Jadi setelah prima kami melanjutkan petualangan yang mendebarkan ini, guys.

Satu pos sudah kami lalui, gratis. Tidak ada unsur kesengajaan. Jalanan semakin berbahaya, terjal, gelap, dan dingiiin sekali. Namun begitu pemandangan di malam hari sungguh sangat menakjubkan. Bulan sempurna bulat di langit malam, cahayanya begitu terang, bintang-gemintang pun berkerlipan menyaksikan motor matik kami di atas pegunungan. Nyaris sepanjang jalan tidak ada warung, beruntungnya ada 1 warung yang buka. Di sanalah kami istirahat lagi, mengganjal perut, minum kopi, mencari informasi, dan menghangatkan tubuh di depan api unggun yang disediakan pemilik warung.

Secara keseluruhan makanan di sana tidak terlalu mahal, nasi telur 2 porsi, tambah telur 1, kopi 2, goreng pisang 2, ditambah sarung tangan 1, totalnya Rp 40.000. di warung itu pula saya mendapatkan informasi dari penumpang dan sopir, biaya sewa Jeep Rp 400.000 dari Malang ke Bromo. Isi mobil off road itu bisa 5 sampai 7 penumpang. Dan tentunya biaya sewa itu berbeda-beda pula disetiap rental Jeep yang ada di sana. Bahkan ada pula yang memasang tarif Rp 500.000 sampai Rp 700.000.

Salah seorang dari pemilik warung itu juga mengatakan bahwa motor matic kami tidak bisa sampai ke puncak. Karena medan yang dilalui sangat berat, seperti lautan pasir, dan tanjakan super tinggi yang sangat berbahaya. Apakah hanya menakut-nakuti saja, atau hanya trik marketing agar kami menggunakan jasanya? Sebab bukan rahasia umum lagi memakai jasa di sana sangat menguras kantong wisatawan, terlebih lagi bagi kami dengan budget yang kecil kalau berwisata. Kami tetap menggunakan matic, dan hanya meminta informasi rute ke Gunung Penanjakan untuk melihat sunrise.

Dan katanya memang tidak bisa ke sana, kami mencari alternatif lain agar tetap bisa menikmati sunrise di Bromo. Diberilah informasi, entah itu informasi yang keliru atau kami yang lemot mencerna informasi, kami akhirnya tiba di pintu masuk Gunung Semeru di Lumajang. Haduhhh, kami bukan mendaki gunung, kenapa bisa sampai di sini.

Tiba di sana sudah larut malam, kami mengobrol dengan petugas Gunung Semeru. Setelah berbicara panjang lebar, salah satu di antara mereka menawari rumahnya karena homestay sudah tutup jam segini, kami menolak secara halus. Karena Rizka sudah mengantuk berat, saya bilang ke mereka agar menyewa tenda saja untuk Rizka beristirahat, dan saya tetap terjaga bersama petugas itu sampai menjelang pagi. Kata mereka tidak ada tenda untuk disewakan. Entah benar atau tidak, saya positif saja.

Masih dengan orang yang sama, ia juga menawari agar naik ojek saja ke Gunung Penanjakan. Biayanya Rp 500.000 untuk 2 orang, pulang-pergi. Wow, itu biaya yang sangat tinggi kami pikir. Meskipun saya lugu, setidak-tidaknya saya belajar ilmu marketing, dan cukup banyak pengalaman berjumpa dengan orang-orang baru. Maka saya mencari cara agar keluar dari tempat yang tidak mengasyikkan ini. Di tengah kedinginan meskipun di depan api unggun, kopi hangat belum mampu menyimbangkan tubuh saya.

Sambil mengisap rokok memandangi kayu yang terus terbakar, saya terus  berpikir bagaimana ini? Sesekali saya pandangi wajah si menyebalkan yang sangat mengantuk dan letih. Saya sangat kasihan, tapi harus bagaimana lagi, saya harus memutuskan. Saya bilang sama Rizka, “Dek, kita turun aja”. Sepakat. Rizka mengangguk. Kami pun izin dengan mereka untuk kembali turun.

Sampai di Pos ke-2, ada 1 motor dan 2 jeep tampak menunggu Jeep lainnya di sana. Sedangkan petugas pos tidak ada yang berjaga. Di Pos ke-2 inilah saya parkirkan motor dan sambil berpikir bagaimana langkah selanjutnya.

“Sebenarnya tadi abang cuma alasan, mana mungkin turun, rugi kita kalau turun lagi,” kata saya ke Rizka.

“Ya, Rizka tahu. Rizka juga tahu abang kelihatan berpikir terus sejak tadi,” sahut Rizka.

Tampak lampu Jeep semakin terang benderang, Jeep itulah yang ditunggu mereka. Setelah Jeep yang ditunggu melintas, salah satu sopir Jepp menyapa kami.

“Mas, mau kemana?”

“Rencana mau naik juga, Pak,” jawab saya.

“Ya, sudah bareng kami, ikuti saja dari belakang” katanya lagi.

“Memangnya bisa, Pak, naik matic ke atas?”

“Bisa, tapi sampai di bawah penanjakan saja.”

Secercah harapan tampak berpihak kepada kami. Semangat kami mulai tumbuh lagi, saya sangat bersukur setelah berjumpa dengan orang-orang yang baik seperti bapak itu. Mereka memberikan jalan, bukan mempersulit atau juga menakut-nakuti. Jep-jeep itu mulai bergerak menuruni jalan yang curam nan gelap. Setelah pasang jarak, matic tangguh kami pun mengekori mereka. Pandangan gelap, sebelah kiri jurang. Jalan tikungan tajam harus kami lalui dengan hati-hati.

Waktu terus berlalu, tibalah kami di lautan pasir (pasir berbisik), memang medan ini sangat sulit untuk dilalui memakai matic. Tapi kami tidak patah arang, petualangan harus dilanjutkan, meskipun menembus lautan pasir di malam hari dengan matic. Jeep tadi sudah melesat jauh. Meski begitu Jeep-Jeep lain dari belakang tampak susul-menyusul. Bahkan pengunjung dengan motor trail semakin ramai. Kami semakin optimis dan gembira, sejenis motor, meskipun beda, setidaknya ada juga motor yang melewati lautan pasir itu.

Kami juga sempat iring-iringan dengan motor trail, Jeep, dan saya pikir ini adalah petualangan yang menakjubkan. Matic, trail, dan Jeep, 3 jenis kendaraan ini membela lautan pasir di tengah kabut yang semakin tebal. Ternyata matic kami lagi-lagi tertinggal jauh dengan kendaraan lainnya. Bahkan kami sampai salah jalur entah kemana jalur tersebut. Lalu kami liht arah ke belakang apakah ada Jeep lainnnya? Setelah kami lihat lampu Jeep di belakang ternyata benar kami salah jalan, menuju ke Puncak Penanjakan arah kanan, sedangkan matic kami sudah serong jauh ke kiri.

Kami putar arah mengikuti Jeep yang menuju gerbang Penanjakan Sunrise Bromo. Di sini ada beberapa warung, lega juga melihat ada jual bensin (pertalite). Kami isi minyak 2 liter, per literny Rp 13.000. Di warung tempat beristihat pertama tadi kami juga sempat mengisi minyak hanya saja 1 liter (Rp 10.000 per liter), itu ternyata tidak cukup. Maklum kami tidak tahu seberapa jauh perjalan ini. Saran saya kalau kamu naik motor juga, pastikan isi penuh bensin kamu di Kota Malang.

Salah seorang ojek juga menawari agar kami naik ojek saja ke puncak. Katanya, “Naik ojek, Mas, nggak bisa naik ke puncak pakai matic.”

“Maaf, Mas, kami naik matic saja,” saya menolak dengan halus.

Ternyata tukang ojek itu tetap membujuk kami, dan saya tetap juga menolak. Bahkan saking negebetnya agar kami naik ojeknya, dia mengikuti kami sampai ke atas. Jujur saja, saya sudah risih sejak di warung pertama tadi, jumpa petugas di Gunung Semeru, dan kali ini tukang ojek yang terus membututi.

“Udah, Mas, naik ojek aja,” bujuknya lagi mengekori kami dari belakang.

“Modal kami ke sini, minim, Mas, nggak cukup bayar ojek,” kata saya lagi.

Sesungguhnya apa yang dibilang tukang ojek itu ada benarnya dan ada baiknya. Memang ada 2 tanjakan yang benar-benar tinggi dengan tikungan tajam pula. Kalau saya tidak lupa itu ada di tanjakan ke-2 yang benar-benar tinggi dan panjang, kemiringannya mencapai sekitar 180 derajat. Ini serius. Sebenarnya sangat berbahaya bagi pengendara seperti motor matic. Terlebih lagi membawa beban yang cukup berat seperti kariel di punggung Rizka.

Untungnya saja matic kami benar-benar sehat, dan jago, kebetulan baru diservis beberapa hari yang lalu. Jadi tenaga si kuda besi ini powerfull. Saran saya kalau kamu ke sini pastikan motor kami benar-benar prima, dan memang jago di atas perbukitan, kalau letoy, bakal mundur tuh motor yang kamu tunggangi. Selain itu ridernya juga sudah terbiasa di medan seperti ini, karena medannya memang sangat sulit, tanjakan yang tinggi, sempit, curam, tikungan tajam, dan gelap, itulah yang harus kamu lalui, guys.

Kaki saya sendiri terpaksa menopang matic agar tetap berjalan saat berada di tanjakan tinggi tersebut. Sedangkan Rizka sudah cemas, dan lillahi taala saja. Jujur saja, ini adalah pengalaman saya naik motor yang paling mencemaskan, seru, dan membuat nyali saya down.

Di saat tikungan yang terus menanjak nyaris saya tidak pernah menurunkan gas, itulah cara saya agar motor terus tetap berjalan meski rodanya berputar lambat. Sekali saja turun gas, sudah pasti motor itu akan berhenti dan mundur. Kalau sudah begitu, pastilah cilaka 12, guys. Jadi mau tak mau gas harus tetap tinggi, dan pandai menyeimbangkan motor di saat tikungan. Dan lebih mendebarkan lagi jeep di depan lambat sekali berjalan, padahal saat itu tanjakan sedang tinggi-tingginya, kalau saya terus di belakang, mengikuti irama Jeep, bisa jadi motor kami tidak tarik.

Maka saya harus menyalip Jeep itu di saat tanjakan, dan ada juga menyalip Jeep saat di tikungan. Ini bukan berarti saya hebat naik motor, tapi karena keterpaksaan rute yang seperti itu. Terkadang di saat kondisi mendesak yang mengancam, skill kita bisa mendadak muncul, dan itu sungguh menakjubkan. Rute ini sangat berbahaya, guys, bahkan di siang hari saja ada 1 Jeep yang terprosok, hampir terjungkal. Bayangkan di siang hari, apalagi malam hari coba?

Tikungan demi tikungan kami lalui, tanjakan super panjang sudah kami tempuh, tibalah kami di Gunung Penanjakan Sunrise Bromo. Di sana sudah ada ratusan Jeep yang antre di sepanjang jalan. Penumpangnya turun beramai-ramai, ada yang jalan kaki, ada pula yang naik ojek. Naik ojek jarak yang cukup dekat Rp 10.000. Baiknya jalan kaki saja, deh, dari parkiran Jeep ke tangga puncak, kalau kamu ke sini, guys.

Akhirnya kami tiba dengan selamat, senang sekali rasanya, kami bisa melewati ujian petualangan yang maha sulit ini. Untuk biaya parkir motor Rp 5.000. Nah, dari area parkir motor sampai tangga puncak jaraknya sekitar 70 meter, kami berjalan di tengah dingin pagi pagi yang menusuk tulang. Pengunjung sudah sangat ramai memadati warung-warung di sana. Kami sendiri merapat ke warung memesan kopi dan goreng pisang. Goreng pisang harganya Rp 3.000, sedangkan kopi Rp 5.000 per gelas.

Saya perhatikan pengunjung banyak dari luar kota, bahkan juga dari mancanegara. Ya, wisata Bromo memang salah satu objek wisata di Indonesia yang paling diminati oleh turis asing, selain Pantai Bali, Lombok, Raja Ampat, Candi Brobudur, Candi Prambanan dan tentu saja wisata lainnya di Yogyakarta. Di warung itu pula kami mengobrol hangat dengan sopir-sopir Jeep dari Malang. Mereka sangat ramah, dan tidak pelit dengan informasi. Meskipun terkadang bahasa mereka mengarah ke marketing, hahaha. Saya paham sekali soal itu, sebab saya juga seorang marketer dan pedagang.

Paling tidak informasi dari mereka bisa jadi refrensi wisata kami selanjutnya setelah menyaksikan sunrise di Gunung Penanjakan Sunrise Bromo. Oh ya, guys, saran saya kalau kamu di sini sebaiknya cari informasi dengan warga setempat saja, atau paling tidak dengan sopir Jeep, kalau tanya ke tukang ojek dimarketingin kamu nanti, hahaha. Dan itu biayanya mahal banget. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, dari pintu masuk Gunung Semeru ke Bukit Penanjakan ini diminta Rp 500.000 untuk 2 orang.

Sekitar pukul 04:30 kami mulai menaiki anak tangga yang sudah dicor semen ke puncak. Rizka sudah terhuyung-huyung kelemasan, dan juga mengantuk. Di anak tangga dia sudah sempat lemas, dan istirahat beberapa menit. Namun saya bilang istirahat di atas saja, jangan di sini. Setelah istirahat sebentar kami kembali melangkah. Wow… amazing, pengunjungnya ramai sekali, padat, saling berdesak-desakan. Ada yang sudah duduk menggelar matras yang disewa dari sana, ada pula yang sudah mengambil posisi untuk mengabadikan sunrise dengan kamera di tripod, dan ada juga yang naik di atas genteng.

Di tengah keramaian beberapa pengunjung menggelar sholat Shubuh. Suara imam begitu syahdu terdengar di hiruk-pikuk suara pengunjung dan suara menggigil karena kedinginan. Bahkan banyak pengunjung yang tertidur di posisi duduk untuk menunggu sunrise. Saya tertawa geli, saya berbisik ke Rizka, “Lihat pengunjung di sini sudah seperti menonton bioskop saja”. Rizka sendiri tertawa kecil mendengar ocehan saya.

Sunrise di Bromo

Detik-detik Sunrise di Bromo | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Semakin pagi, pengunjung semakin ramai, semakin pula berdesak-desakan dengan pengunjung lainnya. Ketika langit timur sudah berwarna emas, riuh suara pengunjung menyambut sang mentari. Semburat jingga mulai terlihat jelas, lautan awan putih mulai tampak, dan ini adalah detik-detik sunrise akan muncul. Pengunjung lainnya bahkan sampai berdiri di depan yang menghalangi pengunjung yang ada di belakangnya. Memang moment seperti ini sangat langka jika tidak diabadikan, tapi bukan berarti kita harus menghalangi pengunjungnya lainnya, kan?

Yang ditunggu-tunggu pun akhirnya muncul, eloknya sunrise membuat para wisatawan berdecak kagum, bahkan teriak histeris. Sayangnya kamera kami belensa standar, jadi untuk mengabadikan sunrise ala kadarnya, tapi keindahan sunrise di sana masih terekam jelas di memori saya. Kamera dari DSLR, Pocket, Smartphone wisatawan mengabadikan sunrise dari puncak ini. Meskipun posisi sunrise berada di sebelah kiri, sementara Gunung Bromo, Batok, dan Semeru berada di depan, paling tidak bias semburat masih mengena di antara gunung-gemunung tersebut.

Pengunjung di sunrise Bromo

Pengunjung di sunrise Bromo | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Sungguh, guys, ini adalah pemandangan pagi yang menakjubkan yang kami alami di sini. Pemandangan keren ini memang harus dibayar mahal sekali, sebenarnya bukan dari uangnya, namun petulangan hebat yang kami lalui setapak demi setapak bermula dari Yogyakarta sampai ke puncak ini. Hari semakin terang, sang surya mulai beranjak naik. Semburat oranye sudah hilang digantikan langit cerah berwarna biru muda, awannya menggumpal penuh seperti lautan mirip cerita-cerita di negeri di atas awan. Keren sekali, seakan mata tak mau berkedip.

Gunung Bromo, Batok, Semeru

Yang di depan Gunung Batok, sedangka kedua Gunung Bromo, dan ketiga yang paling tinggi Gunung Semeru | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Pengunjung mulai sepi, ada beberapa sopir Jeep yang naik ke atas memangil tamunya, agar segera bergegas menuju trip selanjutnya. Inilah salah satu kekurangan jika kita berlibur dengan paket wisata, jadwal wisata kita dibatasi karena waktunya sudah ditentukan. Padahal menatap Gunung Bromo, Batok, Semeru, benar-benar bagus saat hari sempurna terang. Bukan di pagi buta, bersamaan dengan sunrise.

Setelah pengunjung sudah turun, tempat untuk spot berfoto ria mulai kosong, inilah kesempatan kami untuk berfoto puas, tanpa antre yang lamaaaa banget. Terkadang pengunjung itu kalau sudah berfoto tidak cukup 2 kali atau 3 kali, bisa berkali-kali, tinggal hitung saja ada berapa banyak mereka. Setelah benar-benar puas, kami kembali turun ke warung untuk mengganjal perut. Di sana kami cukup lama beristirahat sembari mengisi batre kamera dan smartphoe dengan biaya Rp 2.000 per kali menge-carge.

Sebenarnya mata sudah benar-benar mengantuk, di warung itu sekitar 45 menit kami beristirahat. Saya pribadi kalau diam saja, akan semakin mengantuk, maka saya bilang sama Rizka agar segera turun untuk memburu tempat wisata lainnya. Tujuan wisata berikutnya adalah Kawah Bromo yang melegenda itu, untuk liputan wisata tersebut tidak saya gabungkan di sini. Kamu bisa menunggu postingan berikutnya di asmarainjogja.

Ternyata pemandangan saat turun itu juga sangat menakjubkan, guys, hamparan lautan pasir terlihat jelas. Dan terlihat juga ribuan jeep yang berkumpul di pasir berbisik. Jeep yang berkumpul tersebut sedang menunggu tamunya di Kawah Gunung Bromo. [Asmara Dewo]

Perjalanan wisata ini disponsori oleh  Padusi Hijab

Baca juga:

Pendakian Seru di Gunung Andong (1.726 MDPL)

Menyatunya Keeksotisan, Keindahan, dan Vulgarnya Candi Cetho

Keindahan Waduk Wadaslintang dari Bukit Windusari Erorejo

Menyingkap Keindahan Hutan Pinus Grenden

padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas