Foto Ilustrasi Flickr

Asmarainjogja.id-Pria itu bertubuh tegap, matanya tajam menyapu pandangan, dan bersuara berat penuh serak, namun siapa sangka di balik kehebatan sosoknya menyimpam sebuah misteri. Ada banyak pria yang gelap di balik tabir hidupnya, dan hanya seseorang saja yang tahu benar siapa dirinya.

Lantas, siapakah pemegang kunci rahasia pria miterius itu?

Siapa lagi kalau bukan makhluk berambut panjang yang mengikat leher pria yang ia sayangi. Ini sedikit lucu kedengarannya, dan agak sulit dipercaya. Bahkan pria-pria yang menjadi korban lehernya terjerat itu sama sekali tidak sadar. Aneh, bukan?

Baiklah, mari pelan-pelan kita   cermati leher-leher pria yang diikat itu.

Pernahkah Anda melihat pasangan suami-istri yang kesannya harmonis haru bahagia, namun sang suami di bawah komando sang jenderal wanita?

Coba perhatikan saat mereka berbicara, suara siapa yang memonopoli perbincangan tersebut? Ditambah lagi urat lehernya keluar hampir putus.

Berikutnya, saat sepasang suami-istri memutuskan suatu hal, seringkali pendapat ratu yang harus diterima. Dan akhirnya kesepakatan bulat dimenangkan oleh sang istri.

Dan pernahkah Anda melihat seorang suami penuh wibawa dan pendiam saat bersama istrinya, namun 100% berubah total saat bersama dengan teman-teman pria dan wanitanya. Apalagi penyebabnya selain sang ratu selalu memegang pecut kendali rumah tangga?

Tampak sekilas, istri itu bagaikan penasihat dan pendukung suami, namun seringnya kebablasan, akibatnya ada hukum tirani yang diterapkan. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu, harus begini dan harus begitu. Dan semua kegiatan suami di luar harus ada laporan yang jelas nan terperinci. Maka timbul pertanyaan, ini seorang suami atau seorang tahanan?

Dalam rumah tangga, pria adalah pemimpin, dan istri adalah wakilnya. Bukan malah sebaliknya, istri yang memimpin, suami yang jadi wakilnya. Tak jarang pula wanita tipe pengikat leher suami, bermodus agar sang suami menjadi pria yang baik, seorang pemimpin yang baik. Modus seperti ini adalah senjata utama sang ratu memecut bokong sang raja (suami).

Tanpa disadari suami tadi bagaikan seekor kerbau yang dicucuk hidungnya, sesuka hati tuannya mengarahkan kerbau itu. Kadang dipecut untuk menarik barang, kadang pula dipecut untuk membajak sawah, dan kadang pula hanya untuk membuat senang si tuan.

Nah, jika suami tadi mulai sadar perilaku menyimpang istrinya, dan mencoba membantah dengan perkataan tegas sedikit keras. Maka sejurus itu pula, sang istri mengeluarkan jurus andalannya, air mata derita. Air mata derita? Yakin sesedih itu? Atau jangan-jangan air mata buaya?

Tipe wanita pengikat leher pria, sebenarnya makhluk lemah, cengeng, dan penuh rasa ketakutan. Pada dasarnya wanita itu hanya takut jika pria yang ia cintai mulai jenuh padanya. Dan dengan keegoisan sifatnya yang lain itu, semata hanya sang suami selalu mendengar suara hatinya.

Tapi dengan cara yang salah, perlakuan yang kejam, membelenggu kebebasan, dan mengikat keinginan-keingina sang suami. Bangsa wanita tidak banyak yang paham, jika pria semakin diikat kuat-kuat, maka jauh di hatinya yang terdalam ia meronta, dan pelan-pelan melepaskan diri dari ikatan itu. Hampir semua pria tidak mau dikekang, tidak suka banyak aturan, harus begini dan harus begitu.

Jika penyiksaan batin yang disadari dan tidak disadari oleh kaum pria itu terus terjadi, tidak menutup kemungkinan suatu hari hubungan itu retak. Pelan-pelan rasa cinta dan sayang dikikis kejenuhan, pelan-pelan rasa saling menghormati sesama pasangan kian habis, maka sisa-sisa itu adalah pemberontakan.

Nah, jika sudah berontak, sesuatu yang paling ditakuti seorang istri pun terjadi, perselingkuhan. Selingkuh adalah monster yang menakutkan bagi seorang istri. Selingkuhnya suami yang ia cintai lebih dahsyat dari bencana alam. Dan lebih tajam dari sepotong silet. Menyakitkan, menyedihkan.

Sudah runyam begitu urusan tumah tangga, maka siapa lagi yang disalahkan selain pria?

Pria memang kejam dalam hal cinta dan perasaan, sungguh berbeda dengan wanita. Pria mudah tergoda, jika ia dirundung masalah, dan pada saat itu ada wanita lain yang mencoba mendekati dan simpati padanya. Alamak … cinta perkawinan yang dibina selama itu pun bisa bergoyang.

Kalau ditarik awal mula permasalahan itu, maka sifat otoriternya wanita itulah penyebabnya. Jadi, kalau Anda seorang wanita yang benar-benar mencintai suami, janganlah terlalu memonopoli kehidupannya. Bantulah ia tegak sebagai pemimpin keluarga, berilah kepercayaan dan kebebasan sepernuhnya.

Uji saja cintanya di luar sana, jika memang benar ia mencintai Anda, semili pun cintanya pada Anda tidak akan bergeser. Percayalah! Apalagi jika Anda selalu membuat lahir dan batinnya nyaman, tentu saja ia ikhlas bersama Anda di setiap waktunya.

Rambut yang panjang bukan untuk mengikat leher suami, namun sebagai pemikat agar suami betah di sisi Anda.

Penulis: Asmara Dewo



style="display:block"
data-ad-client="ca-pub-6494373068136966"
data-ad-slot="3088123931"
data-ad-format="link">








Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas