Oleh: Asmara Dewo

Kau  pernah bilang, puisi adalah kekuatan kata dari sanubari. Aku tidak menampik hal itu, Cow, ada benarnya juga. Dan aku sendiri mengatakan puisi adalah doa. Bagaimana menurutmu? Setuju, kah? Baik aku jelaskan. Jika orang kebanyakan mengatakan setiap kata adalah doa, maka apa bedanya dengan puisi adalah doa? Semakin dituliskan dan dibacakan puisi-puisi itu maka semakin didengar oleh Maha Mendengar. Meskipun dengan cara yang berbeda. Yang penting intinya sama, yaitu harapan-harapan. Doa, kan, harapan? Puisi juga harapan?

Apakah kau percaya doa? Oh, itu urusanmu. Maaf, aku sempat menyenggol privasimu. Dan malam ini, Cow, aku ingin menuliskan sebuah puisi. Tentunya tidak seindah puisimu yang tersebar di koran-koran. Kuharap kau memakluminya.

Harapan

Apa yang bisa diharapkan, selain harapan itu sendiri?

Jika seorang hamba berupaya sekuatnya

Jika seorang hampa setiap katanya menjadi doa

Jika seorang hamba tiada mempunyai pilihan lagi

Harapan…

Seperti langit biru mendadak kelabu

Seperti hujan tipis mengguyur bumi

Seperti sepotong pelangi di atas bukit

Kita tidak mengundang hujan, tapi bergembira menyambut pelangi

Ada yang mencintai sampai mati

Ada yang membenci sampai mati

Ada yang saling mencintai

Dan ada pula dalam diam mencintai

Hidup ini jenaka

Orang-orang tertawa dalam kisahnya

Hidup ini suram

Orang-orang mendekam dalam penderitaan

Hidup ini indah

Orang-orang menjalin cinta kasih

Andai kehidupan semudah pemilihan

Maka aku memilih kebahagiaan

Tapi tidak, tentu tidak demikian

Sebab katanya hidup adalah perjuangan

Maka aku memilih bertahan

Di hati ini, belum pernah ditulis nama lelaki

Kubiarkan kosong, biar kau sendiri yang menulisnya

Kunanti, meski kau tak pernah mengisinya

Kuserahkan, kuserahkan pada waktu

Cinta memang indah

Tak perlu ada penjelasan lagi

Merasakannya, lebih dari sejuta penjelasan

Aku merasakannya, walau cinta itu belum kunjung datang

Biarlah, aku sabar menanti

Biarlah, aku masih seperti yang dulu

Biarlah dianggap hina dina

Biarlah dianggap dungu

Aku percaya Tuhan punya cerita maha baik

Mengikuti alur ceritanya, tanpa banyak tanya

Menyampaikan pesan pada-Nya, tanpa memaksa

Menitipkan harapan, tanpa merasa kehilangan

Ya, aku masih seperti dulu, sabar menanti

Sebagaimana aku hanya menatap punggungmu

Sebagaimana berbicara kalau kau pinta

Sebagaimana kau sedang bahagia bersamanya

Aku percaya pada harapan-harapan

Aku percaya pada doa-doa

Sebab hanya itu yang bisa kupersembahkan

Menunggu kabar baik dari-Nya.

Cow, itu puisi yang kutulis. Suatu hari nanti kau pasti membacanya, entah di posisi seperti apa. Yang aku yakini, kau pasti membacanya.

Mata Anata berkaca-kaca. Tergurat di wajahnya kesedihan yang begitu dalam. Puisi yang ditulis kakaknya begitu menyayat hati. Sebuah harapan yang tak pernah terwujud. Jangankan mendengar ungkapan cinta dari Icow, ia sendiri sudah pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan harapan dalam catatan.

Kelak, Icow harus membacanya, pikir Anata. Dengan segala pikirannya yang liar, Anata akhirnya tertidur di kamar almarhum kakaknya. Kamar yang selalu seperti sedia kala, sebagaimana masih ada Ana. Mbah selalu membersihkannya, sesekali dibantu Anata.

***

SUV hitam meliuk-liuk di jalan bergelombang menuju Pantai Jungwok. Gerombolan sahabat itu sepanjang jalan tertawa, seakan-akan hidup ini hanya humor belaka. Pati yang menyetir, mulutnya selalu mengoceh tanpa kehabisan ide cerita. Begitulah Pati, yang sempat diomeli Ali karena telat datang. Sejak pukul tujuh pagi tadi mereka sudah tancap gas, meskipun janji keberangkatan pukul enam. Ya, Pati, bukan seorang Pati jika tepat waktu. Budaya lambatnya membuat orang-orang di sekitarnya geram.

“Pati, kamu sudah punya pacar?” tanya Anata.

“Pacar, sih, belum…” jawab Pati apa adanya.

“Dia itu banyaknya calon pacar. Selama ini calon melulu, tanpa ending  yang membahagiakan,” Eki menyela di antara oboran mereka.

“Artinya salah satu di antara mereka belum beruntung,” Pati membela diri. Mobilnya sudah masuk ke area pantai. Dari kejauhan, pantai selatan terlihat indah.

“Jihhh… sebaliknya, itu keburuntungan bagi mereka. Toh, kalau jadian, paling bertahan cuma sebulan. Habis, Pati telat melulu jemputnya,” Ali tertawa. Puas menyindir Pati.

“Eh, kamu, Li, masih saja bahas telat… telat… telat…” kata Pati.

“Ya, duniamu memang seperti itu, kan? Bisa tidak, sekali saja tidak telat?” Ali tanya serius.

“Bisalah. Bisa.” Sahut Pati.

SUV itu memasuki jalan bertanah kuning yang dipenuhi bebatuan. Jalan satu-satunya menuju ke Pantai Jungwok. Jika di Pantai Wediombo jalannya beraspal mulus, maka jauh berbeda ke Pantai Jungwok. Siapa saja yang melewati jalan itu akan mengeluarkan sumpah serapah.

“Jalannya hancur,” Eki mengeluh.

“Padahal warga sudah berkali-kali mengadu ke Kepdes. Tapi, ya, begitu sepertinya tak dihiraukan,” lanjut Salman lagi, “aku tahu dari Mbah Soro.”

Icow diam saja, tidak terlalu mendengar obrolan mereka.

“Pura-pura tuli kali, ya?” Pati tertawa.

“Hussh! Mulut kamu, Pati. Nanti gagal kita nanam lidah buaya di sini,” teriak Ali, “kawan-kawan nanti tolong, ya, jaga mulutnya di tengah warga. Pastikan mereka nyaman kedatangan kita.”

Pati terkekeh lagi, “Asssiaaap, Rambo!”

Walaupun jalannya tak layak pakai, untungnya tanaman warga di sisi jalan menjadi obat kekecewaan. Kacang tanah tumbuh subur di sana, menghijau segar. Menjulang tinggi pohon cemara, rindang pula daunnya. Meneduhkan siapa saja yang melewatinya.

“Kamu yakin ikut proyek ini sampai selesai?” ucap Icow ke Anata.

“Iya. Kenapa? Kamu meragukanku?” Anata berusaha menyakinkan, “perempuan ini tidak lemah-lemah amat, Cow,” dia tersenyum.

SUV Pati sudah berhenti di depan parkiran Mbah Soro. Anak-anak Mbah soro dan juga menantunya hadir pula di sana. Mereka semua tersenyum ramah, menyambut kedatangan tamunya.

“Hallo, Mbah, apa kabar?” Pati paling dulu menyalami si mbah. Yang lain menyusul. Si mbah tertawa lebar, giginya yang tidak utuh terlihat jelas.

“Baik-baik,” kata Mbah, “oh, tambah lagi kawannya?”

“Iya, Mbah, mereka juga ikut menanam,” jawab Ali.

Setelah mengobrol panjang lebar soal perjalanan, dan mengangkrabkan diri satu sama lain, kopi panas dalam ceret sudah terhidang di meja. Seperti biasa, camilan yang disukai Pati kacang goreng dan kerak.

“Masih panas, Pati!” Eki mengingatkan.

Slow…” sahut Pati. Dia mengembus-embus kacang yang masih panas di tangannya.

“Jadi kapan memulainya, Mas?” tanya Pak Man.

“Secepatnya. Insya Allah Sabtu ini kami garap, Pak,” ujar Ali.

“Sudah tahu lahannya di mana?” tanya Pak Man lagi.

“Belum, Pak. Mbah cuma bilang lahannya di sebelah jalan mau masuk ke sini tadi,” jawab Ali.

“Oh, iya, nanti saya antar, Mas. Kita lihat sama-sama lahannya,” Pak Man menawarkan diri.

Ali mengangguk, “Siap, Pak.”

***

Menyeruak wangi dari daging rendang masakan Uni. Dengan celemek yang masih menempel, Uni mencicipi daging rendang olahannya. Uda yang berada di sampingnya juga penasaran hasil masakan Uni.

“Bagaimana?” tanya Uda Ujang lagi, “enak?”

“Coba, deh, Uda cicipi sendiri,” tangan Uni sudah menyendok daging itu lagi, “bagaimana?”

“Enak. Masakan kamu makin enak,” Puji Uda Ujang.

“Syukurlah,” ujar Uni kemudian, “besok Uni mau belajar menggulai ayam.”

“Bagus, nanti uda ajarkan bagaimana cara memasak gulai yang enak,” jempol Uda Ujang teracung.

“Yeee… terimakasih, Uda,” sahut Uni dengan manja.

Uni mencuci alat masak yang baru digunakannya. Merapikannya, dan mengembalikannya di tempatnya masing-masing. Uni memang semangat sekali belajar memasak, cepat memahami apa yang dibilang Uda Ujang. Terbukti rendang daging ala Uni dipuji. Entah ada angin apa, tiba-tiba Uni ingat seseorang. Icow. Sosok yang selama ini dilupakan. Oh, tidak, aku tidak boleh mengingatnya. Anak borjuis itu… kata Uni dalam hati.

“Kamu seperti memikirkan seseorang?” Uda membuyarkan lamunan Uni.

“Eh, Uda…” Uni tampak kikuk.

“Mikirin pacar, ya?” goda Uda Bujang.

“Iddihhh… siapa juga yang mikirin pacar.”

“Seseorang itu semakin dipikirkan semakin rumit,” Uda mencoba menerangkan, “jadi sekadarnya saja.”

Uni tidak mengubris nasihat Uda Bujang. Dia malah menyibukkan diri mengerjakan apa yang bisa dikerjakan di dapur rumah makan tersebut.  Semakin dipikirkan semakin rumit, Uni mengulang-ulang kalimat itu.

***

Di bawah pepohonan jati, Pak Man menjelaskan soal lahan di sana, karakternya, dan tumbuhan apa saja yang sudah ditanam. Harapan Pak Man adalah jika lidah buaya berjodoh dengan tanah di sana, tentunya ini kabar baik bagi warga sekitar. Pak Man juga sadar selama ini warga hanya menanam itu-itu saja, kacang, jagung, singkong, ubi jalar, dan padi.

“Itu juga harapan kami, Pak, andai lidah buaya bisa tumbuh, mudah-mudah menjadi solusi alternatif bagi warga sini,” kata Ali, yang tahu Pak Man juga mendukung penuh proyek mereka.

“Kami juga mulai hari ini mencoba buka link  untuk pemasarannya. Ya, kami ingat kata-kata mbah, sing penting payu,” Salman menimbrung.

Mereka tertawa bersama-sama. Mbah juga terkekeh. Arit dicabutnya dari pinggang, memotong rumput untuk kambing-kambingnya.

“Baik, lusa saya akan potong dahan-dahan pohon jati itu yang menganggu,” ucap Pak Man.

“Terimakasih banyak kalau begitu, Mas,” kata Ali.

“Maaf, Mas, saya pergi dulu, soalnya mau mancing,” ucap Pak Man.

“Oh, iya, Pak, silahkan,” sahut Ali.

Raungan motor Pak Man sudah menghilang. Mbah juga sudah pulang beberapa jam kemudian dengan memikul rumput. Mereka tampak riang, lahannya positif sudah bisa digarap.

“Bagaimana, Cow? Cocok?” Ali mendekati Icow yang sejak tadi tidak banyak bicara.

“Ya, mantap,” kata Icow pendek.

“Cow, sebelum pulang kita mandi di Pantai Jungwok, yuk?!” Pati menghampiri mereka.

“Aku, sih, ikut saja,” bahu Icow terangkat.

“Ayo-ayo,” Salman bersemangat.

Yang lain juga mengamini. Sepakat. Mereka ke Pantai Jungwok. Dari lahan lokasi penanaman lidah buaya ke Pantai Jungwok jaraknya sekitar 1,5 km. Mereka berjalan kaki beriringan. Seperti yang disampaikan Ali, sebelum melakukan aktivitas berat, otot-otot harus biasa dilatih. Pati yang merasa keberatan, terpaksa mengikutinya. Dengan langkah gontai Pati seperti kerbau yang ditusuk hidungnya.

Di depan parkiran, Mbah Soro sudah duduk santai bersama istrinya. Sebelum ke Pantai Jungwok, Ali menghampiri pasangan sepuh itu, “Mbah, kami mau mandi dulu.”

“Mau mandi di Pantai Jungwok?” tanya mbah.

“Iya, Mbah,” Ali memastikan.

“Jangan mandi di tengah, ya? Di tepi-tepi saja, ombak sekarang lagi kencang,” pesan mbah.

“Siap, Mbah,” jawab mereka serempak yang sudah berdiri di belakang Ali.

Mereka mengambil tasnya masing-masing dari mobil. Pati yang paling semangat sudah berjalan terlebih dulu.

“Tak akan lari pulau dikejar, Pati,” teriak Eki.

“Ya, hanya hilang ditelan samudera,” balas Pati tak mau kalah. Badannya yang penuh lemak dipaksa berlari-lari kecil. Tidak sabaran.

Icow dan Anata tertawa, mereka berjalan pelan paling belakang. Seolah-olah menikmati setiap jengkal bumi yang sangat indah ini. Anata merapikan topi komandonya. Mata Icow sempat meliriknya. Anata membalas lirikan itu dengan senyuman. Sembari berjalan, tidak ada kata-kata lagi yang terucap. Sampai di Pantai Jungwok, Pati dan Salman sudah menceburkan badannya ke air yang begitu bening. Eki dan Ali menyusul. Seperti para bocah yang senang bermain air.

“Kamu tidak mandi?” tanya Anata. Ia melepaskan sepatunya. Membiarkan telapak kakinya menginjak pasir lembut Pantai Jungwok. Dan menggulung celana kargonya sampai di betis jenjangnya.

Icow menggeleng. Mengikuti Anata, melepas sepatu dan menggulung celananya. Mereka hanya duduk beralaskan pasir putih, menatap keceriaan teman-temannya.

“Ayo, Cow, mandi!” Pati memanggil, “segar airnya, lho!”

“Lanjutlah,” sahut Icow.                                                  

Ombak Pantai Jungwok sore itu cukup kencang, bergulung-gulung menghantam karang di tepian pantai. Buihnya berserakan di pasir putih. Kawanan itu pun sesekali terdorong ke darat oleh hantaman ombak. Tertawa mereka merasakan sensasi itu. Diulang lagi, sampai mereka puas bermain air.

Di tengah ombak yang dahsyat, warga sekitar ada juga yang memancing. Mereka berdiri di atas karang-karang terjal. Membiarkan kailnya tersapu-sapu ombak.

“Kamu suka mancing?” tanya Anata ke Icow.

“Tidak,” kata Icow lagi, “aku tidak cukup sabar mendapatkan ikan di tengah laut lepas seperti ini.”

“Katanya, sih, memang begitu. Kunci mancing di kesabarannya. Kalau tidak sabar, ya, tidak dapat ikan,” ujar Anata. Dia meraih tasnya, mengeluarkan dua minuman kaleng. Satu dibagikannya ke Icow, “biar tenggorokan tidak kering.”

“Oh, iya, bagaimana kabar ibumu?”

“Alhamdulillah, semakin baik. Ibu juga sering, lho, ceritain kamu,” kata Anata.

“Oh, ya?” Icow terperanjat, “cerita apa?”

“Ada, deh. Yang jelas ibu bilang kamu itu anak yang baik.”

Icow hanya mengangguk tanpa banyak bicara lagi. Lalu dia berdiri meraih ranselnya dan mengajak Anata menelusuri garis Pantai Jungwok.

“Kita ke sana,” telunjuk Icow mengarah ke barat pantai.

Berjalan bersisian di pantai, tentunya ini momen indah mereka yan kedua, setelah beberapa hari yang lalu di Pantai Parangtritis.

“Cieee… cuit-cuittt!” Pati berteriak jahil, “ada yang mau berdua saja, nih.”

Icow dan Anata hanya tersenyum, tak mengumbris kata-kata Pati.

“Pati anakanya memang begitu. Selalu reseh,” kata Icow setengah berbisik.

“Iya, tahu, kok,” balas Anata.

Pati dan kawan-kawan yang lain mencari keong, kerang-kerang yang menempel di karang, menangkap ikan kecil, dan apa saja yang bisa jadi hiburan mereka sesaat. Setelah terkumpul banyak, lalu dilepaskannya lagi.

“Ayo, nak, kamu ke laut seberang, ya, kawin dengan ikan bule,” kata Pati setelah melepas ikan anakan dari genggamannya. Teman-teman yang lain tertawa.

“Tidak mau, Pak, mau cari jodoh lokal saja,” sahut Salman. Seolah-olah mewakili ikan tadi.

Icow dan Anata semakin jauh dari mereka. Sudah berada di ujung Pantai Jungwok. Langit sore sudah menghampiri mereka, mulai jingga. Seakan penasaran itu tak mampu dibendung, akhirnya Anata bertanya ke Icow.

“Kamu juga suka, kan, menulis puisi?

“Lumayan.”

“Kenapa suka menulis puisi?”

“Ya, aku pikir puisi adalah kekuatan kata dari sanubari.” Jawab Icow, sebagaimana pernah diucapkannya ke Ana dulu, “puisi juga media yang menyalurkan ekspresi bermacam-macam dari penulisnya.”

“Oh, begitu. Pernah tahu puisi juga doa?”

Icow tampak terkejut, dan menggeleng.

“Puisi juga doa, karena isinya juga ada harapan-harapan yang sama,” ucap Anata, “aku baca dari catatan Ana.”

***

Bersambung… [Asmarainjogja.id] 

Baca juga cerita sebelumnya: 

Sunset di Parangtritis



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas