Novel Jejak Langkah, Pramoedya Ananta Toer | Foto asmarainjogja

Asmarainjogja.id – Masih teringat jelas dalam bayangan Minke, gadis Indo (Belanda-Pribumi), Annelies, yang telah pergi untuk selama-lamanya. Istri yang tercinta itu meninggal di tanah leluhurnya, Belanda, tanpa orang tercinta di samping. Baik itu Minke, maupun mamanya, Sanikem.

Sanikem alias Nyai Ontosoroh menyuruh menantu tersayangnya, Minke, untuk menikah, ia tahu betul Minke begitu kesepian setelah ditinggal mati oleh Annelies. Nyai Ontosoroh yang sudah menikah dengan Jean Marais, yang juga sahabat Minke, mendesak Minke agar menikah dengan Maysaroh (Putri Jean Marais).

Awalnya Minke menolak, karena Maysaroh sendiri anak dari sahabat terbaiknya, lagi pula Maysaroh sudah sejak kecil begitu akrab dengan Minke, bahkan begitu manjanya dengan Minke. Ketika masih kecil Maysaroh sering digendong Minke, mengajaknya jalan-jalan, dan menjemput May saat pulang sekolah.

Dan akhirnya Minke pun dengan kemauannya sendiri menerima perjodohan itu. Tapi mereka tidak langsung menikah, karena Maysaroh, Jean Marais, dan Nyai Ontosoroh harus berangkat ke Perancis. Karena May harus sekolah dahulu.

Dari Perancis dan Hindia Belanda (nama negara Indonesia ketika masih pemerintahan Belanda), mereka saling mengirim surat, begitu juga dengan Nyai Ontosoroh yang selalu mengirimi surat untuk Minke. Lalu dikemudian hari, akhirnya perjodohan itu pun batal, sebab May juga harus kuliah. Dan memang juga cinta mereka bukan antara pasangan kekasih, namun sudah seperti saudara sendiri, antara paman dan keponakan.

Cinta Minke dipertemukan dengan seorang gadis Cina yang diam-diam ikut mendirikan dan menggerakkan organisasi Tiongkok di Hindia Belanda. Seorang gadis bertubuh kurus bermata sipit, dengan wajah yang selalu tampak pucat ini Minke merasakan cinta itu ada padanya.

Ang San Mei juga seorang tunangan dari Khou Ah Soe, yang meninggal akibat pergerakannya ditangan gubermen. Pria dari Tiongkok ini pula sahabat Minke. Awal pertemuannya juga karena titipan surat dari Khouw Ah Soe untuk Ang San Mei. Singkat cerita mereka pun akhirnya menikah.

Minke yang juga sekolah kedokteran (di Batavia) dan menulis di surat kabar Belanda semakin sibuk dalam kesehariannya. Namun, ia tetap menulis dan belajar, juga sebagai seorang suami yang bertanggungjawab.

Mei selalu berpesan kepada Minke: Jadilah dokter yang baik, dokter yang bisa mengobati bangsamu. Dan dirikanlah organisasi.

Di saat meninggalnya Mei karena tipus, Minke juga dipecat dari Sekolah Dokter milik Belanda. Dan pihak sekolah juga meminta minke untuk membayar denda. Minke pun mengirimi surat kepada bundanya di Surabaya, untuk membayar denda sekolah ini.

Di tahun 1906 ini pula berdiri sebuah organisasi pribumi yang pertama bernama Serikat Priyayi, Minke sendiri salah satu pelopor dalam gerakan pribumi ini. Namun tidak sesuai harapan. Di tahun berikutnya, berdiri sebuah organisi berikutnya, yaitu: Serikat Dagang Islam. Minke juga salah satu pelopor gerakan organisasi pribumi tersebut.

Serikat Dagang Islam (SDI), semakin besar dan meluas sampai ke Sumatera. Bahkan kabar organisasi yang terus meraksasa ini pula terdengar sampai Perancis. Kebesaran serikat ini, tentu tak terlepas dari peranan dan dukungan dari Surat Kabar Medan (di Bandung). Surat Kabar ini pula yang merupakan koran pribumi berbahasa Melayu pertama sebagai tonggak sejarah Indonesia.

Surat Kabar Medan adalah milik Minke, ia mendirikan koran cetak ini hasil pinjaman dari mertuanya, yaitu Nyai Ontosoroh. Nyai Ontosoroh yang selama ini mendukung Minke, dan guru kehidupan Minke, membuktikannya bahwa pribumi terpelajar bisa mendidik dan membela bangsanya dari Belanda.

Semakin harumnya dan begitu populernya nama Minke, baik bagi kaum pribumi juga gubermen, ia pun akhirnya berkenalan dengan seorang Putri Maluku yang dibuang ke Pulau Jawa. Gadis cantik berdarah biru dari Kesultanan Maluku itu bernama Prinses Dede Maria Futimma de Sousa.

Cinta Minke pun kembali tumbuh, ia lalu menikahinya, yang sebelumnya juga dijodohkan dan didukung oleh Raja Maluku. Pinses Kasiruta selain cerdas, cantik, pandai menulis, juga jago bela diri dan menembak.

Pernah suatu ketika Mingke akan dicelakai oleh Robert Surhorf di rumah mereka, dengan revolper di tangan, istri Minke itu pun menembak untuk mengancam para gerombolan yang diketuai oleh teman Minke saat di Sekolah HBS tersebut. Dan di hari yang lain pula, Prinses Kasiruta terpaksa menembak sesorang yang ingin mencelakai suaminya tersebut di sebuah warung.

SDI semakin besar, dan Surat Kabar Medan yang diasuh Minke ini pun semakin besar pula. Kemudian Minke memberi tanggungjawab penuh kepada anggota kepercayaannya untuk surat kabar Medan ini, kepada: Marco dan Sandiman. Namun setelah Minke melepaskan kepercayaan itu, di bawah kepemimpinan Marco dan Sandiman, Medan menyerang gubermen dengan berita yang sangat frontal. Berita itu memuat keritikan keras terhadap Gubernur Jendral Idenburg.  

Akhirnya Minke ditangkap, namun kepolisian Belanda menangkap Minke dengan tuduhan masalah utang di Bank.

Nah, berikut Quoetes terbaik yang ditulis Pramoedya Ananta Toer di novel Jejak Langkah ini:

1. “Berbahagialah mereka yang bodoh, karena mereka kurang menderita. Berbahagia jugalah kanak-kanak, yang belum membutuhkan pengetahuan untuk dapat mengerti.” Gadis Jepara, Jejak Langkah, hal 147.

2. “Aku kira, masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri.” Ang San Mei, Jejak Langkah, hal 147.

3. “Bagiku sama saja di mana saja. Di mana ada sahabat, di situlah negeriku. Tanpa sahabat, semua ini tak tertanggungkan. Di negeri sendiri pun bila tanpa sahabat…” Ang San Mei, jejak Langkah, hal 156.

4. “Tak ada satria lahir, tumbuh, dan perkasa tanpa ujian.” Minke, Jejak Langkah, hal 201.

5. “Bahwa yang kecil tidak selamanya kalah, bahkan yang besar-besar selalu dikalahkannya? Kuman kecil juga menumbangkan gajah.” Ang San Mei, Jejak Langkah, hal 203.

6. “Sejak kanak-kanak aku dididik untuk correct, berlaku correct dan ditanamkan di sanubari: sikap correct adalah kebajikan dasar bagi setiap orang yang berhubungan dengan orang lain,” Ang San Mei, Jejak Langkah, hal 214.

7. “Tentu saja baik syarikat. Pertama, karena dia kata dari bahasa Arab, bahasa Qur-an. Kedua, karena dia mengingatkan orang pada kata ikat. Ketiga, dia lebih pendek dan lebih sederhana daripada perkumpulan. Keempat, karena dia tak punya sangkut-paut dengan kutu dan persekutuan. Kan bersyarikat lebih daripada hanya berkumpul? Dan persektuan lebih mendekati arti perkumpulan orang-orang yang sama kutunya?” Thamrin Mohammad Thabrie, Jejak Langkah, hal 286.

8. “Di setiap negeri jajahan, di mana pun di atas bumi ini, hanya kejahatan saja yang ada. Termasuk yang datang dari pihak penjajah. Orang Eropa Kolonial biasa lebih jahat dari pribumi yang paling primitif di Papua sana…” Frischboten, Jejak Langkah, hal 378.

9. “Jangan Tuan terlalu percaya pada pendidikan sekolah. Seorang guru yang baik masih bisa melahirkan bandit yang sejahat-jahatnya, yang sama sekali tak mengenal prinsip. Apalagi guru itu sudah bandit pula dasarnya.” Prischboten, Jejak Langkah, hal 378.

10. “Menurut pendapatku, tuan, salah itu sudah salah sejak dalam pikiran. Kalau keliru agak lain. Di dalam pikiran benar, dalam pengerjaan tidak benar, itu keliru…” Hanz alias Hadji Moeloek, Jejak Langkah, hal 379.

11. “Juga jangan sampai kau berkicau seorang diri di dalam rumahmu sendiri, setidak-tidaknya seorang istri hendaklah menyambut suara mulut, suara hatimu,” Bunda Minke, Jejak Langkah, hal 451.

12. “Perdagangan adalah jiwa negeri, Tuan, biar negeri tandus, kering kerontang seperti Arabia, kalau perdagangannya berkembang subur, bangsanya bisa makmur juga. Biar negeri, Tuan, subur, kalau perdagangannya kembang-kempis, semuanya ikut kembang kempis, bangsanya tetap miskin. Negeri-negeri kecil menjadi besar karena perdagangannya, dan negeri besar menjadi kecil karena menciut perdagangannya.” Minke yang mengenang ucapan gurunya Syech Ahmad Badjened, Jejak Langkah, hal 519.

13. “Pedagang yang paling giat di antara umat manusia ini, Tuan. Dia orang yang paling pintar. Orang menamainya juga saudagar, orang dengan seribu akal. Hanya orang bodoh yang bercita-cita jadi pegawai, karena akalnya memang mati.” Minke, mengenang ucapan gurunya Syech Ahmad Badjened, Jejak Langkah, hal 520.

14. “Bukan kebetulan Nabi Muhammad s.a.w pada mulanya juga seorang pedagang. Pedagang mempunyai pengetahuan luas tentang ikhwal dan kebutuhan hidup, usaha, dan hubungannya. Perdagangan membikin orang terbebas dari pangkat-pangkat, tak mmbedakan sesama manusia, ataukah ia pembesar atau bawahan, bahkan budak pun. Pedagang berpikiran cepat. Mereka menghidupkan yang beku, dan menggiatkan yang lumpuh.” Minke, mengenang ucapan gurunya Syech Ahmad Badjened, Jejak Langkah, hal 520.

15. “Memang cita-cita bisa menjadi kenyataan di kemudian hari, tetapi landasan sosialnya tetap kenyataan sosial masa kini.” Douwager, Jejak Langkah, hal 525.

16. “Jangan kehilangan keseimbangan! Berseru-seru aku pada diri sendiri. Di balik setiap kehormatan mengintip kebinasaan. Di balik hidup adalah maut. Di balik kebesaran adalah kehancuran. Di balik persatuan adalah perpecahan. Di balik sembah adalah umpat. Maka jalan keselamatan adalah jelan tengah. Jangan terima kehormatan atau kebinasaan sepenuhnya. Jalan tengah-jalan ke arah kelestarian.” Minke, Jejak Langkah, hal 575

17. “Dan jadilah aku seorang guru, bahwa bukan darah, bukan keturunan, yang menentukan sukses-tidaknya seseorang dalam hidupnya, tetapi: pendidikan lingkungan dan keuletan. Bahwa sukses bukan hadiah cuma-cuma dari para dewa, dia akibat kerja keras dan belajar.” Minke, Jejak Langkah, hal 576.

18. “Dan kecerdasan untuk seseorang wanita adalah kecantikan tambahan. Kalau dia seorang yang sudah cantik, dia akan menjadi bintang di antara wanita.” Minke, Jejak Langkah, hal 619. [Asmara Dewo]

  Baca juga:

30 Quotes Terbaik Pramoedya Ananta Toer di Novel Bumi Manusia

27 Quotes Terbaik Pramoedya Ananta Toer di Novel Anak Semua Bangsa



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas