Ilustrasi | Foto by Alicia Poole, Flickr

Oleh: Asmara Dewo

“Kau mau minum apa?” tanya Eki sebelum meninggalkan Icow dengan wajah tanda tanya, penasaran rahasisa Ana, “kita duduk di sini atau di kamarku saja?”

“Kalau kau tidak keberatan, aku mau teh telur panas,” Icow memaksa wajahnya dengan guratan senyum, “lumayan dingin.”

“Hahaha, oke, kita ke kamarku saja. Permintaan tamu yang merepotkan jam segini.”

“Masih pukul satu,” Icow tersenyum membuntuti Eki yang menuju kamarnya.

“Hidupkan saja musik, tapi jangan terlalu keras. Tunggu lima belas menit, permintaanmu beres.”

Di kamar Eki terpampang foto-foto mereka, mulai saat mengikuti OSPEK sampai petualangan di Pulau Kalong. Poster band legendaris juga meramaikan dinding kamarnya. Buku-buku berjajar rapi di rak. Kaset dalam bentuk pita dan kepingan menjadi koleksi langka favorit Eki yang masih disimpan.

Icow membuka jendela, menghidupkan rokok kretek. Musik mengalun halus dari tape, suara Bonjovi terdengar merdu. Melihat koleksi buku dari rak, mencoba membunuh rasa bosan karena menunggu Eki di dapur. Tak ada yang menarik hati Icow, malah tangannya meraba album foto yang tergelatak begitu saja di meja.

Foto masa kecil, Icow bergumam, ia lihat lagi foto di sebaliknya, tiga foto anak kecil berusia lima tahunan. Perempuan dan laki, wajahnya imut dan lucu. Tentu saja itu adalah foto semasa kecil Eki, tapi foto dua anak perempuan kembar itu siapa?  Pikir Icow. Dia mengingat-ingat seseorang. Ia balikkan lagi halaman foto berikutnya, wajah anak perempuan itu tersenyum di antara barisan anak TK.




“Album lama. Fotoku masa anak-anak,” ucap Eki. Dia tergopoh-gopoh membawa teh telur dan rempeyek dari atas nampan, “sejak kapan kau merokok?”

“Sudah lama sebenarnya,” sahut Icow. Matanya masih melototi album, “ini foto siapa?”

“Yang mana?” Eki mengambil album foto yang dipegang Icow, “kau yakin tidak tahu mereka siapa?”

“Kalau aku tahu, kenapa harus tanya?” kata Icow setelah menyeruput teh telur.

“Ini kan foto Ana, dan itu Anata. Huh, masa kamu tidak kenal foto teman sendiri,” Eki membalikkan lagi album foto itu.

“Ragu saja, sih.”

“Ana itu dulu anak yang ceria. Ramah, mudah bergaul terhadap siapa saja, tidak menutup diri seperti yang teman-teman lain menilainya. Entah kenapa Ana selalu terbuka terhadapku, menceritakan sesuatu yang bisa dibilang, ya, cukup rahasia begitulah.”

“Lantas, kenapa Ana begitu dingin kalau dibandingkan dengan yang lainnya? Berbicara yang penting-penting saja,” tanya Icow.

“Ya, mungkin karena ia terjepit di antara perbukitan es, jadinya dingin,” Eki tertawa, “tentu saja ada persoalan serius, sahabatku.”

“Persoalan serius apa?” Icow mendesak. Ingin tahu sekali.

“Perubahan drastis yang terjadi pada Ana saat kami di kelas dua SMA. Waktu itu orangtuanya ribut hebat, akhirnya kedua orantuanya pun berpisah, bercerai. Ibunya menjadi BMI ke Arab Saudi, sedangkan bapaknya ke Jakarta. Nah, Ana dan Anata tinggal di rumah bersama mbahnya. Tamat SMA, Anata tinggal di Bandung diajak pakdenya. Dia dikuliahkan di sana.”

“Kenapa bercerai?”

“Aku tidak terlalu paham. Dengar-dengar, sih, dulu aku masih anak-anak, karena masalah keuangan keluarga. Sering ribut, akhirnya cerai.” ujar Eki lagi.

“Kenapa bisa begitu? Masa iya karena keuangan bisa bercerai?” Icow garuk-garuk kepala. Merasa ada yang aneh. Uang, keluarga, cerai, tiga kata yang menghantam kepalanya.

“Ya, begitulah, terkadang perceraian bisa dipicu oleh ekonomi keluarga yang buruk. Kau ke sini bukan menjadi sosiolog yang meneliti problema sosial, kan?”

Icow tertawa, “Hahaha, tentu bukan!”

“Nah, sejak orangtuanya bercerai itulah, Ana berubah. Mudah marah-marah, pendiam, suka ngambek, tidak suka dengan orang-orang baru. Dan cenderung suka menyendiri. Dia mau berinteraksi kepada orang-orang yang dipercaya saja. Kalau Anata tidak begitu, ia tidak banyak berubah. Mungkin karena pikirannya lebih dewasa atau bagaimana, ya, aku juga tidak terlalu paham. Intinya Anata itu kebalikan dari Ana.”

Icow mengangguk, ia cicipi rempeyek keriuk di atas piring. Rokok mengepul di kamar yang harum dan rapi. Tirai jendela dibuka lebih lebar oleh Eki, tangannya mengibas-ibas hidungnya.




Sorry,” Icow merasa tak enak.

“Santai saja,” Eki melirik tajam ke arah Icow, “ada lagi?”

“Apanya?”

Eki tersenyum tipis, “Jangan berlagak lugu! Kita sudah lama berteman. Aku tahu tujuanmu. Soal Ana, kan?”

“Ya,” Icow tak bisa menyembunyikan lagi rasa penasaran itu.

“Apakah berguna atau tidak keteranganku, tapi yang pasti Ana sudah pergi untuk selama-lamanya. Jadi untuk apa lagi aku ceritakan padamu?”

“Betul,” Icow mengiyakan pendapat Eki.

“Terus untuk apa lagi?”

Icow menegakkan kepalanya, dadanya membusung, “Betul Ana sudah meninggal, hanya saja rahasia Ana yang tidak aku ketahui, itu yang menurutku harus diterangkan. Bukankah kau sendiri yang bilang akan menceritakannya di waktu dan tempat yang tepat? Aku tagih janji itu sekarang.”

“Haihhhh, sulit berjanji dengan manusia idealis sepertimu,” Eki kembali duduk.

“Ya, sekarang ceritakanlah!” desak Icow, “kau tidak begitu perduli terhadap Ana. Hatinya, perhatiannya, dan segala-galanya tentangmu, kata-kata itu terngiang selalu di telingaku. Aku merasa bersalah atas pernyataan itu.”

Eki menghela napas panjang, napasnya diatur pelan-pelan, “Soal itu, baiklah. Aku minta maaf jika terpaksa harus mengatakannya,” Eki mulai menjelaskan, “kami bersahabat sejak masih anak-anak, kami TK di sekolah yang sama, SD juga begitu, sampai SMP, SMA, dan kuliah. Meskipun tidak satu kelas waktu di SMA. Kami selalu bermain bersama, saling bercerita, entah itu persoalan sekolah ataupun keluarganya. Apapun kami selalu bercerita, tidak ada rahasia di antara kami. Orang-orang menyebut kami tiga bersaudara.”

Icow mendengarkannya begitu khidmat, ia larut dengan cerita bagaimana keseruan ketiga persahabatan itu.

“Pernah suatu ketika, Ana menangis tersedu-sedu, dia berlari-lari mencariku di lapangan bola. Saat itu kami sudah SMP. Sampai-sampai air hidungnya meler ke pipinya. Lucu sekali kalau mengingat dia menangis waktu itu. Dia menarik-narik tanganku sambil mengadu. Aku tahu secara tidak langsung, ia menyuruhku memberi pelajaran ke Bobby, siswa nakal yang suka mengejek dan sering buat rusuh.”

“Kenapa Ana menangis?”

“Ana bilang ibunya diejek Bobby. Aku tidak terlalu paham kalimat Ana, yang penting dia   bilang ibunya dituduh perempuan nggak beres karena pulang malam hari dan diantar laki-laki lain. Perempuan nggak beres, itu juga yang membuatku turut emosi.”

“Lalu apa yang terjadi?” tanya Icow lagi.

“Mau tidak mau aku haru memberi pelajaran ke Bobby, meskipun sebenarnya saat itu aku takut luar biasa. Kau tahu badan Bobby itu hampir setengah dari badanku. Sebesar gaban badannya. Tinggi besar,” lanjut Eki lagi, “karena ditarik-tarik tanganku oleh Ana, sampailah kami di depan Bobby dan kawan-kawan. Aku lihat mereka sedang tertawa, lalu diam saat kami datang. Kemudian saling berpandangan, terus tertawa sekencang-kencangnya lagi. Sialan betul memang mereka.”




Icow ikut tertawa..

“Kenapa kau tertawa?” Eki menyelidik, matanya tajam. Icow langsung diam, serius mendengar cerita selanjutnya.

“Terus bagaimana? Kau memukulnya?”

“Ya, apa boleh buat. Dengan memaksa keberanian dan membuat hati Ana senang, aku harus buat pelajaran dengan Bobby. Aku tinju hidung Bobby, sekuat-kuatnya. Dia langsung mengaduh kesakitan. Hidungnya berlumuran darah. Belum sempat dia membalas, aku tinju lagi rahanngya. Sial, kawan-kawannya tidak diam. Mereka mengeroyok aku sampai babak belur. Diinjak-injak di tanah, untung satpam sekolah dan para guru datang segera, kalau tidak, entahlah.”

“Wah, bernyali juga kau,” puji Icow.

“Ya, terpaksa. Keberanian itu datang karena terpaksa,” Eki tertawa.

“Besoknya kalau aku berjumpa dengan Bobby dan kawan-kawannya ada rasa takut dan bangga. Takut kalau dikeroyok lagi, bangga karena sudah meninju hidung dan rahangnya kepala pengacau itu, hahaha,” kata Eki kemudian, “tapi mereka tidak berani mengusikku. Karena ancaman kepala sekolah membuat mereka gentar, sekali lagi macam-macam di sekolah, dengan terpaksa pihak sekolah akan mengeluarkan para pengacau itu. Sejak saat itu pula tidak ada seorang pun yang usil terhadap Ana dan Anata, selain takut denganku, juga takut dikeluarkan dari sekolah.”

“Oh, iya, soal tuduhan Bobby itu memang betul, kah?”

“Ah, anak-anak mana tahu urusan orangtua. Kalau ibunya Ana memang bekerja sebagai karyawan di toko listrik. Selebihnya aku tidak tahu. Itu terlalu rahasia yang tidak bisa dipahami anak-anak seusia kami.”

Keduanya saling terdiam. Bertatapan sejenak, lalu membuang wajah ke sembarang pandangan. Eki menatap foto sahabatnya di dinding, foto yang sama di kamar Icow.

“Sekarang Ana dan Limo sudah pergi, tiada lagi suara rusuh Limo, atau suara aduan dari Ana. Ya, Tuhannn, kenapa bisa begini akhirnya,” Eki mengusap wajah dengan kedua tangannya, “Cow, kenapa kau tidak pernah sadar bahwa Ana selama ini menyayangi dan mencintaimu lebih dari sahabat biasa.”

Bagai petir di siang bolong, Icow kaget, tak percaya apa yang baru saja didengarnya. Ana mencintainya selama ini. Ada sebuah rahasia di antara persahabatan mereka.

“Apa aku tidak salah dengar?” Icow memastikan.

“Ya, betul, selama ini Ana mencintaimu,” tegas Eki, “tapi itu tidak bisa dijelaskannya kepadamu karena Uni juga mencintaimu. Ana menjaga perasaan Uni. Dia tidak ingin merusak impian Uni kepadamu. Kita tahu Uni juga mencintaimu. Cinta sampai mati malah, walaupun terlihat berlebihan. Namun begitulah kenyataannya, siapa yang berani membantah itu?”

“Aku dan Uni biasa saja. Tidak ada hubungan spesial,” bantah Icow.

“Semua kawan-kawan yang lain juga tahu. Tapi Uni berharap besar agar suatu hari nanti ia akan menikah dengan pemuda pujaan hatinya, yaitu kau, Adiwidya Prabu Kusuma alias Icow. Uni bercerita itu ke semua orang, Cow, keluarganya, sahabatnya, dan boleh jadi ke netizen,” Eki memposisikan duduknya lebih nyaman lagi, “Ana seorang sahabat yang tidak ingin menyakiti hati seorangpun, karena itulah ia mengalah. Mengorbankan perasaannya, meskipun setiap waktu ia menderita kecemburuan terhadap Uni. Kau tidak akan pernah paham rasa sakit akibat cemburu, karena kau tak pernah mengalaminya.”




“Upsss, tunggu dulu! Memangnya kau sendiri pernah mengalaminya?” Icow menahan Eki sebelum melanjutkan ceritanya.

“Aku memang belum pernah, tapi inilah yang dibilang Ana ke aku. Dan aku menyampaikan lagi kepadamu,” tutur Eki lagi, “atas pengakuan Ana pula, rasa itu ada saat OSPEK, di saat itu pula dia tahu Uni juga senang terhadapmu. Aku tidak habis pikir terhadap mereka, kenapa harus menyukai mahasiswa sepertimu, mahasiswa yang selalu buat panitia marah dengan kritikan dan tingkah laukunya. Padahal masih banyak mahasiswa lainnya. Dibilang tampan juga… tidak terlalu. Kalau cerdas, iya, itu harus diakui.”

“Apakah aku menyakiti Ana selama ini?” Icow bingung dengan kata-katanya sendiri.

“Tanpa kau sadari tentu iya, tapi harus bagaimana lagi kau juga tidak tahu. Dan sifatmu yang tidak begitu peka terhadap perempuan di sekitarmu itu adalah kesalahan.”

Kini Icow tertawa kecut, Eki dinilainya terlalu dramatis, “tidak peka bukan berarti kesalahan, itu sebaiknya diralat.”

“Tidak peka berarti kurangnya kepedulian, sebaiknya manusia peduli dengan manusia lainnya, meskipun itu soal asmara. Tidakkah kau sadar banyak yang tuna asmara berakhir tragis menggantungkan lehernya dengan seutas tali. Mati membawa cinta semunya.”

“Tidak ada hubungannya, Ki, kau jangan berlebihan,” Icow tak terima dengan tuduhan Eki.

“Untungnya Ana perempuan kuat, tidak bodoh seperti perempuan lainnya, yang bunuh diri atau memberikan perawanannya untuk menebus rasa kebahagiaan dengan lelaki lain.”

“Eki, kau semakin meracau,” telinga Icow semakin panas mendengar ocehan Eki.

“Terserahmu, yang jelas aku hanya menyampaikan,” Eki bersikukuh dengan ucapannya, “urusan perempuan itu rumit, Cow, ia tidak mudah melupakan kejadian masa lalu. Apalagi soal hati, bisa selama-lamanya membekas di hati. Apakah kau bisa merasakan kecemburuan Ana saat kita di Pantai Greweng? Saat itu Ana benar-benar cemburu terhadap Uni. Matanya berkaca-kaca bagaimana mesranya kepala Uni bersandar di bahumu. Sebagai seorang sahabat sejak kecil, aku bisa merasakan itu, Cow. Kalau kau mungkin tidak. Karena seperti yang aku bilang sebelumnya, kau tidak peka.”

“Aku tidak tahu soal itu, Ki,”




“Nah, secara tidak sadar kau mengakui sendiri, tidak tahu, karena tidak peka, tidak peka karena kurangnya kepedulian,” kata-kata Eki semakin menghunjami Icow, “kau mungkin berpengetahuan luas soal sejarah Indonesia, juga dunia. Paham berbagai ideologi di setiap negara, memahami materi kuliah, meskipun jarang masuk kelas, jago retorika, tapi sangat bodoh dalam urusan perempuan. Semoga kau tidak marah, aku bodoh-bodohi kau sekarang.”

“Ya, aku akui,” kata Icow lirih, “terus aku harus bagaimana sekarang?”

“Harus bagaimana?” Eki mengulangi pertanyaan Icow, “aku juga tidak tahu. Setidaknya aku sudah menyampaikan sedikit apa yang selama ini Ana adukan ke aku. Toh, waktu tidak bisa berputar lagi, yang mati tidak bisa dihidupkan kembali.”

Icow memijit-mijit dahinya. Tampak ia bingung, harus bagaimana menyikapi apa yang diungkapkan Eki. Waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi. Eki menjadi tak tega melihat wajah Icow yang dibalut kebingungan, kesedihan, dan penyesalan.

“Sahabatku, kita masih punya hari esok, gunakan itu sebaik-baiknya. Pekalah dengan lingkunganmu sendiri, orang-orang terdekatmu,” Eki memeluk Icow, menepuk pelan bahu sahabatnya itu, “sekarang ada Uni yang begitu mencintaimu. Kalau kau tidak mengetahui cinta Ana, tapi kau sekarang mengetahui cinta Uni. Jangan sakiti hati Uni, jangan kecewakan dia. Kalau kau tidak ingin menyesal yang kedua kalinya.”

“Aku tidak pernah menganggap Uni lebih dari sahabat, dan tidak akan lebih dari itu.”

“Sekarang mungkin tidak, siapa yang bisa jamin esok lusa? Hati seseorang itu berubah-ubah, sama dengan hukum dialektika,” Eki tersenyum, “sekarang kau tidak bisa, tapi ingat! Menghargai seseorang yang mencintai kita itu penting. Penting sekali malah.”

Ayam berkokok bersahut-sahutan, obrolan antara dua sahabat itu selesai. Rahasia Ana sudah diketahui Icow. Ada cinta yang selama ini dipendam oleh Ana. Seperti tuduhan Eki, Icow tidak peka terhadap Ana, yang membuatnya tidak bisa membaca isi hati Ana sesungguhnya. Cinta Ana telai usai dengan kepergiannya selama-lamanya, membawa cinta Icow ke dunia yang berbeda.




Icow sendiri menyadari tiada guna memahami cinta itu, sebab Ana sudah pergi, balasan cinta apa yang harus disikapinya. Sekarang di hadapannya adalah Uni, hanya saja perempuan yang kerap merayunya itu belum menyentuh hati Icow yang paling dalam. Perasaan itu masih menggantung.

“Tidurlah! Aku mau sholat dulu,” Eki beranjak dari kursi, “kapan kau terakhir kali sholat, Cow?” tertawa pelan.

“Itu privasiku. Semakin kau banyak tanya, artinya mengintimidasi,” Icow membalas tawa. Matanya sayu, menguap berkali-kali sejak tadi.

Bersambung…  [Asmarainjogja.id]

Cerita sebelumnya:

Terlalu Indah untuk Dikenang

 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas