Foto Ilustrasi ayah dan putrinya | Shutterstock

OLeh:  Dewi Sekar Rahayu

“Gadis kecilku, sungguh Ayah sangat sayang padamu.”

Gadis berambut lurus berwarna hitam pekat itu, masih  menangis dengan kata-kata yang masih terus terngiang ditelinganya. Kata-kata yang terucap dari mulut sang Ayah sebelum saat sang Ayah menghembuskan napas terakhir.

Matanya yang sembab dan berurai air mata dengan berat meninggalkan makam ayahnya yang baru saja dimakamkan setelah sholat Dzuhur. Ayah gadis itu meninggal karena sakit jantung yang telah lama ia derita, dan tidak pernah diketahui oleh anak semata wayangnya. Gadis itu yang terus bersedih karena selama hidupnya ia mengira bahwa ayahnya tak pernah sayang padanya, karena sikap sang ayah yang selalu tak sesuai dengan yang ia harapkan.          

Setiap gadis ini melakukan hal yan disuruh ayahnya selalu saja ayahnya tak pernah memuji pekerjaannya. Ada saja yang salah dimata ayahnya, sepertinya selalu tak memuaskan apa saja yang dilakukan oleh sang gadis. Dan gadis itu pun selalu menahan semuanya dan masuk kekamar untuk meluapkan segala kesedihannya.

Suatu hari sang gadis dijemput oleh teman laki-lakinya untuk mengajaknya jalan sekedar makan di cafe bersama teman-teman sekelasnya. Karena sopan temannya pun masuk dan berpamitan kepada orangtua gadis dan gadis. Meskipun mendapat izin dari orangtuanya, namun tampak raut wajah ayah yang taksuka bila putrinya diajak keluar dengan teman lelakinya.

Dan mereka pun berangkat dengan mobil berwarna merah, dengan penuh hati-hati mereka melewati  perjalanan dan berbincang santai sambil tertawa ringan. Tak berapa lama mereka pun sampai di cafe dan menemui teman-temannya, lalu menikmati makanan yang telah disajikan di tengah perbincangan hangat.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 21.00 dan gadis pun mengajak pulang temannya karena ia sudah berjanji untuk pulang tidak lewat dari pukul yang sudah ditentukan ayahnya. Akhirnya mereka pun pamitan terlebih dahulu, dan temannya mengantarkan sang gadis. Tak lama sampailah mereka di rumah gadis dan temannya pun masuk untuk berpamitan pulang, namun ayah sang gadis sudah tidur, pemuda itu berpamitan dengan ibu si gadis dan menitipkan salam untuk ayah. 

Namun baru saja ia beranjak ingin masuk ke kamar namanya sudah dipangil ayah, dalam rasa takut dan cemas ia menghadap sang ayah dengan tegas sang ayah berkata, “Kak, siapa tadi itu? Teman dekatmu? Kalau kamu ingin serius dengannya fokuslah dengan pendidikanmu sekarang, sibukkanlah dulu dirimu dengan hal-hal yang bermanfaat, setelah itu cari pekerjaan yang sesuai dengan minat dan keahlianmu. Jika nanti kalian memang berjodoh maka pemudamu itu akan menjemputmu dari tangan ayahmu ini, Kak. Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu. Intinya fokus saja pada semua targetmu dan wujudkan cita-citamu supaya kau dan dia menjadi jodoh yang cocok dan baik.”

Dengan berurai air mata gadis memeluk ayahnya dan berkata, “Iya, Yah, kakak akan selalu ingat nasihat ayah dan mewujudkan semua cita-cita kakak. Doakan saja yang terbaik buat kakak, ya, Yah.”

Ayah gadis itu pun menyuruh putri kesayangannya segera  tidur.

Seperti biasa rutinitas yang dilakukan sang gadis adalah sibuk dengan kuliah dan mengerjakan tugas kuliahnya, sesekali ia menulis untuk mengisi waktu kosongnya. Ia jarang sesekali mendapat perhatian dari sang ayah yang bersikap keras dan dingin padanya. Sehingga perbincangan berdua sangat jarang dilakukan dalam waktu yang terencana.

Ia merasa bahwa ayahnya tidak sayang padanya. Karena dalam hidupnya perhatian yang benar-benar diberi pada saat pulang dari cafe bersama teman laki-lakinya, baru itu sang ayah menasehati putri cantiknya itu. Namun gadis itu tetap saja diam menahan semuanya dan meluapkannya dengan airmata jika ia sedang dimarahi sang ayah.

Sampai akhirnya gadis itu wisuda, tetap saja tak ada kata selamat bahkan pelukan dari sang ayah, malah sang gadis yang memeluk ayahnya tanpa ada balasan dan ucapan yang keluar dari mulutnya. Kali ini ia benar-benar sedih entah kesalahan apa yang dilakukannya pada masa lalu sehingga ayahnya benar-benar tak perduli padanya. Begitulah pikirnya.

Dan akhirnya sang gadis mendapatkan kerja di perusahaan swasta. Pada suatu hari teleponnya bergetar ada panggilan masuk, ternyata itu telpon dari ibunya yang mengabarkan bahwa ayahnya masuk rumah sakit.

Dengan keadaan yang berurai air mata akhirnya ia izin dari kantor untuk segera pulang menemui ayahnya. Dengan mengendarai mobilnya sang gadis segera tancap gas menuju rumah sakit.

Setelah sampai di rumah sakit ternyata ayah belum kunjung sadar, gadis itu semakin gelisah dan tak lama dokter keluar memberi kabar bahwa ayahnya sadar dan terus memangil nama sang gadis. Diusapnya air matanya ia melangkah masuk ke ruangan rawat inap ayahnya.

Lalu   ayahnya berkata dengan keadaan yang sangat lemas,“Kakak, putri kecil ayah yang kini sudah dewasa yang semakin cantik dengan balutan hijabnya, peluklah ayah untuk yang terakhir kalinya dengan erat dan penuh kasih sayangmu. Maafkan ayah dengan semua sikap ayah yang dingin terhadapmu, Kak. Selamat atas segala kesuksesannmu, kau telah wisuda dan mendapat pekerjaan yang baik, ayah bangga padamu, Kak.   Kakak adalah harta berharga ayah, kakak yang selalu ayah banggakan.”

Gadis itu hanya bisa terdiam mendengar kata-kata dari ayahnya, rasa haru dan sedih genap di hatinya saat itu. Air mata terus mengalir di pelupuk matanya.

“Ayah selalu berdoa kepada Tuhan agar Kakak selalu tabah saat diberi jalan yang penuh liku dan penuh kerikil tajam disepanjang jalan, dan berdoa pula pula supaya kakak benar-benar mengerti makna hidup yang sebenarnya. Ayah yang tak pernah ingin memanjakanmu bukan berarti ayah tak sayang, ayah hanya ingin kakak menjadi pribadi yang tangguh dan kuat agar kakak dapat menjaga ibu setelah ayah tiada nanti. Selamat, ya, Kak, untuk semua kesuksesanmu, sungguh ayah sangat sayang dan mencintaimu,” ucap ayah dengan nada yang begitu pelan dan lemah.

Tak lama ayah kembali sesak napas, gadis itu pun panik sambil menangis ingin memanggil dokter untuk menangani ayahnya. Namun tangannya ditahan oleh ayah. Ayahnya meminta si gadis agar membimbing melafadzkan tauhid menjelang menemui Sang Khalik. Dengan lancar sang gadis membimbing ayahnya sampai dijemput maut.

Gadis itu memeluk ayahnya yang baru saja melepaskan napas terakhir, ucapnya dengan suara serak sesunggukan, “Terimakasih sudah menjadi ayah yang hebat buat kakak, Yah. Kakak sayang, Ayah, kakak sangat mencintai ayah dan akan selalu rindu  dengan ayah.” [Asmarainjogja.id]

Baca juga Cerita Mini Dewi lainnya:

Ayah, Sungguh Aku Merindukanmu

Memahami Arti Berjuang dari Perjalanan ke Danau

Gara-gara si Penyontek

Padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas