Bukit Bintang Yogyakarta | Foto http://wahyuharseno.blogspot.com

Oleh: Asmara Dewo

  “Bagaimana masakannya, enak?” tanya Uni, tangannya sibuk merapikan piring dan gelas.

“Lumayan,” sahut Icow seadanya. Asap sudah mengepul di atas kepalanya. Matanya memandang jauh kerlap-kerlip lampu perkotaan Yogyakarta dari ketinggian 150 MDPL.

“Aku tidak pernah melihat kamu merokok sebelumnya?” keningnya berlipat. Uni terus meyelidik, “sejak kapan merokok? Asal kamu tahu saja, aku tidak suka melihat laki-laki merokok.”

Lalu Uni memanggil pegawai, berkata lembut menyuruh agar membersihkan meja, “Tolong, ya, Mas,” ia menoleh lagi ke Icow, “kamu mau pesan kopi?”

“Boleh,” sahut Icow. Rokok kretek itu diisapnya begitu dalam.

“tambah dua kopi dan dua jagung bakar, ya, Mas?” kata Uni ke pegawai yang tangannya penuh dengan piring-piring.

“Siap, Mbak,” kata pegawai itu mantap, “ditunggu, ya?!” dan ia pun beringsut mundur meninggalkan tamunya.

“Sejak kapan kamu merokok?”

“Sudah beberapa bulan yang lalu aku sulit tidur,” jawab Icow, wajahnya tetap lurus memandang ke depan, “sejak SMA sebenarnya sudah merokok. Tapi entah kenapa aku jadi ingin merokok lagi. Maaf kalau mengganggu makan malam ini.”

Uni terdiam mendengar pengakuan jujur Icow. Sampai beberapa menit kemudian, mereka tampak mengheningkan cipta. Membisu di antara suara tamu lainnya di kafe Perbukitan Bintang.



“Asap ini tidak akan mengganggu lagi,” Icow mematikan rokoknya. Memasang wajah bersalah, ia merayu Uni, “Kamu tahu kenapa bintang tak mau absen menghiasi langit malam?

Lama Uni tidak menjawab. Antara bingung menjawab dan sisa kesal yang masih ada.

“Ayo dong jawab?! masa iya begitu saja tidak tahu?” Icow terus menggoda. Alis sebelahnya terangkat, “aku hitung sampai tiga, ya? Satu… dua..”

Belum sempat hitungan ketiga, Uni sudah memotong duluan, “Baik. Aku tahu.”

“Apa?”

“Karena menemani sang bulan,” Uni menjawab sekenanya.

Icow tertawa, “Bukan itu jawabannya! Ini tentang kamu.”

“Hah, tentang aku? Apa hubungannya?” Uni keheranan.

“Mau tahu jawabannya?” Icow terus memancing Uni.

Uni mengangguk berkali-kali.

“Serius, nih, mau tahu jawabannya?”

“Iya, Icowwww…” Uni tak sabar lagi. Ditarik-tariknya tubuh Icow yang dibalut sweater.

“Karena ada saudarinya yang jatuh ke bumi,” telunjuk Icow menjawil hidung Uni, “sayangnya, mereka tak bisa menjemput. Hanya mengintip cemburu dari angkasa.”

“Iiihhhh.. Icow,” suara Uni terdengar manja. Tersipu malu-malu.



Mood Uni kembali baik. Icow memang punya berbagai cara agar Uni tidak  ngambek. Untungnya Icow sudah terbiasa menulis fiksi. Jadi tinggal karang-karang saja pertanyaan dan jawaban. Uniknya cara itu sangat ampuh meluluhkan hati Uni.

Serasa ada yang ganjil dari jawaban Icow tadi, “Kenapa bintang-bintang yang ada di angkasa cemburu?”

Gelagapan, Icow mencari jawaban yang nyambung dari jawaban sebelumnya.

“Iya.. iya… cemburu. Karena bintang yang satu ini merasakan cinta anak manusia. Siapa pula yang tak cemburu dengan cinta sepasang anak manusia yang saling memadu kasih?” Icow tersenyum lembut. Matanya berkilat membelenggu kedua mata Uni.

“Gombal!” ucap Uni setengah teriak. Dia tertawa. Icow pun tertawa. “Baik aku tanya lagi.”

“Silahkan!” tantang Icow.

Sebelum Uni bertanya, pegawai menawarkan kopi yang baru saja dihidangkannya, lengkap dengan jagung bakar di atas nampan, “Silahkan. Ada pesanan lagi?”

“Cukup. Terimakasih, Mas,” sahut Uni.

Setelah pegawai itu pergi, mereka melanjutkan obrolan yang sempat terputus. “Jika aku bintang yang kamu maksud. Lantas siapa pula yang memberikan cinta itu? Dan siapa kedua anak manusia yang saling memadu kasih itu? Jawab dengan baik dan benar. Hahaha…”

“Oke, akan kujawab,” Icow mengecap kopi yang masih panas, katanya kemudian, “laki-laki yang ada di hadapanmu yang memberikan cinta itu. Jadi cukup jelas, antara kamu dan aku. Tapi jangan sampai keliru, laki-laki itu terkadang bukan laki-laki sebenarnya yang dimaksud.”

Uni tampak bingung, matanya menyipit. Kunyahan jagung di mulutnya terhenti. Sengaja Icow membuat suasana hati Uni naik-turun. Yes, batin Icow.

“Icow, plisss. Jawab sesederhana mungkin. Dengan bahasa yang mudah dipahami. Jangan muter-muter begitu, seperti baling-baling bambu.”

“Baling-baling bambu? Seperti punya Doraemon saja,” Icow tertawa kecil, “Icow hari ini belum tentu Icow yang kemarin. Icow yang sekarang bisa berubah di masa yang akan datang. Icow bisa berubah-ubah, sesuai tempat dan waktu. Itu sudah hukum alam. Makanya aku bilang seperti yang tadi, laki-laki itu terkadang bukan laki-laki sebenarnya yang dimaksud.”



“Nyerah, deh. Stop pembahasan ini. Kita ke topik pembicaraan lain,” ucap Uni, lalu mencicipi kopi hitam andalan kafe itu.

Icow tertawa cekikan, tak tahan melihat wajah Uni yang kebingungan dan pasrah.

Seketika Uni ingat sesuatu di saat tawa Icow di pengujung. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan bingkisan berupa kado. Icow memperhatikan Uni dengan ekor matanya.

“Semoga kamu suka,” Uni menyerahkan bingikisan itu. Tersenyum. Ia terlihat lebih cantik dari beberapa menit yang lalu.

“Untuk apa?” Icow keheranan.

“Terimasaja. Apa susahnya, sih,” ancam Uni.

Icow tertawa, “Ada, ya, orang beri kado tapi memaksa?” tanganya menyambut bingkisan itu, “aku tidak ulang tahun hari ini. Lagi pula aku tidak suka diberi hadiah. Buat tabungan hutang budi saja.”

“Sudah buka saja!”

Icow tertawa lagi. Geleng-geleng kepala. Lalu mengoncang-goncangkan kado itu di telinganya. Penasaran. Icow langsung membuka kado yang dibungkus dengan kertas biru muda bergambar hello kitty itu. Uni senyum-senyum menunggu ekspressi wajah icow.

Benar saja, Icow kaget, disusul tawa kecil, “Ada-ada saja. Kamu pikir aku anak TK yang bawa air minum dalam botol, lalu menggantungkannya di leher, dan menenggaknya saat haus kapan saja, meskipun ada guru di depan. Begitu?”

Kali Ini Uni yang tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Icow saat terkejut dengan hadiah pemberiannya. Katanya, “Aku beli botol air minum itu saat belanja kemarin. Lucu saja modelnya. Apalagi ada gambar kucing, pasti kamu suka, hahaha.”



Satu induk, dan empat anaknya berbaris rapi di samping. Dua di kiri, dan dua di kanan Seperti Bi dan anak-anaknya, pikir Icow membayangkan kucing-kucingnya di rumah. Mana suaminya? Icow tertawa dengan imajinasinya sendiri. Kalau sudah mengenai kucing, selalu ada saja pikiran-pikiran Icow tentang hewan berwajah imut tersebut.

“Eh, tapi, ngomong-ngomong, terimakasih, ya?” kata Icow, “aku suka, kok. Lucu.”

“Aku sudah yakin, kamu pasti suka. Hahaha.”

“Kira-kira, aku harus balas beri kado apa, nih?”

“Tidak usah! Aku tidah berharap begitu.”

“Ya, tidak enak saja,” Icow memasukkan hadiah itu ke dalam ranselnya.

“Sudah cukup, Cow, aku tidak perlu hadiah apa-apa lagi. Kamu selama ini setia menemaniku, itu adalah hadiah terbaik dalam hidupku. Cukup, lebih-lebih dari cukup.” wajah Uni langsung serius melontarkan kalimat itu ke Icow.

“Mau menggombal Raja Gombal, nih, ceritanya?”

Uni tertawa, bibirnya meliuk manis membentuk, “Serius.”

Tangan Uni perlahan menyentuh punggung telapak tangan Icow. Ragu-ragu, ingin menggengamnya. Icow hanya diam, membalas tatapan lembut Uni. Saling berpandangan. Begitu lama. Uni menatap puas-puas wajah Icow. Seakan-akan tak berjumpa lagi selamanya. Begitu juga dengan Icow, ia semakin sadar sudah melewatkan kecantikan wajah Uni selama ini.

Jemari Icow mengusap lembut kepala Uni, lalu merapikan anak rambutnya di dahi. Tak mau kalah, jemari Uni pun menggeranyangi wajah Icow. Tubuh mereka semakin rapat. Seperti ujung magnet yang siap menyatu. Ujung napas mereka semakin kentara satu sama lain. Degub jantung berdebar hebat. Tinggal sejengkal lagi, kedua bibir itu akan bertautan.

“Cow,” panggil Uni lembut. Suara itu mendesah begitu menggoda.

“Iya,” balas Icow.

“Aku sayang kamu, Cow. Cinta, cinta sekali, Cow. Sungguh, aku tak pernah secuil pun pernah membayangkan hidup tanpamu. Aku benar-benar mencintai semua yang ada padamu. Izinkanlah aku masuk ke dalam hidupmu, bersama jiwa dan ragamu. Menyatu. Tak terpisahkan lagi, selamanya. Selamanya,” kata Uni dengan nada yang menggebu.

Dinding dahi mereka sudah bersatu. Jemari mereka bergenggaman begitu erat.



“Kamu begitu cantik malam ini,” puji Icow.

“Cowww…” bisik Uni, dia semakin mendorong tubuhnya. Dan tiba-tiba saja kakinya menyenggol meja. Membuat mug yang berisi kopi terjatuh dan pecah. Sisa kopi itu bertumpahan dengan pecahan mug di atas lantai. Uni dan Icow terkejut. Diam sejenak. Kemudian tertawa malu-malu, setelah teringat beberapa detik yang lalu.

“Sudah malam. Besok kita kuliah. Pulang, yuk?” ucap Uni setelah melihat jam di pergelangan tangannya.

“Kita? Kamu aja kalee, hahaha.”

“Kamu sudah lama tidak masuk kampus, Cow. Atau besok aku jemput kamu. Bagaimana?”

“Kalau aku tidak kesiangan, aku akan kuliah,” kata Icow. Dia berdiri menyambar ranselnya.

“Aku bakal dobrak kamar kamu,” ancam Uni, dipasangnya wajah menyeramkan.

Icow tertawa, “Silahkan! Terus setelah kamu dobrak, kamu mau ngapain?”

Uni membisu sebentar.

“Mau ngapain?”

“Menggeretmu dari kasur.”

“Sayangnya, kamu tak cukup mampu menggeretku, Uni. Atau jangan-jangan malah kamu yang tertarik dan terbanting di kasurku,” alis Icow naik sebelah. Disusul senyum nakal.

“Oh… oh.. oh… kamu sudah berani begitu, ya? Uni tertawa, “siapa takut?! Kan, malam ini tertunda.”

“Gila saja. Aku bisa digantung ibuku di kamar. Hahaha. Lupakan!”

Mereka bergegas keluar dari kafe. Kerlap-kerlip kemegahan lampu perkotaan Yogyakarta masih terlalu cepat untuk ditinggalkan. Bintang-gemintang yang bergelantungan di langit malam pun semakin terang dan beranak-pinak mengawal bulan.

“Kamu masih membiarkan cinta itu hanyut dari tuannya?”

“Ya, melepaskannya hanyut ke samudera,” sahut Icow. SUV-nya sudah menggerung, mulai kencang membelah malam dan dinginnya Perbukitan Bintang.

“Ke samudera hatiku?” desak Uni.

“Mungkin,” ucap Icow lagi, “oh, aku sudah melanggar prinsipku sendiri. Aku tidak boleh jatuh cinta. Tidak boleh. Aku tidak mau pendidikan dan perjuanganku terhambat karena cinta.”

“Pendidikan dan perjuangan bisa terhambat karena cinta” Uni seperti tak yakin apa yang ia dengar.



“Iya,” tegas Icow mengatakannya.

“Lalu yang terjadi beberapa menit yang lalu?” suara Uni mulai meninggi.

“Apa yang terjadi?” tanya Icow bingung.

“Apa yang terjadi kamu bilang?” Uni balik tanya. Matanya mengkilatkan murka.

“Iya. Memangnya apa yang terjadi?”

“Kita hampir berciuman!” bentak Uni.

“Hampir, kan? Bukan berciuman. Itu beda, Uni. Sudah lupakan saja apa yang terjadi malam ini.” kata Icow.

Mendengar kata-kata Icow, perasaan Uni mulai tersakiti. Napasnya naik-turun. Diam. Mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Jemarinya meremas-remas penuh kegeraman.

“Kamu laki-laki, mudah melupakan apa yang sudah terjadi. Tidak bagi seorang perempuan, Cow. Kamu ingat-ingat, itu!” serak suara Uni terucapkan. Air matanya sudah mengambang di pipi.

Icow menatap Uni sejenak. Melihatnya air mata yang menetes itu membuat Icow risih, “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat kamu sedih,” ia raih tangan Uni dan menggenggamnya erat-erat.

Uni mengacuhkan permintaan maaf Icow. Matanya menatap kosong ke depan Jalan Wonosari.

“Aku punya pertanyaan mudah, mungkin kamu bisa menjawabnya,” Icow mulai menggoda Uni dengan pertanyaan, “Kenapa jalan yang pernah dilalui bersama sulit dilupakan?”

Yang ditanya sedikit pun tak menghiraukan. Sudah kebiasaan Uni seperti itu. Lama tak dijawab Uni, Icow pun terpaksa menjawabnya sendiri. Berusaha mengembalikan mood  baiknya.

“K-a-r-e-n-a…. sepanjang jalan kenangan, kita selalu bergandeng tangan. Sepanjang jalan kenangan, kau peluk diriku mesra. Hujan yang rintik-rintik di awal bulan itu, menambah nikmatnya malam syahdu,” jawab Icow dengan nyanyian.

“Cow, kamu jahatttt!” Uni merengek manja. Menepuk pelan dada Icow.

Icow tertawa. Gombalannya jitu, “Iya, aku jahat. Kenapa kamu suka?”

Uni tak menjawab, genggaman yang hampir terlepas itu dibalas Uni.  

Bersambung… [Asmarainjogja.id] 

Cerita sebelumnya baca di sini:

Belajar Mengarang di Kali Code



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas