Jamu Nyonya Meneer |Facebook/Dian Andryanto

Asmarainjogja.id – Beberapa bulan terakhir perusahaan-perusahaan raksasa tumbang, alias tumpur. Sebut saja perusahaan ritel seperti PT. Modern Sevel Internasioanl (MSI), yang menutup semua gerai minimarketnya.

Sedangkan akhir-akhir ini, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan kabar PT Nyonya Meneer bangkrut, perusahaan jamu itu dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang. Jamu yang sudah beroperasi sejak tahun 1919 itu pun kini hanya tinggal kenangan bagi penggemar setianya. Nyaris 2 tahun lagi perusahaan jamu yang melegenda itu usianya 1 abad.

Uniknya adalah jika 7-Eleven bangkrut diisukan karena pemerintah melarang penjualan minuman keras di gerainya. Sebab sebelum larangan penjualan minuman beralkohol tersebut, gerainya selalu ramai dikunjungi. Sedangkan jamu cap Meneer kabarnya pula bangkrut salah satu penyebabnya adalah semakin maraknya penjualan jamu rumahan melalui online.

Tak hanya jamu yang dipasarkan bermodalkan online saja, namun juga herbal yang semakin menggurita pemasarannya.

Pertanyaannya adalah jika PT. Nyonya Meneer bisa bangkrut, bagaimana dengan PT. Sido Muncul? Padahal sama-sama perusahaan jamu juga. Bisa jadi Nyonya Meneer kurang inovasi produk, sedangkan perusahaan-perusahaan sejenisnya terus berinovasi untuk menguasai pasarnya.

Ya, inovasi produk salah satu kunci sukses untuk mempertahankan bisnis. Contohnya saja Nokia dan Blackberry, dua perusahaan handphone tersebut tersungkur dihantam pemain baru seperti Oppo, Lenovo, Asus, Siomi, dan lain-lain.

Selain berinovasi produk, memanfatkan Internet juga sangat membantu kelancaran bisnis. Starup seperti Gojek yang membuktikannya secara telak. Hadirnya Gojek di Indonesia, dan terus menggurita di setiap kota di Indonesia, taksi-taksi konvensional pun sepi penumpang, nyaris pendapatannya turun drastis. Terlebih lagi ojek pangkalan yang tak dapat penumpang.

Hijab

 

Konsumen sudah manja lagi cerdas, kemudahan dan transparansi ongkos jelas menjadi pilihan utama. Apalagi tarif ojek online sangat murah. Perbandingannya jauh sekali.

Dan ini adalah kabar baik, membuminya marketplace, seperti Tokopedia, OLX, Buka Lapak, menumbuhkan pemain-pemain baru di berbagai bidang bisnis. Seperti yang sudah disinggung di awal tadi, tergerusnya konsumen Nyonya Meneer karena UMKM jamu dan herbal dengan modal kecil bisa mendapatkan konsumen secara nasional melalui penjualan online. Sama halnya dengan Pasar Glodok Jakarta, tempat belanja elektronik itu kini sepi, bahkan pedagangnya banyak yang tutup. Konsumen beralih pembelian melalui online.

Budaya jual-beli online yang semakin diminati masyarakat Indonesia ini tentu kabar baik bagi masyarakat kecil yang ingin berbisnis. Jika perusahaan raksasa tumbang, pemain cilik mulai terbang. Perusahaan raksasa dengan penjualannya yang menurun, sementara biaya operasionalnya tetap besar, lambat laun akan kehabisan modal. Bukan hanya modal yang terkuras, bahkan utang pun semakin membengkak. Tak heran Nyonya Meneer akhirnya ‘tutup cerita’.

Banyak sekali kisah-kisah sukses pemain baru yang hanya mengadalkan laptop dan smartphone yang terkoneksi internet. Pada umumnya mereka menjual produk herbal, fashion, dan elektronik. Ketiga kategori produk ini memang paling dicari oleh netizen. Bukan   ‘wah’ lagi jika penjualannya pun beromzet puluhan juta per bulan.

Peluang pemain baru ini akan semakin cemerlang mengingat tren online semakin meningkat. Untuk saat ini saja 50 juta penduduk Indonesia sudah terbiasa memanfaatkan internet untuk transaksi, mulai dari belanja online, pesan tiket, bahkan sampai pesan makananan, seperti Go-Food. Hadirnya Go-Food tentu membuat sumringah bagi pebisnis kuliner. Tinggal daftarkan saja ke Go-Food, lalu pesanan pun mulai ramai dari aplikasi canggih ala Go-Jek.

Modal minim, risiko kecil, dan peluang sukses sangat besar. Inilah dunia digital yang sangat membantu pemain baru. Sebenarnya perusahaan besar tidak akan kehilangan konsumennya, jika perusahaan tersebut bisa memanfaatkan tekonologi internet. Selain itu terus berinovasi produk yang semakin diminati pasar.  

Melirik Matahari Store, perusahaan ritel yang hampir di setiap mall ada. Mereka tidak mau konsumennya ‘dicuri’ dari pedagang online. Karena itu pula mereka membuat e-commerce juga, meskipun kehadirannya bisa dibilang terlambat. Tapi paling tidak mereka paham, budaya beli sudah menggeser ke dunia digital.

Perusahaan raksasa bisa semakin besar, bisa juga tumbang, dan pemain baru mempunyai peluang besar untuk terbang. Inilah efek tekonologi yang sangat berpengaruh bagi penggunanya. [Asmara Dewo]

Baca juga:

Hanya Padusi Hijab yang Paling Ngerti Kamu (Gratis Ongkos Kirim)

Trik Ilmu Marketing Diskon Gila-gilaan

Diskon Besar-besaran Apa Tidak Rugi?

Lima Faktor Kenapa Penjualan Online Menjelang Lebaran Sepi 

 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas