Ilustrasi | Net

Mata Uni membengkak, wajah cantiknya sembab. Kejengkalan di hatinya diungkapkan, mengeluarkan kata-kata yang tak enak didengar. Icow tak membalasnya, dia diam. Karena Icow tahu membalas ucapan di saat emosi akan membuat keadaan semakin rumit. Diam lebih baik, begitu pikir Icow.

SUV Icow sudah berhenti di depan rumah Uni. Buru-buru Uni mengeluarkan kaki jenjangnya. Sebelum benar-benar meninggalkan Icow, kalimat pedih kembali lagi dilontarkannya. Raut wajah itu memancarkan kemarahan.

“Sok hebat! Anak borjuis berlagak pembela proletar! Lihat penampilanmu sendiri, gaya hidupmu, dan segala fasilitas yang kamu miliki saat ini. Semua dari keluarga besarmu. Bahkan untuk jajan kuliah saja kamu masih meminta ibumu. Omong kosong dengan segala perjuanganmu, perjuangan yang kamu sebut-sebut pembela kaum miskin. Bahkan kamu sendiri tidak pernah hidup bersama orang-orang miskin. Bagaimana kamu bisa tahu keadaan mereka sesungguhnya?” teriak Uni, “pikir!” telunjuk Uni mengetuk kepalanya sendiri. Sebuah sindirian agar Icow benar-benar berpikir dengan segala teori dan praktiknya sendiri.



Bergetar sekujur tubuh Icow mendengar ucapan yang dipikirnya tak pantas diucapkan. Kali ini Uni sudah kelewatan batas. Ingin sekali Icow membela diri. Dan Uni sudah mengempas pintu mobil sekencang-kencangnya. Icow terbengong.

“Bangsattt!” teriak Icow.

***

Setiba di rumah, Icow langsung ke kamar. Bi dan anak-anaknya mengeong, menyambut Icow. Seolah tahu Icow marah, Bi dan anak-anaknya meninggalkan Icow. Ini penghinaan, sungguh ini penghinaan, tak bisa dibiarkan, Icow menggerutu sendiri. Mondar-mandir di kamar, seperti orang kalut. Otaknya berpikir keras, terngiang ucapan Uni yang tajam. Ucapan-ucapan yang disemburkan dari lidah berbisa. Tak pernah seumur hidup Icow mendapat penghinaan sedemikian keji. Dan kali ini merasakan bagaimana sakitnya penghinaan dari sahabatnya sendiri, bahkan bukan sekadar sahabat biasa. Sahabat yang spesial.

Orang lain boleh menghinaku, tapi aku tidak terima jika sahabat sendiri yang menghinaku. Ini sungguh-sungguh penghinaan, kata Icow dengan suara bergetar. Bangsat kamu Uni, maki Icow. Akan kubuktikan, kamu keliru menilai seorang Icow, lihat saja! Aku adalah pejuang kaum proletar, dan aku akan hidup bersama mereka. Lihat saja! Lihat saja! Tarik kata-katamu kembali! Sumpah Icow terucap lirih.

Icow keluar kamar, langkah kakinya cepat-cepat menyusuri belakang rumahnya. Kali Code menjadi tujuannya, tempat biasa Icow mengevaluasi diri. Merenungkan sesuatu yang penting, dan menyusun berbagai strategi kerap dilakukan Icow di aliran sungai yang membelah Kota Mataram Islam itu. Kaki Icow bergelantungan di atas jembatan, pandangannya lurus menghadap utara, Gunung Merapi. Asap dari rokok kretek mengepul hebat di antara wajah Icow yang kacau.

***

“Kenapa, sayang? Ayo dong buka pintunya!” kata Ibu Uni. Berkali-kali pintu kamar Uni diketuk.

Saling berhadapan, mata mereka berbicara. Seakan saling mengerti, orangtua Uni akhirnya beranjak dari depan kamar yang tertutup rapat.

“Biarkan saja dulu!” ucap lelaki paruh baya ke istrinya.

Uni merebahkan tubuhnya di kasur. Mata merahnya mengerjab-ngerjab menatap plafon kamarnya. Boneka panda seukuran anak balita ditendang Uni. Tangannya mencengkram kuat bed cover  bermotif bunga sakura. Mulut Uni komat-kamit menyebut nama yang dibencinya saat itu, Icow. Kepalanya dipenuhi nama itu-itu saja, nama Icow yang dicintainya, nama yang dibencinya pula. Meraba-raba, jemari lentik Uni meraih foto di atas meja. Foto bersama Icow diempasnya begitu saja ke dinding. Beling dari figura ukuran 8 R berserakan di lantai.

Aku berhenti mencintaimu, Cow. Aku bisa tanpamu. Dan aku bisa menjaga diriku sendiri, makanlah janjimu itu, aku tidak butuh dan tak akan pernah menuntut janji yang pernah kamu ucapkan. Ya, aku janji pada diriku sendiri, sumpah Uni pada dirinya sendiri. Dalam kemarahan itu pula, kata-kata Icow terngiang bertalu-talu, Kamu belum menjadi manusia seutuhnya. Mengungkit pemberian yang pernah kamu lakukan. Aku tidak mengungkit, tidak pula berharap uangku kembali, kamu salah pengertian, Cow, kata Uni lagi di dalam hati.



Instagram dengan follower satu juta lebih itu dinonaktifkan Uni. Dia juga berjanji pada dirinya sendiri, aku tentu bisa mendapatkan uang tanpa harus membodohi netizen, seperti yang kamu ucapkan, Cow. Lihat saja!

Jelang beberapa menit kemudian, keletihan karena banyak berpikir, mata Uni terpejam. Ia tertidur sampai malam menjemput.

***

“Bu,” kata Icow dengan pandangan serius, “mulai hari ini aku tidak lagi memakai apa yang ibu berikan. Mobil, motor, handphone, laptop, dan semua fasilitas keluarga kita, aku tidak akan menggunakannya lagi.”

Kening Ibu Icow berkerut, keheranan, “Lha… lha… memangnya kenapa? Kamu marah?”

“Tidak, Bu,” kata Icow. Suaranya terdengar lembut.

“Jadi kenapa?” tangan Ibu Icow sudah mengelus rambut putranya.

“Ingin belajar mandiri saja, Bu,” Icow beralasan.

“Kenapa tidak dari dulu?” Ibu Icow tertawa. Bercanda.

“Ah, Ibu. Tapi ini serius, Bu,” ucap Icow. Dia menggaruk rambutnya.

“Baiklah, kalau itu mau kamu. Nanti ibu sampaikan ke bapak.”

“Ibu juga tidak perlu beri uang saku kuliah dan kebutuhan sehari-hari seperti biasa,” lanjut Icow lagi, “mau berusaha sendiri, membutuhi kehidupan sendiri.”

“Lha… lha… kamu yakin?”

Icow mengangguk mantap, “Yakin, Bu,” sambungnya lagi, “secepat mungkin cari kontrakan sendiri.”

Ibu Icow semakin tak mengerti dengan kejutan puteranya. Sebuah keputusan yang dipikir Ibu Icow terlalu berlebihan. Icow paham dengan raut wajah ibunya yang masih kebingungan.

“Tenang, Bu, semua akan baik-baik saja,” tangan Icow menggenggam erat jemari ibunya.

*** 

Bintang Inspirasi

Hape Icow berdering keras, panggilan dari nomor yang tidak tersimpan di kontak. Yang kelima kalinya, akhirnya Icow menjawab panggilan itu.

“Hallow… iya, dengan siapa?”

“Ini Anata, Cow,” jawab Anata dari seberang telephone  genggam.

“Oh, Anata… apa kabar?”

“Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri?”

“Tidak begitu baik,” Icow tertawa canggung.

Anata ikut tertawa.

“Jadi bagaimana?”

“Tidak apa-apa, cuma ingin bertemu saja. Bisa?”

Icow diam beberapa detik.

“Bagaimana, kamu ada waktu?” suara Anata terdengar mendesak.

“Oh, iya… iya.. bisa,” jawab Icow buru-buru, “kapan?”

Anata senang, senyuman terukir di bibirnya.

“Malam ini, Cow. Di kafe biasa tempat kalian kumpul. Sejam lagi kita jumpa di sana.”

“Oke. Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa juga,” sahut Anata. Panggilan terputus,

Lalu Anata menelpon Eki.

“Baik, aku hubungi teman-teman yang lain. Beberapa menit lagi aku jemput kamu,” ujar Eki.

“Ya, aku tunggu.”



***

Lagu Andai Kau Datang Kembali karangan legendaris musisi Koes Plus mengalun indah meramaikan hiruk-pikuk kafe di Alun-Alun Utara. Kali itu bukan suara Icow, tapi musisi kafe yang biasa bernyanyi di sana. Meskipun tak semerdu suara Icow bernyanyi, tapi para pengunjung tetap terharu.

Icow turun dari ojek online, setelah membayar ongkos ojek ke driver, ia berjalan santai menuju kafe. Penampilannya kali ini tidak seperti biasanya. Menggunakan sendal jepit, kaos oblong yang lehernya melar, dibalut jaket jins yang sobek di sana-sini.   Celana jins yang dipakainya pun tak kalah ekstreme, berlubang besar di kedua lututnya, dan sedikit terlihat lubang di pantatnya.

“Selamat malam, Mas Icow,” sapa staf canggung.

“Malam juga, Mas,” sahut Icow. Senyumnya lebar, “seperti biasa, ya?”

“Oke, siap, Mas,” kata staf. Penasaran melihat penampilan Icow, akhirnya dia memberanikan diri bertanya, “tumben pakaian Mas Icow seperti ini?”

“Proletar,” jawab Icow yang sudah berlalu. Jempolnya teracung tinggi.

Mata Icow menyipit menyapu para pengunjung di kafe.

“Cow, sini!” teriak Pati dari meja paling pojok.

Icow terkesiap. Langsung menuju sumber suara.

“Apa kabar, Brother?” Pati sudah menubruk Icow. Memeluk erat. “Lama tidak berjumpa.”

“Seperti yang kamu lihat, Brother.” Ujar Icow. Membalas erat pelukan Pati.

Teman-teman yang lain berhamburan, silih berganti memeluk Icow. Kecuali Anata, ia terlihat kaku di hadapan Icow.

“Hai, Cow!” tangan Anata menjulur ke Icow.

“Hai juga!” Icow menyambut tangan Anata.

“Baik, teman-teman, kita semua sudah kumpul di sini. Kecuali Uni yang tidak hadir. Hapenya sejak tadi pagi tidak bisa dihubungi,” Eki memulai, “tapi tidak masalah, yang penting hasil obrolan kita ini bisa sampai ke Uni. Dan aku pikir Uni pasti setuju atas rundingan kita.”

Melihat pembukaan Eki yang cukup serius, Icow menyimak begitu khidmat. Tubuhnya bersandar tenang di punggung kursi.

“Sejak petualangan kita di Pulau Kalong waktu itu, Ali berinisiatif mencari informasi mengenai lidah buaya atau aloe vera.  Dia ke perpustakaan kota, ke perpustakaan daerah, dan ke perpustakaan berbagai kampus untuk mencari informasi penanaman lidah buaya. Dan juga informasi dari internet. Hasilnya, sepertinya lidah buaya bisa ditanam di tanah Gunungkidul,” ucap Eki penuh semangat. Wajahnya seakan memberi perintah ke Ali.



“Ternyata di Gunungkidul bagian utara, tepatnya di daerah Jeruklegi, Katongan, Nglipar, warga di sana sudah membudidayakan lidah buaya. Sedangkan di kabupaten lain, seperti Sleman, dan Kulonprogo, juga mulai giat menanam lidah buaya,” sambung Ali.

“Hasilnya bagaimana?” tanya Icow.

“Cukup subur. Dari yang aku lihat di Youtube, budi daya lidah buaya di Jeruklegi tanahnya cocok dengan lidah buaya. Aku yakin!” Jawab Ali mantap.

“Tentu setiap tanah yang ada di Gunungkidul itu berbeda. Gunungkidul di bagian selatan tandus, sedangkan di bagian utara lebih subur. Karena itulah warga di sana menanam padi,” ucap Icow yang belum yakin.

“Nah, itulah yang menjadi tantangan kita bersama. Apakah tanah di bagian pesisir Gunungkidul bisa juga ditanami lidah buaya? Jika memang bisa, maka kemungkinan besar lidah buaya adalah solusi warga di sana untuk meningkatkan perekonomiannya,” nada semangat Ali semakin menjadi-jadi.

“Aku jadi berpikir, pemasaran hasil lidah buaya itu bagaimana?” Salman angkat suara.

“Mengenai itu aku pikir bisa kita bahas belakangan,” sahut Eki.

“Oh, tidak bisa! Itu penting. Biar jelas mulai penanaman sampai penjualan,” sambar Icow.

Melihat bagaimana serunya obrolan Icow dan teman-teman yang lain, Anata tak tahan ingin mengeluarkan pendapatnya.

“Seperti yang Icow sudah sampaikan. Penjualan itu penting, karena itu ujung dari hasil penanaman lidah buaya. Ya, percuma juga kalau kita bisa menanam, tapi tidak bisa dijual,” kata Anata.

Eki mengangguk, “Baik. Menurut aku, sih, lidah buaya itu banyak sekali manfaatnya, mulai untuk kesehatan, kecantikan, dan juga bisa dikonsumsi. Jadi aku pikir mudah saja menjualnya.”

“Iya, aku tahu, Ki, lidah buaya banyak manfaatnya. Maksudku konkretnya, lho, apakah kita punya channel  tengkulak lidah buaya? Jadi kita sudah menjalin komunikasi sejak awal. Jelas, siapa yang menampung panen lidah buaya kita,” ucap Icow.

“Begini saja, kawan-kawan, kan, kita sudah tahu di Jeruklegi ada kebun lidah buaya, kenapa kita tidak langsung ke sana saja? Kan, kita bisa tahu langsung mulai dari penanamannya sampai penjualannya,” Pati memberi usul.

Yang lain mengangguk, seakan Pati menjadi pemberi solusi di antara obrolan singkat itu.

“Nah, ide bagus, tuh! Kapan kita ke sana?” kata Ali.

“Lebih cepat, lebih baik,” jawab Pati.

“Ya, kalau bisa secepatnya,” sambung Eki.

“Silahkan, Mas,” staf menghidangkan kopi pesanan Icow. Nada suaranya dimanjakan. Terdengar centil.

“Terimakasih, Mas.” kata Icow ke staf lelaki itu.

“Satu atau dua hari ke depan dari sekarang,” Anata menyodorkan usulan.

“Oke,” Icow mengangguk. Tangannya mengangkat kopi . Menyeruputnya pelan.



“Mantap-mantap,” Ali mengangguk-angguk, “kita bagi dua tim. Tim pertama menjumpai pelopor penanaman lidah buaya di Jeruklegi. Sedangkan tim kedua mencari lahan di Gunungkidul bagian utara. Dan aku, di bagian tim kedua, karena aku ingat seseorang yang mungkin bisa kita pakai lahannya.”

“Setuju. Aku di tim pertama,” ucap Eki. Matanya mendelik ke Icow, “kamu, juga Anata. Kita satu tim, bagaimana?

“Terserah. Mana baiknya saja,” bahu Icow terangkat.

“Seperti Icow bilang. Aku juga terserah,” Anata mengamini Icow.

“Berarti timku, Salman dan Pati,” ujar Ali menghitung temannya. Katanya lagi, “eh, Uni, bagaimana?”

“Terserah dia saja mau masuk ke mana?” jawab Pati singkat. Lanjut dia lagi, “teman-teman, proyek ini kita persembahkan untuk Limo dan Ana. Semoga dengan apa yang kita perjuangkan bisa membuat mereka tersenyum di surga. Amin. Dan warga Gunungkidul turut sejahtera. Amin.”

Teman-teman yang lainnya mengamini ucapan Pati yang sudah seperti doa. Mata Anata berubah. Ada kesedihan di sana. Begitu juga dengan Icow, pikirannnya langsung mengenang Ana dan Limo.

“Mari bersulang!” Pati mengangkat kopinya.

Yang lain menyusul. Serentak, “Cherrs!

Lagu Kita Selamanya dari Bondan Prakoso and Fade 2 Black  menghentak semua pengunjung kafe. Begitu juga dengan gerombolan Icow dan kawan-kawan, seakan terhipnotis dengan lagu persahabatan itu.

“Cow, ada yang berbeda dari kamu,” mata Pati menelanjangi Icow. Keheranan. “Baru kali ini aku melihat kamu berpakaian seperti begitu, ada apa?”

“Iya, kenapa, Cow?” tanya Eki juga.

“Ya, mau merevolusi gaya hidup saja,” jawab Icow enteng, “dan juga gaya hidup yang berbaur ke petani.”



Yang mendengar pada heran. Saling berpandangan satu sama lain. Sedangkan Anata hanya tersenyum mendengar alasan Icow. Setidaknya dia sediki paham logika berpikir Icow dari diary kakaknya. Dan ekor mata Anata tak melepaskan pandangannya dari wajah Icow. Sebagaimana Ana dulu yang mengagumi Icow, Anata juga demikian. Pantesan saja Ana terkesima dengan Icow, batin Anata.

“Eh, kenapa yang nelpon aku tadi Anata?” mata Icow mengejar Anata.

Anata gelagapan, “Disuruh Eki.”

“Iya, aku suruh,” sambar Eki.

***

Bersambung…  [Asmarainjogja.id] 

Baca cerita sebelumnya: 

Kau dan Aku, Sehangat Kopi Merapi 

Penulis: Asmara Dewo, anggota Komunitas Menulis Bintang Inspirasi



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas