Menjadi petugas saksi di Pilkada

Asmarainjogja.id – Pemilihan Gubernur Sumatera Utara tahun ini sangat menegangkan, apalagi saat itu saya bertugas menjadi saksi utama untuk kandidat pasangan nomor satu, Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah (ERAMAS) di TPS 12 kelurahan Pasar Merah Timur, kecamatan Medan Area, Kota Medan.

Pukul 06.30 WIB saya dan saksi kedua tiba di TKP. Setelah mengambil sumpah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), kami menyaksikan pembukaan kotak suara yang masih disegel. Petugas KPPS membuka kotak suara dan menghitung jumlah surat suara di dalamnya.

Surat suara yang diterima sesuai dengan jumlah Data Pemilih tetap dan ada tambahan surat suara yang sesuai dengan hitungan saya. Yaitu presentase jumlah surat tambahan yang diberikan lurah.




Aplikasi penjoblosan sudah terletak rapi di tempatnya masing-masing. Saya pun duduk mengamati pemilih dengan mawas dan di sebelah saya ada saksi utama untuk pasangan kandidat nomor du, Djarot Syauful Hidayat dan Sihar Sitorus (Djoss).

Saksi dua dari tim saya duduk di samping meja tinta jari. Kami sangat detail melihat siapa saja pemilih yang datang dan pergi. Bagaimana cara mereka menerima surat suara sampai memasukkannya ke kotak suara.

Sekitar pukul 07.00 sampai pukul 10.00 WIB, pemilih yang datang masih sedikit. Satu persatu pemilih datang dan pergi dengan lenggang. Setelah pukul 11.00  sampai 13.00 wib, pemilih semakin banyak termasuk mereka yang memilih tidak membawa surat c6 dan hanya membawa E-KTP atau kartu keluarga. Di sini kami semakin mawas melihat pemilih-pemilih yang datang.

Sebenarnya saya juga ingin memilih di TPS tempat saya menjadi saksi. Tetapi harus ada surat A5 dan itu sangat ribet menurut saya. Jadilah saya pergi sebentar untuk memilih di TPS daerah dekat rumah dan meminta saksi dua untuk menggantikan sementara.

Hijab

Satu suara saja sepertinya sangat disayangkan jika tidak memilih, sebab Pilgubsu ini memang bukan akhir dari segalanya. Tapi kita harus membenarkan kutipan dari ustad Adi Hidayat Lc Ma, yang mengatakan: “Anda boleh sepakat tidak memilih itu hak anda tapi persoalannya ketika anda tidak memilih orang liberal ikut memilih, orang sekuler ikut memilih, lesbi ikut memilih, homoseksual ikut memilih, ketika suara mereka lebih banyak mereka yang memegang kekuasaan. Aneh, Anda tidak memilih tapi Anda wajib taat pada yang tidak dipilih, yang terpilih orang yang buruk dan Anda mentaati orang yang buruk”.

Jadi saya tidak akan menyia-nyiakan suara saya untuk hal seperti ini yang hanya lima tahun sekali terjadi. Selesai memilih, saya kembali ke TPS 12 dan melihat pemilih semakin banyak saja. Mereka yang hanya berpegang pada E-KTP sangat teliti dilayani oleh petugas KPPS. Pada akhirnya tidak ada kendala yang berlebih atau ribut-ributan, semuanya aman terkendali berkat kerja sama tim KPPS.

Akhirnya pukul 13.00 WIB TPS resmi ditutup dan petugas KPPS tidak terima lagi pemilih untuk pencoblosan.

Kami istirahat sampai pukul 14.00 wib, dan mulai menghitung suara tepat pukul 14.30 WIB. Di sini ada kejadian menarik. Ada surat suara dicoblos dua lubang oleh pemilih dalam satu garis lurus, kondisi suratnya yang berlubang satu di dalam kotak dan satunya di luar kotak tepat di atasnya. Petugas KPPS yang membacakan hasil pemungutan suara mengatakan itu tidak sah. Tapi menurut saya itu sah, saya sempat berdebat dan protes, akhirnya surat suara itu ditahan sementara.




Surat suara itu diserahkan ke Ketua KPPS dan sang ketua bertanya kepada lurah setempat melalui telepon seluler. Setelah bertanya ketua KPPS mengatakan surat suara itu sah. Sesuai dengan pernyataan saya.

Hasil perolehan suara d TPS 12 unggul dengan paslon satu yaitu ERAMAS. Dengan total 163 suara dan pasangan DJOSS mendapat 147 suara, hitungan suara tidak sah ada 2 suara. Total pemilih di TPS 12 hanya 312 pemilih dari 353 pemilih tetap.

Begitulah perjuangan menjadi saksi, kita harus cekatan dan detail jika tidak siap-siap menerima kecurangan dari mereka yang ingin lakukan hal curang. Saya sangat beruntung menjadi saksi sebab dalam hadis riwayat Tirmidzi mengatakan: “Dua mata yang tidak akan tersentuh api neraka yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata orang yang ribath (berjaga-jaga di jalan Allah)”. Dan saya sangat mengaharapkan itu.[]

Penulis: Nadhira Khanzah

Baca juga:

Ketika Cadar Bukan Lagi Impian 

Mencapai Target Hidup Karena Allah SWT

 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas