Foto Ilustrasi Flickr

Aku ingin bertanya padamu: “kau milik siapa?”

Bukan milikku, bukan pula orang yang paling kau cintai di dunia

Ayah, ibu, dan keluarga besarmu yang lainnya

Lalu kau untuk siapa pula?

 

Bayi meringkik puluhan tahun silam

Menjelma menjadi gadis berkepang dua

Tertatih menapaki dunia yang kelam

Menuju kehidupan warna-warni bianglala

 

Kau anak manusia …

Gadis kecil titipan Tuhan

Berkelana sepanjang usia

Berderu hitam-manis kehidupan

 

Kau untuk siapa?

Aku tanya di depan wajahmu yang lugu

Dan kau milik siapa?

Kubalas binar mata yang menyala. Mata kita menyatu

 

Pernah aku dibisikkan, dari suara hati baja

Katanya: jangan pulang sebelum menang!

Kau wanita pejuang dari negeri yang berbudaya

Leluluhurmu perantau jauh pergi ke negeri orang

Kau … jangan pulang sebelum menang!

 

Usia tak lagi muda …

Kekanakan terkikis waktu

Usia bertambah tua …

Kewajiban harus dipacu

 

Kau anak manusia, pemilik Sang Semesta

Di buminya kau bermanja menoreh catatan perjalanan

Kau anak manusia, dilahirkan dari Raja Manusia

Untuk manusia lainnya, untuk sebuah kehidupan

 

Berlarilah mengejar duniamu!

Berlarilah kau gadis kecil yang menua!

Bersama waktu … bersama cita-citamu

Lalu pulang dengan kemenangan, sampai Ia menyapa

 

Sampai Ia menyapa ...

Membujukmu untuk kembali.

 

Jogjakarta, 8 Januari 2015



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas