Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono | Foto doc Merdeka

Oleh: Asmara Dewo

Sekarang ini dunia sudah kejam sekali, Bung, Indonesia Raya kita ini khususnya. Bagaimana tidak, jika seseorang yang difitnah, dan yang difitnah tersebut ingin membela diri, malah ingin dilaporkan ke polisi? Nah, ini yang jadi korban, bukan orang sembarangan, kalau sekelas mantan presiden saja bisa dibegitukan, bagaimana pula dangan rakyat jelata? Mengerikan tidak, tuh, hukum di Indonesia kita ini?

Kali ini yang jadi korban fitnahan dan ancaman yang akan dilaporkan adalah mantan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono. Ini bermula ketika sidang kasus penistaan agama yang ke-8, terduga Basuki Tjahaja Purnama alias ahok atas pidatonya di Kepulauan Seribu September 2016 lalu.

Awal ini bermula ketika pengacara Ahok, Humprey Djemat mengaku memiliki bukti soal komunikasi Antara SBY dan KH Ma’ruf Amin. Komunikasi tersebut berisi, yang pertama SBY meminta KH Ma’ruf Amin agar Agus Yudhoyono dan Slyviana Murni diterima di PBNU. Dan kedua, SBY menyuruh KH Ma’ruf Amin agar menegeluarkan fatwa soal penistaan agama yang dilakukan Ahok.

“Apakah pada hari Kamis, sebelum bertemu paslon nomor satu pada hari Jumat, ada telepon dari Pak SBY pukul 10.16 WIB yang menyatakan, pertama, mohon diatur pertemuan dengan Agus dan Sylvi bisa diterima di kantor PBNU; kedua, minta segera dikeluarkan fatwa tentang penistaan agama?" tanya Humphrey kepada saksi ahli KH Ma’ruf Amin di persidangan, Selasa (31/1/2017).

“Ada tidak telpon itu?” tanya Humphrey kemudian.

“Saya mau tanya, ada tidak telpon itu?” tanya Humphrey lagi.

“Tidak ada,” jawab KH Ma’ruf Amin.

Humphrey kembali bertanya, “Sekali lagi saya tanya, ada atau tidak?”

Dengan jawaban yang sama KH Ma’ruf Amin menjawab tidak ada. Pertanyaan sama itu berulang sampai ketiga kalinya.

Lalu pengacara Ahok menghadap Hakim, “Ya, majelis hakim, andai kata kami sudah memberikan buktinya dan ternyata keterangan ini masih tetap sama maka kami ingin menyatakan saudara saksi ini (KH Ma’ruf Amin, pen) memberikan keterangan palsu dan minta diproses sebagaimana mestinya.”

Karena namanya dicatut di persidangan tersebut, Ketua Umum Partai Demokrat itu pun menggelar pers. Di hadapan para wartawan, ia mengakui memang berkomunikasi lewat telpon mengenai soal Agus dan Sylvi (paslon nomor urut 1 DKI Jakarta), agar diterima di kantor PBNU. Tapi bukan soal fatwa yang berhubungan dengan Ahok.

“Tanggal 7 oktober 2016, memang ada pertemuan antara Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni. Dengan Ketua organisasi pada hari itu dijadwalkan Agus Sylvi bertemu dengan PBNU dan PP Muhammadiyah. Yang saya tahu, tema dari pertemuan itu Agus Sylvi mohon doa restu mohon nasihat agar perjuangannya dalam Pilkada Jakarta berhasil, itu yang saya ketahui,” kata SBY saat konfrensi pers, Rabu (1/2/2017).

“Kemudian, sebelum Agus berangkat saya pesan, saya sampaikan salam saya kepada beliau-beliau dan kapan-kapan senang kalau saya bertukar pikiran tentang masalah islam dan dunia,” ujar mantan presiden 2 priode itu lagi.

Nah, mengenai menyuruh mengeluarkan fatwa, SBY membantah tudingan yang disampaikan pengacara Ahok di persidangan beberapa hari yang lalu tersebut.

“MUI itu Majelis Ulama Indonesia, mempunyai pengurusnya, untuk mengeluarkan fatwa tentu sudah dibicarakan oleh mereka. Silahkan tanya ke MUI apakah pendapat mereka atas tekanan SBY atau di bawah tekanan siapapun,” kata SBY lagi.

Dalam konfrensi pers selama 29 menit yang digelar di Wisma Proklamasi itu, SBY juga merasa dirinya disadap. Hal itu kuat dugaan karena sahabatnya takut menerima telpon dari SBY. Informasi itu didapat dari seseorang sahabat SBY dari laporan seseorang yang berada di lingkaran penguasa itu sendiri.

“Saya mendengar pada awal September setelah kembali dari Jawa Tengah dan Jawa Barat diberitahu, Pak SBY hati-hati ada informasi telepon bapak dan anggota tim yang lain di sadap. Belum lama kurang lebih satu bulan yang lalu, saya juga dapat informasi sahabat dekat saya tidak berani menerima telepon saya, karena diingatkan oleh seseorang di lingkar kekuasaan. Hati-hati telepon kalian disadap,” kata SBY.

Lalu SBY menyimpulkan apa yang dialaminya tersebut merupakan sebuah penyadapan yang merugikan dirinya.

“Kesimpulan yang ingin saya sampaikan adalah dengan penjelasan saya ini, berangkat dari pernyataan pihak Pak Ahok yang memegang bukti atau transkip, atau apapun yang menyangkut percakapan saya dengan Pak Maruf Amin. Saya nilai itu adalah sebuah kejahatan, dan itu adalah penyadapan illegal,” ujar SBY sebelum menutup konfrensi persnya.

Lalu pihak tim penasihat Ahok merespon tanggapan SBY tersebut. Bahkan secara terang-terangan, akan melaporkan SBY ke pihak yang berwajib karena sudah memfitnah mereka.

“Pak SBY ini mengatakan penasihat hukum Ahok itu punya hasil penyadapan, itu bisa dikategorikan memfitnah. Yang hard (cara keras) itu bisa saja tim penasihat hukum melaporkan beliau (atas) pemitnahan karena tidak ada cerita penyadapan di persidangan itu,” kata Tommy Sihotang, Sabtu (4/2/2017) seperti yang dikutip dari Tribunnews.

Tim penasihat Ahok juga mengatakan bisa saja meminta mejelis hakim agar SBY turut dihadirkan di persidangan mengenai komunikasi itu.

“Yang paling soft di sidang yang akan datang kemungkinan kami akan minta majelis hakim untuk panggil, jelaskan di persidangan supaya clear, supaya jangan ada dusta di antara kita dan gunjang-ganjing,” jelas Tommy.

Spertinya cukup jelas, ya, bahwa SBY akan digeret namanya ke pengadilan, bahkan akan dilaporkan ke pihak yang berwajib. Padahal, dari awal tim penasihat Ahok yang memulai, mencatut nama SBY di persidangan. Ketika SBY mencoba mengklarifikasi itu semua, dan dia merasa disadap, malah SBY yang dituduh memfitnah mereka.  

Kita tidak tahu pasti permainan apa yang akan diolah oleh Penasihat Ahok untuk melepaskan si terduga penista Al-Qur’an dan ulama, Ahok. Apakah dengan menggeret nama SBY, pengadilan tidak fokus lagi menangani kasus utama Ahok, yaitu soal penistaan agama.

Dan apakah SBY juga bisa menahan diri ketika dihantam lagi ancaman seperti itu? Jika SBY kembali merespon tim penasihat Ahok tersebut, bisa jadi pengalihan isu hukum Ahok malah ke SBY, bukan fokus ke Ahok lagi. Bisa dibilang SBY juga terjepit saat ini, ia serba salah, maju salah, mundur juga salah. Tapi kita lihat bagaimana tanggapan dari keluarga Cikeas soal ancaman tersebut? Semoga diberi kemudahan dalam urusan yang berbelit-belit ini. [Asmarainjogja.id]

Baca juga:

Ahok dan Pengacaranya yang Mengusik SBY, Kenapa SBY Dibilang Berlebihan?

Jebakan Batman untuk KH Maruf Amin dari Pengacara Ahok

Lima Tuduhan Keji ke Susilo Bambang Yudhoyono

Wisata baru di Mangunan, Watu Goyang

Padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas