Foto Ilustrasi Flickr

Sejak kenal dan akrab dengan Nia, baru kali inilah aku diajak main ke rumahnya.Dengar-dengar dari teman, ayah Nia galak.Galak?Oke, nggak masalah, yang jelas ini adalah kesempatanku mengenal ayahnya.

Ibu Nia sendiri sudah meninggal sejak dia masih kecil.Sejak itu pula ayah Nia sekaligus menjadi seorang ibu baginya.Karena kesetiaan ayah Nia pada almarhumah ibunya, ayah Nia nggak mau mencari pendamping hidupnya lagi.

Pernah suatu ketika Nila bilang begini: Ayah nggak mau nikah lagi, karena cinta nggak bisa tergantikan. Biarlah begini, sampai suatu hari nanti ayah bisa menyusul cinta yang dirindukan untuk ibu di sana.

Sebagai seorang cowok berusia 20 tahun, aku belum tahu betul cinta itu bagaimana? Apakah cinta itu seperti yang dibilang ayah Nia, jika sudah mendapatkan cinta, tak bisa digantikan dengan cinta yang lain. Sekalipun orang yang dicintai sudah pergi untuk selamanya.

Aku dan Nia tak pernah pernah mengungkapkan isi perasaan kami masing-masing.Apakah Nia juga mencintaiku?Aku juga nggak tahu.Sebatas temankah?Aku juga nggak tahu.Atau Nia hanya menganggapku sebagai saudara?Mengingat dia putri semata wayang. Ah … entahlah.

Tapi … cinta ini ada. Terus bertunas, berdaun rindang, memayungi hatiku yang kadang diliput lara.

Jantung berdebar, peluh di dahi sebulir jagung terus menetes.Sebenarnya malam Minggu ini cukup dingin, tapi aku merasakan sedikit gerah.5 menit aku di atas motor di halaman rumah Nia mempersiapkan diri.

Oke … aku menenangkan diri, serileks mungkin kuatur sedemikian rupa. Lalu melangkah, mengetuk dan mengucapkan salam.Tentu saja, walaupun wajah sok cool, namun, jantung berdegub-degub tak karuan. Fuihhhh …

“Eh, Jodi, udah sampe.Ayo masuk!” gadis sebayaku itu sumringah setelah membuka daun pintu.

Terdengar suara berat dari seorang lelaki, mungkin itulah ayah Nia, “Siapa tamu malam-malam gini, Nia?”

“Teman Nia, Yah!” jawab Nia.

Aku melirik kursi di beranda rumahnya, “Enaknya duduk di luar aja deh.Lagian agak panas, nih.”

“Panas?Kayaknya dingin, deh. Tapi terserah kamu aja, duduklah!Tunggu bentar, ya?!” ucapnya lagi, setelah berjalan beberapa langkah, “ayahku baik kok, kamu jangan tegang gitu dong!Santai!”

“Hah? Siapa yang tegang?Perasaan kamu aja tuh!”

Nia tertawa kecil, lalu berjalan cepat masuk ke rumahnya.Ehem … ehemm … suara berdehem tampak terdengar mendekat.

Ternyata Ayah Nia.Nggak bersahabat tatapnnya.Matanya bulat dengan kening berkerut, 7 detik mata hitam itu menatap buas ke arahku.

“Kamu siapa?”tanya lelaki yang berbadan tinggi. Kepalanya yang menjulang tinggi hampir mengenai gawang pintu.

“Hmm ..saaayaJodi, Om.. saaaya ..temannya Nia, iiiya … iya teman sekampus Nia, Om.”Jawabku sembari menyalam tangan ayah Nia.

Pria yang sudah berambut agak keputihan itu membetulkan kacamatanya, badanya tinggi besar dibalut piama, dan bersyal yang terlilit di leher.Kemudian duduk setelah menatapku begitu lama.Sekilas ayah Nia tampak sehat bugar, mungkin karena bawaan eks- prajurit TNI yang tak bisa hilang itulah penyebabnya.

Aku juga nggak percaya kalau beliau menderita sakit jantung.Tapi, kata Nia sih begitu.

“Tinggal di mana kamu?” disusul tanya berikutnya setelah beliau berdehem, “dan orangtua kamu kerja apa?”

“Saya tinggal di Perumnas Taman Sari, Om,” kucoba mendongak, memberanikan diri membalas mata calang beliau, “kalau orangtua sudah meninggal, sejak saya masih kecil.Dan sekarang tinggal sama paman di perumnas.”Kutundukkan lagi wajahku.Mata ayah Nia masih mengikat pandangannya ke arahku.

“Oh … maaf, nggak bermaksud buat kamu sedih.”

“Iya, nggak apa-apa kok, Om.”Aku mengangguk sambil tersenyum.

“Ini lho, Yah, yang Nia bilang Jodi itu,” celetuk Nia datang membawa nampan di tangannya, “ayo minum tehnya, Jo, mumpung masih hangat.”

Ahhh ..untung Nia cepat datang, kalau nggak, sampai kapan jadi orang kaku seperti ini.Betul yang dibilang teman-teman, nggak perlu bicara, tatapan ayah Nia saja begitu galak.

Oh, Tuhan … semoga saja beliau jangan banyak tanya yang macam-macam lagi.

“Jodi ini hebat lho, Yah, dia salah satu inspirator di kampus.Dia dan teman-teman yang lain, sebagai pelopor UKM di kampus, dan UKM mereka juga sudah masuk ke desa-desa,”ujar Nia bernada bangga melapor pada ayahnya.

“Usaha tas kulit kecil-kecilan kok, Om,” sambungku.

“Bagus … itu bagus, anak muda harus kereatif, bisa berkarya, dan bisa menjadi insipirator untuk bangsa ini,” ayah Nia mengangguk mantap menatapku, “anak muda itu harus memiliki sifat yang jujur, santun, penyayang, cinta tanah air, peduli terhadap sesama, dan satu lagi, kalau bicara balas tatapan mata orang yang diajak bicara. Bukan melirik kesana-sini, atau menekur kepala ke lantai!”

“Apaan sih, Ayah!”Nia menyikut pelan perut ayahnya dengan tawa.Begitu juga eks-prajurit itu, membalas tawa putri semata wayangnya.Dan aku? Aku hanya tersenyum, tak bisa tertawa sama sekaliseperti mereka.

“Ngomomg-ngomong, kalian ini teman atau teman?”tanya ayah Nia setelah menyeruput teh, dan melirik ke kami.

Aku tersedak, teh di gelas yang kupeganghampir jatuh ke lantai.

“Iiiihhhh … ayah terus deh gitu!Teman lho, Yah, temannn!” Jawab Nia, ekor matanya sekilas memandanku.

“Iya, Om, cuma teman aja,” aku menyakinkan beliau.

“Kalian ini masih kuliah, tugas kalian adalah belajar yang baik.Buatlah bangga pada orang-orang yang sudah berharap penuh sama kalian, jangan sampai mengecewakan mereka!” tegas Ayah Nia dengan nada serius.

“Iya, Yah, iyaaa!” jari telunjuk dan jari tengah Nia teracung berbentuk V, “janji Nia akan selalu Nia tepati, Yah.”

Anak dan ayah itu saling tersenyum.Bahasa mata mereka saling memahami.Dan aku sendiri mengangguk mengiyakan nasihat beliau.

Kami terus mengobrol bertiga di beranda rumah Nia.Dan betapa senangnya aku, ternyata ayah Nia itu orangnya asyik, seru, menyenangkan, dan punya selera humor juga.Ya, walaupun awal obrolan kami cukup menegangkan.Tentu saja ketegangan itu hanya aku yang merasakan.

Beliau juga bercerita pengalamannya pada masa muda dulu. Awal mula berjumpa dengan almarhumah ibu Nia, saat mengemban tugas di hutan Aceh, masa panas GAM, sampai kelahiran Nia, dan sebab meninggalnya ibu Nia.

Kini aku paham, kenapa ayah Nia begitu sangat menyayangi putrinya dan tak mau mencari  cinta lain, selain cinta almarhumah istrinya.Rasa kehilangan ini sepertinya yang buat kami semakin akrab.

Kalau aku dibesarkan oleh paman dan bibi, sementara Nia dibesarkan ayah dan neneknya.Tapi, aku belum sempat mengenal nenek Nia. Kata Nia, 5 tahun yang lalu meninggal.Rasa kehilangan pada Nenek yang membuat Nia dan ayahnya semakin saling menjaga, menyanyangi dan mencintai dengan rasa yang lebih dari sebelumnya.

“Sepertinya sudah malam,” ucap ayah Nia melihat jam di pergelangan tangannya.

“Oh, iya, Om.Nggak terasa asyik ngobrol.Oke deh, Om, saya pamit dulu!” aku jabat tangan ayah Nia, dan menatap senyum ke Nia, “aku pulang, sampai jumpa di kampus, ya?!”

“Hati-hati, Jo,  jangan ngebut!”tangan Nia melambai.

Sebelum kuhidupkan mesin motor, ayah Nia mendekat, setengah berbisik ke telingaku, “Nak Jo, om ini sudah tua, om juga sudah sakit-sakitan. Nak Jo, juga tahu, kan? Om juga pernah muda seperti kalian. Bibir bisa mengunci rahasia cinta, tapi tatapan mata kalian tidak!Cinta itu berbinar di mata orang yang saling mencintai.”

Aku hanya diam, tak bisa menjawab, apalagi beralasan macam-macam untuk menutupi perasaan yang sebenarnya pada Nia.

“Kalian harus paham, cinta itu ada tempat dan waktu.Sekarang kalian harus bersabar, dan ikhlas, gapai dulu impian kalian. Kamu tentu sudah tahu kenapa om nggak mau mencintai perempuan lain, selain ibu Nia. Ya, karena om harus sabar dan ikhlas. Menunggu cinta itu sendiri yang menyatukan kami lagi di sana. Kamu bisa janji, kan?Dan juga menjaga baik Nia suatu hari nanti?” begitu serius dan penuh harap di wajah beliau.

“Biiisa, Om, biiiiisa! Insya Allah, bisa.”Jawabku dengan gugup.

“Ngomong apaan?Kok serius bangetttt!”Nia teriak dari teras rumah.

“Urusan kaum lelakiii!” ayah Nia menjawab disusul gelak tawa.

Janji?Bisakah aku menepati janji ayah Nia. Dan sehebat apa aku suatu hari nanti untuk menjaganya? Uhhh … benarkah kekuatan cinta bia menguatkan seseorang?Aku tidak begitu percaya.

Kulirik pria yang berumur 57 tahun itu, dia bisa menjalani hidupnya dengan baik.Cintanya pada keluarga, dan Negara.Membesarkan Nia sampai sekarang tanpa harus menggantikan cinta almarhumah istrinya.Beliau bisa.Ya, ya … aku harus bisa. Harus bisa!

***

Sedu sedan Nia tak bersudahan.Tangisannya serak keluar dari tenggorokan.Matanya sembabsudah kering dengan air mata.

Menjelang maghrib itu, awan menggumpal hitam berarakan tersapu angin.Sesekali Guntur menggelegar hebat pekakkan telinga.Dedaunan pun berjatuhan di tanah pusara ayah kami tercinta. Keluarga yang lain sudah meninggalkan kami sejak tadi.

“Mari, pulang, Nia!Sudah mau hujan, nanti kamu sakit. Jaga juga kesehatan bayi kita,”  bujukku kesekian kalinya.

Nia tak menyahut.Hanya tangisan yang keluar dari mulutnya.Tangannya mencakar tanah yang masih menguning itu.Dan matanya tak berkedip, hanya tatapan kosong mengarah orang yang dicintainya itu di balik tanah pusara.

“Sayanggg, aku udah janji dengan ayah untuk menjaga kamu.Kamu ingatkan, waktu aku pertama kali datang ke rumah?Dan kamu ingatkan sebelum aku keluar dari pagar rumah, ayah menghampiriku sebentar?”

Nia masih terdiam.Tak menjawab.

Kupeluk dan kuciumi keningnya, air mata pun kembali menetes, “Ayah bilang begini: Nak Jo, om ini sudah tua, om juga sudah sakit-sakitan. Kalian harus paham, cinta itu ada tempat dan waktu.Sekarang kalian harus bersabar, dan ikhlas, gapai dulu impian kalian. Kamu tentu sudah tahu kenapa om nggak mau mencintai perempuan lain, selain ibu Nia. Ya, karena om harus sabar dan ikhlas. Menunggu cinta itu sendiri yang menyatukan kami lagi di sana. Kamu bisa janji, kan? Dan juga menjaga baik Nia suatu hari nanti?”

Lanjutku lagi, “Nia, cinta itu harus sabar dan ikhlas.Kita harus kuat seperti ayah yang pernah ditinggalkan ibu.Kita harus bersabar atas ujian dari Allah, dan ikhlas atas kepergian orang yang paling kita cintai. Insya Allah, Nia, insya Allah, kita semua bisa berkumpul di surga. Mari, sayangg, kia pulang, ya?”

Mata Nia yang sendu menatapku begitu lama.Kemudian membalas pelukku begitu erat sembari berbisik ke telingaku. Dan Nia pun akhirnya mau berdiri, tertatih-tatih iaberjalan dalam pelukanku.

Hari kian gelap, angin bertiup kencang meliukkan pepohonan yang bisa saja tumbang.Ranting-rantingnya pun berpatahan, bergemeretak ke tanah.Beberapa detik kemudian menggelegar suara petir begitu kuat, dan kilatan berbentuk serabut akar membelah langit yang menghitam pekat.Tetes hujan pun semakin deras, mengguyuri kami di bawah payung hitam.[asmarainjogja.id]

Penulis:  Asmara Dewo

Baca juga cerpen lainnya: 

Melukis Kolong Langit

Yuk, gabung di Media Sosial kami!  Google+  Fanpage  Facebook  Twitter  YouTube

 








Custom Search



Komentar Untuk artikel Ini (2)

  • Asmara Dewo Sabtu, 19 Maret 2016

    Hehhe ... terima kasih, Risa :)

  • RIRI RIsa Sabtu, 19 Maret 2016

    Cinta sejati tak akan pernah mati Sukses kak Dewa.

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas