Ketua SI Semarang, Semaoen | Foto Wikipedia

Asmarainjogja.id – Di usianya yang begitu muda, 14 tahun, Semaoen sudah masuk ke pentas perpolitikan Hindia Belanda (nama Indonesia di zaman pemerintahan Belanda).

Latar belakangnya memengaruhi pergerakan nasional di awal abad 20 itu adalah bentuk kegeramannya terhadap Belanda.

Pada masa awal abad 20 inilah semai benih nasionalisme mulai tumbuh. Berabad-abad lamanya tanah air Indonesia dikuasai dan memperbudaki kaum pribumi oleh kolonial Belanda.

Syarekat Prijaji yang didirikan pada tahun 1906, salah satunya adalah Raden Mas Tirtho Adhi Soerjo. Organisasi pertama pribumi itu pula cikal bakalnya organisasi, seperti Budi Utomo yang didirikan di tahun 1908 dan SDI (Serikat Dagang Islam) pada tahun 1909.

Yang semua itu didasari atas keinginan putra pribumi agar bisa mandiri tanpa campur tangan Belanda demi kepentingan rakyat pribumi.

Baca juga:  Marco Kartodikromo, Pencetus Sama Rasa Sama Rata yang Mengancam Kedaulatan Belanda

Nah, SDI di kemudian hari berganti menjadi SI (Serikat Islam) yang saat itu diketuai oleh Haji Omar Said Tjokroaminoto di Surabaya pada tahun 1912. SI di masa kepemimpinan Bapak Guru Bangsa tersebut mengalami pertumbuhan anggota yang semakin banyak, tercatat di masa HOS Tjokroaminoto, sudah mencapai 2,5 juta.

Serikat Islam yang dipimpin Tjokroaminoto semakin meluas dan kuat. Dan SI di Semarang pada tanggal 6 Mei 1917 dengan komposisi yang baru, Semaoean menggantikan Moehammad Joesoef sebagai Presiden SI Semarang sebelumnya.

Berikut jabatan yang baru di tubuh SI Semarang:

Presiden: Semaoen

Wakil Presiden: Noor Salam

Sekretaris: Kadarisman

Komisaris: Soepardi, Aloei, Jahja Aldjoefri, H Busro, Amat Hadi, Mertodidjojo, Kasrin.

Yang sangat mengagumkan adalah saat itu Presiden Serikat Islam Semarang, yaitu Semaoen masih berusia 19 tahun. Sangat muda sekali sudah menduduki kursi presiden di partai tersebut.

Namun, Semaoen muda memiliki jiwa kepemimpinan yang sangat bagus. Ia presiden disegani dan dihormati oleh para anggotanya, karena ia sosok muda yang cerdas, berani, dan revolusioner.

Baca juga:  Politik Buya Hamka yang Dibenci tapi Sosok yang Dimuliakan

Saat kepemimpinan Semaoen pula, SI Semarang anggotanya semakin banyak yang juga terdiri dari kaum petani dan buruh. Sebelumnya rakyat-rakyat kecil tidak tertarik menjadi anggota organisasi.

Semakin garangnya Semaoen terhadap Pemerintahan Hindia Belanda tak luput dari peran Henk Sneevlit, sosok Belanda yang menyebarkan paham sosialisme ke Hindia Belanda.

Semoen belajar berorganisasi, menganilisis, dan memahami realitas sosial terhadap Sneevlit. Dan tentu pula Semaoen juga banyak belajar dari Tjokroaminoto.

Karena pemikiran yang revolusioner ini pula ia keluar masuk penjara dari berbagai tuduhan oleh Belanda.

“… di sini hiduplah suatu rakyat yang sabar, suka menurut saja bertahun-tahun. Dan sesudahnya Diponegoro, tidak ada satu pun pemuka yang menggerakkan rakyat buat pegang nasibnya sendiri dalam tangannya sendiri,” terjemahan Semaoen dari tulisan Sneevlit. Dikutip dari buku Di Bawah Lentera Merah, Soe Hok Gie.

Baca juga:  Sang Pemula, Tirto Adhi Soerjo yang Ditakuti Belanda

Bercokolnya Belanda di tanah air selama beratus-ratus tahun juga tak lepas dari orang-orang pribumi sendiri, yaitu golongan priyayi yang bekerja di Gubermen Belanda.

Melalui golongan ini pula Perusahaan Belanda, seperti Pabrik Gula semakin bertambah penghasilannya. Sementara pekerjanya, rakyat pribumi semakin miskin.

Lahan tebu milik perusahaan Belanda semakin meluas, yang mana sebelumnya lahan tersebut adalah persawahan warga.

Pada tahun 1919, para pengusaha perkebunan Belanda memberikan honor  f 2,50 (dua setengah rupiah Belanda) setiap satu bau (1 bau = 7096,50 meter persegi) kepada lurah-lurah yang bisa mengubah sawah-sawah desa dijadikan kebun tebu.

Nah, melalui tangan-tangan Pemerintahan Hindia Belanda, yakni lurah pribumi, inilah akhirnya lahan sawah milik rakyat petani dikuasai Belanda, dengan biaya sewa yang sangat murah, pemaksaan, dan penuh kelicikan.

Dan pekerjanya secara masal adalah pribumi itu sendiri, yang semakin lama semakin miskin, karena tidak bisa bertanam padi lagi. Satu-satunya hanya mengharapkan gaji dari pabrik tebu.

Baca juga:  Pesan Pangeran Ario Condronegoro (Kakek R.A. Kartini) dan Karya Tulis Anak-anaknya

Sinar Djawa merupakan surat kabar SI Semarang yang dipimpin oleh Semaoen, tak tinggal diam melihat keadaan bangsanya. Melalui surat kabar itu pula ia “menyerang” pemerintahan Belanda dan Pabrik gula. Juga menyumpahi kaum priyayi yang bersekongkol dengan Belanda hanya demi uang dan jabatan yang begitu tega mengorbankan warganya sendiri.

Dalam kata pengantar Sinar Djawa menyatakan bahwa haluan Sinar Djawa akan lebih radikal, dan terhadap Pemerintah Belanda mereka akan menilainya secara jujur. Sedangkan terhapadap kaum kapitalis, dan kaum priyayi yang memeras akan dimusuhi.

Selain membela kaum tani, Semaoan sebagai Presiden SI Semarang, secara militan membela kaum buruh di daerahnya. Ketika itu terjadi pemecatan 15 buruh di perusahaan meubel. Semaoen dan Kadarisman atas nama Serikat Islam Semarang memproklamirkan pemogokan massal, dan menuntut tiga hal.

Pertama, pengurangan jam kerja, dari 8,5 jam menjadi 8 jam. Kedua, selama mogok kerja, gaji dibayar penuh. Dan ketiga setiap buruh yang dipecat diberi pesangon 3 bulan gaji.

Atas pemogokan massal selama 5 hari itu pula, pihak mebel mengabulkan tuntutan mereka. Dan kesadaran itu pun muncul bahwa pemogokan kerja secara masal merupakan senjata yang paling ampuh memberikan pelajaran kepada perusahaan yang semena-mena terhadap buruhnya.

Baca juga:  Cerita Kartini Kecil di Sekolah dan Surat Kartini untuk Nyonya Van Kol

Senjata ampuh pemogokan kerja ini juga terus dilakukan di setiap perusahaan lainnya. Seperti kejadian di bengkel mobil, ketika itu sang majikan memukuli kulinya. SI Semarang ini menyatakan mogok kerja jika tidak diambil tindakan. Akhirnya tuntutan itu pun diterima.

Februari di tahun 1920 terjadi mogok besar-besaran di Semarang, yang dikoordinir oleh SI Semarang, Semaoen. Hal ini dilakukan karena bentuk perlawanan kaum majikan yang didukung pemerintah Hindia Belanda.

Jumlah keseluruhan mencapai 1.000 massa yang terdiri dari, buruh Van Dorp, dan buruh-buruh percetakan, buruh percetakan The Locomotif, Mist, Benyamin, Bischop, dan Warna Warta yang selama itu anti dengan Serikat Islam Semarang.

Meskipun mogok kerja, para buruh ini tetap mendapat tunjangan dari sumbangan-sumbangan   pengusaha yang pro terhadap buruh. Misalnya saja pengusaha kayu kaya Haji Busro, yang juga Komisaris SI Semarang. Soemitro, pengusaha kretek dari Kudus, masing-masing menyumbang 3.000 Gulden.

Baca juga:  3 Tokoh Bangsa yang Berpesan Kepada Buya Hamka

Direktur Bangk Tionghoa di Semarang juga ikut menyumbang sebesar 5.000 gulden. Para buruh-buruh Cina juga ikut menyumbang 100 gulden sebulan selama terjadi pemogokan.

Pemogokan kerja van Dorp dan De Locomotif salah satu pemogokan terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Tulis Soe Hok Gie dalam Buku Di Bawah Lentera Merah.

Pada tanggal 23 Mei 1920, lahirlah Perserikatan Komunis Hindia yang kemudian menjadi Partai Komunis Indonesia, dan Semaoen terpilih sebagai ketua.

Di tubuh Serikat Islam Semarang yang pro terhadap Semaoen juga turut tergabung dalam Perserikatan Komunis Hindia. Sedangkan yang menentang keputusan ini, para anggota SI Semarang keluarga dari organisasi tersebut.

Namun pada akhirnya Semaoen dan Darsono keluar dari tubuh PKI itu sendiri. Sedangkan Sneevlit penyebar benih sosialis di Hindia Belanda juga keluar dari PKI, dan di kemudian hari ia meninggal diujung bedil algojo Hitler di Jerman. Dan tetap konsekuen sampai mati membela kaum yang terindas.

Soe Hok Gie memuji bahwa gerakan Serikat Islam di Semarang di bawah kepemimpinan Semaoen, terlepas dari apa yang pernah mereka perbuatnya, merupakan lembaran-lembaran paling indah dan agung dalam sejarah Indonesia, Asia, dan Dunia.

Semaoen yang lahir di Desa Curah Malang, Desa Cuboto, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, sekitar tahun 1899 ini salah satu tokoh di awal pergerakan nasional abad 20 yang cukup panjang umurnya. Ia meninggal di tahun 1971, di usia 72 tahun. [Asmara Dewo]

Lihat juga:  Clorist Florist Pesanan Bunga Terbaik di Yogyakarta

Clorist Florits



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas