Ilustrasi ramadhan | Foto Reuters

Asmarainjogja.id – Saya perhatikan  perkembangan netizen Indonesia, semakin hari, kok, bertambah menyeramkan saja. Mem-bully, menghina, mengucapkan kata-kata SARA, ikut-ikutan menyebarkan berita hoax, berdebat tiada ujungnya, dan masih banyak lagi kegiatan netizen Indonesia yang tidak bermanfaat sama sekali.

Dan satu lagi gemar sekali mengurusi yang bukan urusannya, padahal kenal juga tidak, saling sapa lewat komentar pun tidak. Tapi muncul bak petir di siang bolong membabibuta lewat komentar yang menurutnya tidak sependapat. Kebiasaan buruk ini sangat berbahaya sebenarnya, bisa menular ke netizen lainnya, saran saya jika Anda berteman dengan akun tipe seperti ini sebaiknya langsung diblokir.

Sebenarnya apa penyebab netizen ini mudah sekali menuliskan hal-hal yang tidak pantas di dunia maya? Mungkin jawaban sederhananya karena tidak berhadapan langsung. Hanya lewat smartphone, ketik sesuka hati, lalu kirim. Tidak pernah dipikirkan komentar tersebut menyakiti orang lain tidak? Bisa menimbulkan keresahan tidak? Atau hanya berkomentar SARA bisa berujung di penjara?

Sayangnya netizen Indonesia yang tidak rasional lagi sudah kebablasan memahami demokrasi. Akibatnya apa? Jelas merugikan diri sendiri, di lingkungan sosial saja dikucilkan, karena sungguh tidak asyik berhubungan dengan pemilik muluk kotor. Sedangkan dari hukum sendiri, bisa jadi dia kena sanksi pidana. Bukankah mulutmu harimaumu? Yang menerkam sendiri karena tidak bisa menjaga lidah.

Kemungkinan besar netizen yang komentarnya selalu buruk, suka mem-bully, berkata-kata yang tidak pantas, dan suka sekali mengurusi kehidupan orang lain, di dunia nyata pun dia memang seperti itu. Kebiasaan buruk ini pula bisa jadi karena mulutnya memang tidak terbiasa mengangungkan asma Tuhannya, jika dia Muslim, mungkin tak pernah berdzikir. Bisa jadi memang tidak pernah sholat lagi. Sebab orang Muslim paham sekali, sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Nah, sekarang bulan suci ramadhan telah tiba, bulan penuh rahmat, berkah, dan ampunan. Jika seseorang itu benar-benar serius menjalankan ibadah puasa dan beramal sholeh lainnya, insya Allah apa yang dijanjikan Allah SWT pun bisa didapatkan. Seandainya berpuasa itu hanya sekadar menahan lapar, binatang juga bisa menahan lapar, berhari-hari malah. Tapi perintah berpuasa tidak sebatas itu, selain menahan lapar juga harus mampu menahan hawa nafsu.

Di antaranya adalah menahan untuk tidak berkomentar hal-hal buruk di internet. Tidak lagi mem-bully siapapun yang dianggapnya salah. Dan mulai menjauhi hal-hal buruk dari Internet. Ya, internet sekarang melekat erat dengan kehidupan manusia modern. Mulai dari urusan bisnis, sampai urusan tidak penting lainnya. Sayangnya netizen Indonesia tidak bisa memanfaatkan internet untuk hal kebaikan.  Wajar sekali jika netizen kita jadi ajang lahan basah berita dan artikel sampah, terlebih lagi adalah konsumen kompeten yang dijejali berita hoax.

Akibat buruknya ialah netizen semacam tadi semakin liar, sebebas semau gue di dunia maya. Tak perduli siapa yang di-bully, tak perduli juga siap yang jadi bahan leluconnya. Baginya dunia maya sebebas-bebasnya berkomentar, karena memang isi kepalanya selalu dituangi dengan bacaan sampah, sebab itu pula komentarnya kotor, yang berawal dari pikirannya yang kotor.

Yang menggelikan adalah ketika sudah berhadapan dengan pihak berwajib, mungkin ada yang melaporkannya karena dianggap melanggar UU ITE, ia seperti ayam potong yang ketakutan. Memalukan sekali memang. Tidak garang, dan tak berani berkoar-koar seperti di internet. Banyak sekali kasus seperti ini yang terjadi di negara kita.

Semoga di bulan yang penuh kebaikan ini, melalui rahamat-Nya kiranya ridho membuka hati dan pikiran netizen Indonesia yang sudah diambang batas. Apalagi yang bisa kita lakukan, sebab presiden, TNI, Polri,   pejabat-pejabat berpengaruh, tokoh masyarakat, dan tokoh agama saja tidak digubris dengan netizen. Sudah dibilang jangan mem-bully, eh, yang menyerukan malah di-bully. Jangan ikut menyebarkan berita hoax, malah berita hoax semakin subur. Dilarang juga jangan ikutan menghina, tapi kok jadi trend menghina agama orang lain.

Kalau sudah begini, kita mau berharap dengan siapa? Bukankah ini waktu yang tepat untuk intropeksi diri, sudahkah kita menjadi netizen yang baik? Netizen yang bisa mencerahkan kehidupan orang lain? Dan ikut bergerilya menyerukan kebaikan? Atau malah jadi kita salah satu netizen Indonesia yang suka mem-bully, suka berdebat tidak penting, gemar mengurusi orang lain, suka menghina orang lain, mulai dari fisiknya, bahkan agamanya.

Nah, unikya terkadang kita tidak merasa seperti itu, kita menganggap bahwa kita adalah netizen yang baik, padahalll… setiap kali memposting status selalu memicu keresehan, menimbulkan kebencian, membuat kegaduhan. Boleh-boleh saja kita kritis terhadap siapa dan apa saja, namun sampaikan dengan cara yang tepat lagi terpuji. Bukan dengan cara seperti penyebar teror, semua diratakan, tidak mengenal tempat, tidak mengenal orangnya. Padahal mungkin ingin menyerukan kebenaran dan kebaikan tapi malah seperti memancing permusuhan.[Asmara Dewo]

 

Baca juga:

Fenomena Akun Media Sosial si Penyebar Teror

Selfie Bersama Artis, Biar Pamer di Medsos?

Tiga Tips Jitu Agar Terhindar dari Menggosip

Cara Meraih Kebahagiaan Sejati



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas