Rumah Hobbit Seribu Batu Songgo Langit | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Asmarainjogja.id – Rumah Hobbit di Seribu Batu Songgo Langit lagi populer di kalangan para wisatawan. Padahal wisata ini sebenarnya sudah lama, hanya saja dengan adanya spot-spot baru untuk berfoto seperti rumah Hobbit tersebutlah, semakin ramai pengunjung.

Memang harus diakui wisata yang tidak ada spot untuk berfoto sepi pengunjung. Dulu juga Seribu Batu langit ini sangat sepi, bahkan pengunjung yang datang di sana setiap akhir pekan hanya mencapai 100 orang saja. Tapi sejak adanya rumah Hobbit, rumah-rumah kayu, dan spot kece lainnya untuk berfoto mencapai 1.000 pengunjung. Sebuah peningkatan yang menakjubkan.

Terlebih lagi pengunjung hanya dikenakan Rp 2.000 per orang untuk memasuki kawasan hutan pinus Seribu Batu Songgo Langit. Menjadikan wisata ini semakin banyak pengunjungnya. Membludaknya pengunjung di akhir pekan, pihak pengelola pun semakin membenah diri, mulai dari area parkir yang diperluas, fasilitas umum seperti Musholla, kamar mandi, dan tata kelola wisata yang semakin profesional.

Rumah Hobbit Seribu Batu Songgo Langit

Pintu masuk "Rumah Hobbit" Seribu Batu Songgo Langit | Foto asmarainjogja, Rizka Wahyuni

Minggu, 2 April 2017 kami ke Rumah Hobbit Seribu batu Songgo Langit yang berada di Dusun Sukaramai, Desa Mangunan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Seperti biasa “tugas” kami untuk mengeksplore wisata di Yogyakarta. Sebuah "tugas" yang kami anggap bentuk kewajiban untuk memajukan wisata di Bumi Mataram ini ke nasional, maupun internasional. Teman-teman banyak juga yang heran, setiap hari Minggu selalu jalan-jalan. Mereka menganggap kami orang yang kelebihan uang dalam hidup ini. Well, jika itu tanggapan mereka, setidak-tidaknya kami mempunyai kepuasan tersendiri. Apalagi saya dan Rizka Wahyuni mempunyai hobi yang sama, yakni travelling.

Lantas dari mana biaya perjalanan kami setiap hari Minggu itu? Yupsss, pertanyaan yang menarik memang. Anda harus paham, ketika kita membuka keran rezeki orang lain, maka keran rezeki kita pun akan ikut terbuka, bahkan bisa jadi kebanjiran rezeki. Tidak percaya? Ini soal keimanan, guys, baik terhadap manusia di bumi, Penguasa langit dan makhluknya pun akan memberikan jalan yang terbaik bagi kita. Wisssh… filosofis banget. Ya, karena hidup memang begitu adanya.

Nah, untuk parkir motor kami dikenakan Rp 2.000. Kendaraan lainnya, seperti mobil tarifnya Rp 5.000, sedangkan bus Rp 20.000. Jadi Anda jangan khawatir jika mengunjungi ke rumah Hobbit ini bersama teman lainnya menggunakan bus, karena area parkirnya sangat luas. Aman itu, boss!

Gapura pintu masuk wisata itu dibuat dari kayu yang diukir indah, Wisata Seribu Batu Songgo Langit. Petugas tampak berjaga di sebelah kiri pintu masuk dengan memegang tiket, sedangkan di gapura terdapat pos yang dijaga sekitar 6 petugas yang sibuk memberikan tiket bagi pengunjung dari atas motornya. Di belakang pos itulah Musholla mini beratapkan terpal berwarna biru.

Flying fox di Seribu Batu Songgo Langit

Flying fox di Seribu Batu Songgo Langit | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Saat pandangan pertama saja di wisata ini, kami sudah takjub luar biasa. Suasanya yang sejuk, wisata yang dikelola dengan apik, ramainya pengunjung, dan permaianan out bond, seperti flying fox turut menyemarakkan wisata alam yang sedang hits ini. Bagi Anda yang ingin merasakan sensasinya bergelantungan di flying fox, permainan seru ini hanya memasang tariff Rp 15.000. sangat murah, guys. Saya juga melihat yang main flying fox ini juga ada anak-anak yang usianya masih empat tahun. Wow, sekali bukan?

Karena perut sudah lapar duluan, kami pun menyisir warung-warung berjejer rapi sesuai selera kami. Warung di sana pada umumnya menjual mie dan nasi goreng. Ya, kami pun memilih warung yang sepi pengunjung agar lebih leluasa mengobrol. Harga menu di warung itu juga sama dengan warung-warung di luar, jadi Anda jangan khwatir kalau ingin bersantap ria di sini suatu hari nanti.

Sambil menikmati menu hidangan nasi goreng, saya penasaran sekali bagaimana, sih, bentuknya rumah Hobbit itu? Atas pengakuan Rizka, dia tahu rumah Hobbit itu karena pernah menonton film The Lord of the Rings. Saya sendiri pernah menonton film fantasi itu, hanya saja lupa bagaimana rumah hobbit itu. Baiklah kami santap dulu makanan di atas meja tersebut, nanti juga akan tahu sendiri.

Sekitar 1 jam kemudian, kami pun kembali beraksi menelusuri Wisata Seribu Batu ini dengan menapak mantap. Kami melalui dari jembatan yang terbuat dari bambu, saat itu tampak hilir mudik pengunjung yang sedang masuk dan keluar. Kreatifnya pihak pengelola adalah mereka membuat jalur di sebelah kiri dan kanan. Jadi pengunjung tidak akan “tabrakan” meskipun di jam-jam padatnya pengunjung. Bahkan untuk menuju ke bawah itu sebenarnya ada tiga jalur, yang pertama dari gapura depan tadi, kedua dari yang kami lalui ini, sedangkan yang ketiga berada di area flying fox.

Rumah Kayu di Seribu Batu Songgo Langit

Rumah Kayu di Seribu Batu Songgo Langit | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Seperti yang sudah saya singgung di awal tadi, di sini itu banyak spot untuk berfoto. Karena inilah salah satu tujuan para pengunjung mendatangi wisata ini. Meskipun banyaknya spot untuk berfoto, kami harus bersabar dan antri dengan pengunjung lainnya. Misalnya saja di rumah kayu bertangga yang beratap lancip, kami harus menunggu para wisatawan lainnya. Spot cantik untuk berfoto ini sangat kreatif dan bernilai seni tinggi.

Rumah kayu di Seribu Batu Songgo Langit

Rizka Wahyuni berpose di Rumah kayu di Seribu Batu Songgo Langit | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Setelah mengabadikan Rizka Wahyuni di foto, kami pun beranjak ke rumah kayu lainnya. Sekitar 30 meter dari sana, kami melihat rumah kayu yang selama ini berseliweran di media sosial. Di rumah kayu unik ini kami tidak lagi mengantre di depan untuk berfoto, karena memang tidak bisa menunggu pengunjung kosong. Selalu ramai wisatawan untuk berfoto di sini. Tidak masalah, setidaknya Rizka sudah cukup bahagia difoto meskipun di antara kerumuman para wisatawan lainnya.

Lalu kami melihat sebuah batu yang ukurannya sangat besar dan tinggi sekali. Menuju ke atas batu itu kami harus menaiki jembatan bambu, dan memanjat batu raksasa tersebut. Sangat licin dan berbahaya, harus ekstra hati-hati. Sampai di atas memang sangat seru sekali, tak heran pengunjung yang sudah naik, malas turun ke bawah lagi. Di atas batu raksasa itu kami cukup lama istirahat untuk melepas sejenak rasa letih.

Sebenarnya saat itu kami juga menunggu yang main flying fox, karena tepat di hadapan kami kabel flying fox menjulur panjang dari atas ke bawah. Mungkin karena jam istirahatlah, yang kami tunggu pun tak hadir. Bosan menunggu kami pun akhirnya turun lagi memburu rumah Hobbit. Berjalan beberapa langkah, rumah Hobbit pun sudah ada di depan kami. Tapi… untuk kali ini harus lebih sabar lagi mengantrinya. Lamaaa betul, guys. Untunglah saya ini orang yang paling penyabar, hahaha.

Rizka wahyuni di Rumah Hobbit

Rumah Hobbit di Seribu Batu Songgo Langit | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Oh ya, rumah Hobbit itu dibuat dari kayu, atapnya bundar seperempat lingkaran. Sama seperti rumah manusia lainnya ada jendelanya. Tapi yang pasti, rumah ala negeri dongeng ini pendek, karena Hobbit yang ada di film itu memang makhluk-makhluk kerdil yang menggemaskan. Maka dibuatlah rumah Hobbit di Seribu Batu Songgo langit itu persis di film itu. Ditambah lagi tumbuh-tumbuhan di atas, samping kanan-kiri, dan sekelilingnya, menambah rumah Hobit ini sangat keren dan instagramable untuk berfoto. Ya, sebuah rumah para kurcaci di bawah hutan pinus yang menjulang tinggi.

Ternyata, guys, petualangan seru kami mengungkap keunikan wisata Seribu Batu Langit ini belum berakhir. Berdasarkan informasi petugas Flying Fox, menuju ke atas lagi ada taman Seribu Batu dan view indah Songgo Langit. Itu artinya yang kami lalaui ini masih setengah keindahan.

“Menuju ke Songgo Laangitnya dari sini sekitar 1 KM, Mas,” kata petugas itu kepada saya.

“Ikuti saja jalan ini, nanti ada petunjuknya, kalau ke kiri ke Taman Seribu Batu, sedangkan ke kanan Puncak Songgo Langit,” kata dia lagi.

Wah, 1 KM, berarti kami harus treckking melewati jalan setapak. Baiklah, untuk menuntaskan eksplore ini kami semakin semangat untuk menunaikannya.

“Kuatkan, Dek?” tanya saya ke Rizka. Lanjut saya lagi sebelum dijawabanya, “harus kuatlah, cuma 1 KM, kan katanya mau naik Gunung Merbabu.”

“Kuatlah,” sahut Rizka mantap.

Rute ke Puncak Songgo Langit

Rute ke Puncak Songgo Langit | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Pepohonan pinus semakin rapat, batu-batu besar juga terlihat di sepanjang treck yang kami lalui. Tidak begitu banyak pengunjung di sini, mungkin tidak tahu atau bagaimana, bisa jadi juga karena malas 1 km berjalanan. Saya pastikan Anda tidak akan menyesal menuju Puncak Songgo Langit, terlebih lagi Anda seorang traveller penyuka sunyi. Cocok sekali jika menyempatkan diri menuju puncak.

Keringat mulai bercucuran, napas terengah-engah, tentunya itu si Rizka. Sedangkan saya sendiri masih mantap melangkah, bila perlu berlari menggeret Rizka sepanjang trecking, hahaha. Ya, Rizka memang gayanya saja sok anak gunung, padahal mudah lelah dan manjanya minta ampun. Saya juga berulang kali menyuruh dia lari pagi agar sehat, kuat, dan tahan ketika kegiatan seperti ini dilakukan. Tapi bukan Rizka namanya kalau dia bukan anak yang pemalas. Jadilah ia keletihan sepanjang jalan menuju Puncak Songgo Langit.

Tampak ia letih sekali, kami berhenti sejenak. Saya biarkan dia bernapas santai, jelang beberapa menit kemudian trecking dilanjutkan. Sepanjang jalan yang kami lalui adalah hutan pinus. Ada juga beberapa pohon untuk pembuatan minyak kayu putih saya lihat. Tapi selebihnya pinusss semuanya. Saya juga melihat ada beberapa pohon pinus yang tumbang. Tampaknya itu karena angin kencang saat hujan.

Anak sungai menuju Puncak Songgo Langit

Anak sungai menuju Puncak Songgo Langit | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Gemercik suara anak sungai terdengar, betapa syahdu terdengar ke telinga kami. Sungai itu mengalir cukup deras di bawah titi yang terbuat dari kayu dan bambu, airnya berwarna susu kehijauan. Di sana pula kami berjumpa pengunjung dari arah bukit.

“Semangat! Sebentar lagi sampai, kok,” katanya dengan nada patriot.

“Oh, terimakasih, berarti sudah dekat, ya, Mas?” tanya saya.

“Paling 200 meter lagi, Mas,” jawabnya.

Semakin mantap, kami kembali melangkah sambil bergurau dengan si menyebalkan tentunya. Benara apa yang dibilang rombongan tadi, tidak jauh dari sungai tadi kami sudah melihat dari jauh Puncak Songgo Langit. Pemandangan dari jauh saja sangat keren, apalagi dari dekat. Kami semakin cepat melangkah.

Di sana ada 2 gajebo dan 1 gardu pandang. Memang kelihatannya pengunjung jarang datang ke sini. Padahal, guys, pemandangan di sini sungguh indah. Dan saya pikir kalau ke Seribu Batu Songgo langit tidak sempat kesini, itu rugi sekali, guys. Tapi, ya, itu tadi Anda harus trecking sejauh 1 km. Pasti bisalah, si Rizka alias si pemalas akhirnya juga sampai di puncak ini. Masa Anda tidak?

Meski pengunjung sepi ternyata warga sekitar sering mencari rumput di sini, guys. Rumah mereka tepat berada di jurang bawah sana.

“Rumah saya di bawah sana, dari sini dekat. Tuh, nampah atapnya,” kata salah seorang ibu yang sedang mencari rumput itu.

Gardu Pandang di Puncak Songgo Langit

Gardu Pandang di Puncak Songgo Langit | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Setelah mengobrol hangat dan mengabadikan foto, kami duduk di gajebo menghadap panorama alam yang menakjubkan ini. Pemandangan hijau begitu sejuk dipandang, gugusan perbukitan nun jauh di sana membuat mata tak berkedip, dan persawahan begitu subur terlihat. Ah, semua yang kami lihat ini membuat kami malas pulang. Ya, kami benar-benar malas pulang.

Waktu terus berjalan, matahari semakin menjorok ke barat. Kami bergegas turun untuk menuntaskan petualangan ini ke taman batu. Satu tempat inilah yang belum dikunjungi. Memang saat naik begitu terasa lama di perjalanan, tapi kalau sudah turun alias pulang tak terasa sudah sampai. Apakah Anda pernah merasakan demikian?

Tiba di taman batu memang ada yang unik di sana, sebuah rumah pohon di atas batu raksasa. Di taman batu ini pula lumayan ramai pengunjung, karena jaraknya tidak begitu jauh dari Rumah Hobbit tadi. Ada beberapa kursi di sana, para pengunjung saya lihat sedang duduk santai bercengkrama dengan alam. Sedangkan Rizka berpose di atas rumah batu yang unik itu. Untuk melintas dari bongkahan batu ke batu lainnya tersedia jembatan bambu.

Rumah di atas batu, seribu batu

Rumah di atas batu | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Kami di atas rumah batu itu tidak begitu lama, setelah itu kami kembali turun. Dari Taman batu ke Rumah Kayu pertama tadi cukup dekat, tinggal beberapa meter saja kami sudah kembali di kerumunan wisatawan lainnya. Jadi kalau Anda ke sini sayang sekali kalau tidak ke Puncak Songgo Langit dan rumah kayu di atas batu tadi, guys. Kesanalah! [Asmara Dewo]

Liputan wisata ini disponsori oleh  Padusi Hijab   

Baca juga: 

Hutan Pinus Pengger, Wisata Malam yang Lagi Populer di Yogyakarta

The Lost World Castle, Sensasinya Seperti Tembok Cina

Tol Laut di Pantai Timang Pikat Wisatawan Malaysia



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas