Ilustrasi Persidangan Mahkamah Konstitui | Foto Antara

Asmarainjogja.id--Tensi politik di Indonesia sangat tinggi di tengah pesta demokrasi yang seharusnya dirasakan meriah dan penuh dengan kegembiraan. Namun harapan tak sesuai kenyataan, faktanya malah diisi dengan saling ejek, menghina bahkan menghujat antar sesama anak bangsa. Miris! Negara kita cintai ini hampir terbelah menjadi dua karena adanya kubu.

Yang satu menyebut pihak A si cebong, yang pihak A menyebut pihak B si kampret. Begitulah kira-kira kondisi sosial di masyarakat. Saling mengolok satu sama lain, bukankah kita semua adalah makhluk mulia yang diciptakan oleh Tuhan? Janganlah menjadi tuhan-tuhan kecil di dunia ini, sehingga mudah sekali menghakimi orang lain.

Dalam dunia politik itu tidak ada yang namanya teman abadi atau musuh abadi, yang ada hanyalah kepentingan pribadi. Bisa saja saat ini mereka saling serang satu dengan lain, namun kita lihat kedepannya, mungkin mereka bersalaman dan bermesraan. Nah, kita yang sebagai rakyat kecil hanya tertipu dengan permainan elit.

Masih ingat jelas diingatanku, dahulu dua orang capres tersebut saling dukung, membantu dan bahu-membahu satu sama lain. Tujuannya sama, yakni membangun bangsa, katanya. Berangkat pada pemilu tahun 2009 masih segar diingatanku ini, Megawati berpasangan dengan Prabowo sebagai presiden dan wakil presiden. Walau gagal, mereka tetap membangun kekuatan politik di ibukota

Benar saja, pada tahun 2012 orang yang gagal pada pemilu tahun 2009 tersebut mengusung jagoan mereka, terjadilah duet  maut antara Jokowi dan Ahok. Perjuangan membuahkan hasil karena mereka menang pemilu DKI Jakarta pada tahun 2012.

Namun apa yang terjadi pada tahun 2014? Nah, disinilah akar permasalahan yang timbul hingga saat ini. Terjadi pertarungan yang sengit antara Prabowo dan Jokowi pada pemilu 2014. Ternyata kawan menjadi lawan, yang dulunya mereka saling membutuhkan kini saling siku agar dapat duduk di singgasana istana.

Pemilu 2014 dimenangkan oleh Jokowi, maka yang sebelumnya mereka sama-sama menjadi oposan di lima tahun sebelumnya, pada 2014-2019 berbeda lagi kondisinya. Yang satu duduk di Pemerintahan namun yang satunya lagi menjadi oposisi. Kritik terus diluncurkan dari pihak yang kalah kepada pihak yang menang.

Apakah selesai ditahun 2019 perseteruan itu? Tentu tidak, justru makin panas tensi politik pada pilpres tahun 2019 ini. Cebong dan kampret saling disematkan pada kedua kubu. Pilpres 2014 terulang kembali pada tahun 2019, yang mana Jokowi kembali berhadapan dengan Prabowo.

Sebelum terjadi pemilihan dunia maya dipenuhi dengan kebencian dan caci maki. Elit sedang bersandiwara dan rakyat terlena dengan permainan mereka. Hanya karena mendukung si A lalu membenci si B. Apakah bangsa ini harus dengan cara membenci untuk mencapai tujuan?

Setelah pilpres selesai dilaksanakan ternyata tidak meredam suasana. Pihak yang kalah merasa telah dicurangi oleh lembaga penyelenggara pemilu. Pihak yang menang menyarankan agar kecurangan segera dibuktikan ke Mahkamah Konstitusi. Lalu apa yang terjadi selanjutnya?

Mahkamah Konstitusi (MK) telah selesai melakukan pemeriksaan perkara hasil pilpres. Sidang pemeriksaan gugatan sengketa hasil pilpres yang diajukan pasangan calon nomor urut 2, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, digelar sebanyak 5 kali sejak 14 Juni 2019 hingga Jumat (21/6/2019) kemarin. Selanjutnya, Mahkamah akan mempelajari, melihat, meneliti alat-alat bukti serta dalil dan argumen yang telah disampaikan selama persidangan (Kompas).

Hasil akhir atau final yaitu semua permohonan dari pihak pemohon ditolak oleh Hakim Mahkamah Konstitusi. Dan pihak pemenang sudah ditetapkan pasca persidangan, untuk selanjutnya tinggal menunggu proses pelantikan.

Dari semua rangkaian di atas apakah sudah selesai sengketa pemilu? Ada isu-isu juga yang berembus di publik bahwasannya akan dibawah ke ranah Mahkamah Internasional. Tapi itu semua hanya kabar angin yang tidak akan mungkin terjadi.

Lalu kemanakah sekarang cebong dan kampret? Kalau kita amati memang kondisi sosial politik saat ini sudah agak meredam, namun tak berarti hilang permusuhan kedua kubu tersebut. Jika kita lihat di media sosial masih ada saja saling olok-olokan, saling caci, saling menghujat, bahkan menghina.

Seperti sebuah drama yang tak ada habisnya, masyarakat masih terlena. Cenderung tidak ada penyelesaian pertikaian diantara kedua kubu. Padahal tujuan mereka merebutkan posisi jabatan strategis dan masyarakat dibawah tidak diuntungkan sama sekali.

Apakah rekonsiliasi antara Jokowi dan Prabowo dapat meredam suasana politik saat ini. Harapan masyarakat memang demikian, yang menjadi pertanyaan kapan mereka akan bertemu. Jangan-jangan pertemuan mereka membahas pembagian kursi menteri.

Kalau memang benar-benar begitu adanya, jelas sudah elit politik sangat haus akan jabatan. Dan rakyat dibawah menjadi korban sandiwara mereka bahkan sampai ada korban jiwa pada aksi massa yang berlangsung pasca pemilu. Di sana-sini juga banyak ditangkap elit politik dengan dalih makar.

Bagaimana dengan masa depan bangsa ini kedepannya, apakah akan terulamg kembali kekacauan politik pada tahun 2024?  Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah India. Ini menjadi pelajaran yang sangat berharga.

Dan apakah partai-partai politik yang saat ini sedang berkoalisi akan berbeda haluan pada koalisi selanjutya. Kita lihat saja nanti. Jika benar berubah maka jelas politik adalah cara untuk mencapai kekuasaan sedangkan partai menjadi alat mereka untuk berafiliasi.

Sudah saatnya kita bersatu walau berbeda agama, suku, budaya dan adat istiadat. Karena perbedaan itu seperti warna yang indah. Pelangi terlihat indah karena banyak perpaduan warna yang berbeda. Maka jadilah seperti pelangi, mari kita berpegang tangan untuk masa depan bangsa yang lebih baik lagi.

Penulis: Angin, anggota Komunitas Menulis Bintang Inspirasi

Baca juga artikel Angi lainnya:

Mengupas Tuntas Kondisi Pantai Jungwok dan Sekitarnya, Infrastruktur untuk Siapa?

Misteri Pasar Beringharjo Yogyakarta

Suasana di Titik Nol Kilometer Yogyakarta 

Pentingnya bagi Mahasiswa dalam Berorganisasi di Kampus 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas