Ilustrasi Sunmor UGM | Dok. pribadi

Asmarainjogja.id--Virus corona mulai berdampak pada perdagangan di Sunmor. Pasar pagi yang terletak di kawasan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu biasanya ramai dikunjungi, baik dari warga Yogyakarta sendiri, maupun wisatawan. Minggu kemarin, 15 Maret 2020, Sunmor sepi, lapak-lapak jualan banyak yang kosong, pengunjung pun tak seperti biasa yang padat merayap. Parkiran kendaraan pun turut lengang. Perekonomian pada kelas kecil mulai terasa. Karena Sunmor UGM para pedagangnya boleh dibilang kelas kecil, bahkan dari kalangan mahasiswa. Meskipun harus diakui para pedagang besar turut bermain di sana.

Sampai sekarang, Gubernur D.I. Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, memang belum mengintruksikan untuk menutup akses pariwisata. Untuk diketahui putaran perekonomian di Yogyakarta saat ini memang masih mengandalkan wisatanya. Jadi bisa diketahui jika menutup akses pariwisata artinya sama dengan menghambat ekonomi warga di sana. Walaupun risiko yang meski ditanggung sangat besar, warga sakit, atau boleh jadi bisa kehilangan nyawanya. Tentu Sultan yang sudah berpengalaman memerintah Yogyakarta punya cara sendiri bagaimana menghadapi persoalan sejuta umat tersebut. Dan di tengah situasi demikian, banyak pula yang mulai mengkritik Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu.

Sebagai pedagang di Sunmor yang sudah berjualan selama dua tahun lebih, tentunya saya sedikit banyaknya paham di lokasi. Sepanjang penjualan saya di sana, baru kali inilah omzet kami nyaris turun drastis. Biasanya omzet mencapai Rp. 1.500.000 (satu juta lima ratus ribu rupiah), bahkan bisa lebih di hari-hari besar, seperti lebaran atau tahun baru. Jelas penjualan paling banyak dari kalangan wisatawan yang sedang liburan di Yogyakarta. Alasan mereka membeli karena harganya murah, dan cocok sebagai oleh-oleh. Jadi mereka memborong jualan kami. Bisa sampai 45 pieces, atau rata-rata 10 pieces ke atas.

Berjualan hijab dengan omzet Rp. 535.000.000 (lima ratus tiga puluh lima ribu rupiah) itu jika diperkirakan untungnya, tentu tidak sehat. Dipotong biaya lapak jualan, transportasi, makan, belum lagi biaya-biaya lain, jelas itu bukan keuntungan yang baik. Ini hanya satu cerita dari pedagang Sunmor yang membagikan pengalamannya. Kalau pedagang Sunmor lainnya bercerita, tentu kita banyak refrensi soal dampak virus corona pada Sunmor UGM. Bayangkan Yogyakarta yang belum menutup akses kotanya dari luar sudah begitu mengerikan, ekonomi langsung anjlok. Apalagi Yogyakarta memberlakukan penutupan akses, seperti di DKI Jakarta, atau kota-kota lainnya yang mengekor.

Posisi sekarang memang membuat kita dilema, seperti makan buah simalakama, dimakan ibu yang mati, tak dimakan bapak yang mati. Jadi kita juga bisa paham kenapa Sultan sampai sekarang masih membuka orang luar masuk ke kotanya. Sebagai informasi tambahan warga Kota Yogyakarta khususnya kelas menengah ke bawah belum bisa mandiri perekonomiannya. Mereka masih tergantung dengan pariwisata. Lihatlah tukang becak di tepi jalanan Kota Yogyakarta, penumpangnya, ya, para wisatawan. Lihat pula mbah-mbah penggendong barang jualan di sekitaran Pasar Beringharjo, siapa pembeli barang-barang di sana? Ya, wisatawan. Dan masih banyak lagi kaum kelas kebawah yang menggantungkan hidupnya pada sektor wisata. Intinya warga Yogyakarta belum mandiri.

Berkelindannya perekonomian di Yogyakarta antara kelas yang satu dengan yang lainnya menjadi perhatian serius kita bersama. Kita bisa bayangkan jika sampai beberapa bulan ke depan virus corona semakin meluas, dan memakan korban, otomatis perekonomian Yogyakarta bisa lumpuh. Beruntung bagi kaum kaya bisa stok makanan mulai saat ini, tapi bagaimana nasib kaum kecil yang hanya mendapat upah untuk bisa makan hari itu saja?

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Kelas kecil seperti kita, bukan orang yang punya otoritas penentu kebijakan. Kita hanya kaum yang mengamalkan apa yang diperintahkan penguasa. Di Yogyakarta, berarti Sultan penentu nasib warganya. Namun yang ingin saya sampaikan adalah sebagai warga kecil yang saat ini masih menggantungkan hidup dari pariwisata sebaiknya perlahan mulai memanfaatkan lahan untuk ditanami tumbuhan yang potensial. Saya percaya pertanian di Yogyakarta jika digarap serius oleh warganya dan didukung pemerintah akan sangat membantu perekomian bersama.

Selama ini Yogyakarta hanya fokus pada perkembangan pariwisata, bukan perkembangan pertaniannya. Sekarang kita bisa rasakan, ketika ada wabah penyakit secara global di dunia, kita kewalahan menghadapinya. Khususnya pada sektor ekonomi, mengingat sampai sejauh ini barang-barang impor dari luar negeri terus membanjiri kehidupan kita. Kita jadi ketergantungan, terlebih lagi dari China, negara yang konon sebagai sangkar virus corona.

Yogyakarta setiap tahunnya lahan sawah berkurang, lahan sumber kehidupan itu digantikan dengan bangunan, seperti hotel dan perumahan elit. Terlebih lagi pembangunan NYIA yang banyak memakai lahan pertanian. Ternyata adanya virus Corona menyadarkan kita, bahwa sumber pendapatan dari pariwisata tidak bisa bertahan dan diutamakan. Dan harus diakui pemberdayaan warga itu sendirilah yang bisa diandalkan dan diutamakan. Karena warga petani masih bisa bertahan dari hasil panennya, beda dengan warga lainnya yang berharap penuh pada turis lokal maupun asing. Mungkin kita masih ingat kata-kata seperti ini “kita makan beras, bukan makan semen”.

Maka dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa warga yang menggantungkan hidupnya dari pariwisata akan menjadi korban perekonomian pertama dari dampak virus corona. Sedangkan para petani yang berada di pedesaan masih bisa bertahan dengan mengandalkan padinya. Itulah kelebihan para petani yang mandiri.

Penulis: Asmara Dewo, adalah pedagang Sunmor, petani lidah buaya di Desa Jepitu, dan aktivis literasi di komunitas menulis Bintang Inspirasi

Baca juga:

Peluang Bisnis pada Era Digital



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas