Faisal PS dan kawan-kawan BI | Doc. Bintang Inspirasi

Asmarainjogja.id--Seketika langit mulai menguning. Di tengah hiruk-pikuk ramainya Yogyakarta, berlalu-lalang orang kesana-kemari.  Ada sepasang kekasih,  lelaki dan perempuan sedang bersenda gurau. Terlihat pula berbagai rupa wisatawan,  dari perawakannya terlihat mereka berasal dari berbagai   daerah di Indonesia, bahkan ada yang manca negara.

Keramaian di Nol Kilometer Yogyakarta tentulah bukan hal yang aneh, mengingat tempat ini adalah salah satu spot    bersejarah di Yogyakarta.  Di mana bagian selatan Nol Kilometer Yogyakarta   terpampang Monumen Satu Maret yang saling berhadapan langsung dengan istana negara pasca kemerdekaan, juga beberapa ornamen bersejarah lainnya.

Maka wajar saja jika tempat ini banyak diminati para wisatawan,  baik lokal maupun internasional. Seperti mereka yang berkunjung hanya sebatas melepas penat, kegalauan karena cinta, sekedar mencari hiburan,  atau pun untuk tempat berpose semata. Lebih jelasnya Nol Kilometer   ialah sebuah tempat unik yang berada di Yogyakarta,  cukup indah untuk seukuran tempat keramaian di Yogyakarta.

Sore itu aku dan Komunitas Bintang Inpirasi sejenak membaca dengan indra,  lalu menulis dengan cinta. Tapi ada hal mengganjal ketika melihat lebih detail kondisi Nol Kilometer Yogyakarta. Di balik ramainya tempat ini,  tersimpan sisi gelap yang seharusnya jadi perhatian.  Sampah yang berserakan tentunya mengganggu aktivitas manusia dan dan hubungannya dengan keindahan.

Di seputaran Nol Kilometer Yogyakarta berhamburan sampah, baik sampah plastik maupun organik. Ini pastinya mengganggu keindahan Nol Kilometer itu sendiri yang notabenenya  adalah tempat pariwisata yang cukup terkenal di Yogyakarta. Pengunjung yang berlalu-lalang   sedikit pun tak merasa aneh, justru malah menganggap berserakannya sampah adalah sebuah fenomena yang biasa. Anehnya   malah pengunjung yang terlihat membuang sampah sembarangan.

Di balik hiasan taman yang dibuat pun menjadi korban keteledoran manusia. Keindahan taman buatan itu  pun dirusak  keindahannya dengan sampah-sampah plastik yang tidak dibuang pada tempatnya. Padahal pihak petugas khusus Malioboro dan sekitarnya termasuk Nol Kilometer telah menyediakan tempat pembuangan sampah. Tempat sampah tersebut  terbuat dari kotak persegi panjang berbahan aluminium yang diletakan di pojok-pojok Nol Kilometer.

Seharusnya fasilitas berupa tempat sampah yang telah disediakan, digunakan dengan baik bagi  seluruh yang berkunjung di Nol Kilometer Yogyakarta.  Agar semakin menambah asrinya tempat rekreasi,  khususnya Nol Kilometer. Sepertinya  para pengunjung Nol Kilometer Yogyakarta, belum mempunyai kesadaran penuh untuk menjaga keindahan fasilitas umum dengan menjaga kebersihan. Dan  juga  tidak membuang sampah sembarangan.

Bintang Inspirasi

Di satu sisi kesadaran masyarakat terkait pentingnya membuang sampah perlu ditingkatkan agar kebersihan tempat rekreasi Nol Kilometer Yogyakarta tetap terjaga. Pihak pengelola Malioboro dan sekitarnya,  ataupun petugas khusus yang telah digaji oleh Pemda DIY  untuk menjaga keamanan dan kebersihan  di Nol Kilometer Yogyakarta seharusnya memperhatikan dan mengontrol betul pengunjung-pengunjung yang nakal membuang sampah sembarangan.

Begitu juga  para pengunjung,  sebaiknya  lebih tertip lagi dalam menempatkan bekas makan atau minuman   yang telah tersisa sampahnya,  yaitu sampah non organi.  Agar  tidak mengganggu pengunjung lain yang suka dengan kebersihan. Sebab sampah juga bisa mengganggu aktivitas sebagian pengunjung karena terlihat kotor,  dan tentunya akan mengganggu kenyamanan.

Padahal salah satu slogan Kota Yogyakarta adalah memberi kenyamanan, ini tentunya berbanding terbalik dengan fakta di Nol Kilometer. Apalagi pengunjung di Malioboro dan sekitarnya terdiri dari wisatawan lokal dan wisatawan asing.

Bayangkan seandainya para wisatawan asing tersebut bercerita saat tiba di negaranya bahwa ternyata tempat wisata yang terkenal di Yogyakarta,  khususrnya di seputaran Nol Kilometer, ternyata ‘dihiasi’  sampah-sampah yang berhamburan dan tidak mencerminkan keindahan. Kondisi ini tentunya   membutuhkan perhatian ekstra dari pihak pengelola dan pemerintah daerah Yogyakarta sebagai pemangku kepentingan dan pelayan rakyat Yogyakarta.

Saran  saya  agar pengunjung tetap nyaman dan ciri khas Kota Yogyakarta terlihat dan tercirikan,  ketika berkunjung ke Nol Kilometer Yogyakarta. Dan untuk  menikmati sunset di Nol Kilometer  agar  lebih bersahabat,  semestinya bebas dari sampah. Juga agar pendapatan Daerah Istimewa Yogyakarta lebih meningkat lagi secara ekonomi dari sektor pariwisata khususnya, bisa terus memberikan pengaruh sebagai solusi alternatif masyarakat Yogyakarta, baik pedagang kaki lima, toko  kelontong dan toko    modern yang berada di seputaran Nol Kilometer Yogyakarta.

Ingatlah bersih itu indah dan pasti tercerminkan dalam kebersihan, okarena itu pula  merawat lingkungan adalah bakti kita pada alam manusia dan Tuhan.

Penutup

Dari sini   aku kabarkan kapan-kapan kau  perlu berkunjung ke Yogyakarta, bersua di Malioboro melihat hiruk-pikuk pengguna jalan. Menyaksikan terbenamnya mentari dari pojok Nol Killometer. Menghirup udara ditopang angin sepoi-sepoi nan sejuk, menjadi saksi keindahan Kota Yogyakarta sambil bercertia bagaiman ama dengan ina  menabur   tenaga yang kau tuai dan habiskan di tanah rantau. Namun aku ingatkan sejauh apa kau melangkah rumah adalah tempat pulang paong indah.

Olehnya kau harus ingat bukan hanya alam yang perlu kau nikamati,  ia perlu dijaga   hingga mati, sebab kehidupan alam dan keteratuannya adalah kehidupan bagi anak cucu hingga nanti. Kebersihan pula adalah mencerminkan keterjagaan alam, dan menata lingkungan agar lebih nyaman dan bersahabat. Setidaknya hal kecil seperti kebersihan lingkungan menjadi alasan kenapa kita perlu menjaga keasrian suatu tempat.

Pepatah lama pernah mengatakan bahwa “bersih adalah sebagian dari iman”, maka seharusnya sebagai genererasi penjaga bangsa ini yang konon harus melalakukan perbaikan.  Tentunya memperhatikan hal-hal kecil semacam kebersihan,  termasuk di Nol Kilometer Yogyakarta.

Penulis: Faisal PS, anggota Komunitas Menulis Bintang Inspirasi

Baca juga tulisan Faisal PS lainnya:

Kampusku Kampusmu Kampus Kita

Mati-Hidup Gerakan Mahasiswa

 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas