Soekarno menulis | Foto Istimewa

Asmarainjogja.id – Tidak setiap orang memiliki jiwa kepemimpinan, karena jiwa kepemimpinan ini selain diasah juga terlihat bakatnya sejak kecil. Misalnya ketika melihat seorang anak yang bisa mengkoordinir teman-temannya, itu sebuah cerminan kelak ia akan menjadi sosok pemimpin.

Nah, ketika sudah menjadi pemimpin, seperti pemimpin apakah dia? Apakah hanya sekadar seorang pemimpin saja? Atau juga sosok pemimpin yang menginspirasi anggota dan orang lain? Di sinilah pengaruh seorang pemimpin itu, sosok pemimpin bukan hanya pandai mengkoordinir dan menjalankan tugas, namun harus bisa pula diikuti generasi selanjutnya.

Di negeri ini, ada seorang pemimpin yang begitu mendunia, pemimpin yang besar pada zamannya. Bahkan sampai detik ini namanya disebut-sebut di setiap bangsa, terutama bangsa kita sendiri Indonesia. Siapakah dia? Siapa lagi kalau bukan Soekarno.

Banyak yang tidak tahu sejarah putra 'sang fazar' ini. Bangsa kita yang tidak suka sejarah, pasti mengira Soekarno tumbuh begitu saja, menjadi orang hebat karena warisan berdarah ningrat. Padahal tidak! Sang Proklamator ini sudah ditempah sejak ia masih kecil.

Dan perubahan drastis perkembangan Soekarno adalah ketika ia tinggal (kos) di rumah HOS Tjokroaminoto. Bersama teman-teman lainnya, seperti Musso, Kartosoewierjo, Alimin, dan Darsono. Keempat temannya tersebut juga orang-orang besar, hanya saja di kemudian hari mereka bersebrangan dalam ideologinya.

Suatu ketika Tjokoroaminoto berkata, “Jika kalian ingin menjadi Pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.”. Wasiat ini dipegang kuat-kuat oleh Soekarno muda pada masa itu. Hampir setiap malam ia berpidato di depan cermin.

Sampai-sampai teman sekamarnya pun jengkel mendengar pidato Soekarno setiap malam. Tapi Soekarno tidak ambil pusing, ia tetap belajar berpidato. Di manapun berada ketika ada kesempatan, Soekarno selalu belajar berpidato. Membuat orang-orang disekitarnya juga kesal.

Itu dulu, ketika ia masih belajar. Namun dikemudian hari dialah sosok anak bangsa yang mampu membius seluruh rakyat Indonesia dengan pidatonya yang berapi-api. Bangsa lain pun tercengang melihat pemimpin Indonesia berorasi di atas podium. Presiden pertama itu juga digelari sang singa podium. Karena pidatonya yang menggetarkan lawan, dan menumbuhkan semangat bagi rakyatnya.

Selain hebat berorasi, Soekarno juga menggeluti dunia jurnalistik. Sesuai wasiat sang guru, Tjokoraminoto, Soekarno muda pun mulai menulis. Sejak bergabung di Serikat Islam yang dipimpin Tjokroamnito. Soekarno menulis di surat kabar Serikat Islam, Oetoesan Belanda, dengan nama pena Bima.

Tulisan-tulisan Soekarno tajam, berani, dan frontal, “...hancurkan segera kapitalisme yang dibantu budaknya imperialisme. Dengan kekuatan Islam, Insya Allah, itu segera dilaksanakan,” tulis Soekarno di salah satu artikelnya, seperti yang dikutip dari Berdikarionline.

Berdasarkan pengalaman kepenulisannya itu pula, Soekarno semakin paham seluk-beluk dunia menulis. Maka ia pun menjadi seorang redaktur di surat kabar Bendera Islam (Fadzar Asia).

Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan studi kelompok bernama Algemene Studie Club. Dan kelompok ini juga memiliki surat kabar Soeloeh Indonesia Muda. Dengan biaya operasional dari Soekarno sendiri. Pada saat itulah Soekarno membuahkan pikirannya yang sangat terkenal, yaitu Nasionalisme, Islamisme, dan Komunisme (Nasakom).

Sepanjang perjuangan Soekarno  juga tak bisa dipisahkan dari dunia jurnalistik. Karena tulisan-tulisannya yang garang itu pula ia kerap keluar masuk penjara Belanda. Pemerintahan Belanda itu lebih takut pada 1 orang pribumi yang pandai menulis (mengkritik) daripada 1.000 pribumi yang tidak pandai menulis. Oleh sebab itu pula pada zaman pemerintahan Belanda, pribumi-pribumi terpelajar yang menulis dimasukkan ke bui.

Di antara banyaknya anak kos, yang juga murid-murid Tjokroaminoto, hanya Soekarnolah yang menunaikan wasiat gurunya. Jago berpidato, hebat pula menulis. Dialah pemimpin Indonesia yang menginspirasi bangsa ini, dan bangsa lainnya. Sosok pemimpin yang entah kapan akan terlahir lagi di masa modern ini. [Asmara Dewo]

Baca juga:

3 Tokoh Muslim Indonesia Paling Berpengaruh di Abad 20 dan 21

Marco Kartodikromo, Pencetus Sama Rasa Sama Rata yang Mengancam Kedaulatan Belanda

Politik Buya Hamka yang Dibenci tapi Sosok yang Dimuliakan

Padusi

Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas