Surat Cinta (Ilustrasi) | Foto Shutterstock

Oleh:  Asmara Dewo

“Kalau kalian seperti kami, beghhh… kalian pasti terkencing-kencing di celana,” kata Pujang bercerita pengalamannya di gua, “saat kami sedang asyik di dalam gua bersama Dimas, tiba-tiba air deras dari hulu. Kedalaman air di dalam gua tiba-tiba sepaha kami.”

Teman-teman yang lain di kelas antusias sekali mendengar cerita Pujang. Meskipun terkadang ceritanya dibumbui oleh Pujang. Dimas hanya menyeringai, pelipisinya dibalut perban. Dua tiga kali ikut tertawa melihat karibnya itu mengoceh tiada henti.

“Terus bagaimana kalian bisa keluar dari gua itu?” tanya salah satu teman di kelas.

Pujang menghela napas panjang, perutnya yang berlemak ikut naik ke atas. Ia menggeleng-geleng memasang muka tampang orang bijak sedunia.

“Sungguh, kalian tidak akan percaya,” Pujang memulai lagi, “kami panik, benar-benar panik. Tapi kami terus berlari melawan arus air yang semakin deras. Dan aku sempat berhenti…” ia mendelik ke Dimas.

“Dan Pujang ketakutan, dia berhenti berlari. Aku menyeretnya terus sampai keluar,” timpal Dimas. Disusul gelak tawa.

“Iya-iya, betul itu. Aku takut, setelah itu kami kembali mempercepat langkah. Senter terbawa arus, pandangan kami tidak begitu terang. Hanya satu yang masih menempel di kepala kami,” lanjut Pujang lagi, “Tiba kami hampir keluar di mulut gua. Air lebih deras dari sebelumnya. Dimas cepat naik ke atas, dan langsung menarik tanganku. Telat saja beberapa menit atau detik, arus sungai yang begitu deras mungkin sudah menelan kami ke dalam gua itu,” Pujang berkecap-kecap.

“Koe kuat menarik badan Pujang?” tanya teman sekelas mereka yang lain lagi.

Dimas tersenyum, geli, ingin tertawa, “Cukup berat, konco.”

Pujang menyipitkan matanya, ia membela diri, “Aku lebih kurus sejak sebulan yang lalu.”

Ruangan kelas kembali sorak-sorai, terbahak-bahak. Bahkan ada pula yang mengejek gempalnya badan Pujang. Murid perempuan terganggu tawa mereka. Mereka berbisik-bisik menceritakan murid yang asyik bercerita dan saling mengejek itu.

Lonceng berbunyi, tanda jam istirahat usai. Murid-murid kembali ke tempat duduknya masing-masing. Sedangkan beberapa murid keluar dari ruangan menuju kelasnya, di sebelah kelas itu juga.

“Selamat pagi Ibu Yanu,” sapa murid itu serempak saat berpapasan di depan pintu.

“Selamat pagi juga anak-anak. Guru kalian sudah masuk di kelas, jangan kemana-mana lagi!” kata Ibu Yanu dengan wajah ceria dan menyenangkan.

Setelah diletakkannya tas hitam di atas meja, Ibu Yanu mengambil buku pelajaran Bahasa Indonesia dari tas tersebut. Kemudian Ibu Yanu berdiri di depan para murid sambil memegang buku pelajaran.

“Anak-anak, kali ini kita belajar menulis,” Ibu Yanu memulai, “menulis cerita. Temanya adalah keluarga. Terserah kalian bagaimana menuliskannya.”

Murid-murid yang mendapat tugas baru ada yang senang, ada pula yang memasang wajah kecut.

“Kamu kenapa, Pujang?! Kok cemberut?” Ibu Yanu mendelik ke arah Pujang.

Pujang salah tingkah, ia menyeka keningnya, “Nggak apa-apa, Buk,” jawab Pujang dengan bibir dipaksa tersenyum.

“Bagaimana?” kelas itu hening, “Ibu katakan pada kalian, Nak, kalau kelak kalian sudah SMA, kuliah yang tinggi, dengan pandai menulis, kalian akan menjadi salah satu siswa yang berprestasi. Orang-orang yang pandai menulis itu lebih hebat dibandingkan orang pintar, tapi tak menulis.”

“Kamu Pujang ingin jadi orang hebat, bukan?” sekali lagi Ibu Yanu menatap Pujang, “tidak hanya untuk Pujang, tapi semua kalian yang ingin jadi orang hebat? Maka mulailah belajar menulis!”

“Di kelas ini siapa yang ingin menjadi orang hebat di negara kita? Ayo tunjuk tangan?!” seru Ibu Yanu menyemangati muridnya.

“Saya, Bu!” gemuruh suara anak murid sambil mengacungkan tangannya tanpa terkecuali.

“Bagus, Ibu senang kalian semangat belajar mengarang kali ini,” Puji Ibu Yanu, “dan kalau di antara kalian nanti mahir menulis, dan menjadi seorang penulis, dengan tulisannya itu pula kalian bisa mengajarkan apa saja yang diketahui kepada dunia. Sesuai amanat pendidikan kita, yaitu mendidik bangsa. Kalian paham, Nak?”

“Paham, Bu!” dengung suara murid seperti lebah.

Ibu Yanu mengangguk takjim, gadis berumur 32 tahun itu selalu cantik saat tersenyum di hadapan murid-murid kebanggaannya.

“Mengarang itu pelajaran yang sangat mudah. Apalagi kalian hanya ibu beri tugas menuliskan cerita keluarga. Apa yang kalian rasakan, apa yang kalian miliki, apa yang kalian lakukan sehari-hari dalam keluarga kalian, maka tuliskanlah! Kalian pasti bisa menuliskannya, bukan?” kembali Ibu Yanu melemparkan senyumnya.

“Dan kamu Pujang, boleh menuliskan cerita makanan kesukaan kamu saat di rumah?” Ibu Yanu menggoda Pujang. Dan murid yang lain berseru-seru, Pujang sendiri menggaruk kepala.

“Wah… cerita Pujang akan bagus sekali, Bu, kan Pujang hobi makan,” salah satu murid tak kalah seru menggoda Pujang. Kembali ruangan sorak-sorai oleh suara murid.

“Cukup Cukup! Sudah selesai bercandanya,” Ibu Yanu mengetuk papan Tulis menenangkan murid-muridnya, “sekarang kalian buka buku tugas, dan mulai menuliskannya. Ibu tunggu satu jam. Ada yang mau bertanya?”

“Bu, bolehkah saya menuliskan cerita saat keluarga kami makan siang, lalu tiba-tiba ada tamu yang datang, dan ikut makan bersama?” tanya Diajeng. Kemudian matanya melirik ke Pujang.

“Ya, boleh saja. Terserah kalian!” jawab Ibu Yanu.

“Memangnya tamunya siapa, Diajeng?” tanya Pujang penuh curiga.

“Tamunya, yo, koe!” sahut Diajeng. Mulutnya diruncingkan ke arah Pujang.

Murid-murid kembali tertawa terpingkal-pingkal, dan Ibu Yanu sendiri tertawa, tak tahan melihat muridnya, Pujang, yang selalu jadi bahan gurauan. Pujang yang selalu jadi korban gurauan teman kelasnya hanya melotot sebal.

“Udah takdir koe,” bisik Dimas dari sebelah kursi Pujang yang disusul tawa.

***

Hari cukup panas di saat anak-anak pulang dari sekolah. Dimas dan Pujang sudah keluar dari sekolah bersama teman-teman lainnya. Murid-murid tersebut berombongan keluar dari pagar sekolah dengan sepedanya masing-masing. Ibu Yanu dan guru lainnya sudah siap-siap meninggalkan ruangan.

“Ibu Yanu, ada titipan surat,” kata Ibu Ani.

“Dari siapa?” tanya Ibu Yanu dengan nada heran.

“Nanti Ibu Yanu juga tahu,” sahut Ibu Ani.

Ibu Yanu Mengangguk, dengan terpaksa menerima surat itu. Bukan pertama kali ini saja Ibu Yanu mendapatkan surat. Baik dari surat yang dititipkan melalui guru, melalui tetangga, bahkan dari kerabat Ibu Yanu sendiri. Namun Ibu Yanu, kembang kampung itu hanya dingin menanggapi semua surat-surat tersebut. Bahkan sama sekali tidak dibaca, hanya dimasukkan ke dalam kotak.

“Surat cinta ke-247. Surat apa lagi selain itu?” suara Ibu Yanu terdengar lirih. Hanya dia yang mendengar.

“Sampai jumpa besok, Ibu Yanu,” ucap Ibu Ani dari atas motor. Klakson berbunyi dua kali.

“Iya, sampai jumpa besok. Hati-hati di jalan Bu Ani!” balas Ibu Yanu. Dua guru, sekaligus sahabat karib tersebut berpisah.

Di jalan Ibu Yanu berjumpa lagi dengan anak-anak.

“Ibu, duluan, ya?! Langsung pulang ke rumah masing-masing!” teriak Ibu Yani pada muridnya.

“Iya, Bu!” serempak mereka menjawab.

Tiba di rumah Ibu Yanu tampak letih. Buru-buru mencopot sepatunya dan menghempaskan dirinya di atas kursi. Bapaknya yang saat itu sedang sibuk mengerjakan berkas-berkas menoleh ke anaknya.

“Capek, Ndok? Murid koe nakal lagi?” tanya orang tua berkacamata tebal yang bertengger di hidung mancungnya.

Ibu Yanu menggeleng, “Cuma capek doang kok, Pak, Yanu masuk ke kamar dulu, Pak!”

Guru muda itu selalu terganggu pikirannya jika menerima surat-surat cinta. Para pemuda lajang dan duda kampung, maupun dari kota berkali-kali ingin mencuri hati kembang kampung itu. Namun si kembang kampung bagaikan seekor lebah betina, yang tidak mudah ditangkap. Salah tangkap bisa menyengat, menyisakan bisa.

Ibu Yanu masukkan surat cinta itu ke dalam kotak. Masih memakai seragam guru, ia baringkan tubuhnya. Matanya tak berkedip menatap langi-langit kamar. Jika di usia 32 tahun gadis Jawa sudah menggendong anak dua atau tiga, namun Ibu Yanu, alih-alih memiliki anak, pasangan yang cocok saja belum menghampirinya.

Bisik-bisik warga kampung sempat didengar oleh Ibu Yanu, Ibu Yanu mau jadi perawan tua. Gadis itu pun tertidur lelap.

***

“Tambah, Ndok, nasinya! Sedikit kali koe makan,” kata Ibunya.

“Cukup, Buk,” Ibu Yanu menyudahi makannya. Ia mengambil jeruk dari keranjang buah, “jeruk dari siapa ini, Buk?”

Orangtua Ibu Yanu saling bertatapan. Ada keganjilan dari pandangan orangtuanya, Ibu Yanu memasang wajah curiga. Dan mata hitamnya menyipit.

“Agus tadi ke rumah. Dia juga sempat cariin koe. Bapak bilang koe tidur, kecapean mengajar. Dia juga bawah buah itu untuk kita,” jawab Bapaknya.

Ibu Yanu tersedak, buru-buru ia letakkan sisa buah yang terpenggal dua itu di atas meja. Dan dia hanya ber-oh saja.

“Koe masih marah sama Agus?” diam sejenak. Bapak itu pun paham anaknya kesulitan menjawab, “bapak cuma pesan sama koe, nggak baik begitu sama tetangga. Kalian juga berteman sejak kecil, toh? Udah kayak saudara sendiri. Yang lalu, biarlah jadi pelajaran kita semua. Jodoh juga sudah ditentukan Gusti Alloh. Koe jangan simpan sakit hati lagi sama Agus! Agus itu laki-laki baik, walaupun dia sudah menikah, tapi dia nggak pernah lupa sama keluarga ini.”

Ibu Yanu hanya mendengar, tidak membantah, dan juga tidak menjawab. Mudah bagi orang lain menasihati untuk memaaafkan, namun bagi yang terluka, entah sampai kapan hati itu bisa sembuh dan terbuka untuk bisa memaafkan.

Wanita yang sudah 60 tahun itu pun mengelus putrinya, merasakan kesedihan anaknya, “Ndok, kalau koe begini terus, koe yang sakit. Koe bisa di depan orang lain tampak ceria dan bahagia, tapi koe sendiri sesungguhnya menderita bathin. Koe yang rugi. Dan Ibuk tahu perasaan koe.”

Ibu Yanu hanya mengangguk, ia minta izin masuk ke kamar, “Yanu mau masuk ke kamar Pak, Buk!”

Semakin diceritakan kisah lalunya, semakin sakit pula perasaan Ibu Yanu. Ingin sekali ia kubur dalam-dalam cerita yang pernah tertulis dengan pria yang bernama Agus. Tapi itu tidak mudah bagi Ibu Yanu. Ia belum bisa berpaling ke pria lain. Apakah cintanya pada Agus ingin dibawa sampai tua? Sampai menjadi nenek-nenek?

Di atas meja kamarnya, laptop dihidupkan, Ibu Yanu menuliskan artikel mengenai perasaannya, namun diubahnya dengan gaya penulisan seolah-olah seorang pengamat hati profesional. Padahal itu sungguh pengalaman pribadi penulis itu sendiri.

Satu jam ia mengetik, tulisan itu sudah selesai, dan siap untuk dikirimkan ke media cetak tempat biasa tulisannya dimuat. Judul artikel tersebut: Sampai Kapan Hati Wanita Bisa Sembuh dari Luka?

Menulis curahan hati yang disulap menjadi tulisan mendidik untuk pembaca sebagai terapi Ibu Yanu. Ia sudah lega mengungkapkan segala macam kekesalan tentang cinta pada tulisan. Namun begitu, Ibu Yanu tetap memberikan pesan moral positif yang begitu kuat kepada pembaca setianya.

Selalu di akhir tulisannya, penuh semangat berkobar untuk kehidupan yang lebih baik. Itu sebabnya juga Ibu Yanu lebih keras terhadap anak-anak muridnya agar bisa menulis, dan harus menjadi penulis. Meskipun itu hanya mejadi penulis curahan hati yang mendidik.

Ada pesan masuk dari Ibu Ani. Ibu Yanu tahu itu pasti pertanyaan mengenai surat tadi siang. Ternyata benar. Ibu Yanu membalas meng-iyakan saja. Tidak lebih. Terlalu bosan ia harus meladeni sahabatnya yang nyinyir itu. Sudah seperti mak comblang saja.

“Jadi bagaimana, Bu?”

“Apanya yang bagaimana?” balas Ibu Yanu dalam pesan.

“Ya, itu tadi, perasaan Ibu sama dia bagaimana? Itu lho maksud saya.”

“Besok kita sambung di sekolah, Ya Bu? Saya kurang enak badan. Agak capek hari ini, mau tidur lebih cepat.”

“Oh, baiklah. Sampai jumpa besok, honey.”

Gerimis mulai turun di kampung, satu persatu hujan menjatuhi tanah perkampungan. Beberapa menit kemudian jutaan bulir menghunjam deras dari langit hitam. Petir menyusul dengan keras sekali, kilatan menyambar-nyambar di angkasa.

Ibu Yanu membuka tirai jendela, dari balik kamar ia pandangi hujan yang semakin deras. Tiba-tiba saja melintas bayangan wajah Agus dari kaca hitam itu. Mendadak Ibu yani terkejut.  Ia tutup matanya beberapa detik. Dan mencoba ia lihat sekali lagi. Tidak ada. Hanya ilusi. [Asmarainjogja.id]

Baca juga: 

Kanjeng Ratu Kidul dan Dua Sahabat

Terjebak di Dalam Gua

 

Lihat juga: 

Kaos Gunung Semeru, Persembahan dari Asmara In Jogja

Kaos Gunung Semeru

 

Clorist Florist Pesanan Bunga Terbaik di Yogyakarta

Clorist Florist Yogyakarta



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas