Foto Ilustrasi Flickr

Asmarainjogja.id-Kegeraman ini semakin memuncak, tatkala ramainya penjualan obat illegal penggugur bayi dari kandungan yang semakin berdedar luas di jejaring media sosial. Teman-teman mungkin juga secara tak sengaja melihat iklan-iklan obat pembunuh janin tersebut. Ya, itu adalah penjualan/bisnis yang tak berkeprimanusiaan, alias bejat moral.

Logikanya adalah tidak mungkin ada penjual jika tidak ada pembelinya. Tidak mungkin barang yang dijual, jika tidak ada prospek bisnis ke depannya. Dan sungguhlan aneh jika obat pembunuh bayi itu laku ditangan suami-istri, ini sungguh-sungguh mustahi. Apalagi kalau bukan pasangan tak sah yang membelinya? Itu sudah pasti.

Sebagai manusia yang punya hati sehat, tentu saja praktik jenis apapun dalam pengguguran bayi membuat saya sedih dan tak habis pikir. Janin itu adalah calon manusia suatu hari nanti, kelak akan hidup seperti kita saat ini. Ia akan tumbuh seperti manusia normal lainya, melangsungkan hidup dengan makan/minum, bersosialisai, menikah, hingga akhirnya juga mati.

Namun manusia kejam kelas wahid tersebut telah membunuh calon manusia itu, yang tak lain adalah darah dagingnya sendiri, anak kandungnya sendiri. Bukankah itu adalah kekejaman tingkat tinggi juga? Dan ini adalah yang paling parah, sungguh sangat tak bermoral, saat usia janin sudah mencapai tiga bulan, makhluk kecil itu pun terpaksa harus dibunuh. Ketika janin berusia tiga bulan, bentuk bayi itu sudah tampak sekali. Ia sudah hidup, layaknya bayi kecil pada umumnya.

Lagi-lagi makhluk kecil tak berdosa itu menjadi korban kekejaman ayah dan ibunya sendiri. Bayi yang tak diinginkan, namun gemar sekali ingin melahirkannya. Tiba pada beberapa bulan kemudian, perut sang putri pun membengkak, resah gelisah, dan dengan sifatnya yang bodoh itu ia menggugurkan calon anaknya, tepatnya membunuh bayinya.

Tidakkah menyesal atau takut sang putri tersebut jika kelak seumur hidupnya ia tak bisa lagi mengandung? Oh … Tuhan Yang Maha Pemurah, lagi Penyanyang, Kau masih memberikan ampun dan maaf pada mereka. Hingga ibu-ibu kecil tadi diberi kesempatan pula mengasuh bayi kandungnya setelah dalam ikatan yang sah.

Calon-calon ibu, calon-calon ayah, penulis juga masih muda, usianya juga masih 28 tahun, punya gelora nafsu yang sama dengan pemuda lainnya. Bisa mengerti benar bagaimana pergaulan bebas, paham akan cinta-cinta gila seperti itu, sadar betul ujung-ujungnya cinta kelas teri yang demikian.

Resiko dalam cinta zaman sekarang adalah hamil. Sekuat-kuatnya menahan nafsu terhadap pasangan yang dicintai, akan jebol juga. Ini jangan dipungkiri lagi! Karena itu ada dua pilihan, putuskan segera, atau menikahinya. Jadilah manusia-manusia yang pemberani, bertanggungjawab terhadap apa saja yang sudah dilakukan, jangan jadi pengecut bin  pecundang!

Kalau masih muda saja tidak berani bertanggungjawab, terus bagaiman lagi mengemban gelar ayah atau ibu? Hei … hei … calon ayah! Jangan enaknya saja mempermainkan hati dan fisik wanita, harus tanggung jawab, jangan ditambah lagi kekejian dengan membunuh calon anak sendiri.

Ingat-ingatlah, tak ada dosa yang tak bisa diampuni, tak ada dosa yang tak bisa dimaafkan. Jika sudah terjadi, dan benar-benar menyesali atas perbuatan yang salah, juga sudah memohon ampun pada Tuhan. Maka bergegaslah, kuatkan hati, beranikan diri, kumpulkan keluarga besar, dan jumpai orang yang dicintai, selesaikan masalah yang ada. Cari kesepakatan keluarga untuk solusinya.

Lupakan obat-obat penggugur bayi, jangan pernah tiru film-film bodoh dalam mal praktik yang dilakukan dokter atau bidan. Jadilah pemberani, jadilah manusia yang mencintai makhluk-makhluk kecil, dan jadilah ayah dan ibu yang baik.

Penulis: Asmara Dewo



style="display:inline-block;width:336px;height:280px"
data-ad-client="ca-pub-6494373068136966"
data-ad-slot="4803372733">



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas