Ilustrasi seorang istri | Foto Shutterstock

Asmarainjogja.id – Zaman modern dikenal pula dengan zaman keemasaan gender. Di mana pria dan wanita sama-sama mempunyai hak dalam berpolitik, bekerja di perusahaan, sampai di hadapan hukum sekalipun. Dan semakin berkembangnya era emansipasi wanita, kaum hawa ini pun mulai berani menunjukkan kelebihannya bagi suaminya sendiri. Mulai dari cara mencari nafkah, sampai mengatur keluarganya sendiri dengan kehidupan modern sekaligus agamis.

Di sisi lain ada kaum hawa masih menganut budaya kuno, yaitu hanya berpasrah diri terhadap suaminya saja. Semua suami yang mengatur. Bisa diibaratkan perkataan atau perintah suami mutlak tak bisa diganggugat. Jika seorang suami memiliki pendidikan yng tinggi, agamanya sangat baik, dan cara berpikir untuk kemanusiaannya juga teruji, tentu cukup bijak menyikapi rumah tangganya, termasuk mengatur istrinya.

Sayangnya, tidak semua suami demikian. Pengetahuan minim dari seorang suami juga memengaruhi keluarga yang dibinanya. Maka tak heran, sebuah keluarga turun temurun tidak berkembang, baik dari segi agamanya, pendidikannya, dan juga pengaruhnya di tengah-tengah masyarakat. Karena suami menjadi segala tolak ukur kebijakan, dan wanita hanya menjalankan perintah saja.

Seorang istri yang masih awam memahami emansipasi wanita, biasanya lebih suka bergelut di rumah saja. Mengatur rumah tangganya dari bangun tidur, sampai kembali tidur. Repot memang, apalagi mengurus anak-anaknya di usia yang sedang rewel-rewelnya. Kalau masih satu anak, mungkin tidak terlalu repot, lalu bagaimana kalau sudah 2 atau 3, tentu lebih repot lagi, bukan?

Istri yang lebih suka mengurung diri di dalam rumah karena mengurus keluarganya tentu itu sangat baik, mengingat seorang istri juga harus senantiasa menjaga kehormatannya di tengah-tengah masyarakat. Namun yang jadi persoalannya adalah ketika keluarga tersebut ekonominya tergolong rendah. Bisa dikategorikan keluarga miskin. Masihkan seorang istri hanya berpangku tangan menerima penghasilan suaminya yang tidak memenuhi biaya keluarga?

Inilah tantangannya, istri yang tidak kreatif dan produktif di zaman modern akan ikut terpuruk oleh kejamanya era globalisasi seperti saat ini. Bukan rahasia umum lagi masalah perekonomian di sebuah keluarga juga memicu pertengakaran suami-istri. Akibatnya banyak terjadi perceraian, karena seringnya terjadi pertengkaran, bahkan yang lebih sadis lagi kekerasan fisik juga mewarnai pertengkaran rumah tangga tersebut.

Biasanya istri yang memiliki pendidikan tinggi, minimal sarjana muda, setidak-tidaknya memiliki skill untuk bisa membantu keuangan suami dengan bekerja. Atau juga membangun usaha mandiri dengan berjualan. Apalagi di zaman internet ini, siapa saja bisa berbisnis online hanya bermodal komputer yang dilakukan di rumah. Itu bagi seorang istri yang lebih memilih berbisnis sendiri daripada bekerja di perusahaan orang lain.

Sebaliknya, bagaimana dengan seorang istri yang minim pendidikan? Misalnya saja hanya tamatan SMA, atau sama sekali tidak tamat pendidikan formal? Pada umumnya sebuta-buta hurufnya wanita Indonesia, paling tidak mengerti menghitung uang. Karena seorang ibu yang tidak tamat SD pun bisa menghitung gaji suaminya, menghitung uang belanja, dan lain sebagainya dalam urusan hitung-menghitung.

Sungguh, Allah SWT sangat adil pada hambanya, adil terhadap istri berpendidikan tinggi, adil pula terhadap istri yang minim pendidikan formal. Kalau diperhatikan lebih serius lagi, ibu-ibu yang berjualan di pasar tradisional itu pada umumnya berpendidikan rendah. Namun siapa sangka perekonomiannya sangat bagus, bahkan bisa menyekolahkan anak-anknya sampai ke perguruan tinggi. Ibu yang bermental demikian itu biasanya mengusung filosofi: Anak saya tidak boleh mengalami nasib seperti saya dulu. Dia harus sukses.

Nah, jadi istri dari pendidikan apapun harus memiliki filosofi seperti ibu tadi, mengubah cara berpikir generasinya untuk kehidupan yang lebih baik lagi. Seorang istri yang bijak tentu tak ingin selamanya hidup menderita terus secara turun temurun. Harus ada pikiran revolusioner untuk membawa keluarganya ke zaman kesejahteraan. Dan tentu juga harus berpegang tangan bersama suami tercinta untuk perubahan tersebut.

Itu istri dari keluarga yang berekonomian kurang beruntung, lalu bagaimana lagi dengan istri yang memiliki perekonomian bagus, bisa dibilang mapan? Membantu sumber penghasilan keluarga tentu sah-sah saja dilakukan oleh seorang istri. Terutama seorang istri yang sejak remaja sudah mandiri menghasilkan uang sendiri. Biasanya sampai berumah tangga, tak bisa berdiam diri jika tidak mempunyai penghasilan sendiri.

Karakter seorang suami tentu berbeda-beda pula menyikapi istri tipe seperti itu. Ada yang melarangnya, ada pula yang memperbolehkannya, dengan catatan tidak melanggar kodratnya sebagai istri atau ibu bagi anak-anaknya. Cukup adil memang kebijakan suami bermental seperti itu.

Baca juga:

Memahami Keadilan Pria dalam Cinta Segitiga

Menguji Kesetiaan Pasangan saat Bertubuh Gendut

Di Luar Tampak Rapuh, Padahal Hati Wanita Lebih Kokoh dari Tembok Cina

Dan hal sangat penting untuk disampaikan adalah kehidupan sungguh tidak bisa ditebak manusia. Hal-hal buruk bisa saja dalam sekejab terjadi di rumah tangga. Misalnya saja suami yang diPHK, bisnis suami yang tumpur, suami yang jatuh sakit bertahun-tahun,   dan ada musibah yang meludeskan kekayaan keluarga. Atau yang lebih ironi lagi adalah suami meninggal dunia. Jika itu terjadi maka seorang istri yang tidak pintar mencari uang akan kocar-kacir menghadapi rumah tangganya.

Bayangkan jika selama menikah seorang istri hanya berharap dari penghasilan suami! Bisa berantakan total keluarga yang sudah dibina bertahun-tahun. Peran seorang istri juga bukan sekadar mengurus anak, di dapur, atau di kamar saja. Jika musibah itu terjadi, istri pun bisa menjelma layaknya suami yang gigih mencari penghasilan. Inilah keuntungan jika seorang istri juga mandiri dalam berpenghasilan, jadi tidak melulu hanya mengharap penghasilan dari suami saja. [Asmara Dewo]

Gabung di Twitter kami:   

Video populer:

 

Video terbaru:



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas