Terjebak di dalam gua (Ilustrasi)| Foto via fungsi.web.id

Oleh:  Asmara Dewo

“Udah ibuk bilang, toh, Le, jangan mandi-mandi di pantai, ini akibatnya! Koe nggak sama kayak bocah-bocah lain,” Ibu Dimas mengomel menempelkan kain ke dahi anaknya.

Dimas hanya diam tidak membantah, badannya semakin panas, dan sesekali muntah. Matanya sayu, badan kecilnya meringkuk di kasur.

“Buka mulutnya Dimas!” kata Ibunya, “biar perut koe hangat.”

Dimas menuruti kata ibunya, tidak seperti biasanya ia lahap sekali makan bubur kacang hijau. Kali ini ia   makan agar tidak diomeli ibunya. Hilang selera sarapannya.

Bapak Dimas masuk ke kamar melihat anaknya dengan wajah tersenyum, “Bocah lanang, biasa sakit. Tapi jangan kelamaan, Dimas. Koe nanti nggak bisa main-main lagi sama Pujang.”

Ibu Dimas yang melihat kelakar suaminya mengernyitkan dahi.

“Itu karena banyak main-main, Pak,” sahut Ibu Dimas, kemudian mendelik puteranya, “besok-besok kalau ibu bilangin, nurut ya, cah bagus?!”

Dimas mengangguk pelan. Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil dari luar rumah. Bapak Dimas keluar, melihat siapa yang datang. Dari suaranya tamu seperti biasa. Si tamu kecil berbadan gemuk.

“Dimas mana, Pak De?” tanya Pujang berseragam merah-putih, siap berangkat sekolah.

“Dimas sakit, dia di kamar,” jawab Bapak Dimas menyilahkan masuk tamu kecilnya.

Pujang terdiam sejenak, matanya menyipit, lalu masuk setelah mengucapkan salam.

“Hei, konco, koe sakit?” Pujang menggawil paha Dimas yang ditutupi selimut.

Yang disapa menggaruk rambutnya memandang langit-langit kamar.

“Yo, Cuma sedikit panas,” desah Dimas.

“Jang, kalian jangan banyak main-mainnya, ya?! Kalian belum besar, nanti kalau kalian udah besar, ya terserah, kalian mau kemana dan main apa?” pesan Ibu Dimas, katanya lagi, “bentar, ibu mau nulis surat Dimas dulu ke guru.”

“Inggih, Buk,” jawab Pujang.

“Besok juga aku udah bisa sekolah,” kata Dimas kepada sahabatnya itu.

Pujang mengangguk-angguk seperti orang dewasa. Setelah diberikan dititipan surat oleh Ibu Dimas, Pujang permisi beranjak pergi ke sekolah.

***

Sinar surya menghangatkan bumi perkampungan pesisir. Warga kampung sudah bergeliat sibuk dalam urusannya masing-masing. Meskipun perkampungan itu terkenal dengan tanah tandusnya, namun warga di sana sudah terbiasa dan malah bersyukur atas apa yang diberikan Sang Maha Pencipta kepada mereka.

Warga kampung di pesisir itu mayoritas bermatapencarian sebagai nelayan. Sedangkan istrinya selain ibu rumah tangga juga sambil mengurus ternak, dan mencari rumput untuk makan sapi atau kambing.

“Buk, nggak usah cari rumput dulu! Nanti biar bapak yang carikan, sekalian pulang dari pantai,” kata Bapak Dimas setelah berganti pakaian sehari-harinya ke pantai.

“Yo, Pak, eh.. Pak, jangan dijual semua nanti kepitingnya. Ibu mau buatkan sup untuk Dimas,” pesan istrinya.

Bapak Dimas mengangguk. Bunyi motor keluaran tahun 80 an itu sudah hilang dari pandangan Ibu Dimas.

“Buk, mana lebih hebat Kanjeng Ratu Kidul apa Gusti Alloh?” tanya Dimas saat mengingat obrolannya dengan Pujang tadi malam.

“Koe ngomong opo, toh?” Ibu Dimas balik tanya memasang wajah malas.

“Mana lebih hebat Kanjeng Ratu Kidul apa Gusti Alloh?” tanya Dimas sekali lagi.

Ibu Dimas menghela napas panjang, “Di dunia ini, Le, tidak ada yang lebih hebat selain Gusti Alloh. Dia, Alloh, raja di atas raja. Karena Gusti Alloh-lah yang menciptakan bumi dan seisinya, Ia pula yang menjaga dan menguasai seluruhnya. Koe sakit karena Gusti Alloh, koe bisa sekolah karena Gusti Alloh, kambing koe ngembek karena Gusti Alloh.”

Dimas yang mendengar Ibunya menyebut kambingnya tertawa kecil. Kemudian menyusul tanya-tanya yang lain yang begitu Panjang, sepanjang gerbong kereta api mengenai Kanjeng Ratu Kidul.

“Jadi, Buk, kita nggak boleh ya memohon doa untuk Kanjeng Ratu Kidul?”

“Doa untuk apa?” cakar ayam di sebelah mata Ibu Dimas semakin terlihat jelas.

“Yo, biar kita hidup diberkahi. Biar kampung kita selalu mendapat berkah misalnya. Atau juga kampung ini warganya kayak orang kota yang sugih-sugih itu.”

Ibu Dimas tersenyum, dibelainya rambut anak semata wayangnya itu, “Le, berdoalah kepada Gusti Alloh, mintalah pada-Nya. Jangan pernah sekali-kali meminta pada yang lain. Kalau kita memohon doa pada yang lain, itu artinya kita tidak percaya pada kekuasaan Gusti Alloh. Tidak percaya berarti kita ragu padanya, keimanan kita sudah pudar.”

Sulit untuk memberikan penjelasan mengenai Kanjeng Ratu Kidul yang melegenda mendarah daging di kampung itu, apalagi pada anak-anak. Namun Ibu Dimas juga sadar, jika tidak diberikan pemamahaman akidah untuk membentenginya, anaknya bisa berpaling dari Tuhan Yang Maha Kuasa suatu hari nanti.

“Orang kalau mau sugih ya kerja keras, hemat belanja, bisa manfaatkan uang yang baik, dan pandai menabung. Itu caranya, Le, jangan yang macam-macam dikerjakan!” sambung Ibu Dimas.

“Tapi, Buk, kenapa kita miskin?” tanya Dimas takut-takut. Ucapnya lagi, “Nggak kayak Pujang sugih. Bapaknya baru kasi hadiah dia sepeda baru.”

Ibu Dimas tersenyum,  bola matanya teduh berbinar menatap anaknya lekat-lekat, “Siapa bilang kita miskin, Le? Koe bisa sekolah, makan kita cukup, keluarga kita bahagia, tenang, damai. Bukankah itu kekayaan, Le?”

Mendengar jawaban ibunya, Dimas tidak puas. Wajahnya memasang bukan itu maksud Dimas, Buk.

“Memangnya kenapa? Koe bisa sekolah tinggi-tinggi nanti. Kan koe mau jadi orang hebat di negara ini, itu udah ibuk siapkan. Makanya sekolah yang benar. Tabungan ibuk cukup untuk kuliahkan koe di kota.”

Lagi-lagi bukan itu jawaban yang diminta Dimas.

“Sepeda Pujang bagus,” Dimas mendesis.

“Ooo… koe mau sepeda baru, toh? Kan sepedanya masih bagus. Sabar dulu! Pakai yang itu dulu!” dibesarkan hati anaknya.

***

Tiga hari Dimas baru sembuh dari demam dan masuk angin. Kabar yang baik bagi Pujang. Tahu sahabatnya sudah sembuh, sepedanya ia kayuh cepat-cepat menuju rumah Dimas.

“Eh, konco,” sapa Pujang yang baru saja tiba di rumah Dimas, “aku tau di mana tempat main yang seru kali ini.”

“Jangan ke pantai lagi!” sahut Dimas, tidak begitu tertarik tawaran Pujang. Namun ia melirik tas yang ada di punggung sahabatanya itu.

“Oh… bukan!” Pujang mencibirkan bibirnya. Pipinya semakin menggelambir jatuh ke bawah.

“Terus di mana?” Dimas mulai tergoda.

Badan Pujang yang gemuk sudah menempel ke bahu Dimas, berbisik, seperti rahasia yang sangat penting yang harus dijaga mereka berdua.

“Koe serius?! Nggak bahaya itu?!” seru Dimas.

Pujang mengangguk dengan wajah menyakinkan.

“Tunggu di sini, tak ambil sepeda dulu!” Dimas berdiri mengeluarkan sepedanya.

Tanpa menunggu lama-lama, dua bocah ini sudah melesat dengan sepedanya masing-masing.

“Dimas, Pujang! Jangan pulang sore-sore!” teriak Ibu Dimas yang baru pulang merumput.

“Inggih, Buk!” jawab mereka serempak.

Sekitar 45 menit dengan kebut-kebutan bersepeda akhirnya mereka tiba di suatu tempat. Satu tempat di mana hanya orang-orang tertentu saja yang datang kemari. Bahkan dipercaya oleh warga kampung, itu tempat keramat. Tidak boleh sembarangan yang masuk ke dalam, jika tidak ingin terkena bala. Begitulah keyakinan warga kampung di pesisir pantai selatan.

Namun Pujang yang selalu ingin tahu banyak hal tidak perduli larangan warga kampung. Ia lebih memilih dimarah daripada tidak tahu apa yang ingin diketahuinya. Apalagi kepercayaannya terhadap mistik begitu kuat.

Namun, tidak dengan Dimas, ia hanya mengikuti Pujang. Baginya, Pujang selalu terbaik dan suka menolongnya.

“Sepedanya letak di sini, Mas. Kita harus berjalan. Sepeda nggak bisa masuk, banyak batu-batu kapur di sana,” kata Pujang, ia keluarkan sebotol minuman dari tasnya dan meneguknya, lalu memberikannya pada Dimas, “minum dulu!”

Jalan setapak mereka lalui, kanan-kiri semak belukar setinggi tiga kali lipat tubuh mereka. Tebing-tebing di tepi pantai menjulang tinggi. Rerumputan dan pepohonan hijau tampak begitu subur tumbuh di atas bukit.

Gemericik air sungai begitu syahdu terdengar, air yang berwarna cokelat itu mengalir cukup deras menuju lautan samudera hindia.

“Segar airnya, Jang!” seru Dimas saat membasuh wajahnya.  

Pujang melemparkan senyum. Ia asyik membasuh wajahnya, lehernya, dan tangannya.

“Berapa jauh lagi?” tanya Dimas, ia duduk di atas batu kelelahan.

“Nggak jauh, di balik bukit itu!” Pujang menunjuk sebuah bukit di arah timur, “satu kilometer paling dari sini.”

Mereka kembali berjalan. Pujang bersiul-siul, wajahnya tampak gembira di bawah kolong langit yang semakin membiru. Dan Dimas bernyayi tak menghiraukan siulan Pujang. Merasa suara Dimas lebih keras, Pujang meghentikan siulannya, dan ikut bernyanyi dengan Dimas.

“Nah, ini tempatnya, bagus, kan?” kata Pujang setelah tiba di mulut gua.

Dimas berdecak kagum. Lehernya melongok ke dalam mulut gua.

“Pakai senter ini!” senter kepala diberikan Pujang ke Agus, “di dalam gua itu gelap, Mas.”

“Aku juga bawa sepatu untuk koe, tapi agak kebesaran. Pakailah!” Pujang melempar sepatunya.

Setelah semuanya siap, mereka pun masuk ke dalam gua. Pujang komat-kamit entah doa apa yang ia ucapkan. Dan Dimas seperti pesan ibunya, selalu memohon doa pada Allah SWT, agar diberi keselamatan oleh Penguasa bumi, langit, dan segala-galanya.

“Koe ingat sungai tadi? Air ini alirannya dari sana juga. Setelah mengalir dari sini baru ke laut,” Pujang menjelaskan. Kaki mereka berkecipak di dalam gua yang dialiri sungai.

Dimas di belakang Pujang ber-oh saja. Memahami setiap kalimat yang terlontar dari sahabatnya itu. Stalagmit dan stalagtit di dalam gua itu sangat eksotis. Runcing dan begitu tajam. Kelelawar berterbangan saat senter mereka mengarah ke langit-langit gua.

“Wih… banyak betul kelelawarnya, Jang!” Dimas terkejut, tak pernah ia melihat kelelawar sebanyak itu.

“Iya, Mas, kalau nggak kita senteri, mereka nggak akan berterbangan. Mungkin karena merasa terganggu.”

“Ada yang besar nggak ukurannya?” tanya Dimas.

“Ada, sebesar ayam jago,” jawab Pujang, langkahnya terhenti melirik Dimas.

Dimas bergidik mendengar kelelawar sebesar ayam jago. Pujang yang tahu sahabatnya cemas berseringai.

“Tenang… di sini nggak ada yang seperti itu!” Pujang kembali menggoda Dimas, “koe mau digigit kelelawar biar jadi bekmen.”

Lidah Pujang keseleo mau bilang batman jadi bekmen. Dimas hanya tertawa kecil mendengar sahabatnya berkelakar.

“Koe kebanyakan nonton film kartun!” lidah Dimas menjulur mengejek. Pujang tertawa terbahak di dalam gelapnya gua tersebut.

“Berapa meter ke dalaman gua ini, Jang?” tanya Dimas kemudian.

Pujang mengangkat bahu, “aku juga belum pernah ke sini. Kita jalani aja sampai buntu, atau juga sampai tembus kemana gua ini berakhir.”

Mereka sudah memasuki gua sedalam 2 km. Namun gua tersebut masih terlalu panjang dan dalam. Hanya secuil petualangan mereka dari gua yang baru ditemukan oleh warga kampung itu. Sebelumnya warga kampung sudah mengumumkan keberadaan gua tersebut, namun saat ini masih dalam tahap penelitian yang akan dilakukan oleh pemerintah setempat, dan pihak kampus dari kota.

Namun Pujang yang menguping pembicaraan warga kampung dirumahnya penasaran dengan gua yang sedang ramai dibicarakan. Itu pula kenapa Pujang semangat sekali mengajak Dimas yang sudah sembuh dari demamnya.

“Kita istirahat dulu,” suara Pujang mulai serak. Badannya yang berlemak berlumuran keringat jagung.

Dimas mengikuti Pujang, lalu duduk di sampingnya.

“Dulu, kata orang kampung, di gua ini tempat bertapa mbah… mbah…” suara Pujang terputus, ia lupa siapa nama mbah yang bertapa di gua itu.

“Mbah siapa, Jang?!” desak Dimas ingin tahu.

Pujang geram sendiri, tangannya dikepal memukul-mukul pahanya. Ia lupa, benar-benar lupa.

“Ingatan koe memang buruk, Jang! Mungkin itu sebabnya nilai koe jelek,” Dimas tertawa puas mengejek Pujang.

Pujang yang diejek hanya mendengus sebal.

“Jang, kenapa air makin deras dan makin dalam,” Dimas melihat air di kaki mereka yang semakin meninggi. Hitungan detik saja air sungai di dalam gua itu bertambah sekian senti.

“Gawat, Dimas! Gawat!” Pujang berseru panik.

“Apanya yang gawat?” Dimas menyahut tak kalah paniknya.

“Air ini akan semakin meninggi, dan terus meninggi. Kalau kita nggak cepat-cepat keluar, kita bisa tenggelam di sini,” Jelas Pujang, ia buru-buru menyiapkan tasnya, “Ayo cepat kita keluar! Sekarangggg!”

Tanpa perintah dua kali, Dimas berlari-lari kecil mengikuti Pujang.

“Lebih cepat, Dimas!” desak Pujang yang memimpin jalan keluar.

Benar saja, air semakin deras mengalir. Air sungai yang mengaliri gua itu tingginya sudah sepaha mereka. Hujan di luar begitu deras. Petir menyambar-nyambar dengan dentuman maha dashyat memekakkan makhluk bumi. Awan hitam tersaput dengan awan kelabu. Hujan turun sederas-derasnya. Hari yang tak bisa diprediksi. Padahal tadi cuaca sangat cerah.

“Gimana ini, Mas?” Pujang bingung, semakin bingung. Tak tahu apakah masih sempat keluar dari dalam perut bumi itu.

“Terus aja, Jang! Lari terus, jangan banyak bicara!” Dimas mendorong badan gemuk Pujang.

Hanya beberapa meter saja langkah Pujang terhenti, bibirnya gemetar, wajahnya pucat pasi, ia mendadak mematung.

“Jang, kenapa berhenti?! Ayo jalan terus!” digusarnya badan Pujang oleh Dimas.

“Aku takut, Masss… aku nggak mau matiiii,” Pujang terisak, airmatanya sudah menetes.

“Kalau koe nggak mau mati, koe jalan sekarang! Diam diri berarti mati. Ngerti, koe?!” Dimas membentak memegangi kepala sahabatnya, “Koe di belakang! Biar aku di depan!”

Kali ini langkah kaki mereka lebih cepat. Mereka berpacu dengan waktu, jika menyia-nyiakan waktu dalam hitungan detik saja mereka akan terkubur di perut bumi selamanya. Tidak ada yang tahu.

“Aduhh!” Dimas meng-aduh.

Dimas terjedut kepalanya oleh stalagtit, senter di kepalanya terjatuh dibawa arus sungai, dan pelipisnya bocor mengucurkan darah segar. Pujang semakin pucat, gemetaran menggigil. Menggigil bukan karena dingin, tapi ketakutan.

“Hanya luka sedikit, nggak masalah,” ia menatap tajam mata Pujang, kemudian ia sobek lengan bajunya, dan diikatkan ke kepala, “jalan lagi!”

Alat penerang mereka kini hanya satu, memperlambat langkah kaki. Sementara air semakin tinggi. Kini tingginya sudah seperut mereka.

“Hati-hati, Dimas!” Pujang mengingatkan dengan suara serak.

***

Ibu Dimas mondar-mandir di depan pintu menunggu anaknya. Hujan belum juga berhenti. Halaman rumah sudah penuh oleh air. Turunnya hujan suatu keberkahan bagi warga kampung, setidaknya isi tampungan air mereka kembali penuh. Tapi kalau hujan berlebihan begini, mencemaskan juga bagi mereka.

“Dimas nggak apa-apa, Buk, dia kan anak laki-laki,” Bapak Dimas menenangkan istrinya, ia usap-usap bahunya, “Ibuk terlalu memanjakan dia, jadinya Ibuk cemas sendiri.”

“Bapak juga terlalu membebaskan dia bermain, jadi kayak gini sekarang.” ucap Ibu Dimas membela diri.

Bapak Dimas tersenyum, sampai tertawa kecil, “Ibuk mau anak kita tumbuh bukan jadi anak seorang nelayan yang gagah berani, tak pernah takut dengan ombak samudera?” sambungnya lagi, “nggak ada anak nelayan yang tumbuh menjadi seorang penakut. Biarkan dia sejak kecil tahu alam sekitar, dan paham bagaimana menyikapi dan bersahabat dengan alam.”

Ibu Dimas hanya berkecap-kecap. Tak terima apa yang baru saja diucapkan suaminya. Mau bagaimanapun seorang ibu tentu takut apa yang terjadi pada anaknya di luar sana. Apalagi ini hujan tidak seperti biasanya. Sangat deras, sudah berjam-jam tidak berhenti.

“Paling dia juga sama Pujang, mungkin juga di rumahnya. Terjebak hujan, jadi nggak bisa pulang,” pria yang selalu tampak tenang itu membelai istrinya, “sabarlah sebentar lagi! Kalau belum datang juga, biar bapak cari Dimas.”

Terjebak hujan, tepatnya terjebak hujan di dalam gua.

“Firasat ibuk nggak enak, Pak,” Ibu Dimas mendesah.

“Berdzikirlah, semoga anak kita nggak apa-apa.”

Satu jam kemudian hujan mulai reda, hanya menyisakan gerimis yang masih turun dari langit. Dari kejauahn terlihat samar-sama seorang anak naik sepeda. Badannya menggigil dengan hebatnya. Ia betul-betul kedinginan. Kepalanya masih terikatkan kain. Namun wajahnya begitu tenang, tidak ada rasa sedikitpun takut atas pengalaman yang baru saja terjadi padanya.

“Itu Dimas, Pak, itu Dimas!” teriak Ibu Dimas menyambut anak kesayangannya sambil berlari. Dan Bapak Dimas juga ikut mengejar.

“Darimana aja koe, Le?” Ibu Dimas tak sabar ingin tahu apa yang terjadi pada anaknya, ia lihat pelipis Dimas, “ini! ini kenapa?”

“Nggak apa-apa, Buk, tadi jatuh main bola,” jawab Dimas dengan santai menyenderkan sepedanya dan langsung masuk ke rumah. Dimas mengambil handuk, lalu segera mandi.

Orangtua Dimas saling bertatapan, melihat ada yang ganjil pada putra sematawayangnya.

“Kan betul, anak kita nggak apa-apa,” Bapak menyeringai, menggoda istrinya. [Asmarainjogja.id]

Baca juga: 

Kanjeng Ratu Kidul dan Dua Sahabat

 

Lihat juga: 

Kaos Gunung Semeru, Persembahan dari Asmara In Jogja

Kaos Gunung Semeru

 

Clorist Florist Pesanan Bunga Terbaik di Yogyakarta

Clorist Florist Yogyakarta



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas