Ilustrasi menyanyi | Credit Texas Is The Reason

Oleh: Asmara Dewo

Puisi untuk Ana itu mengingatkan Icow oleh kata-kata Eki. Bagaimana kau tahu, kau tidak begitu perduli terhadap Ana. Hatinya, perhatiannya, dan segala-galanya tentangmu. Kalimat yang berkali-kali menghantam dada Icow, sesak, sakit, tak tertahankan. Icow meremas-remas kepalanya, menjambaki rambutnya sendiri, matanya bulat melotot ke langi-langit kamar. Dituduh tidak mengenali sahabat sendiri, tentu itu membuat Icow frustrasi. Meminta maaf pun tiada guna, dengan siapa harus bersimpuh memohon maaf. Ana sudah di dunia yang berbeda, alam kedamaian. Semakin mengingat wajah Ana, semakin pilu hatinya. Tidak perduli terhadap Ana.

Icow keluar kamar, buru-buru ke warung tidak jauh dari rumahnya. Bulan separuh menggantung di langit hitam, angin malam lebih dingin dari biasanya. Belakangan Yogyakarta cuacanya cukup ekstrem, ketika malam menjemput dinginnya luar biasa. Tak bisa keluar rumah jika tak memakai jaket. Icow membalutnya tubuhnya dengan jaket yang sempat menggigil karena saking dinginnya.

“Untuk siapa rokoknya, Cow?” tanya Ibu warung curiga. Karena selama ini Icow tak merokok. Juga bapaknya.

“Untuk teman, Bukde,” kata Icow. Rokok kretek sudah ditangan.



Pemilik warung heran, wajah Icow yang polos menyisakan tanda tanya. Sebelum bertanya lebih lanjut, Icow sudah melangkah pulang. Tak ada obrolan seperti biasa, ramah, bercakap-cakap sebentar, atau basa-basi.

Asap rokok sudah mengepul di kamar. Kopi panas dari secangkir kopi menemani Icow   menikmati rokok kretek itu. Bau tak sedap dari asap membuat Bi terganggu. Hidungnya mengendus-endus, merasa tak nyaman, ia keluar, yang dibuntutui keempat anaknya yang masih kecil.

Dulu ketika SMA, Icow sempat merokok, tapi berhenti sejak masuk kuliah. Dan sekian tahun ia kembali mengisap tembakau yang membuat pikiran lebih santai. Apakah karena rokok itu atau doktrin dari dirinya sendiri, Icow memang lebih tenang. Ia tatap foto ketujuh sahabatnya dari figura besar. Ana yang tersenyum menampakkan gigi putihnya, seakan-akan memberikan senyuman manis pada Icow. Limo juga tak kalah ceria di foto itu.

Maafkan aku, maafkan aku, kawan-kawan,  suara Icow lirih terdengar. Tak terasa, rokok yang ketiga batang diisapnya, kopi sudah habis. Pikiran Icow masih melayang-layang jauh, antara masa lalu, dan sekarang. Tangan Icow meraba-raba laci, mencari hapenya yang ia sendiri lupa meletakkanya. Hape itu sudah lama tidak diaktifkan, semenjak kepergian kedua sahabatnya.

Setelah hape itu digenggamannya, ia nyalakan, ada puluhan pesan masuk. Icow lihat saja tanpa membukanya. Lalu ia mengirim pesan ke Eki.

“Eki, posisi?”

“Di kafe. Kawan-kawan yang lain juga kumpul di sini.” pesan di balas.

Kemudian pesan masuk dari Eki, “Icow, posisi?”

“Di rumah. Oke, aku segera ke sana.”

Icow langsung ke kamar mandi. Mesti dingin, ia terpaksa harus mandi. Sisa keringat seharian masih menyengat di hidung. Beberapa menit kemudian Icow sudah keluar dari kamar mandi, lalu ke lemari pakaian. Kemeja lengan panjang putih dan jins biru, menjadi setelannya malam ini. Bukan tanpa sebab ia pilih kemeja putih, pikir Icow saat itu agar terlihat lebih cerah. Kemeja putih itu dibalut dengan sweater abu-abu. Sepatu kets sudah siap ikut melangkah di kakinya. SUV putih keluar dari bagasi. Icow melesat membelah jalan menuju kafe di Alun-Alun Utara.

Kafe tempat biasa nongkrong Icow dan temannya itu memang tidak pernah sepi. Berbagai kalangan menikmati suasana hangat kafe yang bercorak Jawa modern. Beberapa lampion, lampu-lampu hias menerangi meja-meja yang dipenuhi pengunjung. Bunga-bunga ukuran kecil turut menghiasai suasana kafe outdoor  tersebut.

Yang tak pernah membuat sepi kafe itu adalah band yang selalu menemani setiap malam pengunjung. Di kafe itu, pengunjung boleh bernyanyi. Tentu saja pemain gitar, keyboard, drum, sudah siap mengiri lagu pilihan pengunjung. Kerennya, hampir setiap lagu, para pemain hapal dan mahir memain alat musiknya masing-masing.

“Kepada para pengunjung yang terhormat, dan teman-teman karib. Lagu ini saya persembahkan khusus untuk sahabat kami yang sudah mendahului kita, Ana dan Limo. Dan semoga amal, juga ibadahnya diterima Allah SWT. Saya ucapkan selamat menikmati malam bahagia ini, dan selamat menikmati liburan di Kota Istimewa bagi tamu-tamu dari luar Yogyakarta,” ucap Eki yang sudah berdiri di panggung kecil.

Dear God… Lagu dari Avanged Sevenfold  itu menghayutkan para pengunjung di kafe. Baik turis maupun pengunjung lokal meresapi setiap lirik yang dinyanyikan Eki. Uni sendiri bahkan air matanya tak bisa dibendung lagi. Meleleh membasahi pipinya yang kemerahan. Sapu tangan berkali-kali ia elapkan di matanya. Pati, Ali, Salman, juga merasakan kesedihan yang begitu dalam pada lagu itu. Sesekali mereka mengikuti lagu Dear God  tanpa suara.



Dear God the only thing i ask of You is

To hold her when i’m not around

When i’m much too far away

We all need that person who can be true to you

But I left her when I found her

And now I wish i’d stayed

Cause i’m lonely and i’m tired

I’m missing you again… oh no

Once again

Anata, saudari kembar Ana yang saat itu bersama mereka di ujung matanya embun hangat bergulir menetes. Menangis. Terbayang wajah saudarinya. Usai lagu itu, Eki mengucapkan terimakasih, dan diberi applaus  yang begitu meriah oleh pengunjung. Eki dengan mata berkaca-kaca, bergegas turun dari panggung kecil kembali ke meja sahabatnya. Pati menyambutnya dengan jabatan erat,

“Luar biasa, Bro, sangat keren,” lalu Pati memeluknya, “kita selalu merindukan mereka. Dan kita akan selalu bersama, Bro.”

Bergiliran, semua menjabat tangan Eki. Dan para sahabat itu termenung dengan pikirannya masing-masing.

“Selamat malam, Mas Icow,” sapa pegawai kafe, “lama tidak kelihatan. Sibuk, ya, Mas? Di organisasi atau sibuk bertualang?”

Icow membalas sapa pria yang agak gemulai itu, “Ya, begitulah,” Icow tak mau membahas yang dianggapnya tidak penting, “teman-teman di meja berapa, Mas?”

“Meja 12,” dia menunjuk meja yang paling pojok sebelah selatan.

“Oke, terimakasih,” Eki membalikkan badannya sebelum jauh meninggalkan pegawai senior tersebut, “seperti biasa, vietnamese drip.”

“Siap, juragan!” dikedipkan matanya yang membuat Icow bergidik.



Di antara rumunan pengunjung cafe Icow menuju meja sahabatnya. Musik terus berlanjut, pengunjung di sana bergantian, mengekspresikan diri dengan lagu-lagu kesukaan mereka. Mulai lagu lokal, sampai lagu mancanegara, mulai lagu lawas, sampai lagu paling hits, yang sedang trending di Youtube. Kerinduan beberapa pekan antara sahabat itu kini tumpah di pertemuan itu. Icow mengagetkan sahabatnya,

“Hai, apa kabar semua?” suara Icow begitu kuat terdengar, “dan, kau gendut, bagaimana kabarmu?” Icow mencubit pelan perut Pati.

“Aku selalu sehat, kawan.” Pati memeluk sahabatnya. Tangannya menepuk-nepuk pundak Icow cukup lama.

“Kemana saja, Brother?” tanya Salman tak kalah erat memeluk Icow.

“Tidak kemana-mana, di rumah saja,” jawab Icow.

Lalu Icow memeluk Ali, dan Eki. Dan terkhir menyalami Uni. Tentu saja tidak serindu sahabat lain karena tadi sore mereka baru saja bertemu. Icow tampak terkejut saat melihat seseorang yang duduk di samping Uni. Bola matanya kecokelatan dengan alis tebal memanjang, hidungnya mancung, bibirnya tipis, pipinya tirus, jidatnya agak lebar. Tinggi badannya 165 meter dengan rambut hitam lebat tergurai panjang sampai ke punggung. Berkulit kuning langsat, khas suku bangsa Jawa. Wajahnya mirip sekali dengan Ana. Bagai pinang dibelah dua. Sama-sama cantik.

“Ana…” Icow mencoba mengingat-ingat namanya.

“Anata,” sambung perempuan itu dengan mengulurkan tangannya.

“Icow,” ucap Icow, tangannya gemetar. Seolah-olah Ana hadir kembali di hadapannya. Tapi, pikiran itu Icow buang sejauh-jauhnya. Ia sadar ini realitas. Anata adalah saudari kembar Ana.

“Bagaimana kabar kamu, Ana?” Icow mencoba mencairkan perasaan gugupnya. Yang dipanggil meralat.

“Anata.”

“Oh, iya, Anata. Bagaimana kabarmu?”

“Ya, seperti yang terlihat. Jauh lebih baik,” jawab Anata singkat.

Teman-teman yang lain saling bercakapan, mengobrol berbagai tema yang terlintas pada malam itu. Seperti biasa, Pati selalu menjadi bahan-bahan olokan. Seorang pegawai mengantarkan pesanan Icow, terlihat enerjik dan penuh kegembiraan selalu menyapa para langganan kafenya.

“Kopinya, Mas Icow,” tangannya tampak lentik meletakkan kopi di atas meja. Lalu menyapu pandangannya ke depan tamunya, “ada yang mau tambah pesanan lagi?”

“Kentang goreng tiga porsi,” ucap Pati, setelah tidak ada lagi makanan yang bisa dikunyahnya, “tidak pakai lama.”

“Siap, Bos Endut!” pegawai itu dengan centil membalikkan punggungnya.

Teman-teman yang lain tertawa, ketika Pati dipanggil Bos Endut. Pati sendiri merasa geram, lalu menyeruput kopi di depannya. Mulutnya mengucap sumpah serapah. Sialannnn... batin Pati, tambah lagi gelar yang disandangnya, Bos Endut.



 

“Masih lama di Yogyakarta?” tanya Icow ke Anata.

“Ya, lama. Aku ambil cuti kuliah.”

“Oh, begitu,” Icow memegang hidungnya. Bingung mau mengobrol apa dengan Anata.

Apakah Anata masih sedih atau karakternya memang begitu ketika baru berjumpa dengannya?  Icow menerka-nerka. Anata lalu mengobrol panjang lebar dengan Uni. Terlihat hangat, layaknya seorang sahabat lama. Bukan baru kenal. Icow menyeruput kopinya yang masih panas, dan berjalan menuju pentas kafe.

“Para hadirin yang terhormat, beberapa jam yang lalu saya menuliskan sebuah puisi. Puisi untuk seorang sahabat. Puisi ini tidaklah begitu indah, karena memang saya bukan penyair seperti Kahlil Gibran,” ucap Icow yang sudah berdiri di atas pentas.

“Namun, puisi ini ditulis dengan rasa kecintaan, rasa kerinduan, rasa semangat menjemput hari esok. Yakin, begitu yakinya, hari esok akan lebih baik lagi. Janji seorang sahabat yang meneruskan impian mereka,” suara Icow begitu mantap dari mikropon yang dipegangnya, “Samudera Hati.”

Icow melepaskan sweater dan mengikatkannya di leher. Sebelum membacakan puisi itu, Icow mengetes gitar yang kini sudah dipeluknya. Petikan gitar terdengar indah, jemarinya lihat menari di antara senar gitar. Lampu-lampu kafe sebagian dimatikan, kecuali lampu untuk bekerja para pegawai. Sebuah lampu sorot menerangi wajah Icow. Dengan suara yang padat, bait-bait puisi itu mulai diucapkan.

Kata mereka takdirmu bersama samudera

Kata mereka hidup ada batasnya

Kata mereka cerita manusia berbedabeda

Kata mereka anak manusia di bawah kuasa-Nya

Bait pertama puisi yang diringi petikan gitar itu sudah membuat pengunjung merinding. Malam itu seakan-akan waktu berhenti. Bumi tak berotasi lagi. Dan membiarkan seorang anak manusia mengucapkan bait-bait puisi dari hati terdalamnya. Malam itu seolah-olah menjadi malam Icow dengan puisinya, Samudera Hati.



Delapan sahabat berlari riang di tepi pantai

Pasirnya lembut diinjak kakikaki kecil

Deburan ombak bergemuruh syahdu

Kicauan burung menari di angkasa

Enam sahabat Icow di sana langsung mengenang kebahagian bersama Ana dan Limo saat di Pantai Greweng, Gunungkidul. Bagaimana cerianya mereka saat menggendong tubuh Limo yang kurus, lalu melemparnya ke pantai. Semua tertawa. Ana yang juga saat itu sempat merekam momentum gokil itu dari handycam-nya. Guratan setiap keceriaan itu terkenang lagi saat Icow melantunkan bait puisi yang kedua itu.

Bukitbukit menghijau kokoh menjulang

Petani senyum baru memanen

Cukup untuk beberapa bulan ke depan

Nelayan bahagia baru pulang berlayar

Membawa ikanikan segar dari tengah laut selatan

Laut Selatan, Gunungkidul, adalah inspirasi mereka. Tempat mereka bermain, tempat mereka menikmati dan belajar memahami alam dan manusia. Mereka sadar bahwa alam adalah guru, ibu, dan petunjuk. Sebabnya pula melindungi dan melestarikan alam adalah kewajiban bagi anak manusia, agar alam tak mengutuk anak atau murid yang durhaka.

Lihatlah, Ana!

Betapa indah alam semesta

Manusianya berjuang hidupmati dari lautan

Lihatlah, Ana!

Betapa gagahnya anak manusia

Bertahan hidupmati memperjuangkan hak dan kewajiban

Lihatlah, Ana!

Hewan dan tumbuhan yang senantiasa mendampingi anak manusia

Di saat suka maupun duka

Lihatlah, Ana!

Anak-anak nelayan penuh harapan

Membawa perubahan di masa yang akan datang

Suara Icow melalui puisinya mentransfer kecintaan dan keyakinan kepada para sahabatnya dan para hadirin, bahwa manusia dan alam hidup saling berdampingan. Manusia membutuhkan alam. Dan alam senantiasa memenuhi kebutuhan manusia dengan segala kekayaan di perutnya.



Ah, kau sudah tenang di sana

Mengintip dari kelambu alam yang berbeda

Ana, enam sahabatmu ini akan mengenangmu

Dari cerita-cerita yang ditulis, dari puisi-puisi yang tersurat, dari rapalan-rapalan yang menembus waktu

Icow berdiri, melepaskan gitarnya. Kakinya melangkah beberapa meter ke depan. Diam sejenak, memejamkan matanya. Mencoba merasakan kehadiran Ana di sana. Menggambar wajah Ana dari setiap kata dalam puisinya. Kini suaranya parau mengakhiri puisi.

Kau, kami benamkan di samudera hati

Selamanya… selamanya..

Sekali lagi kau intip, lihatlah kau akan tersenyum sendiri

Perjuangan anak manusia untuk manusia

Janji kami, janji dari sebuah persahabatan.

Icow menutup puisi dengan membungkukkan badan dan salam hormat kepada siapa saja yang hadir di kafe. Tepuk tangan sahut menyahut, semakin kencang. Pujian terlontar dari beberapa pengunjung yang sejak awal begitu takjim mengikuti kata demi kata puisi Icow.

“Puisi yang begitu indah,” puji salah satu pengunjung yang masih berdiri dan bertepuk tangan itu.

Amazing, good boy. I like him.” ucap seorang Bule.

Tepuk tangan yang meriah itu perlahan berhenti, di saat Icow mengambil alih lagi suasana.

“Terimakasih, teman-tema, terimakasih,” kata Icow dengan suara terharu, dan senyuman lebar, “aku ingin menyanyikan satu lagu. Apakah kalian ingin mendengarnya?”

Tentu saja para pengunjung di sana mengangguk dan kembali bertepuk tangan begitu antusiasnya. Sebelum Icow memulai lagunya, ia memanggil beberapa personel band kafe untuk mengiringi lagu yang akan dibawanya.

“Baik, teman-teman,” kata Icow, “Andai Kau Datang, semoga kalian suka.”

Lagu tempo dulu itu dinyanyikan Icow dengan suara khasnya yang menggetarkan setiap pendengar. Tenang Icow menyanyikannya, suaranya juga merdu turut menambah syahdu malam di sekitaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Hadirin berdecak kagum, siapa sangka lagu itu semakin indah dinyanyikan Icow dibandingkan penyanyi-penyanyi modern yang mengaransemennya. Semua lewat! Icow jadi bintang malam ini. Dari tampang dan bakatnya Icow memang lebih cocok jadi seorang seniman daripada aktivis yang hampir setiap bulan aksi.



Tapi itulah pilihan Icow. Perjuangan tidak hanya dengan kata-kata, puisi-puisi, tulisan-tulisan tajam, novel atau buku sekalipun, mendobrak penguasa zalim dengan aksi massa lebih kongkret dibandingkan dengan yang lainnya. Orasi di depan penguasa bukan sekadar ucapan tantangan, namun sebagai pemicu semangat massa untuk terus menggelorakan api perjuangan.

Dan malam ini Icow menjelma menjadi seorang musisi yang saat itu juga pendengar menjadi jatuh hati. Siapa pula yang tidak menaruh simpati seorang pemuda tampan menyanyikan lagu Andai Kau Datang dengan begitu sempurna. Sesekali mata Icow terpejam membayangkan sahabatnya, Ana dan Limo duduk di hadapannya. Mata hitam Icow mulai berkaca-kaca. Musik terus berlanjut mengiringi lagu itu. Sahabat Icow semakin bergetar jiwa dan raganya.

Andai kau datang kembali

Jawaban apa yang kan kuberi?

Adakah cara kau temui

Untuk kita kembali lagi

Bersinarlah bulan purnama

Seindah serta tulus cintanya

Bersinarlah terus sampai nanti

Lagu ini kuakhiri

Bersambung… [Asmarainjogja.id]

  Baca cerita sebelumnya:

Memeluk Ana di Samudera Hati



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas