Pantai Sedahan, Gunungkidul, Yogyakarta | Foto asmarainjogja

Asmarainjogja.id – Ketika kamu berada di Yogyakarta, pantai indah mana yang masuk ke daftar wisata? Jika pantai di daerah Gunungkidul, itu adalah daftar wisata pantai yang tepat sekali.

Lalu, nama pantai apa yang akan kamu kunjungi? Nah, bagi yang memiliki jiwa petualang tidak terlalu suka keramaian, dan betah berlama-lama menikmati keindahan pantai bersama sahabat, maka Pantai Sedahan wajib kamu kunjungi.

Betualanglah ke sana, telusuri keindahan pantai dan alam bumi Gunungkidul di tepi Samudera itu. Sejuta pesan akan tersampai menghinggapi hati kamu. Dan tak akan hilang semua kesan yang kamu torehkan di Pantai Sedahan, Desa Girisubo, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Pantai Sedahan

Pantai Sedahan di balik dua tebing | Foto asmarainjogja 

Dan ini adalah petualangan kami menyusul kepingan surga di balik perbukitan. Mungkin kamu setuju, jika rencana yang dibuat jauh hari sebelum keberangkatan, akhirnya bisa gagal total. Sahabat satu ada kendala, sahabat yang lain lagi, mendadak sakit, ada juga yang tidak mendapatkan izin, atau juga tiba-tiba bad mood, dan ragam penyebab lainnya.

Duh.. kamu yang sudah siap jauh-jauh hari dan membayangkan semua keindahan di sana, terpaksa ditepis dengan kekecewaan. Namun kali ini perjalanan kami, alhamdulillah lancar dan seru untuk dibagikan untuh sahabat traveler.

Pantai Sedahan

Rizka, Putri, Reza, dan Andi, kami bertualang di Pantai Sedahan | Foto asmarainjogja

Baca juga: 

Sepotong Keelokan Pantai Greweng di Deretan Pantai Indah Gunungkidul

Sensasi Terpelanting Dihantam Ombak Pantai Jungwok (Edisi Camping)

Malam minggu, mereka sebelumnya berkumpul di sebuah kafe Yogyakarta, sebuah pertemuan yang sederhana, menjalin silaturahmi sebab lama tidak berjumpa. Sedangkan saya sendiri tidak bisa hadir, maklum saja untuk mengurus tulisan saya harus pontang-panting menyiapkan ragam artikel.

Malam setelah pulang dari kafe, Rizka menelpon, “Bang, Reza dan teman-teman lainnya ngajak ke pantai   Gunungkidul, gimana?” kata Rizka dari seberang telepon, Sabtu malam (29/10/2016).

Seperti biasa saya tidak bisa menolak ajakan teman, dan saya luluskan saja, “Ya udah, terserah aja! Atur aja waktunya.”

“Oke, pukul berapa berangkat?” Tanya Rizka.

“Pukul delapan,” jawab saya tegas.

Esok paginya, hari Minggu cukup cerah, sang surya mulai menyingsing ke garis vertikal. Kami sudah berada di kostan si Putri, teman Rizka sekampus. Reza dan Andi terlihat girang, mata berbinar dari tajaman anak muda. Saya sudah setahun tidak berjumpa dengan mereka, karena kesibukan masing-masing.

“Ke pantai mana kita, Bang?” tanya Reza, lanjutnya lagi “yang bagus pantai mana ya, Bang?”

“Terserah, maunya ke pantai mana?” saya balik tanya.

“Pantai di sekitar Gunungkidul.”

Kalau pantai di Gunungkidul itu semua bagus-bagus dan sangat indah, cukup sulit untuk memilihnya, seperti buah simalakama. Iya, saya serius lho. Bagi yang sudah pernah ke pantai di Gunungkidul pasti sepakat kalau pantai di sana itu keren-keren.

“Hm, kalau ke Pantai Sedahan gimana? Mau? Pantai Sedahan cantik, tapi kita harus trecking? Putri sanggup,” ucap saya, kemudian melirik Putri.

Untuk si Putri saya belum tahu betul bagaimana dia, kalau tidak sanggup fisiknya, kan bisa berabe urusannya nanti.

“Nggak apa-apa, Bang,” jawab Putri.

“Gimana, Ndi, setuju ke Pantai Sedahan?” tanya saya lagi pada Andi, sosok pemuda yang irit bicara.

“Oke, Bang, ak ikut aja,” suara terdengar jelas dan mantap.

Baik, kami sepakat menuju ke Pantai Sedahan. Panggilan keindahan Pantai Sedahan akan kami kabulkan dan membuktikannya sendiri. Sebelumnya saya juga belum pernah ke pantai yang masih jarang dikunjungi ini, namun bersama Rizka hanya sampai di Pantai Greweng saja. Padahal letak Pantai Sedahan di sebelah kiri Pantai Greweng, hanya dipisahkan oleh satu bukit saja.

Dari Yogyakarta motor kami melaju ke Piyungan, Pathuk, Wonosari, hingga sampai berada di sekitar Pantai Wediombo. Nah, daerah Desa Jipitu ini, paling populer adalah Pantai Wediombo. Bus-bus pariwisata sudah ramai keluar masuk ke wisata pantai ini. Jadi bisa dibilang inilah bintangnya pantai di sekitar sini. Namun tidak banyak yang tahu, pantai lainnya jauh lebih cantik dan memesona, salah satunya adalah pantai yang kami kunjungi ini, yaitu Pantai Sedahan.

Pantai Sedahan berada di sebelah timur Pantai Wediombo. Tidak jauh jaraknya, tinggal mengikuti jalan di sebelah kiri saja, menuju ke Pantai Jungwok. Kalau Pantai Jungwok juga sangat keren, bermain ombak di sana akan menantang adrenalin kamu, kalau ada nyali silahkan coba ke sana.

Oh ya, untuk biaya masuk ke Pantai Sedahan tiketnya Rp 5.000 per orang. Dan itu sudah semua tiket menuju pantai di sekitar, seperti Pantai Wediombo, Pantai Nampu, Pantai Watulumbung, Pantai Jungwok, Pantai Greweng, dan Pantai dadapan. Murah, kan hanya Rp. 5.000? Kamu sudah bisa membawa pulang keseruan enam pantai tersebut. Dijamin pasti seru dan menyenangkan.

Baca juga: 

Siraman Surya Pelepas Jenuh di Pantai Nampu

Pantai Wediombo Paling Populer di Kawasan Desa Jipitu Gunungkidul

Tiba di tempat parkir, Putri mulai lelah. Saat ditanya, dia jawab, “Iya capek, nggak tahan Putri kalau naik motor,” katanya jujur.

Hahahaha… belum apa-apa sudah capek. Ini masih seperempat petualangan yang sudah dimulai. Sebenarnya saya mau tertawa terbahak-bahak pecahkan kesunyian semesta kali itu.

Dan seperti kebiasaan buruk saya akan “mencerca” sipa saja yang membuat saya terpingkal-pingkal. Tapi segan.. nanti dia sakit hati pula. Kalau si Rizka sudah menjadi bulan-bulanan saya di setiap objek wisata yang kami kunjungi. Sudah kebal dia, hatinya sudah sekokoh Tembok Raksasa Cina, mungkin lebih kokoh malah.

Baik, kami istirahat sejenak di tempat parkir sambil mengunyah makanan dan minum apa saja yang sudah kami bawa dari luar. Sedangkan pemilik parkir dengan dermawannya memberi kami sesuatu, “Mas, ini ada pisang, monggo dimakan!” ujarnya lagi, “ini kalau dimasak lebih enak lagi, Mas.”

Kami terima pisang itu, entah apa nama pisang tersebut, namun kalau sudah ditelan enak juga. Mbah ini cukrub akrab dengan kami, dan sebelumnya juga pernah parkir di sini. Apa beliau masih ingat atau tidak, mengingat usianya sudah sepuh.

Perut sebenarnya mengusik ketenangan sejak tadi, tapi harus berdamai dulu dengan si perut. Sabar… nanti di Pantai Sedahan, mencoba menguatkan hati.

“Berangkat kita?!” seru saya, terutama pada si Putri.

Mereka pun menjawab serentak penuh semangat.

“Putri kuat, kan?” saya memastikannya lagi.

“Kuat, Bang.”

Bagus deh dalam benak saya, meski siap-siap bawa tandu nih kalau si kawan pingsan. Hahhaha.

Seperti yang sudah disinggung di atas, menuju ke Pantai Sedahan, kami harus trecking melawati medan yang cukup sulit. Mulai dari jalan yang licin, ditambah becek, batu-batu cadas khas gunungkidul, dan melewati batu-batu kars yang begitu kokoh tertancap di tanah.

Tanaman warga juga terlihat subur, pepohonan rindang menaungi kami sepanjang perjalanan. Tak hanya itu, kandang kambing, sapi, dan lembu terdapat pula di sana. Sesekali “kaum” hewan itu mengembek dan melenguh. Apa karena kedatangan kami, mereka begitu atau bagaimana? Maklum belum pernah privat bahasa hewan, hahaha.

Tepat di bebatuan yang terjal di jalan yang menurun, wajah putri berbingkai kekhawatiran, dan bisa dibilang kelihatan pucat. Kakinya bergetar melangkah satu persatu menuruni anak batu. Bahkan sempat berhenti dengan mata terpaku melihat treck yang mungkin saja tidak pernah dilaluinya.

“Sini, Put, santai aja!” ucap saya sembari mengulurkan tangan “pegang yang kuat!”

“Nggak apa-apa, Put!” kata Rizka lagi dari belakangnya.

Semua perjalanan ini mengingatkan saya ketika mendaki Gunung di Sumatera Utara. Saya cukup hapal mental wanita yang sama sekali belum pernah bermain di alam, terutama mendaki gunung. Adik saya perempuan, Ayu Arika, juga sempat muntah-muntah di kaki Gunung Sinabung.

Saya bilang sama dia waktu itu untuk mengetahui mentalnya, “Mau dilanjutkan, nggak, Dek? Kalau nggak, kita turun lagi?”

Buru-buru dijawabnya dengan wajah pucat pasi pada malam pendakian di rimba Gunung Sinabung, “Sanggup, kok. Nggak apa-apa, Cuma mual sedikit aja.”

Mendengar jawabnya saya mau tertawa, tahu betul saya, kemauannya besar untuk mendaki, tapi fisik tidak dipersiapkan.

Lain cerita dengan si Dita Novriza, ini paling lucu menurut saya. Keinginan mendaki hebat sekali, tapi fisik tidak terlalu mendukung. Jadi kalau dia mulai letih, jarak sekitar 20 meter berhenti, lalu kembali melangkah, begitu seterusnya.

“Bang… capekkkk!” ucapnya lirih.

Hahhhaha… kalau sudah mendengar itu saya tahu, dia mau ajak istirahat. Tapi dengan ucapan tidak langsung. Jadi begitulah kalimatnya.

Putri, Ayu, dan Dita, punya semangat tinggi untuk mendaki atau bertualang di alam, namun fisik tidak terlalu mendukung. Namun saya tetap mengapresiasi dan mendukung mental mereka, bukankah kita tahu niat dan mental bisa menguatkan seseorang?

Baca juga: 

Batu Raksasa di Tengah Keindahan Pantai Watu Lumbung

Keindahan Pantai Gesing Gunungkidul Melupakan Waktu Pulang

Setelah melewati medan yang cukup sulit, kami kembali melangkah dengan jalan santai sembari mengobrol, dan bergurau. Menuju ke Pantai Sedahan atau Greweng ini, di sana juga ada warung yang buka. Saat kami ke sana, Agustus lalu, tak ada warung di sekitar pantai ini.

Persawahan juga terhampar cukup luas, sayangnya para pengunjung yang datang   tidak bisa menjaga kakinya. Akibat kaki tidak dijaga itu, kami melihat padi yang beberapa minggu tumbuh tampak terinjak. Sungguh pengunjung tidak bisa menjaga. Kecewa sekali saya melihat karakter pengunjung seperti itu.

Sepertinya Putri mulai lelah, namun setiap ditanya, ia bilang tidak. Duh… Wonder Women, kah? Hahahhaa… atas usul saya, berhenti kami sejenak di pepohonan yang sangat rindang.

“Kalau Putri jalan kuat, Bang, biasa juga jalan waktu sekolah sejauh satu kilometer,” kata Putri membela diri.

“Oh iya? Besok berarti udah bisa naik gunung kita?” tantang saya. Rizka, Reza, dan Andi senyum-senyum saja.

“Ayok, Bang!” sahutnya semangat sekali.

Benar tidak wedok (baca: anak perempuan) satu ini? Nanti sampai di kaki gunung, bawa tandu kami, hahhaha. Baiklah, saya oke kan saja. Kalau Rizka fisiknya lumayan kuat, karena kami juga pernah mendaki Gunung Marapi di Sumatera Barat.

Tanaman kacang di Pantai Sedahan

Kebun kacang terlihat subur di sekitar Pantai Sedahan | Foto asmarainjogja

Berkisar 20 menit menarik napas dan meregangkan otot, kaki kembali menapaki jalan setapak menuju Pantai Sedahan. Warung juga ada di sana. Rizka yang tergoda minuman segera meminta singgah ke sana.

“Bang beli es teh untuk makan nanti!” pinta Rizka.

Di warung itu semilir angin begitu teduh  membuai wajah lelah kami. Sejuk dan menghayutkan alam bawah sadar. Ingin rasanya tertidur saja. Ah… alam seperti ini memang menggoda sekali untuk bersanta-santai menikmati segala isi bumi yang terlihat indah di sini.

Meskipun sang matahari sudah garang di atas kepala, tapi tidak membuat kami panas ketika itu. Inilah penyesuaian alam, matahari yang panas, dan sejuknya angin dari Samudera Hindia.

Baca juga:

Pantai Timang Sangat Populer di Negara Malaysia

Lima Pantai Terindah di Bali yang Patut Kamu Kunjungi

“Bang enak di sini, sejuk, makan di sini aja kita, ya?” usul Reza.

Memang sih sejuk, tapi kurang seru kalau tidak makan di pantai. Kan lahap sekali kalau makan di tepi pantai. Kamu sendiri pernah makan di tepi pantai? Kalau pernah pasti setuju, kan enaknya makan-makan itu di tepi pantai?

“Di pantai panas, Mas, nggak ada tempat teduh di sana,” ibu pemilik warung juga menimpali.

Tapi kami sepakat untuk tetap makan di tepi pantai. Sebenarnya jarak warung dari pantai tidak jauh, paling sekitar 100 meter. Setelah es teh itu dibungkus, kami pun membawa minuman penyegar dahaga menuju ke pantai. Aha! Ternyata benar, di Pantai Sedahan cukup panas saat di siang hari. Tak ada pepohonan yang rindang di sekitar pantai.

Saat kami di sana, ada juga beberapa pengunjung di Pantai Sedahan. Namun masih bisa dihitung jumlahnya. Ya, karena pantai indah yang satu ini masih belum banyak yang tahu. Dan bersukurlah kamu yang datang ke sini, karena tidak tertinggal hits wisata pantai di Gunungkidul ini.

Kami tidak mau kehilangan akal, kami cari tempat teduh untuk makan di balik rimbunan semak-semak.

“Enak kayaknya makan di sini” kata saya pada mereka.

“Wah bagus ini tempatnya,” timpal reza kemudian.

Sah, kami makan di sini, meskipun tidak langsung menatap lautan samudera, paling tidak hawa pantai masih bisa kami rasakan dari sini.

“Bang, makan pake alas daun ini enak lho,” kata Reza.

Saya terkejut, memangnya daun apa, toh?

“Ini daun apa, Za?” tanya saya, karena saya memang tidak tahu menahu nama pepohonan.

“Ini daun jati muda, Bang, aku yang ajarkan nenekku,” jawab Reza.

Wah, wasiat para leluhur ternyata. Baiklah akan saya coba, sebelumnya saya juga pernah membaca artikel mengenai daun jati untuk wadah nasi. Akhirnya kami semua makan di atas alas daun jati, meskipun ada beberapa yang hanya melapisi daun jati itu di atas kertas nasi bungkus.

Memang enak, tidak jauh berbeda denga daun pisang. Mungkin sahabat travel bisa mencobanya di kemudian hari. Tambah enak lho, serius!

Damai sekali rasanya, setelah puas makan nasi padang di pantai. Beberapa jam kemudian mulailah kami menunaikan panggilan langsung Pantai Sedahan. Andi dan Reza sudah tidak sabaran, dua pemuda ini pun langsung berlari-lari kecil berkecipak main air pantai. Kemudian saya menyusul.

Sedangkan Rizka dan Putri di belakang, saya tidak tahu pasti apa yang dilakukan mereka di sana. Tapi biasanya Rizka itu pakai bedak dulu atau lipstick, hahhhaa.

Begini jawabannya kalau ditanya kenapa pakai lipstick segala, “Biar kelihatan fresh lho.”

Benar-benar jawaban yang tidak nyambung. Apa hubungannya bibir sama kesegaran? Ah, itulah urusan dunia wanita yang selalu ribet di mana saja.

Pantai Sedahan

Rizka dan Putri bermain-main di hamparan pasir Pantai Sedahan | Foto asmarainjogja

Seru sekali berlari-lari di sepanjang hamparan pasir Pantai Sedahan. Luas sekali, guys! Apalagi pantainya putih bersih. Ombak di pantai ini juga sangat besar dan dahsyat.

Tebing yang dihantam ombak maha dahsyat itu menyemburkan air yang mengembus dari bawah tebing tersebut. Sama seperti air embusan yang keluar dari hidung ikan paus. Sangat seru melihatnya, dan saya sendiri suka sekali menatapnya berlama-lama.

Saat itu juga berdiri sebuah tenda berwarna orange. Yap, kalau kamu hobi camping, di Pantai Sedahan kamu juga bisa mencobanya. Selama ini kan yang terkenal untuk camping Pantai Jungwok. Ayo camping di sini, rasakan perbedaan sensasinya.

Baca juga: 

Uji Adrenalin Bermain Ombak Laut Selatan di Pantai Ngrenehan

Pantai Ngobaran yang Sarat Akan Kebhinekaan di Tepi Pantai Selatan

Nah, untuk airnya sendiri sangat bersih dengan warna kebiruan. Mandi-mandi di sini sangat segar. Namun ingat, ya, gusy, jangan terlalu di tengah, cukup berbahaya. Kita tahu sendiri ombak di Selatan Yogayakarta ini sangat ganas dan berbahaya. Cukup banyak korban yang terseret arus ombak. Silahkan kalau hanya mandi-mandi di tepiannya saja.

Pantai Sedahan

Keceriaan Reza dan Andi di Pantai Sedahan | Foto asmarainjogja 

Meskipun pantai ini sepi pengunjung, tapi warga sekitar tampaknya setiap hari berada di sekitar Pantai Sedahan. Saya menilai dari kegiatan mereka, seperti mencari rumput, memancing ikan, dan menangkap lobster dengan krended.

Oh ya, di sebelah kiri tebing Pantai Sedahan ini ada Pantai Dadapan. Kamu kalau mau ke sana juga bisa langsung dari sini. Ketika saya mencoba mengikuti jalurnya, ternyata cukup ekstrem dan berbahaya. Untuk informasi Pantai Dadapan akan saya ulas di lain artikel. Intinya kalau kamu berkunjung ke sini, bisa tiga pantai yang bisa dinikmati.

Dan ketiga pantai ini sangat indah dan keren. Entah kapan petualangan ini bisa terulang lagi? Bersama mereka yang lucu dan seru.

Nah, bagi teman-teman yang ingin mencari informasi seputar wisata lengkap di Yogyakarta, bisa kunjungi ke situs ini  Portal Wisata. Di sana lengkap berbagai informasi wisata yang disampaikan. 

 

Penulis: Asmara Dewo

Asmara Dewo

Yuk Baca perjalanan penulis yang seru dan inspiratif ini:

Jejak Dewo: Cita, Cinta, dan Manusia



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas