Saat menulis di Pasar Beringharjo | Doc. BI

Asmarainjogja.id--Bintang Inspirasi adalah salah satu komunitas menulis yang kami garap oleh kawan-kawan mahasiswa Universitas Widya Mataram Yogyakarta. Ada dua fakultas, yaitu mahasiswa jurusan administrasi negara dan mahasiswa hukum dari daerah yang berbeda.

Berawal dari kondisi melihat fenomena banyak kalangan mahasiswa yang masih kurang peka pentingnya menulis. Jangankan menulis, membaca saja mungkin sudah membuat rasanya mau muntah, pusing, dan sakit kepala. Namun inilah salah satu langkah kami menggarap komunitas menulis untuk mengubah paradigma berpikir.

Kira-kira apa susahnya, sih, dalam menulis? Aku rasa menulis itu tak ada susahnya sedikit pun, susah karena niat yang tak ditanamkan dalam hati untuk menulis. Sehingga terasa menjadi beban. Padahal menurutku wajar-wajar saja kalau menulis ada kesalahan-kesalahan. Namun kesalahan bukan berarti kita tak mau lagi untuk terus menulis, bukankah seorang penulis-penulis hebat pun pernah merasakan kesalahan? Aku rasa wajar saja hal itu terjadi.

Pada awalnya komunitas ini kami bentuk untuk menampung seluruh kalangan pelajar dan mahasiswa dalam bentuk komunitas menulis. Agar kawan-kawan yang katanya terpelajar bisa menuangkan ide dan pikirannya ke dalam bentuk tulisan.

Di sana kita belajar menulis bukan berarti ada satu guru yang harus didengarkan, namun lebih ke ruang diskusi, yang mana semua bisa berpendapat dan saling bertukar pikiran bagaimana menulis yang baik dan benar.

Mungkin pada awalnya banyak kesalahan dari kawan-kawan yang tergabung dalam Bintang Inspirasi. Nah, karena sering menulis, kesalahan-kesalahan itu bisa diminimalisir. Seperti kata pepatah “pengalaman adalah guru yang terbaik”.

Kalau kita lihat fenomena sekarang ini banyak sekali kabar-kabar bohong yang berkembang. Sialnya, karena kurang bijaknya kita sebagai  netizen  banyak yang membagikan kabar bohong tersebut. Maka sebaiknya kita harus bisa menjadi orang yang mengurangi berkembangnya berita bohong. Dengan apa? Ya, dengan sering menulis, karena menulis bisa membuat kita menjadi cerdas dan tak ada keraguan sedikit pun tentang itu.

Banyak yang berasalan kalau menulis itu membosankan dan membuat kepala pusing. Aku heran dengan pernyataan itu, atas dasar apa, sih, kok bisa menilai seperti itu? Sedikit aku jelaskan tentang logika terbalik tersebut. Begini, menulis kalau dilakukan secara terpaksa, ya, memang pusing. Coba, deh, menulis sambil mengamati objek atau kondisi lingkungan sekitar, aku jamin pasti kita akan tertarik dan terus tertarik.

Mengapa aku bisa mengatakan demikian? Karena sebelumnya aku juga merasakan hal tersebut. Namun kita harus bisa mengubah metodenya agar menulis bisa dinikmati dan dirasakan, anggap saja seperti memakan makanan yang kita sukai.

Lakukan dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Misalnya menulis tentang biografi hidupmu atau tentang masa depamu, anggap saja seperti kita membuat diari. Kalau sudah biasa menulis maka imajinasi kita akan semakin tajam dan mudah saja untuk menulis karya berikutnya. Barulah kita menulis berita, artikel, cerpen dan mudah-mudahan bisa menerbitkan satu buah novel.

Kami di Bintang Inspirasi memulai menulis sambil bermain. Maksudnya bagaimana, sih, menulis sambil bermain? Begini, mungkin kita pernah mendengar “belajar sambil bermain”, ya, sama halnya dengan menulis sambil bermain. Saat itu kami mulai datang ke tempat-tempat wisata dan kami mengamati lingkungan sekitar dengan memainkan konsep 5W+1H. Jadi data-data yang kami dapat valid dan langsung dari objek dan sumbernya.

Setelah selesai menulis, maka hari berikutnya tulisan setiap kawan-kawan di Bintang Inspirasi kami diskusikan. Mana yang harus dikritik dan kawan-kawan yang lain memberikan saran. Harapannya agar di kemudian hari tulisan tersebut lebih baik lagi dan kesalahan-kesalahan kecil bisa di benahi sejak dini.

Apakah ada keuntungannya dalam menulis? Keuntungan terbesar ada pada penulis sendiri, sebab menulis itu melatih mengingat dan berfikir, lalu di tuliskan sesuai dengan aturan penulisan yang benar. Apalagi buat kita yang sedang duduk di bangku kuliah, ini salah satu tabungan yang mana kalau nanti kita skripsi tidak kebingungan.

Kami sendiri mempunyai cita-cita yang sangat mulia. Yaitu membangun budaya literasi di tengah-tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat ini. Banyak para pemuda yang sangat terlena dengan kemajuan jaman. Anak muda sekarang sibuk dengan smartphone-nya masing-masing. Suka main game dan suka update  status.

Jikalau kita ingin menulis agar terlihat lebih baik lagi maka rajin-rajinlah membaca sebagai sumber referensi. Semakin kita banyak membaca akan semakin mudah kita untuk menulis. Menulis dari hasil yang dibaca, bahkan bisa dimulai dari membedah buku.

Kali ini aku ingin mengucapkan selamat hari jadi yang ke satu tahun untuk komunitasku, yaitu Bintang Inspirasi. Komunitas yang terbentuk dari kesadaran mahasiswa kritis yang menginginkan perubahan. Bintang Inspirasi akan tetap ada dan besar jangkauannya, semakin luas pula jaringannya, seperti burung yang terbang mengepakkan sayapnya dan memberikan berita dari ketinggian.

Mengapa kok komunitas kami diberi nama Bintang Inspirasi? Alasannya akan kami ungkap lewat tulisan yang sangat sederhana ini. Dari salah satu kawan kita yang merumuskan komunitas ini mengatakan kalau kawan-kawan yang ada di Bintang Inspirasi agar memiliki inspirasi masing-masing. Karena setiap manusia pasti punya cita-cita dan dan berinspirasi untuk menggapai bintang di langit.

Di hari jadi Bintang Inspirasi yang ke satu tahun ini kami coba merayakannya ke pelosok negeri. Di salah satu tempat yang jauh dari keramaian, para pemuda datang dan membawa tanaman kecil dan ikan laut untuk dibakar. Ketika sampai di sana kami langsung mulai menanam tumbuhan seribu manfaat. Ya, itu adalah tanaman lidah buaya yang mulai kami tanam.

Kami merayakan hari jadi dengan cara menanam bibit, mandi di pantai, dan ketika malam hari mulailah kami membakar ikan. Demikianlah ceritaku tentang hari jadi Bintang Inspirasi. Diawali dengan menanam lidah buaya dan akan kami kenang dikemudian hari.

Penulis: Angin, anggota Komunitas Bintang Inspirasi 

Baca juga artikel Angin lainnya: 

Perpustakaan untuk Membangun Budaya Litersi

Misteri Pasar Beringharjo Yogyakarta 

Suasana di Titik Nol Kilometer Yogyakarta 

Pentingnya bagi Mahasiswa dalam Berorganisasi di Kampus 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas