Novel Rumah Kaca | Foto Asmara Dewo, asmarainjogja

Asmarainjogja.id – Novel Rumah Kaca adalah sekuel terakhir dari Tetralogi  Pulau Buru karya sastrawan besar Indonesia di abad 20, Pramoedya Ananta Toer. Novel ini terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Tetralogi Pulau Buru ini mengisahkan sosok Minke (Tirtho Adhi Soerjo) anak pribumi terpelajar dari kalangan priyayi, ayahnya seorang Bupati di Surabaya. Pram selaku penulis di balik roman sejarah ini sangat apik mengemas fakta sejarah dengan fiksi liarnya.

Sebab kelihaian dari tangan dingin Pram, novel ini menjelma seperti nyata saat pembaca larut disetiap halaman demi halaman, sampai di halaman terakhir Rumah Kaca. Untuk membacanya secara utuh, sebaiknya usahakan membacanya dari novel pertama, yaitu Bumi Manusia.

Di akhir abad 19, rakyat pribumi yang mendapatan pendidikan hanya dari kalangan priyayi saja, atau saudagar dari kalangan pribum yang berduit. Lebih dari itu anak-anak dan remaja dididik hanya mengikuti budaya turun temurun keluarga saja. Jika ayahnya jongos, maka anaknya pun jongos, begitu juga jika ayah petani maka anaknya juga petani.

Selain buta hurup dan minimnya pengetahuan rakyat pribumi, keterbatasan itu pula yang menyebabkan Kolonial Belanda semakin menindas kehidupan mereka. Berbagai kelicikan, kejahatan, perbudakan, dan pembodohan dari Belanda semakin melenggang berkuasa di tanah jajahan bangsa ini, yaitu Hindia Belanda (nama Indonesia zaman belanda).

Baca juga: 

30 Quotes Terbaik Pramoedya Ananta Toer di Novel Bumi Manusia

27 Quotes Terbaik Pramoedya Ananta Toer di Novel Anak Semua Bangsa

Penderitaan rakyat pribumi belum cukup sampai di situ saja, semakin sakit lagi adalah ketika pemimpin-pemimpin mereka yang seharusnya membela dan melindungi warganya, malah menjadi kaki tangan Belanda. Hampir rata-rata, Bupati, Lurah, Patih, dan pejabat priyayi lainnya memasang badan demi kepentingan belanda. Golongan inilah yang berbakti demi uang dan jabatan.

Munculnya Minke di tengah-tengah kehidupan pribumi yang sulit ini bagaikan sosok messiah yang ditunggu-tunggu kehadirannya. Minke yang sudah tamat Sekolah HBS, dan mengenal Sosok Nyai Ontosoroh, yang di kemudian hari menjadi ibu mertuanya sekaligus guru kehidupannya. Annelies Mellema gadis Indo berdarah Belanda dan Jawa menjadi istri pertama Minke, namun akhirnya meninggal di Belanda.

Hari-hari sulit harus dilewati Minke tanpa istri tercinta, namun kegiatannya menulis tidak pernah terganggu. Ia semakin semangat dan terus… terus… terus menulis. Sayangnya Minke seorang terpelajar menulis dalam bahasa Belanda. Hanya golongan terpelajarlah yang bisa membaca.

Lalu suatu ketika Nyai Ontosoroh, Jean Marais, dan Kommer membuka pikiran Minke untuk selanjutnya menulis dalam bahasa Melayu, agar semua rakyat pribumi pun bisa membaca tulisan-tulisannya. Selain hanya berkutat di balik tulisan, Minke juga mulai mengenal bangsanya sendiri, yaitu warga pribumi.

Sejak mengenal seorang Petani di Sidoarjo, Trunodongso, saat itulah Minke sadar betapa busuknya Pemerintahan Belanda terhadap pribumi. Kegeramaan itu memuncak, ia mulai menulis kasus sawah Trunodongso yang diliciki oleh Pabrik Gula milik Belanda. Tapi, Minke belum begitu kuat, pihak redaksi surat kabar belanda tidak menerima tulisan Minke.

Pahamlah Minke di kemudian hari, ternyata surat kabar yang biasa mempublikasikan tulisannya pro terhadap Pabrik Gula dan Pemerintahan belanda.

Meskipun Minke saat itu mulai cerdas dan tulisannya cukup tajam sehingga membuat kagum Gubernur Belanda, dan ayahnya sendiri, namun Minke masih merasa kecil oleh guru kehidupannya, Nyai Ontosoroh. Atas saran Jean Marais dan Nyai Ontosoroh, Minke diminta untuk mencari jati dirinya sendiri. Maka berangkatlah Minke untuk Sekolah Dokter di Stovia, Batavia (Sekarang Fakultas Kedokteran UI).

Ia melanjutkan pendidikannya di sana untuk menjadi seorang dokter. Di waktu bersamaan itu pula ia mengenal sosok gadis berkulit kuning, bermata sipit, Ang San Mei. Gadis cantik bertubuh kurus itu dari Tiongkok yang juga merupakan tunangan Khou Ah Soe.

Dan Khou Ah Soe adalah sahabat Minke yang meninggal di Surabaya akibat gerakannya organisasinya. Atas pesan surat yang dititipkan sahabatnya itu, Minke pun bertemu dengan Ang San Mei. Benih cinta telah bersemai di hati mereka. Dan akhirnya Minke dan Mei menikah.

Selain belajar sekolah dokter, Minke juga giat menulis seperti biasa untuk bisa menghidupi keluarga kecilnya yang baru. Sebab uang yang diberikan oleh pihak sekolah tidak cukup untuk memenuhi kebutahan Minke beserta istrinya.

Mei yang sejak dikenali Minke memang bukanlah gadis sehat seperti gadis umumnya. Ia mudah sakit, dan lemah. Hanya satu yang kuat pada istri bermata sipit itu, yaitu berorganisasi. Dan karena kesibukannya ini pula, sakit Mei kambuh lagi, dan Minke mengetahuinya bahwa Mei sakit tipus.

Baca juga: 

Quotes Terbaik Pramoedya Ananta Toer di Novel Jejak Langkah 

Sang Pemula, Tirto Adhi Soerjo yang Ditakuti Belanda

Mei menolak untuk dibawa ke rumah sakit, ia ingin suaminya sendiri yang menyembuhkannya. Padahal Minke belum tamat sekolah, dan Mei memaksa Minke untuk mengobatinya. Lalau dibuatlah resep obat yang dibelinya dari apotek.

Sakit Mei tidak tertolong lagi, Mei akhirnya meninggal. Di saat bersamaan Minke juga dikeluarkan dari sekolah, karena sudah melanggar aturan sekolah, yakni membuat resep sendiri. Selain dipecat, Minke juga harus mengganti biaya sekolah yang diberikan oleh pihak sekolah. Dengan mantap Minke bersedia melunasi biaya yang harus diganti.

Dua kali cinta Minke sudah terkubur di hatinya, Annelies dan Ang San Mei.

Setelah keluar dari sekolah tersebut, tahun 1907 Minke mendirikan surat kabar Prijaji-Medan, dan ini merupakan surat kabar pertama milik pribumi. Sebelumnya Minke juga mempelopori sebuah organisasi Serikat Priyayi di tahun 1906, dan ini juga merupakan organisasi pertama kali terbentuk di awal abad 20.

Surat kabar Minke berjalan lancar, pembacanya mulai banyak, apalagi Medan-Prijaji merupakan surat kabar advokasi untuk rakyat pribumi. Nyai Ontosoroh yang mendengar menantu kesayangannya ini begitu bangga atas kemajuan Minke. Bahkan nyai juga menawari modal lagi untuk Minke.

Jika surat kabarnya maju, tapi tidak organisasinya, Serikat Priyayi tidak berkembang. Minke tidak kehabisan akal untuk terus berorganisasi dan mendirikan organisasi untuk membela kepentingan rakyat pribumi ini.

Minke pun menjumpai sosok-sosok penting di Pulau Jawa ini, ada yang tidak setuju, bahkan melecehkan Minke. Tapi semangatnya tidak kempis, ia terus mencari sosok-sosok yang berpengaruh untuk bergabung di organisasi yang akan dibangunnya.

Pada tahun 1911, berdirilah organisasi SDI (Serikat Dagang Islam) di Surakarta yang diketuai oleh Samanhudi. Organisasi ini berjalan sukses, lancar, dan semakin besar. Bahkan Belanda mulai waspada atas organisasi yang bisa saja mengancam kedaulatan pemerintah.

Tulisan-tulisan dari Medan-Prijaji juga semakin keras dan tajam setelah Marko dan Sandiman direkrut Minke. Dua sosok kepercayaan Minke ini memberikan andil yang sangat besar terhadap surat kabar pertama milik pribumi tersebut.

Rakyat pribumi mulai terbuka pikirannya, dan para pedagang yang bergabung di SDI semakin solid. Dan petani sudah berani menuntut haknya kepada pabri gula. Sedangkan para anggota SDI mulai memboycot produk milik Belanda. Akibat boycot ini pula, beberapa perusahaan milik Belanda terpaksa harus gulung tikar.

Kekuasaan Pemerintahan Belanda sudah terancam. Sebab tidak akan bisa berjalan pemerintahannya, jika perusahaan milik Belanda satu persatu bangkrut. Karena akibat ini semua, maka pemerintah Belanda mencari akar masalah yang dihadapinya.

Baca juga: 

Marco Kartodikromo, Pencetus Sama Rasa Sama Rata yang Mengancam Kedaulatan Belanda

Semaoen, Sosok Anak Muda Paling Bahaya bagi Pemerintahan Belanda

Dan Minke adalah satu-satunya sosok yang paling berpengaruh atas semua kejadian yang menimpa Pemerintahan Belanda. Berbagai upaya Belanda mencoba menjegal perjuangan Minke dalam organisasi dan surat kabarnya. Dari tangan-kaki kelompok liar, De Knifer, T.A.I, dan Zweep yang dipelihara Belanda untuk membunuh Minke.

Robert Surhorf, teman sekolah Minke di HBS menjadi ketua dalam operasi tersebut. Hasilnya gagal, Minke masih tetap menghirup napas segar dalam setiap perjuangannya. Dan itu tak terlepas dari istri Minke yang ketiga, Prinses Kasiruta, wanita jago bela diri dan hebat menembak.

Pemerintahan Belanda yang sudah kewalahan menghadapi gejolak rayat Pribumi karena Minke, maka ditugaskanlah sosok Polisi berdarah Manado, Pangemanann. Di tangan polisi Pangemanann inilah Minke akhirnya bisa ditangkap dengan tuduhan penghinaan melalui berita kepada Gubernur Jenderal AWF Idenburg.

Padahal yang memuat berita tersebut Marko dan Sandiman, dan Minke saat itu henda mempropaganda organisasinya di seluruh Hindia Belanda dan Asia. Kedua murid Minke ini mengeritik sikap Gubernur Jenderal AWF Idenburg karena berkonvoi dengan puluhan mobil untuk melayat, mereka bilang ini adalah pemborosan. Sementara rakyat kecil tenaganya habis diperas seperti lembu demi kesejahteraan orang-orang Belanda sendiri.

Jika di novel Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah tokoh utamanya dalah Minke, namun di novel Rumah Kaca adalah Pangemanann. Ia yang sudah melaksanakan tugas dengan baik, yaitu menangkap Minke dan kemudian dibuang ke Maluku selama lima tahun.

Pangemanann adalah tokoh yang sangat unik. Pangemanann merupakan sosok polisi yang juga mengagumi Minke karena tulisannya, nasionalismenya, kecerdasan, dan organisasinya. Ia juga mengakui, kenapa sosok pribumi yang hadir dan mulai menyadarkan bangsanya ditangkap?

Tapi ia tidak bisa berbuat sesuatu selain menghambakan dirinya kepada jabatan, uang, dan pelacur. Atas kesuksesan penangkapan Minke, jabatan Pangemanann naik dan gajinya juga bertambah. Selain itu mendapat rumah dinas yang baru, rumah itu adalah bekas rumah Minke.

Selain Minke dibuang ke Maluku, surat kabarnya dibredel, tidak boleh lagi terbit. Sedangkan seluruh harta kekayaan Minke disita kemudian dilelang. Meskipun Minke dipenjara ia masih bisa berkirim-kiriman surat kepada sahabatnya dan anggotanya yang lain.

Pangemanann yang ditugaskan khusus dalam kasus ini mempelajari lagi latar belakang dan sepak terjang Minke. Kemudian setelah dipahami satu-satu kasus Minke ini, ia pun menuliskannya dalam bentuk laporan, dan juga menyimpan arsip-arsip, dan menamakannya Rumah Kaca.

Meskipun Minke ditangkap, tapi sosok-sosok baru pemimpin dalam organisasi semakin bermunculan. Misalnya Semaoen, pemuda yang saat itu berusia 19 tahun sudah menjadi Ketua SI (Serikat Islam) Semarang, menggantikan Moehammad Joesoef.

Di tangan Semaoen SI semakin besar, dan anggotanya kian bertambah. Pada masa Semoen itu pula terjadi mogok besar-besaran, yang mengukir pemogokan kerja paling besar sepanjang sejarah Indonesia.

Selain Marco yang tulisannya semakin garang dan tajam, menohok dada pemerintahan belanda, juga seorang gadis bernama Siti Seondari. Ia juga menulis, hanya saja isinya lebih lembut dan tetap mengeritik Kolonial Belanda. Marco dan Soendari, dua sosok ini merupakan anak ruhaninya Minke, meskipun Soendari hanya membaca tulisan-tulisan Minke melalui surat kabar.

Minke alias Pitung modern kata Pangemanaan, kini sudah melahirkan sosok-sosok yang cukup berbahaya bagi kedaulatan Belanda. Dengan begitu, sebagai petugas khusus, Pangemanaan pun harus menerima lagi tugas. Kini ia harus membuat laporan khusus dan arsip lagi untuk Marco dan Soendari.

Lima tahun telah berlalu, Minke pun akhirnya dibebaskan dari masa pembuangan. Di Pelabuhan Surabaya ia dijemput langsung oleh Pangemanann. Sejak bebasnya Minke dari masa tahanan itu, ia mulai sakit. Saat dibawa ke rumah sakit, dokter hanya mengatakan sakit perut biasa. Yang sebelumnya dokter tersebut sudah mendapakan ancaman dari pemuda misterius yang tak dikenal.

Minke meninggal dalam kesepian, para anggota serikat yang dibinanya dulu tak mengetahui meninggalnya sang pemula ini. Di saat penderitaan dan kesusahan hidup, kemudian meninggal, Minke tetap menang dalam perlawanannya terhadap Belanda. Terbukti sebagai pemula dalam merintis surat kabar dan organisasi, dua alat ini pun bak cendawan yang tumbuh subur di musim hujan, di Hindia Belanda.

Nah, berikut Quotes Pramoedya Ananta Toer di Novel Rumah kaca yang sangat inspiratif:

1. ”Aku kena damprat oleh atasanku. Aku mendaprat bawahanku . Bawahanku boleh jadi mendaprat istrinya, bininya mendaprat anak-anaknya, dan anaknya mendaprat babunya. Barulah berhenti, sebab babu mnanusia terakhir dalam kehiduapn,” Pangemanann, Rumah Kaca, hal 35.

2. “Modal orang ini hanya berpikir dan modal bertindak,” Pangemanann, Rumah Kaca, hal 36.

3. “Lebih baik suami dulu yang meninggal daripada istri. Suami yang ditinggalkan istri akan membuat anak-anaknya terlantar, bagaimanapun mampunya lelaki itu. Tetapi kalau suami meninggal dulu, anak-anak tidak akan terlantar sekalipun mereka hidup dalam kemiskinan,” Pauletta, Rumah Kaca, hal 61.

4. “Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsiarannya.” Pangemanann, Rumah Kaca, hal 62

5. “Setiap tulisan merupakan dunianya tersendiri , yang terapung-apung antara dunia impian dan kenyataan,” Pangemanann, Rumah Kaca, hal 185.

6. “Jangan jadi kuli mereka, katanya seperti mengulangi kata-kata bapakku mendiang. Jangan mereka jadi lebih kaya dan lebih berkuasa karena keringatmu. Rebut ilmu-pengetahuan dari mereka sampai kau sama pandai dengan mereka.” Dalam surat Marco, Rumah Kaca, 340.

7. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah,” Minke dalam surat-suratnya, hal 473.

8. “Eropa telah megajari aku untuk menghormati siapa saja yang mempunyai kelebihan dari diriku, dan mencintai mereka yang kurang beruntung dari diriku. Eropa mengajarkan, semua orang besar adalah guru umat manusia. Itu Eropa, Tuan. Amerika mengajarkan barangsiapa mendapatkan sukses dalam hidupnya. Itulah pemimpinmu. Jepang mengatakan, barangsiapa banyak sahabat, itulah orang pandai menyelami hidup, dia orang baik,” Pangemanan, Rumah Kaca, hal 537

9. “Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung, dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.” Pangemanann, rumah Kaca, hal 648

10. “Bagaimanapun masih baik dan lebih beruntung pemimpin yang dilupakan oleh pengikut. Daripada seorang penipu yang jadi pemimpin yang berhasil mendapatkan banyak pengikut.” Pangemanan, Rumah Kaca, hal 594.

11. “Betapa sederhananya mati. Dan semua akan bertemu. Dan semua akan bertemu dalam kedamaian dalam alam mimpi, tidak perduli raja, tidak perduli budaknya, tidak perduli algojo, dan tidak perduli kurban-kurbannya,” Pangemanan, Rumah Kaca, hal 615. []

Penulis:  Asmara Dewo 

Asmara Dewo

Yuk Baca perjalanan penulis yang seru dan inspiratif ini:

Jejak Dewo: Cita, Cinta, dan Manusia

Lihat juga: 

Kaos Gunung Semeru, Persembahan dari Asmara In Jogja

Kaos Gunung Semeru

 

Clorist Florist Pesanan Bunga Terbaik di Yogyakarta

Clorist Florist Yogyakarta

 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas