Fajar Mubarok

Asmarainjogja.id – Mengamati serangkaian peristiwa yang terjadi di negeri ini sungguh memilukan. Tanah airku disuburi berbagai kejadian yang membuat ibu pertiwi tersakiti, sungguh malang nasibnya.

Tanah air beta yang dulu diperjuangkan para kesatria melawan penjajah Spayol, Jepang, dan Belanda, kini disia-siakan, dihamburkan oleh para penguasa yang rakus akan harta.

Darah, pikiran, waktu, tenaga, dan harta yang telah terkorban dalam perjuangan tiada lagi artinya. Mana penghormatan terbaik bagi mereka, kini namanya hanya terlukis indah sebagai nama wilayah.

Hadratu Syekh Hasjim Asy'Ari yang menyuarakan jihad fisabilillah membela tanah tumpah, sekarang jihadnya didistorsi. Deislamisasi terjadi atas nama deradikalisasi utopis belaka.

Dulu para aktivis nusantara mengaca kepada Sultan Abdul Hamid II untuk tidak memberikan tanah Palestina sejengkal pun bagi zionis Yahudi. Kini tanah bangsa dijual dengan murahnya kepada para pengusaha.

Tanah Nusantara pernah menjadi saksi para pejuang membelanya. Menyerap darah segar para pemuda yang tumpah ruah, berceceran diatasnya. Menjadi bukti bahwa para santri mencurahkan, mengerahkan seluruh jerih payahnya untuk mengusir para penjajah.

Konon, prinsip mereka adalah semangat perjuangan. Dengan lantangnya mereka ucapkan, tanah adalah segalanya, menyerahkan sejengkal tanah kepada para penjajah sama saja menggadaikan akidah. Memang benar ketika tanah dikuasai penjajah maka sedikit demi sedikit pribumi akan dihinakan.

Dulu dan sekarang beda. Tanah air begitu mudah dijual kepihak asing dan aseng. Bahkan tak peduli korbankan petani, rakyat jadi anak tiri di negeri sendiri, petani negeri bukan bertani tapi jadi buruh tani bagi korporasi yang serakah membanjiri bumi pertiwi.

Akan ada masanya, di mana tangis rakyat tak dihiraukan. Kelaparan dirumah sendiri, menganggur tiada arti, terlunta kesana kemari, menggali emas bukan untuk kebutuhan sehari-hari tapi untuk korporasi, yang riang mengeksploitasi sejengkal demi sejengkal tanah ini. Selamat datang di abad 21.

Inilah masanya, logika mana yang bisa terima. Bumi kaya penduduknya sengsara, semuanya ada. Tapi rakyatnya miskin nelangsa, hanya di negeri ini manusia dilarang sakit, hanya disini orang miskin dilarang sekolah. Semua wajib mengenyam pendidikan hanya semboyan belaka, tampa bukti yang nyata.

Di kala sarjana di pelupuk mata saatnya senyum bahagia. Namun sayang Anda salah tempat, karena bumi pertiwi tak lagi seperti dahulu yang perhatikan nasib rakyatnya, mohon maaf gelarmu tak dianggap. Silahkan me-list diri didaftar PNS (Pengangguran Nasional Sejati).

Alangkah lucu kehidupan di negeri mayoritas Muslim ini. Remajanya dicekoki budaya barat, dipameri fan, food, and fashion, yang sengaja diberikan untuk dianut sebagai mazhab kontemporer kehidupannya.

Setelah lulus SMA, akhirnya sadar. Tapi sayang sudah terlambat, maka selamat datang calon-calon pengangguran baru. semoga kalian kuat menahannya.


Hijab

Sungguh malang keadaannya. Nusantara dulu yang malu-malu menjaga kehormatanya ketika didekati penjajah, Sekarang telah terperosok ke dalam lubang kepongahan penguasa yang mengeksploitasi tubuhnya. Nusantara tak lagi suci.

Tiap masa berganti penguasa tak kunjung membaik. Malah membabi buta menuduh, membunuh para pembela nusantara. Padahal mencari baiknya bagi bersama, malah keluarkan Perppu dengan alasan yang menipu.

Kebenaran tidak lagi benar, menyamar, sedikit-demi sedikit memudar digantikan dengan relativitas kebenaran, dan memaksakan sekularisasi agar dianggap kebenaran dan dianut bersama.

Apakah masih mau diam dengan keadaan ini? Apakah masih mau merumahkan diri dengan semua yang terjadi ? Tidak ada tempat di bumi pertiwi bagi pemuda yang berdiam diri. Maka hanya ada satu kata: Lawan!

 

Pejuang Sejati

Kejahatan selalu memiliki pola, bukan murni apa adanya. Apalagi kejahatan skala negara, bukan ada dengan tidak sengaja, tapi ada dengan sekenario yang matang.

Perampasan tanah, deislamisasi, kriminalisasi, dan terorisme, semuanya memiliki pola yang sengaja diciptakan bukan dengan bim salabim atau abakadabra. Semuanya menguatkan satu sama lain dengan tujuan mengenyangkan korporasi.

Mudah menebaknya, sistem apa yang sekarang eksis didunia? Tidak bisa mengelak, sistem yang eksis sekarang adalah sistem kapitalisme. Maka pemilik modal akan berlomba menguasai setiap jengkal tanah yang ada di bumi.

Cukuplah berkaca dari saudaranya yaitu sosialisme. Sifat ideologi adalah menyebar tak ada yang bisa membunuhnya. Maka lihatlah pada zamanya, yang eksis adalah kesamarataan antara pengikutnya.

Kejahatan terpolarisasi, begitu juga kebaikan sama-sama memiliki pola. maka pola kejahatan harus dilawan dengan pola kebaikan, dan yakinlah bahwa kebaikan pasti dimenangkan.

Ada tiga motivasi perjuangan yang harus diperhatikan, semuanya eksis di setiap zaman dan tidak akan berubah sampai kapanpun, semuanya selalu jadi motivasi perjuangan.

Motivasi itu adalah: 1. Motivasi materi, 2. Motivasi emosional, 3. Dan motivasi spiritual. Ketiga motivasi ini akan selalu dianut oleh para pejuang dan bahkan bisa saling berbenturan.

Sebelum membahas ketiganya, siapakah yang harus di garda terdepan dalam pembebasan? membebaskan bumi pertiwi ini dari cengkraman gurita asing dan aseng, dia adalah para pemuda sejati.

Siapakah pemuda sejati? Merekalah yang berjuang dengan sungguh-sungguh, perjuangan yang datang atas dasar kewajiban, bukan berjuang atas dorongan orang lain atau pesanan kelompoknya.

Dari masa ke masa perjuangan tak akan terhenti, akan ada bibit-bibit baru yang terpola karena memang didesain untuk melanjutkan perjuangan. Namun sayang kadang salah membangun pondasi gerakanya, hingga mudah untuk diruntuhkan.

Kelompok pergerakan harus memiliki asas yang kuat, karena akar yang akan menentukan buahnya. Akar yang kokoh tak mungkin goyang dengan rayuan musuh yang mengiyang di kepalanya.

Pemuda adalah agen jihad melawan penguasa zolim, merekalah yang memiliki pemikiran cerdas, mempunyai fisik yang kuat, dan dibekali suara lantang yang akan menggetarkan para zolim. Namun sayang banyak kelompok pergerakan yang salah memotivasi arah perjuanganya, masih mudah dibeli, ada uang abang disayang tak ada uang abang ditendang.

Bersuara tanpa keihklasan, hingga mudah diperdaya penguasa. Sudahlah diam saja, ini ada uang untuk sebulan kedepan, dengan catatan jangan turun ke jalan.

Lisannya berbayar, setiap suara yang dilontarkan mengandung intan berlian, dari baju hingga sepatu, semua pesanan, inilah perjuangan yang berangkat dari motivasi materi, dan sifatnya lemah.

Siapa yang akan diam dengan berbagai problem yang menimpa negerinya. Siapa yang bisa santai dengan kezoliman yang menerjangnya, tidak ada! Maka hatinya akan tergerak untuk melakukan penentangan.

Apakah masih bisa berleha, sementara penguasa berkompromi dalam hal untung rugi, menjual aset negara satu demi satu, tanpa pedulikan nasib rakyatnya.

Ketika utang luar negeri semakin meningkat, bahkan satu kepala menanggung Rp 13.000.000, dari yang masih dalam perut hingga yang lansia. Apakah masih mau diam? Tentu tidak, maka: “Lawan!”

Inilah yang terjadi di era Soeharto, masih ingatkah dengan pergerakan 1998? Dalam rangka melawan kezoliman. Seluruh pemuda tumpah ruah ke jalan, satu komando satu tujuan.

Namun sayang itu hanya motivasi emosional belaka, hanya bergerak atas dasar kekecewaan terhadap rezim tirani yang berkuasa saat itu. Buktinya hal serupa terjadi lagi hari ini. Maka motivasi emosional saja tidak cukup untuk melawan.

Perjuangan itu harus muncul dari kesadaran, atas dasar kewajiban amar makruf nahi munkar. Mencegah kemungkaran dan membela yang benar, itulah motivasi spiritual atas dasar akidah yang kokoh.

Motivasi spiritual adalah yang memotivasi para sahabat Rasulullah dalam memperjuangan Islam. Lihatlah apa yang mereka torehkan dari perjuangannya, cahaya Islam menembus dari zamanya hingga zaman sekarang.

Maka setiap perjuangan tidak akan berhasil apabila berangkat dari motivasi materi dan tidak cukup hanya dengan motivasi emosional saja, tapi perjuangan harus diawali dari moivasi spiritual.[]

Penulis: Fajar Mubarok, mahasiswa Hukum Universitas Widya Mataram, dan aktif di Komunitas Menulis Bintang Inspirasi.

Baca juga:

Pudarnya Nasionalisme Akibat Paham Radikalisme

Pentingnya bagi Mahasiswa dalam Berorganisasi di Kampus

Mahasiswa Dapat Nilai D Salah Siapa?

Dosen Bolos Kuliah

Memahami Lagi Arti Pendidikan untuk Anak-anak Kita

 



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas