Ilustrasi truk pengangkut kayu | Foto Antara

Oleh:  Asmara Dewo

Bel Pulang berbunyi, anak murid sorak-sorai menyambutnya. Terlebih Pujang buru-buru memasukkan buku ke dalam tasnya. Ibu Yanu berusaha menenangkan muridnya, ia ketuk-ketuk meja mengambil alih perhatian.

“Ingat pesan ibu, bulan depan sudah masuk ujian, belajar di rumah lebih giat lagi. Di antara kalian tidak ada yang mau tinggal kelas, bukan?” seru Ibu yanu menguatkan suaranya.

“Tidak ada, Bu!” serempak murid menjawab.

Hanya Pujang yang tidak perduli pesan Ibu Yanu, ia juga tidak ikut menjawab. Sejak beberapa detik yang lalu ia sudah tak sabaran pulang, membantu Dimas memasukkan buku ke dalam tasnya. Dimas hanya geleng kepala melihat sahabatnya itu.

“Kamu dengar tidak, Pujang?!” Ibu Yanu melotot ke arah pujang.

“Iya, Bu, dengar… dengar kok,” sahut Pujang gelagapan.

“Apa yang ibu bilang tadi?!”

“Jangan keluyuran sebelum sampai di rumah,” jawab Pujang.

Mendengar jawab Pujang murid lainnya tertawa terbahak-bahak, tak terkecuali Dimas. Murid-murid di kelas terpingkal-pingkal sampai memegang perutnya, mendobrak-dobrak meja heboh.

Ibu Yanu menghela napas panjang. Ditatapnya lekat-lekat murid yang super nakal tersebut, “Kamu memang tak pernah mendengar nasihat ibu, Pujang,” kata Ibu Yanu kemudian, “Diajeng, coba bilang ke Pujang, apa yang ibu bilang tadi!”

“Bulan depan sudah masuk ujian, belajar lebih giat lagi di rumah,” kata Diajeng dengan menirukan ucapan Ibu Yanu tadi, disusul tawa kecil mengejek. Dan Pujang sebal tak terima.

“Nah, sudah dengar, Pujang?!” Ibu Yanu berkacak pinggang di depannya.

“Iya, Bu, Pujang dengar, dan belajar lebih giat lagi di rumah,” ucap Pujang dengan wajah menekur ke lantai.

Baca juga:

Kanjeng Ratu Kidul dan Dua Sahabat

Terjebak di Dalam Gua

Surat Cinta ke-247

***

“Diajeng itu memang menyebalkan,” gerutu Pujang sambil mengayuh sepedanya, “selalu mengolok-ngolokku.”

Dimas hendak tertawa, tapi ia tahan, takut kalau Pujang tersinggung.

“Coba koe bayangkan, Mas, kenapa harus Diajeng yang disuruh Ibu Yanu, sementara ada puluhan murid lainnya,” Pujang menyeka keringat di dahinya. Suaranya geram menyebut nama Diajeng.

“Udahlah, koe nggak perlu ingat-ingat itu lagi!” ujar Dimas, lalu bercerita hal lain, “habis makan nanti kita kemana, Jang?”

Belum sempat menjawab, Brukkk… Pujang terjungkal menabrak lubang. Badannya yang gempal tertimpa sepeda. Ia mengaduh kesakitan, kemudian berteriak memanggil Dimas. Dimas buru-buru turun dari sepedanya, dengan hati-hati membantu Pujang mengangkat sepeda yang menimpanya.

“Sialll!” Pujang memaki, “ini gara-gara lubang sialan itu,” Pujang mendekati lubang. Dimas menyusul karibnya itu, yang sedang mengutuki lubang.

“Kenapa lubang ini semakin besar, Mas?” Pujang menggaruk rambutnya. Ia lirik Dimas, “koe tahu kenapa begini?”

Dimas mengangkat bahu. Jalan bersemen yang sudah dicor tersebut sebulan lalu sudah mulai berlubang. Jika kendaraan kampung saja yang masuk tentu tidak merusak jalan. Apalagi warga di sana hanya satu dua yang memiliki mobil. Selainnya hanya motor, bahkan cuma sepeda ontel yang dimiliki beberapa keluarga di kampung tersebut.

Pujang mengangguk-angguk, ia tahu penyebab jalan berlubang. Cepat-cepat ia mendirikan sepedanya, disusul Dimas.

“Ada apa, Jang?”

“Nanti habis makan aku ke rumah koe, koe makan yang banyak biar kuat,” Pujang menyeringai. Dimas hanya mengerutkan dahinya.

***

“Sudah pasti, Mas, ini gara-gara truk yang mengangkut kayu jati kampung kita itu,” suara Pujang terdengar mantap penuh keyakinan.

“Kamu yakin, Jang,” tanya Dimas yang masih ragu-ragu mengenai rusaknya jalan menuju rumah mereka.

Pujang mengangguk cepat. Sepeda mereka melesat mengikuti jalanan di bawah rindangnya pohon jati.

“Koe tenang saja, ini pelajaran biar truk itu nggak masuk ke kampung kita lagi,” suara Pujang terdengar samar. Dimas meng-iyakan saja mengikuti kencangnya sepeda Pujang di depan.

“Cepat Dimas, sebelum truk itu lewat!” perintah Pujang seperti komandan tempur, “jam dua begini truk masuk menuju pantai, Mas. Nah, sebelum masuk kita tutup jalannya.

Dimas mengangguk mendengar ucapan Pujang.

“Semua kayu-kayu yang bisa koe angkat bawa ke sini, Mas!” teriak Pujang sambil menyusun balok-balok kecil di tengah jalan, “batu-batu besar juga boleh.”

Jalan kampung itu kini menyisakan jalan untuk motor saja. Sedangkan mobil sama sekali tidak bisa masuk. Tumpukan batu, balok-balok kecil, dan ranting pohon sudah memblokir jalan kampung itu. Maaf Jalan Anda Sedang Diblokir! Tertulis di kertas karton yang ditulis Pujang menirukan pemblokiran jalan di televisi.

“Sekarang kita sembunyikan sepeda kita di semak-semak sana, Mas. Dan kita intip truk itu dari atas,” perintah Pujang lagi.

Sepeda mereka disembunyikan di rimbunan rumput gajah. Tidak terlihat sama sekali dari tepi jalan. Lalu kedua bocah tersebut dengan tangkas melompat di atas gundukan di sebelah kiri jalan.

“Berapa lama lagi, Jang?” tanya Dimas tidak sabaran.

“Sebentar lagi,” leher Pujang memanjang memastikan truk yang mereka tunggu.

Beberapa menit kemudian truk pengangkut kayu jati berhenti tepat di depan   pemblokiran jalan.

“Pakde, jalan diblokir!” lapor salah satu kernet kepada sopir. Kernet lainnya juga turut turun melihat pemblokiran jalan.

“Sepertinya cari jalan lain saja, Pakde!” usul Kernet yang baru turun tadi.

“Mana mungkin dari jalan lain, habis minyak kita, dan buang-buang waktu saja,” ujar sopir, kumisnya yang melintang terlihat bergerak-gerak mengikuti bibirnya.

Sopir yang berbadan tinggi besar dengan mata melotot itu turun dari truk. Ia perhatikan betul-betul jalan yang diblokir tersebut.

“Kemarin saja tidak ada pemblokiran jalan. Kenapa sekarang tiba-tiba ada?” sopir itu melirik ke kanan-kiri dengan mata buasnya.

Pujang dan Dimas diam, tanpa menimpulkan suara. Hanya bunyi napas dan degub jantung mereka saja yang terdengar. Mata Pujang tak kalah buas memperhatikan si sopir itu dari balik semak-semak.

“Semuanya turun! Ayo turun!” teriak sopir itu memberi aba-aba.

Empat kernet itu pun menghadap sopir, mendengarkan perintah selanjutnya.

“Cepat bongkar semua ini!” si sopir menendang pelan tumpukan balok kecil pemblokiran jalan.

“Kalau warga di sini marah, terus bagaimana, Pakde?” tanya seorang kernet ragu-ragu menyingkirkan balok.

“Tidak ada yang marah! Sudah untung jalan di kampung ini sudah diaspal,” ujar sopir dengan nada angkuh.

Pujang yang mendengar ucapan sopir itu mengepal tangan geram.

“Dasar sombong,” gigi Pujang bergemeretak.

Setelah tumpukan balok dan batu itu bersih dari jalan, truk itu pun kembali melaju di atas jalan beraspal. Sang sopir tampak menyeringai. Kernet lainnya ikut tertawa kecil. Menertawakan pemblokiran jalan tadi.

“Kita nggak berhasil, Mas,” lemah suara Pujang berujar.

“Koe tahu itu truk dari mana?” Dimas menepuk bahu Pujang.

“Nggak,” sahut Pujang. Katanya lagi, “mungkin truk dari kota.”

“Jam berapa lagi mereka akan keluar?” tanya Dimas.

“Sepertinya maghrib nanti,” Pujang berbalik badan, “memangnya kenapa?”

“Aku ada ide,” kata Dimas.

Baca juga:

Kisah Cinta Ibu Yanu

Soal Matematika yang Menguras Peluh Pujang

***

Ketika matahari mulai tumbang di langit barat, Pujang dan Dimas baru saja menyelesaikan rencana jahilnya. Papan-papan tipis sudah dipaku oleh dua bocah tersebut. Siap ditanam di jalan, menyambut datangnya truk pengangkut kayu jati.

“Semoga saja tidak lewat warga kita sebelum truck sialan itu lewat,” Pujang mendengus menanam papan yang menyembulkan paku.

“Ya, semoga saja,” Dimas mengamini karibnya.

“Lebih cepat, Dimas!” Pujang mendesak.             

“Ini udah cepat, Pujang!” sahut Dimas.

Derung suara mesin truk sudah terdengar dari kejauhan, dua sahabat itu semakin buru-buru menanam papan tipis itu.

“Nggak ada waktu lagi, ayo tinggalkan! Itu sudah cukup!” Pujang menarik lengan Dimas. Melompat gundukan, dan bersembunyi di atas semak belukar di hari yang semakin gelap. Semenit kemudian truk dengan susah payah melintas di hadapan mereka. Muatan kayu jati yang penuh membuat jalannya truk seperti keong.

Lalu truk itu pun berhenti. Seorang kernet turun, memeriksa apa yang terjadi. Pujang dan Dimas memperhatikan serius hasil rencana mereka. Matahari sudah sempurna ditelan garis horizon. Gelap membungkus kampung pesisir tersebut.

“Ban kita bocor, Pakde!” lapor kernet pada sopir, “ada dua ban kita yang bocor.”

Si sopir dengan kumis baplang itu menelan ludah. Kesal apa yang menimpa truknya, “Turun! Turun semuanya!” ia keluar, melompat dari pintu, “jangan sampai kita kemalaman sampai di kota.”

Mendengar ucapan sopir, Pujang berbisik ke Dimas, “Benar apa yang kubilang, truck itu dari kota. Makanya tidak tahu sopan-santun, taunya hanya merusak jalan.”

Dimas ber-oh saja, kepalanya mengangguk-angguk. Tangan Dimas mengibas-ngibas ke atas kepalanya. Nyamuk sudah mengerubungi kepala mereka.

“Jangan berisik, Dimas!” Pujang mengingatkan.

“Nasib-nasib jadi kernet. Nggak kenal malam siang, selalu di truk,” salah seorang kernet mengumpat dari kolong truk.

“Yowes, jangan jadi kernet! Cari kerja yang lain saja,” kernet lain menyahut dengan nada bercanda.

Pujang lagi-lagi membisiki Dimas, “Salah sendiri kenapa mau jadi kernet, kan, Mas?”

"Iya, betul. Lagian mereka merusak jalan kampung kita."

Selama 45 menit ban yang bocor itu sudah diganti dengan ban serap. Sopir dan kernet sudah melompat masuk ke truk. Siap untuk melanjutkan perjalanannya. Truk pengangkut kayu jati itu menyisakan raungannya. Pujang dan Dimas keluar dari semak-semak, berlari mengejar papan yang ditanam di jalan.

“Jangan sampai warga kita sendiri yang kena, kasihan mereka,” ucap Pujang, tangan kecilnya mengorek tanah dengan kayu.

“Pujang, kalau bisa lebih cepat! Biar ibukkku nggak marah,” kata Dimas.

“Ya, ibukku juga akan marah jam segini baru pulang,” ucap Pujang, “masih ada satu lagi. Ini kurang satu!”

Ada enam papan halus yang ditanam oleh mereka di jalan itu, masih ada satu lagi yang belum ditemukan. Lama mereka menemukan papan yang di tanam.

“Gawat… gawat… bisa bocor ban orang kalau lewat dari sini,” Pujang menggerutu, “kalau besok pagi kita cari lagi bagaimana? Nggak terlihat lagi, Mas! Hari udah gelap.”

“Cari lagi Pujang! Cari lebih teliti, koe jangan beteriak saja! Cari dengan mata dan diraba, bukan dengan mulut!” seru Dimas.

Tak lama kemudian papan terakhir itu pun ditemukan. Pujang tersenyum puas.

“Sudah kubilang, Pujang, kalau dicari pasti ketemu,” ujar Dimas meletakkan papan-papan itu di balik semak-semak.

“Besok pulang dari sekolah kita urus lagi papan-papan itu,” Pujang sudah mengambil sepedanya.

Dua bocah itu melesat di kegelapan. Suara jangkrik berderik bersahut-sahutan. Bulan terang benderang dengan sempurna. Jutaan bintang bertambur indah di angkasa. Jalan tidak begitu gelap lagi, terang oleh cahaya bulan.

“Indah sekali bulan itu, Dimas!” puji Pujang kepada benda langit itu.

“Dan sangat terang,” timpal Dimas.

“Lain waktu seperinya kita harus menyaksikan bulan seperti itu di atas bukit,” Ajak Pujang pada Dimas.

“Ya, ide yang bagus.”

***

Ibu Dimas sudah mengomel selama sepuluh menit tanpa jeda di dapur. Dimas dari kamar mandi hanya mebalas iya, berjanji akan pulang sebelum maghrib. Ayah Dimas di ruang tamu tidak ikut mengomel seperti istrinya, ia begitu khidmat membaca tafsir Al-Qur’an. Lagi pula Ayah Dimas tidak terlalu melarang puteranya itu bermain-main di luar, terutama dengan Pujang yang selalu memiliki ide-ide permainan yang berbeda bagi anak seumuran mereka.

“Sekali saja koe lewatkan sholat itu, Dimas, maka koe akan membiasakannya. Kalau terbiasa begitu, berarti sudah nggak takut lagi pada Gusti Alloh,” Ibu Dimas tak henti-hentinya menceramahi putranya, “dengar koe, Dimas?”

“Inggih, Buk, Dimas dengar. Paham.”

“Cepat mandinya! Masih ada delapan menit lagi waktu sholat Maghrib,” pintu kamar mandi digedor. [Asmarainjogja.id]

Gabung di Twitter kami:   

Video populer:

 

Video terbaru:



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas