Foto Ilustrasi Flickr

Oleh: Asmara Dewo

Wahai Tuan pemegang senjata yang mengerikan

Salam santun dari manusia yang tak beriman

Dari orang-orang yang Tuan anggap musuh bebuyutan

Hidup kami sudah berlumur dosa, ditambah pula penderitaan

 

Wahai Tuan orang suci yang dimuliakan

Hinalah kami jadi korban kecelakaan

Hancur daging berserakan …

Hilang melayang jiwa raga di kandung badan

 

Wahai Tuan calon penghuni syurga

Maaf dan doa kami turut disertakan

Untuk perjuangan atas keyakinan di dada

Bersimpuh kami mohon ampun jika memang layak dibinasakan

 

Anak-anak kecil ketakutan …

Anak-anak kecil meraung kehilangan

Istri-istri dipaksa diperceraikan

Sebab ayahandanya lampiasan peperangan

 

Negeri dosa penuh dosa

Dihuni kaum munafik

Dari atas sampai bawah, pukul rata

Warga kecil, makin kecil, hanya bisa berbisik

 

Betapa sedih hati kami. Hidup susah bertambah susah

Jiwa-jiwa ketakutan berbayang hantu teror

Mengurung diri di rumah kumuh yang lelah

Pasrah sudah hidup di negeri sendiri, takut bom dan takut pelor

 

Wahai Tuan yang pemberani …

Puja-puji jika kau benar

Puja-puji jika patut dipuji

Tapi sayang, Tuan, nyalimu bukan dengan petinggi negeri

 

Orang-orang kecil selalu jadi korban

Atas kekuasaan dan pembenaran

Orang-orang kecil jadi bahan percobaan

Adu kehebatan dengan orang-orang berlawanan

 

Aduh … duh … kemana lagi akan mengadu

Negeri sudah jadi incaran pemburu

Matilah kami … di ujung peluru

Berdampingan hidup dengan manusia batu.

 

Jogjakarta, 17 Januari 2015



style="display:inline-block;width:336px;height:280px"
data-ad-client="ca-pub-6494373068136966"
data-ad-slot="4803372733">



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas