Foto Ilustrasi Flickr

Wanita yang dicintainya  masih saja terlihat jelas di  benak pria berumur 29 tahun itu. Rasa kehilangan yang mungkin sulit ia temukan lagi dengan wanita lain.  Kehilangan cinta, baginya adalah kehilangan separuh jiwa.

Di beranda rumah,  Iman  duduk termenung bersama dinginnya malam, di bawah sinar terang yang membias ke arah wajahnya. Sesekali wajahnya ia dongakkan ke arah langit hitam, tepatnya ke cahaya bulan penuh, penguasa malam.

Teringat benar raut wajah bidadari yang pernah menemaninya menjadi pendamping hidup. Laika, seorang gadis cantik berperangai santun saat ia berkunjung ke kampung halamanya, Bukittinggi.

Gadis berdarah Minang itu bagaikan magnet menarik hati Iman tatkala berjumpa di acara keluarga besar dalam acara silaturahmi. Laika sendiri adalah sepupu dari Iman, namun tak pernah jumpa lagi saat orangtua Iman memilih merantau ke Kota Jogjakarta.

Iman tersenyum mengenang itu semua, sebuah kenangan awal jumpa dengan bidadari hatinya.

***

“Lamo indak basuo, apa kabar amai dan fatimah  di  Jogjakarta?” tanya Laika sesudah acara keluarga di depan rumahnya.

“Kabar amai baik-baik saja, Laika, begitu juga dengan Fatimah.  Tapi kini tidak begitu baik keadaannya. Beliau sering sakit-sakitan,” jawab Iman bernada sendu.

“Ingin sekali keluarga, juga Laika berkunjung ke Jogjakarta, tapi selalu saja ada halangan. Laika sendiri juga kuliah, bulan depan akan sidang, kalau ada waktu libur pun dimanfaatin bantu ibu jualan di pasar,” ucap gadis bertudung panjang itu. Sambungnya lagi, “Abang sendiri kenapa pula baru kali ini berkunjung ke Bukittinggi?”

“Abang kerja jauh, Laika, di ujung timur Indonesia, Papua. Jauh benar rasanya dapat kerja di sana, tapi apa mau dikata, di sanalah rezeki abang.”

“Tidak mengapalah, Bang. Yang penting Abang jaga kesehatan di kampung orang. Jangan lupa pula sering-sering pulang jumpai amai,” Laika mengingatkan sepupunya itu.

“Iya, Laika, tidaklah mungkin abang lupakan amai. Cuma amai dan Fatimah kini  harapan abang.  Sedih hati kalau amai sudah menelpon abang di Papua. Mau tak mau, terpaksa juga abang balik ke Jogja.” Iman menghela napas panjang.

Sepupu itu terus mengobrol saling bertanya satu sama lainnya. Selain rindu, Laika juga sayang pada ibu Iman. Karena ibu Iman adalah adik ayahnya Laika. Terakhir berjumpa dengan ibu Iman saat ayah Laika meninggal.

Ibu Iman sendiri sakit-sakitan karena terserang penyakit TBC. Badannya semakin kurus, pipinya sudah cekung dengan matanya yang selalu sayu. Kalau batuk, darah dan dahak tersembur dari tenggorokan yang begitu sulit dikeluarkan oleh ibu Iman.

Batuk ini menyiksa ibu Iman bertahun-tahun sudah. Iman tak kuat hati sebenarnya kerja jauh dari wanita yang ia cintainya. Namun ibunya selalu bilang: ibu tak apa-apa, baik-baiklah kaukerja di sana. Ada adikmu juga yang merawat ibu di sini.

“Kalau tak ada kesibukan, bolehlah Laika temani abang jalan-jalan di Bukittinggi. Rindu betul abang dengan Jam Gadang. Dulu abang masih kecil sering main-main di sana dengan teman-teman.” Ujar Iman sembari mengenang masa kanak-kanaknya.

“Kalau begitu sekarang saja, Bang. Sebelum hari petang, puas kita main di sana.” Balas Laika dengan sangat senang.

Setelah pamit dengan ibu Laika dan keluarga lainnya, sepupu itu pun bergegas ke Jam Gadang. Jarak dari rumah Laika ke Jam Gadang tidaklah jauh, hanya sekitar 300 meter. Apalagi Kota Bukittinggi bukan kota yang padat kendaraan, sehingga tidak memperlambat kendaraan yang berlalu lintas di kota itu.

Namun, jika hari libur, Kota Bukittingi bisa sangat ramai kendaraan. Karena Kota Bukittinggi adalah dambaan liburan dari berbagai kota di Sumatera, juga Negara luar. Selain pemandangan indah yang dimiliki Kota Mohammad Hatta itu, juga Kota Bersejarah yang mengundang berbagai pengunjung ingin tahu kesejarahaan yang pernah terjadi di Bukittinggi pada masa silam.

Seperti Benteng Fort De Kock, Lubang Jepang, rumah Mohammad Hatta, dan lain sebagainya.

Tiba di Jam Gadang, mata Iman berbinar melihat angka romawi pada jam dinding yang berdetak di atas menara yang menjulang tinggi itu. Sebuah angka romawi IIII pada jam yang hanya ada dua di dunia, yaitu Bukittinggi dan di London, Inggris.

Iman mengenang masa kanaknya-kanaknya saat bermain-main di bawah Jam Gadang  ini puluhan tahun silam. Iman pun tertawa melihat badut-badut lucu merayu dan menarik lengannya untuk diajak foto bersama.

“Tak ada yang berubah dengan Jam Gadang ini, Laika, masih seperti yang dulu,” ujar Iman, “tetap gagah nan elok.” Ia pun tersenyum. Ada rasa kebanggan pada diri Iman memiliki kampung yang mempunyai nilai sejarah di mata dunia.

“Begitulah, Abang, pemerintah setempat memang selalu menjaga dan merawat  peninggalan-peninggalan sejarah. Dan tugas kita juga menjaganya,” sahut laika sambil mengikuti Iman yang mengitari menara bersejarah itu.

“Aduhai … betapa eloknya gunung Marapi itu, Laika. Ingin rasanya abang mendaki ke sana.” Iman takjub saat paku bumi itu begitu menawan saat sore hari.

“Ya, Abang, sungguh elok. Mari, Bang, kita duduk di sana!” Laika mengajak Iman untuk duduk di kursi yang menghadap tepat di depan Gunung Marapi.

“Sungguh bersyukurlah warga Sumatera Barat ini, Laika, alamnya begitu indah, ada gunung yang bersisian tegak berdiri. Marapi dan Singgalang, seolah-olah seperti melindungi penduduk di sekitarnya dari berbagai  marabahaya,” mata Iman menatap pucuk gunung Marapi yang lancip itu. Sambungnya lagi, “ditambah pula dengan penduduknya yang elok, cerdas, dan berbudaya santun. Jadi lengkaplah kota di sepanjang Sumatera Barat ini.”

“Benarlah yang Abang ucap itu, kaya sekali alam kita ini. Sawahnya pun begitu subur, Bang, sejak ninik-mamak kita sampai sekarang, tak pernah gagal hasil panennya,” mata hitam Laika menerawang Jauh ke kaki gunung Marapi.

“Abang … tak pernah Laika dengar dari Amay abang punya calon. Kenapa pula itu, Bang? Masih betahkah Abang membujang?” kini mata indah Laika menatap teduh mata Iman.

Mendengar pertanyaan Laika, Iman tersenyum tipis, “Bukan begitu pula, Laika, siapa juga yang tak ingin berjodoh. Masalahnya tak ada yang mau sama abangmu ini.”

“Ondeee … perawan mana pula yang tak tertarik sama Abang? Selain tampan, sudah pula mapan. Kurang apa lagi?” puji Laika pada sepupunya. Ucap Laika lagi, “biarlah Laika bantu Abang berjodoh, banyak benar teman Laika yang elok, baik, cerdas, juga dari keluarga terhormat. Mau, Abang?”

Iman seperti didesak oleh gadis bertudung yang ada di hadapannya. Seperti mati kutu, tak tahu harus menjawab apa lagi. Usia Iman pun sudah 28 tahun, memang sudah sepatutnya berumah tangga. Namun, bukan dirinya tak mau. Karena tak mudah bagi hati Iman tersentuh oleh wanita.

Tak dijawab oleh Iman, ia malah balik bertanya. Ditatapnya mata Laika lekat-lekat, “Laika sendiri bagaimana dengan calonnya? Sudah adakah calonnya? Bolehlah dikenalkan sama abang!”

“Kalau Laika ini kan perempuan, Bang, siapa saja yang mau meminang, Laika terima. Asal saja taat beribadah, sayang dengan ibu, juga dengan Laika, dan bertanggungjawab, sudah cukuplah syarat itu,” jawab Laika dengan mata berbinar.

Iman mengangguk, dan tersenyum simpul, “Bagaimana kalau abang saja yang meminang, Laika? Bersediakah Laika jadi istri abang?”

Semburat jingga semakin membias di langit barat, raja siang pun sudah dijemput malam. Suara adzan bergema bersahut-sahutan di Bumi Bukittinggi. Betapa merdu dan syahdu, menggetarkan hati bagi siapa saja yang mendengarnya.

Iman dan Laika beranjak dari kursi, segera kembali ke rumah Laika. Di perjalanan, hati Laika masih saja bergetar, ucapan Iman masih terngiang di telinganya.  Pipi Laika yang biasa putih bersih,  kini memerah. Laika malu dan tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya. Sepupunya sendiri ingin meminangnya. Ada rasa terkejut, ada pula rasa bahagia, bercampur aduk menyatu dalam getaran hati gadis Minang itu.

***

Iman dan Laika merajut kasih sudah setahun dalam ikatan pernikahan. Berbagai suka dan duka mereka tempuh bersama. Cobaan dalam rumah tangga mereka lalui dengan baik, Iman selaku suami bagi Laika mampu membina keluarga yang harmonis. Sungguh bahagia sepasang anak manusia yang saling mencintai itu.

Didengar pula si Laika sudah mengandung buah hati mereka, semakin bertambah bahagia hati Iman. Tak bosan-bosannya Iman mengucap rasa sukur dan mohon doa pada Allah agar senantiasa menjaga istri dan anaknya dalam kandungan. Begitu juga dengan Laika, doa-doa tak pernah lupa ia panjatkan sebagai makhluk lemah, juga makhluk yang diliputi kekhilafan.

Sungguh, takdir tak pernah diketahui oleh manusia. Bagaimana jalan cerita hidup ke depannya. Kebahagiaan yang selama ini dirasakan dan diidam-idamkan serasa pupus sudah di hati Iman. Namun, ia tak pernah menampakkan rasa  kesedihan pada istrinya.  Penyakit keturunan keluarga kini menyerang wanita yang ia cintai.

Enam bulan yang lalu sisa kesedihan di hati Iman pun masih ada, ibu Iman menghela napas terakhirnya karena penyakit lama yang dijangkitnya, yaitu TBC. Kini istrinya pun diserang penyakit yang tak asing lagi bagi keluarga Iman dan keluarga Laika. Ayah Laika sendiri juga meninggal karena TBC.

“Ya Allah, begitu berat cobaan hamba yang Kau berikan. Tak henti-hentinya Kau menguji hamba, juga keluarga kami. Ya Allah … hamba mohon pada-Mu, kuatkan hati hamba untuk menjalani ini semua.  Hamba serahkan hidup dan mati kami hanya untuk-Mu, Ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang. Jika memang Kau terlalu sayang pada istri hamba, ya Allah, Kau akan menjemputnya kembali, aku ikhlas, ya Allah, aku ikhlas ya Allah … jangan biarkan ia terus disakiti dengan penyakitnya, ya, Allah,” serak suara Iman memohon doa pada Tuhan Semesta Alam.

Lanjut doa Iman   lagi, “Ya Allah … jika memang kehendakmu adalah yang terbaik bagi kami, maka perkenankanlah kami  berkumpul  di surga. Dan Jika memang Kauturunkan mukzizat kesembuhan untuk istriku, maka turunkanlah, kumohon pada-Mu, ya Allah. Amin, amin ya robbal alamin.”

Sudah sebulan Laika hanya terbaring di kasur saja. Dari berbagai rumah sakit  mengobati Laika agar segera sembuh, tak juga membuahkan hasil. Begitu juga dengan obat-obatan, sudah terlalu pahit lidah Laika harus minum obat dari bermacam-macam jenis obat. Namun, tak juga membuatnya sembuh.

Ada satu kesedihan yang paling membuat Laika sedih, yaitu bayi dalam kandungannya. Laika merasa tak bisa menjadi ibu yang baik untuk menjaga kesehatan anaknya. Janin yang berusia dua bulan itu diraba-rabanya  sambil menitikkan air mata. Dan sesekali juga Laika harus merasakan tercekik tenggorokannya, saat batuk dahak bercambur darah keluar dari mulutnya.

Wajahnya yang cantik tahun-tahun lalu kini sudah pudar, pipinya cekung membentuk lubang. Matanya sayu dengan lingkaran hitam menempel di kedua matanya. Tubuhnya juga sudah kurus, tinggal tulang dibalut kulit yang mengerut.

“Adikk, apa yang kaupikirkan? Janganlah terlalu banyak berpikir, tak baik untuk kesehatanmu. Nanti abang coba cari rumah sakit yang bagus untukmu, atau juga kita berobat ke  Singapura.” Iman membujuk Laika sembari tangannya mengelus kepala istrinya.

“Takkk kuattttt  … aku rasanyaaa, Banggg,” terbata-bata Laika berucap. Kemudian air matanya menyusul membasahi pipinya yang cekung.

  “Isitirahatlah, sayang … jangan lagi dipaksa berbicara. Ada abang di sini menemani.” Dikecup dahi Laika dengan lembut dan rasa sayang Iman.

Uhk … uhk .. uhkk … Laika terbatuk-batuk menahan sakit di tenggorokannya. Iman pun sigap mengambil baskom, kemudian mengusuk pelan leher Laika agar terbatuk di wadah itu. Darah, dahak, air liur, muntah dari mulut Laika.

***

Kesedihan, kebahagiaan, menangis, tertawa, begitu cepat berlalu, tak terasa. Seperti angin lalu saja. Ada yang datang, ada yang pergi, ada yang hilang, ada pula yang menemukan. Berbeda-beda setiap anak manusia menjalani titi kehidupannya.

Dan yang pasti, Tuhan adil pada setiap hambanya. Setiap makhluknya, tentu sudah pernah menemukan kebahagiaan dalam hidupnya, seiring waktu itu pula, makhluknya juga  harus terpaksa kehilangan sesuatu yang berharga baginya.

Menemukan, lalu kehilangan lagi. Ini adalah  simbiosis alam kehidupan manusia. Tak lengkap sebuah kehidupan jika hanya menemukan saja. Karena itu pula Tuhan Semesta Alam membuat suatu hukum   kehidupan yang memang harus dijalani setiap hamba-Nya.

Kini hukum kehidupan itu berlaku pada Iman, tahun lalu ia menemukan cintanya di hati Laika, dan beberapa hari  yang lalu ia terpaksa kehilangan Laika. Dan sekarang apakah Iman bisa menjalani kehidupannya seperti biasa? Atau masih berlarut-larut dalam kesedihannya yang panjang?

“Ya Allah … ya Tuhanku, seperti yang hamba pernah pintakan, jika memang kehendak-Mu menjemput Laika, hamba ikhlas. Dan sekarang hamba menjalaninya, ya Allah, hamba ikhlas, hamba terima ketetapan-Mu. Teguhkanlah hamba, berilah kesabaran, dan kekuatan hati untuk menjalani kehidupan hamba selanjutnya. Hamba benar-benar kehilangan, namun jangan hilangkan cinta hamba pada Laika. Jikalau suatu hari nanti ada pengganti cintanya, hamba pinta pada-Mu, ya Allah, jangan pernah hilangkan rasa cinta hamba pada Laika, sekalipun ia sudah tiada.”[]

Penulis: Asmara Dewo



style="display:inline-block;width:336px;height:280px"
data-ad-client="ca-pub-6494373068136966"
data-ad-slot="3466240335">



Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas