Foto Ilustrasi Flickr

Asmarainjogja.id–Sebagian orang bilang, menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Terlebih bagi orang yang tak sabar, menunggu itu penyiksaan perasaan. Jadi jika digabungkan, menjadi penyiksaan perasaan yang membosankan karena menunggu. Sakit dan jenuh bagi yang menunggu. 

Lantas bagaimana dengan orang yang ditunggu? Terkadang pikiran negatif sering muncul bagi orang yang menunggu. Bermacam-macam dugaan negatif kepada orang yang ditunggu.

Atau mungkin kita sendiri pernah mengalaminya, seperti ini: Jangan-jangan dia ingkar janji, nih. Kok nggak nongol juga. Sialan, berkarat aku nungguin, dia enak-enakan di sana. Ihhh ... bodohnya, kenapa aku harus nunggu dia. Mungkin dia juga lupa. 

Komunikasi menjadi perantara bagi yang menunggu dan ditunggu. Namun, apa jadinya jika hilang komunikasi. Bisa berantakan semua rencananya, bukan? Nah, di sinilah peran penting pikiran positif bagi yang menunggu. Kalau menuruti pikiran negatif, dugaan-dugaan semata, akhirnya bisa tak berjumpa. 

Dan bagi yang ditunggu, tentu saja tidak bersantai-santai untuk menjumpai orang yang menunggu. Cepat dan bergegas, berpacu dengan waktu menjumpainya. Lebih baik tetap menjumpainya sekalipun terlambat, dari pada sama sekali tidak datang.

Perlu diketahui, kepercayaan seseorang bisa dinilai hanya dari sekali perjanjian. Kalau tak datang saat perjanjian itu, selamanya akan diingat. Karena ingatan seseorang yang sedang menunggu itu cukup kuat. 

Nah, ini yang harus diingat: Orang yang menunggu dan ditunggu itu sama-sama saling berkepentingan. Jadi jangan egois, bahwa diri ini yang paling penting. Bersabarlah bagi yang menunggu, dan cepatlah datang bagi yang ditunggu. 

Terkadang orang beranggapan, jika ditunggu, itu artinya ia yang penting. Tak heran juga melihat tipikal orang seperti itu saat ditunggu akan semena-mena atas kedatangannya. Sekalipun memang orang yang ditunggu itu sangat penting bagi yang menunggu, tapi bisa jadi cukup sekali itu saja. 

Mungkin saat sedang menunggu seseorang perasaan gelisah tak karuan. Ya, itu wajar sekali. Terutama pada saat yang penting. Jantung berdebar tak karuan karena menunggu. Untuk menyikapi hal ini, sebaiknya kita mengingat Tuhan.

Jika seorang Muslim, bersegaralah berwudhu, lakukan ibadah selayaknya seorang Muslim. Selain menenangkan pikiran dan hati, juga menyegarkan wajah dan kepala karena terbasuh air. 

Dan kalau hanya merasakan kebosanan saja saat menunggu. Cobalah menyibukkan diri pada saat itu. Misalnya mengajak orang lain   untuk mengobrol. Itu lebih menghidupkan suasana.

Atau juga menceburkan diri di dunia hobi kita. Bagi yang hobi membaca, carilah bacaaan yang menarik lagi menyenangkan. Atau yang doyan internetan, tak ada salahnya browsing website yang sering ditongkrongi. 

Intinya adalah membunuh waktu yang panjang saat sedang menunggu. Sampai yang ditunggu tiba, sekalipun ia tak pernah datang sama sekali. Setidaknya kita sudah menjadi penunggu yang setia. Dan itu kita sendiri yang menilai, orang lain tidak terlalu penting.[]

Penulis:  Asmara Dewo 

Baca juga: Sebab Pria Rewel pada Pasangannya

Yuk, gabung di Media Sosial kami!  Google+  Fanpage  Facebook  Twitter  YouTube

 








Custom Search




Komentar Untuk artikel Ini (0)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas