Home Wisata Jogja Jogja Juga Kota Sejarah dan Wisata Reliji

Jogja Juga Kota Sejarah dan Wisata Reliji

4 min read
0
0
46

Makam Raja Mataram Islam

Asmarainjogja.id-Kota Jogjakarta yang dikenal dengan pariwisatanya ke seantero dunia, juga dikenal pula dengan kota sejarah dan wisata reliji. Di Kotagede, Jogjakarta, menjadi tempat pemakaman Raja Mataram Islam pertama yaitu Danang Sutowijoyo atau dikenal sebagai Panembahan Senopati ing Alaga Sydina Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa, beserta keluarganya.

Panembahan Senopati wafat pada tahun 1601 (abad ke-17), dan dianggap pula sebagai peletak dasar-dasar Kesultanan Mataram. Ayah beliau adalah Ki Ageng Pemanahan, dan ibu beliau bernama Nyai Sabinah.

Untuk memasuki kompleks pemakaman yang dikelilingi tembok tinggi yang kokoh itu, pengunjung disambut gapura bercorak Hindu, seperti gapura kerajaan Jawa. Dan di sana pula berdiri dengan megah Masjid Agung Mataram, yang termasuk Masjid tertua di kota Jogja.

Dilihat dari bentuk fisik Masjid, terlihat jelas berpaduannya unsur Islam, Hindu dan Jawa. Mengingat pada masa pembangunan Masjid tersebut masyarakat masih menganut ajaran agama Hindu. 

Agar tidak kecewa bagi pengunjung yang ingin berziarah, pihak penjaga (Abdi Dalem) memasang papan pengumuman waktu buka makam raja.

Minggu buka pukul 10:00 wib s/d 13:00 wib
Senin buka pukul 10:00 wib s/d 13:00 wib
Kamis buka pukul 10:00 wib s/d 13:00 wib
Jumat buka pukul 13:00 wib s/d 16:00 wib
Sedangkan pada hari: Selasa, Rabu, Sabtu, dan bulan Ramadhan ditutup. 

Sebagai peziarah atau pengunjung yang memasuki area pemakaman diwajibkan pula memakai pakaian adat Jawa yang bisa disewa dari Abdi dalem, yaitu: Pranan bagi pria, dan kemben bagi wanita. Jangan khawatir bagi yang memakai jilbab, karena sudah disediakan juga kemben secara khusus untuk menutupi aurat.

Peziarah juga dilarang memotret di area pemakaman. Hal ini disampaikan oleh Abdi Dalem, “Memang dilarang berfoto di area makam, karena dikhawatirkan takut terjadi apa-apa bagi yang memoto,” ujar Teguh, salah satu Abdi dalem kepada AIJ saat berkunjung, Sabtu (12/09/2015).

Di lokasi kompleks pemakaman, terdapat juga Sendang Seliran yang dibagi menjadi dua yaitu bagian laki (sendang seliran lanang), dan bagian perempuan (sendang seliran wadhon). Konon ceritanya sendang ini dibuat langsung oleh Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senopati.
Pada masa itu Sendang Saliran untuk memelihara ikan lele putih dan kura-kura. Dan sampai sekarang masih terlihat seekor lele putih di dalam sendang yang berbentuk seperti sumur itu. 

Di sisi Utara-Timur dari Sendang tersebut, ada kuburan kura-kura. Di situ tertulis: KUBURAN KIYAI DUDO PEJAH, JUMAT KLIWON 1987.

Tri Abdi Dalem menerangkan dengan sangat antusias, “Kalau mandi di sini, Mas, air sumur ini bisa mengusir aura negatif yang merasuki tubuh. Karena mata airnya langsung dari pemakaman Panembahan Senopati,” jarinya menunjuk ke tempat pemandian laki-laki.

“Banyak juga, Mas, pejabat dari luar setelah ziarah pemakaman raja, mereka mandi di sini,” sambungnya lagi.


style=”display:inline-block;width:336px;height:280px”
data-ad-client=”ca-pub-6494373068136966″
data-ad-slot=”1769181139″>

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Wisata Jogja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Penganiayaan terhadap Steven Menambah Kasus Rasisme Warga Papua oleh Aparat Keamanan

Asmarainjogja.id-Penganiayaan yang dilakukan oleh dua anggota Polisi Militer Angkatan Udar…