Home Travel Mengarungi Rawa Pening dengan Sampan (Edisi Seru)

Mengarungi Rawa Pening dengan Sampan (Edisi Seru)

12 min read
0
0
71

Pagi di Rawa Pening | Foto AIJ

Asmarainjogja.id – Kabut mengambang di antara pegunungan Telomoyo, Andong dan Merbabu. Tak kelihatan semburat pagi di langit timur, Suasana yang lebih dingin di pegunungan   ini sebab hujan tadi malam.

Pukul 06:30 kami sudah sampai di Bukit Cinta, Rawa Pening. Hanya beberapa saja pengunjung yang ada di sana. Penjaga pos masuk tampak tergesa-gesa menyambut kami saat ia sedang menyapu halaman. Dengan merogoh uang Rp 7.500 per orang kami pun bisa menginjakai wisata Bukit Cinta Rawa Pening.

Bukit Cinta Rawa Pening berada di Desa Kebondowo, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah

Di udara yang masih segar itu kami langsung mencari informasi untuk menyewa sampan. Atas informasi petugas pos masuk tadi, kami pun akhirnya dapat menyewa sampan dengan harga Rp 25.000 sampai sepuasnya.

“Udah pernah sebelumnya, Mas, naik sampan?” Tanya pemilik sampan pada saya, Minggu (19/6/2016).

“Belum, Mbak,” jawab saya menggelang.

“Oh, nggak apa-apa, banyak juga kok yang sewa sampan tapi belum pernah naik sebelumnya, ya akhirnya bisa juga,” tanyanya kemudian “mau pakai pelampung? Oh ya, miscall-kan nomor hape mas ke sini, biar kalau ada apa-apa bisa hubungi kami.”

Saya mengangguk, kemudian kami menggenakan pelampung demi keamanan. Apalagi si kawan tidak bisa berenang, tentu akan sangat membantu dia jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kedalaman rawa pening sendiri sekitar tiga meter lebih, dengan luas berkisar 2.670 hektare. Wow… luas banget, ya?

“Mas dan Mbak tunggu di dermaga saja, nanti biar diantarkan sampan ke sana,” ujar pria yang sejak tadi menyiapkan sampan.

Rawa PeningWisatawan asing dan domesitik berkeliling Rawa Pening dengan perahu motor | Foto AIJ

Kami pun segera membayar uang sewa, setelah semuanya beres kami menuju ke dermaga Bukit Cinta Rawa Pening. Terlihat perahu motor  berjejer anggun di tepian dermaga. Untuk mengitari Rawa Pening dengan perahu motor, wisatawan dikenakan Rp 60.000 per orang. Ya, ini adalah alternatif bagi wisatawan untuk menikmatii sensasi di Rawa Pening.

Tidak lama kemudian seorang bocah berusia sekitar 13 tahun menepikan sampannya di dermaga. Sepertinya keluarga pengelola sewa sampan ini kompak sekali. Kalau sang istri mengurusi pendaftaran sewa-menyewa, suami menyiapkan sampannya, dan buah hati mereka dapat tugas mengantarkan sampan ke penyewa di dermaga. Wisssh… sebuah keluarga yang kompak, guys!

Sejak tadi wajah si kawan pucat pasi, tampak ketakutan di gurat wajahnya yang tembem. Saya berusaha menyakinnya, “Slowl-ah! Nggak apa-apa kok, ngapain juga takut!”

Si kawan hanya tertawa menutupi kekhawatirannya.

Bagi yang tidak bisa berenang, dunia air memang bisa membuat seseorang itu paranoid.  Apalagi naik sampan seperti di Rawa Pening,  sebuah sampan yang terbuat dari kayu dengan ukuran 3, 5 meter panjangnya, sedangkan lebar 1 meter lebih, kemudian dijalankan dengan mendayungnya sendiri.

Dan semakin tambah kecemasan di wajahnya melihat ada genangan air di dalam sampan.

“Itu bukan bocor, sampan biasa begitu! Cuma air yang merembas saja. Lagian bisa dikuras, kan ada gayungnya tuh!” kembali saya memberi semangat untuknya agar mengarungi rawa pening berjalan lancar.  

Rawa PeningKami mulai mendayung di rawa pening | Foto AIJ

Sampan itu pun kami dayung membelah Rawa Pening. Wuzzzz…. Yihaaa.. kami mengarungi Rawa pening yang sangat melegenda tersebut. Air rawa itu cukup tenang, dengan warnanya kecokelatan agak gelap. Enceng gondok (Eichhornia crassipes) tampak subur tumbuh di Rawa Pening. Tumbuhan gulma yang menggambang itu sangat luas di Rawa Pening, bahkan terbilang enceng gondhok lebih mendominasi dari hamparan air Rawa pening sendiri.

Entah kenapa sampan kami tiba-tiba tidak bisa bergerak, di tempat itu-itu saja. Sampai seseorang pemuda pengemudi perahu motor yang akan berangkat menghampiri kami dahulu.

“Sangkut itu sampannya, Mas. Tunggu sebentar!” kata dia sambil mrepatkan perahu motornya ke sampan kami. Lalu ujung sampan bagian  depan diangkatnya dan ditindihkan di ujung perahu motornya. Dengan cepat sampan kami pun bisa kembali bergerak. Horeee!

“Terima kasih, Mas,” ucap kami serempak.

Dia mengangguk membalas ucapan kami, kemudian perahu motor itu pun perlahan menjauh dari sampan kami. Petualangan di Rawa pening berlanjut. Kalau diperhatikan enceng gondok itu tidak bergerak, padahal enceng gondok itu berjalan mengikuti arah angin. Nah, di sini terdapat bambu-bambu yang terpancang dan melintang di permukaan air. Melintangnya beberapa bambu  itu agar enceng gondok tidak bisa bisa berpindah-pindah terbawa angin.

Walaupun enceng gondok ini termasuk gulma yang merusak ekosistem di dalam air, tapi bisa menjadi sumber penghasilan oleh warga dis sekitar.

Rawa Pening Warga yang memanfaatkan enceng gondok sebagai sumber penghasilan tambahan | Foto AIJ

“Enceng gondok ini untuk anyaman kursi. Kalau yang sudah dikeringkan perkilonya Rp 10.000, dan kalau sudah jadi anyaman perkilonya Rp 17.000,” terang seorang bapak yang mencari enceng gondok di sana.

Sampan sudah ditepikan di antara bambu-bambu ranjang ikan. Kami sempat mengobrol cukup lama dengan bapak tersebut. Batangan enceng gondok yang sudah terpotong rapi terlihat menumpuk di sampan beliau. Selain mencari enceng gondok bapak tersebut juga mengkap ikan.

“Hari ini cuma dapat lima ekor ikan nila, Mas. Ya, nanti ikan ini dijual di pasar,” lanjut beliau. 

Rawa Pening Tampak nelayan di Rawa Pening sedang memancing sambil telfonan | Foto AIJ

Untuk menangkap ikan di sini, warga biasanya menggunakan ranjang, menjala, dan memancing. Nah, ranjang untuk menangkap ikan ini adalah dengan membentangkan jala yang diikat empat sisi pada bambu yang kemudian beberapa saat kemudian jala ditarik dengan tali.

Suasana pagi di Rawa Pening bagi warga yang memanfaatkan alamnya tampak begitu menggeliat. Tak hanya lelaki saja memanfaatkan enceng gondok dijadikan sumber penghasilan, namun bagi kaum perempuan, seorang ibu tampak lihai memotong enceng gondok dengan arit yang sangat tajam. Para bocah juga tertawa dan bercanda gurau sembari mendayung perahunya membelah rawa yang eksotis ini.  Sedangkan pemandangan lain menujukan kami pada nelayan  yang memancing ikan di atas sampannya masing-masing di tengah-tengah enceng gondok.

Perlahan sampan kami dayung menatap berbagai kesibukan para warga di Rawa Pening tersebut. Sampan di sini sepertinya juga sebagai moda transportasi yang cukup penting bagi yang masih menggunakannya. Jadi, tak hanya sekadar untuk menangkap ikan atau mencari enceng gondok.

“Saya mau belanja, Mas,” jawab seorang Pak Tua kepada kami setelah membantu kami melewati bambu yang melintang.

Jadi kalau mau belanja di sini pakai sampan. Begitulah yang ada di benak kami.

Rawa peningKalau sudah di depan kamera hilang ketakuatan si kawan | Foto AIJ

Alam yang asri, pemandangan hijau meneduhkan mata  yang memandang, gugusan gunung-gemunung dari atas sampan tampak indah dari Rawa Pening, dan berkomunikasi dengan warga sekitar di rawa pening adalah pengalaman yang sangat seru yang kami temukan. Rawa pening yang begitu tenang dan damai menyentuh hati kami terlarut ke dalam nuansanya.

Ternyata mendayung itu cukup letih juga, apa karena kami belum terbiasa, atau karena pengaruh puasa juga. Entahlah, yang pastinya kami harus menyudahi petualangan bermain di air ini. Kalau dipaksa terus, takutnya merepotkan orang lain lagi. Masih kuat saja sejak tadi sudah merepotkan orang lain.

Dengan sisa tenaga sampan itu perlahan akhirnya mendekati dermaga. Wuhhhh… cukup melahkan, dan sepertinya otot-otot pada lengan dan dada saya terbentuk. Hahhaa… ya sebab cukup pegal-pegal juga, namun sangat seru, sahabat travel.[]

Penulis:  Asmara Dewo

Lihat videonya: 

Baca juga:  Menelusuri Alam Nirwana di Candi Gedong Songo 

Embung Nglanggeran, Wadah Air Raksasa di Atas Bukit 

Gabung di media sosial kami:  Google+  Fanpage  Facebook  Twitter  YouTube

 

 

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Travel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Bagaimana Penegak Hukum Melanggar HAM terhadap Pelaku Tindak Pidana (Skizofrenia)?

Asmarainjogja.id-Siapa saja orang yang melakukan tindak pidana tentu mendapatkan ganjaran,…